Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Tidak Bisa Ditunda
Suasana di kafe Kopi dan Tawa tiba-tiba terasa jauh lebih sunyi, meskipun orang-orang di meja lain masih berbicara dan tertawa.
Raka duduk di kursinya sambil menatap cangkir kopi di depannya.
Nina terlihat ragu.
Sementara Arman berdiri di samping meja mereka dengan ekspresi percaya diri seperti seseorang yang sudah tahu hasil dari pertandingan sebelum pertandingan itu dimulai.
“Aku hanya ingin mengajak Nina makan malam,” kata Arman dengan suara santai.
Raka mengangguk pelan.
“Oh.”
Nina menatap Raka sebentar.
Lalu menatap Arman.
“Sekarang?”
Arman tersenyum.
“Restoran yang kamu suka baru buka cabang di sini. Aku sudah reservasi.”
Raka mengangkat alis.
“Reservasi? Wah… niat.”
Arman meliriknya sedikit.
“Niat memang diperlukan kalau kita ingin memperbaiki sesuatu.”
Raka menatap kopinya lagi.
Ia tahu kalimat itu bukan hanya sekadar komentar biasa.
Nina menarik napas pelan.
“Arman… aku sedang bicara dengan Raka.”
Arman mengangguk.
“Aku bisa menunggu.”
Raka langsung berkata,
“Tidak perlu.”
Nina menoleh cepat.
Raka tersenyum kecil.
“Ya mungkin kalian perlu bicara.”
Nina menatapnya lama.
“Raka—”
Raka mengangkat tangannya sedikit.
“Aku tidak apa-apa.”
Tapi bahkan barista yang berdiri di balik meja tahu…
Raka jelas tidak baik-baik saja.
Nina berdiri.
Ia masih terlihat ragu.
“Raka… kamu yakin?”
Raka mengangguk santai.
“Ya mungkin kamu harus pergi.”
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Lalu Nina mengambil tasnya.
“Baik.”
Arman tersenyum kecil.
“Terima kasih, Raka.”
Raka mengangkat cangkir kopinya seperti memberi salam.
“Sama-sama.”
Nina dan Arman berjalan keluar dari kafe.
Pintu tertutup.
Raka tetap duduk di kursinya.
Beberapa detik.
Lalu ia menghela napas panjang.
Barista datang mendekat.
“Kamu baru saja melakukan kesalahan besar.”
Raka menatapnya.
“Mungkin.”
Barista menunjuk pintu kafe.
“Kamu membiarkan dia pergi.”
Raka menatap meja.
“Aku tidak ingin memaksanya.”
Barista menggeleng.
“Kadang bukan soal memaksa.”
“Lalu?”
“Kadang orang hanya ingin tahu apakah kamu akan memperjuangkan mereka.”
Raka terdiam.
Sementara itu…
Di dalam mobil Arman.
Nina duduk di kursi penumpang sambil menatap jalan di depan.
Arman mengemudi dengan santai.
“Kamu terlihat tidak fokus,” kata Arman.
Nina menghela napas kecil.
“Tidak apa-apa.”
Arman tersenyum.
“Masih memikirkan pria di kafe itu?”
Nina tidak menjawab.
Arman melanjutkan,
“Aku bisa melihatnya.”
Nina akhirnya berkata,
“Dia teman.”
Arman tertawa kecil.
“Teman yang kamu pikirkan terus?”
Nina menatap jendela.
Lampu kota lewat satu per satu.
Entah kenapa…
Ia justru merasa lebih ingin berada di kafe tadi.
Kembali di kafe.
Raka masih duduk di kursinya.
Ia menatap tiga gelas kopi di meja.
Semua sudah dingin.
Barista datang lagi.
“Kamu akan duduk di sini sampai besok?”
Raka berpikir.
Lama.
Kemudian ia berdiri tiba-tiba.
Barista tersenyum lebar.
“Akhirnya.”
Raka mengambil jaketnya.
“Aku akan melakukan sesuatu yang sangat tidak biasa.”
Barista mengangkat alis.
“Apa?”
Raka berjalan menuju pintu kafe.
Lalu berkata,
“Aku tidak akan menunda.”
Di restoran mewah tempat Arman membawa Nina, suasananya tenang dan elegan.
Lampu-lampu redup.
Musik piano lembut mengalun.
Arman memesan makanan untuk mereka berdua.
“Tempat ini selalu kamu suka,” katanya.
Nina mengangguk kecil.
“Dulu.”
Arman menatapnya.
“Apa yang berubah?”
Nina berpikir sebentar.
“Aku.”
Arman tersenyum.
“Kita semua berubah. Tapi bukan berarti kita tidak bisa kembali.”
Nina hendak menjawab…
Tiba-tiba pintu restoran terbuka.
Seseorang masuk dengan napas sedikit terengah.
Rambutnya sedikit berantakan.
Bajunya basah oleh gerimis.
Raka.
Ia berdiri di pintu restoran sambil melihat sekeliling.
Beberapa tamu menoleh.
Nina terkejut.
“Raka?!”
Arman juga terlihat kaget.
Raka berjalan mendekat ke meja mereka.
Ia menarik napas panjang.
“Aku minta maaf mengganggu makan malam kalian.”
Arman terlihat kesal.
“Memang.”
Raka menatap Nina.
“Aku hanya ingin mengatakan sesuatu.”
Arman berdiri.
“Ini tidak sopan.”
Raka mengangguk.
“Iya.”
Ia menatap Nina lagi.
“Tapi kalau aku tidak mengatakan ini sekarang… aku akan menundanya lagi.”
Nina tidak berkata apa-apa.
Jantungnya berdetak cepat.
Raka berkata pelan,
“Nina… aku suka kamu.”
Restoran tiba-tiba terasa sangat sunyi.
Arman membeku.
Nina juga terdiam.
Raka menggaruk kepalanya sedikit gugup.
“Aku tahu aku sering menunda banyak hal.”
Ia tersenyum kecil.
“Tapi kali ini aku tidak ingin berkata… ya mungkin besok.”
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Semua orang menunggu jawaban Nina.
Dan untuk pertama kalinya…
Raka benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi.