Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.
Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.
Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.
Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Runtuhnya Aliansi Terlarang
Debu peperangan yang menyesakkan perlahan tersibak oleh angin kencang yang memancar dari tubuh Wira Wisanggeni.
Di satu sisi, pasukan Iblis dari kedalaman bumi yang dipimpin oleh Raja Iblis purba meraung kelaparan, sementara di sisi lain, bala tentara Alam Dewa dengan zirah emas mereka yang angkuh siap menghujamkan keadilan semu.
Wira berdiri tepat di tengah-tengah dua badai besar itu, menjadi benteng terakhir yang melindungi Sekar Arum.
Sekar terbelalak, napasnya tersengal-sengal saat melihat sosok di depannya. Meskipun pakaian Wira compang-camping dan matanya tak lagi berpendar dua warna secara permanen, ada satu hal yang tak berubah, aura ketenangan di balik tingkah konyolnya.
"Wira... kau... kau benar-benar kembali?" bisik Sekar dengan air mata yang kini bercampur dengan noda darah di pipinya.
"Tentu saja, Kak. Kalau aku tidak kembali, siapa yang akan menghabiskan stok ubi bakar di seluruh kerajaan?" jawab Wira tanpa menoleh, namun nada suaranya sangat hangat.
Tiba-tiba, Pedang Pemutus Takdir yang sejak tadi digenggam erat oleh Sekar mulai bergetar hebat.
Pedang hitam-biru itu memancarkan panas yang luar biasa, hingga Sekar terpaksa melepaskannya. Dengan satu gerakan elegan, pedang itu melesat ke udara, berputar beberapa kali, dan mendarat tepat di genggaman tangan kanan Wira.
Begitu jemari Wira menyentuh gagangnya, sebuah ledakan cahaya biru langit menyelimuti seluruh area gerbang surga. Pedang yang tadinya berbentuk senjata tajam yang menakutkan itu mulai mencair dan memadat kembali, berubah bentuk menjadi sebatang tongkat kayu lusuh yang permukaannya kasar dan penuh goresan. Tongkat itu kembali menjadi jati dirinya yang asli, sama seperti Wira yang kini kembali menjadi manusia.
Namun, saat Wira mencengkeram erat tongkat itu, sebuah suara berat dan kuno bergema langsung di dalam pikirannya.
"Akhirnya kau kembali, Bocah Hutan. Terlalu lama kau membiarkanku dibawa oleh orang lain."
Wira sedikit terlonjak, matanya membelalak kaget. "Eh? Siapa itu? Paman Tongkat? Kau..kau l bisa bicara?!"
"Jangan sebut aku Paman! Aku adalah ruh dari Pohon Jagat yang menopang semesta. Selama ini kau hanya menggunakanku sebagai pemukul lalat, tapi sekarang, saat jiwa dewa, iblis, dan manusiamu bersatu, aku bisa berkomunikasi langsung dengan batinmu. Sekarang berhenti melongo, atau gada raksasa di depanmu itu akan membuat kepalamu jadi hancur, bocah!"
Wira terkekeh pelan. "Baik, baik, maafkan aku, Kek Tongkat. Mari kita tunjukkan pada mereka cara membersihkan halaman yang benar!"
Di depannya, Raja Iblis Kuno yang dipanggil oleh Adipati Kalingga mengayunkan gada berdurinya dengan kekuatan yang mampu membelah gunung.
Di saat yang sama, Brahma Wijaya melepaskan panah cahaya penghancur takdir dari atas gerbang dewa. Keduanya bersekongkol secara diam-diam, para dewa membutuhkan kekacauan iblis agar manusia kembali memohon dan menyembah mereka, sementara iblis membutuhkan darah para pendosa.
"Jurus Sapu Jagat, Harmoni Tiga Alam!" seru Wira.
Wira tidak menghindar. Ia hanya memutar tongkat kayu lusuhnya dalam gerakan melingkar yang sangat lambat.
Namun, setiap putaran tongkat itu menciptakan dinding pelindung transparan yang menyerap serangan gada iblis dan panah cahaya dewa sekaligus.
"Hantam mereka sekarang, Wira! Alirkan energi sukmamu ke ujung tongkat!" perintah suara di dalam pikirannya.
Wira melesat maju. Kecepatannya kini bukan lagi kecepatan dewa atau iblis, melainkan kecepatan 'Kehendak'. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Raja Iblis.
"Paman Iblis, maaf ya!" ejek Wira singkat.
Plak!
Hanya satu pukulan tongkat kayu ke dahi Raja Iblis, namun efeknya luar biasa. Energi murni yang dialirkan Wira seketika memurnikan energi hitam yang menyusun tubuh makhluk Kuno itu. Sang Raja Iblis melolong kesakitan saat tubuh raksasanya perlahan menyusut dan kembali menjadi debu bumi yang tenang.
Melihat sekutu iblisnya hancur hanya dengan sekali pukul, Brahma Wijaya menjadi murka. "Lancang! Manusia rendah seperti kau tidak berhak mengatur takdir dunia! Jenderal Langit, hancurkan dia!"
Ribuan prajurit surgawi terjun serentak. Namun, Wira hanya tersenyum konyol. Ia menancapkan ujung tongkatnya ke lantai awan yang menjadi pijakan mereka.
"Paman-paman dewa sekalian, sepertinya kalian butuh istirahat panjang di langit agar tidak ikut campur urusan di bawah," ucap Wira.
"Jurus Pengusir, Angin Pembalik Langit!"
Angin puyuh berwarna putih biru meledak dari titik tongkat Wira, mendorong ribuan prajurit dewa kembali masuk ke dalam gerbang emas.
Pintu gerbang Alam Dewa itu kemudian bergetar hebat saat Wira melompat ke atas dan menghantamkan tongkatnya ke gerbang tersebut.
BRAKKK!
"Untuk sementara waktu, gerbang ini akan aku kunci dari luar!" teriak Wira. "Urus saja taman bunga kalian di atas sana, jangan mencoba menguasai alam manusia dengan cara kotor!"
Brahma Wijaya yang berada di balik gerbang berteriak murka, namun suara dentuman tongkat Wira telah menyegel gerbang itu dengan energi sukma yang tak bisa ditembus bahkan oleh seribu dewa sekalipun.
Wira mendarat kembali di samping Sekar Arum yang masih terpaku tak percaya.
Suasana di Tangga Pendakian Pertama mendadak sunyi. Pasukan iblis telah musnah, dan pasukan dewa telah terusir kembali ke singgasana mereka.
"Wira... kau melakukannya," bisik Sekar, suaranya bergetar karena rasa lega yang luar biasa.
Wira menyandarkan tongkat kayu lusuhnya di bahu, lalu membetulkan letak capingnya yang sempat miring.
"Yah, melelahkan juga. Ternyata mengunci pintu surga lebih berat daripada mengunci kandang ayam, Kak." canda Wira.
"Jangan sombong, Bocah. Ini baru permulaan," suara tongkat kayu itu kembali terdengar di kepala Wira.
"Adipati Kalingga masih hidup di bawah sana, dan kerajaan-kerajaan masih saling bunuh karena pengaruh sisa-sisa energi hitam."
Wira mengangguk mantap. Ia menatap ke arah bawah, ke arah daratan luas yang masih diselimuti asap peperangan.
"Kak Sekar, mari kita turun," ajak Wira.
"Tapi Wira, kau sekarang memiliki kekuatan dewa. Kau bisa saja langsung naik ke atas dan menjadi raja di sana," ucap Sekar.
Wira tertawa renyah, tawa yang sama yang selalu didengar Sekar di Hutan Terlarang. "Menjadi raja di tempat sepi yang tidak ada ubi bakarnya? Tidak, terima kasih. Dunia manusia mungkin kotor dan kacau, tapi di sanalah tempat kita tinggal. Aku tidak akan benar-benar naik ke atas sebelum setiap rakyat di bawah sana bisa tidur nyenyak tanpa takut akan pedang atau sihir."
Keduanya pun mulai melompat turun dari tangga langit. Perjalanan turun mereka jauh lebih cepat.
Mereka mendarat di pinggiran Kerajaan Galuhwati yang kini mulai tenang seiring hilangnya energi iblis.
Namun, pemandangan di depan mereka masih memprihatinkan. Kota-kota hancur, dan rakyat jelata kelaparan.
Wira berjalan menyusuri jalanan desa, tongkat kayu lusuhnya kini ia gunakan sebagai tongkat jalan biasa.
Orang-orang yang melihatnya tidak akan menyangka bahwa pemuda konyol dengan caping bambu ini adalah sosok yang baru saja mengunci gerbang surga dan menghancurkan Raja Iblis.
"Kita mulai dari mana, Wira?" tanya Sekar.
Wira berhenti di depan sebuah reruntuhan pasar. Ia melihat seorang anak kecil yang sedang menangis di samping ibunya yang sakit.
Wira mendekat, menyentuhkan ujung tongkat kayunya ke dahi sang ibu. Cahaya hijau lembut mengalir, dan seketika wajah pucat sang ibu kembali memerah segar.
"Kita mulai dari sini, Kak," ucap Wira dengan senyum tulus.
"Kita akan berkelana ke setiap kerajaan, dari Galuhwati, Astagina, hingga ke ujung benua. Kita akan membasmi para pejabat korup yang bersekongkol dengan sisa-sisa iblis, dan kita akan menyadarkan para pendekar bahwa kekuatan itu untuk melindungi, bukan untuk menindas."
Sekar Arum tersenyum, ia merasa beban di pundaknya selama tujuh tahun ini akhirnya terangkat. "Aku akan menemanimu, Wira. Sampai akhir."
Namun, di kejauhan, di balik bayang-bayang hutan yang gelap, sepasang mata merah masih mengawasi mereka.
Adipati Kalingga, meski telah kehilangan kekuatannya, masih memiliki lidah yang beracun. Ia sedang menuju Kerajaan Majapatih, kerajaan terbesar di benua itu, untuk menghasut sang Raja agar memburu Wira sebagai 'Ancaman bagi Stabilitas Dunia'.
"Wira, ada pergerakan gelap di arah timur," suara tongkat kayu memperingatkan.
Wira mengunyah sepotong ubi sisa yang ia temukan di pasar, lalu mengedipkan matanya pada Sekar. "Tenang saja, Kek Tongkat. Mau dewa, mau iblis, atau mau menteri jahat sekalipun... kalau mereka macam-macam, tinggal kita sapu saja seperti sampah halaman, kan?"
Langkah Wira dan Sekar pun berlanjut, menuju petualangan baru di dunia manusia yang penuh warna.
Wira Wisanggeni telah kembali, bukan sebagai dewa, bukan sebagai iblis, melainkan sebagai seorang pendekar dengan tongkat kayu lusuh yang siap menyeimbangkan dunia yang miring.
Namun, ia tahu bahwa suatu hari nanti, ia harus kembali ke Alam Dewa. Bukan untuk tinggal di sana, melainkan untuk melakukan reformasi total pada para dewa yang telah lupa akan tugas mereka.
Tapi untuk saat ini, satu hal yang paling penting bagi Wira adalah menemukan kedai ubi bakar yang masih buka di tengah kekacauan ini.
Saat mereka memasuki wilayah Kerajaan Majapatih, langit mendadak mendung dengan kilat yang ganjil. Sebuah utusan berkuda dengan zirah hitam mencegat jalan mereka, membawa gulungan titah penangkapan.
"Wira Wisanggeni! Atas nama persatuan kerajaan benua, kau dinyatakan sebagai buronan tingkat tinggi karena dituduh menghancurkan tatanan suci surga! Menyerahlah!"
Wira menatap Sekar, lalu menatap sang utusan sambil tertawa lebar.
"Baru saja sampai, sudah ada yang minta disapu. Kak Sekar, sepertinya perjalanan kita akan sangat berisik mulai sekarang!"
Wira mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, dan aura birunya kembali meledak.
......................
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁