NovelToon NovelToon
ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Endiya Winter

ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi


- - -

Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.

Bunuh diri.

Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.

Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.

Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.

Drama.

Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.

Act Zero.




- - -

Endiya Winter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ACT IV: Akhir Pekan Pertama

   [Hari berikutnya: Sabtu, 03 November]

   Sejauh mata memandang hamparan kaki bukit nan luas, langit masih tampak gelap walau fajar telah menyingsing. Kabut tipis menggantung rendah di antara pepohonan, kemudian berangsur-angsur hilang saat angin pagi mulai berembus pelan dari arah lembah. Lampu penerang jalan perlahan padam satu per satu—terlambat dari biasanya—menyisakan jejak berupa bayangan samar di jalan beraspal. Penyiar cuaca di televisi memberi kabar bahwa hal tersebut disebabkan oleh curah hujan yang berubah-ubah sejak memasuki bulan penghujan belakangan ini. Kadang-kadang hujan turun saat menjelang pertengahan malam, itu sebabnya awan hitam masih berarak di langit selama beberapa saat. Terlebih di daerah dekat perbukitan seperti ini, gelapnya bahkan bisa mencapai dua kali lipat daripada di pusat kota. 

   Mungkin itu jugalah yang menjadi penyebab ... kasus siswi bunuh diri di atap gedung SMA Putri Endley dapat terjadi. Dengan memanfaatkan faktor alam, siapa pun bisa melakukannya. 

   Siapa pun... 

   “Vily! Ke sini sebentar! Sepertinya gasnya habis!” Ayaa berseru lantang sembari berjongkok, mengecek tabung gas di dekat kakinya. Lantas kembali bangkit untuk memeriksa rebusan sup sayur yang sedang dimasaknya. “Akh, ini belum matang.” Dia mendecak sebal. Sekali lagi menusuk potongan wortel dan kol yang berendam dalam panci, memeriksa tingkat kematangannya.

“Vily!!” Suaranya menggelegar lagi, seolah membelah udara bagaikan petir yang menyambar dalam hitungan detik.

   “Oi, kau mau membuatku tuli, hu?! Kerjakan sendiri! Aku sibuk!” Villy balas menyalak lebih galak, kemudian melenggang pergi ke daun pintu, menyambut kedatangan Irene beserta antaran dus-dus yang baru saja tiba.

   Pagi ini, kedua junior Irene dan Erica diberi perintah oleh sang ketua kamar untuk membeli kebutuhan sehari-hari di Fe-Mart. Mereka berdua berbagi tugas; Erica mengambil barang belanjaan  sesuai daftar dan memasukkannya ke dalam dus, sementara Irene bertugas membawa satu atau dua dus secara bergilir ke kamar menggunakan troli. Villy-lah yang menerimanya dan mencatat barang-barang tersebut; apakah jumlahnya sesuai dengan yang diminta atau sebaliknya habis dalam stok toko. Setelah semua dus sudah sampai hingga membentuk belasan jajaran bertumpuk, pekerjaan berikutnya adalah menata. Ini bukan tugas perorangan, jadi semua anggota kamar ditekankan untuk melaksanakannya secara bersama. 

   Villy, Erica, dan Irene duduk melingkar di lantai. Mereka mulai menyobek satu per satu bumbu kemasan supaya lebih mudah saat digunakan. Cukup dimaklumi, di kamar ini ada anggota bernama Erica yang ternyata memiliki kegemaran memasak, jadi keperluan untuknya dibeli lebih banyak. 

   “Erica,” panggil Villy. Dia menyeret pantatnya mendekati si junior lalu berkata, “..sepertinya total pengeluaran kita lebih dari perhitungan. Lihat ini.” Dia menyodorkan buku tulis berisikan catatan keuangan. Dia sedikit gusar karena adanya aturan asrama yang tidak memperbolehkan setiap siswi mengeluarkan uang melebihi batas yang telah ditetapkan. “Tidak terlalu banyak, sih. Tapi karena kau bilang membutuhkan bahan-bahan memasak lebih banyak, jadi pengeluaran kita agak meledak.”

   “Aku mengerti,” sembari mengangguk, Erica mengeluarkan empat lembar uang dari dompetnya, menyerahkannya kepada Villy. “Sebagai gantinya, bantu aku agar kali ini tim kita bisa menang.” 

   Tanpa memberi reaksi macam-macam, Villy mengangguk sekali. Dia tahu bahwa yang dimaksudnya adalah memenangkan Permainan Kelompok Asrama dalam tantangan memasak. Dengar-dengar dari teman sekelasnya, makanan yang dibuat Erica selalu gagal meraih juara tiga besar—agak bertolak belakang dengan kegemarannya yang ia habiskan lebih lama di dapur asrama. Padahal kalau ditelaah lebih dalam kronologinya, maka akan terjawab bahwa anggota kamarnya-lah yang tidak becus dalam membantu. Apa boleh buat, toh, namanya juga permainan kelompok, sudah pasti tidak dapat dikerjakan secara individu. Semua kepala (ide) dan tangan (aksi) dituntut untuk ikut serta dalam berpartisipasi walaupun tidak memiliki keahlian di bidangnya. Villy mengangkat bahu, ia berpikir sepertinya dirinya bisa mewujudkannya. 

   “Oi, Villy!” Ayaa berseru lagi, mengisi kembali kamar yang damai dengan suara teriakannya. Sementara yang dipanggilnya bercengkerama manis dengan si junior, di belakang sana dia berkacak pinggang sambil melototi punggungnya. “Kubilang kemari dan gantikan tabung gasnya! Kau mau buat adik-adikmu mati kelaparan, hu?!”

   Villy menggertakan gigi, lantas segera bangkit dengan gerakan yang menunjukkan dirinya tersulut emosi. Dia menghampiri Ayaa, kemudian berjongkok di dekat kakinya dan mulai mencopot regulator pada tabung gas yang telah habis. “Apa kau hidup di zaman purba?” Dia mendongakan kepalanya, bertanya sarkas. “Melakukan hal kecil begini saja kau tidak bisa. Dasar payah.”

   Sementara tangan kanan Ayaa sibuk mencincang bawang merah dan bawang putih, tangan kirinya yang menganggur di hadapkan ke depan wajah Villy, memberi acungan jari tengah. 

   “Irene,” Erica menyeret pantatnya mendekati si pemilik nama, kemudian menyikutnya sembari berkata, “Sepertinya Karinn masih sangat terlelap. Tidakkah menurutmu kita harus membangunkannya sebelum sarapan siap?” 

   Irene menoleh sekilas, kemudian menjawab dengan nada acuh tak acuh seperti biasanya. Namun, kali ini isi kalimatnya berbeda. “Jangan sekarang. Beri dia sedikit waktu.”

   Erica mematung sejenak, merasakan adanya gelombang suara aneh yang baru saja ditangkap telinganya. Lantas ia pun menempelkan punggung telapak tangannya di dahi Irene, memeriksa apakah suhunya hangat. “Kau tidak demam, kok. Lalu kenapa bicaramu seperti dirasuki—”

   Manik mata Irene menyala, seolah menargetkan seseorang di hadapannya. 

   Erica bungkam seketika sembari berkata lirih, “Ternyata benar kau.” Dia pun membalikkan badannya, melanjutkan kembali pekerjaannya. Di saat yang sama, ia melihat Villy bolak-balik ke pintu utama sambil membawa tabung gas. Dia mengeluarkan selembar uang pecahan besar kepada Bibi petugas asrama sebagai bayaran atas tabung gas serta jasanya karena telah mengantarkannya ke lantai lima. 

   Selesai dengan transaksi, ternyata urusan Villy tidak benar-benar berakhir sampai di sana. Ayaa kembali memerintahkannya untuk memasang tabung gas, beralasan bahwa dirinya cukup sibuk mengejar waktu memasak. Villy memutar bola matanya dengan wajah masam, sebelum akhirnya ia pun menurut tanpa banyak mengoceh. 

   Erica berbicara lagi pada Irene, masih tentang ia tidak memahami alasan mengapa dirinya tidak diperbolehkan membangunkan Karinn. “Oi, apa jangan-jangan kau bertengkar dengannya di alam mimpi?”

   Tanpa membalas kontak mata, Irene menjawab singkat. “Kau beromong kosong.” 

   “Jadi ... tidak? Kalau begitu aku akan membangunkannya sekarang.” 

   “Erica!” Secepat si pemilik nama berbalik badan dan pergi, Irene langsung bangkit mencegahnya. Dia menangkap tubuh si sobatnya itu sebelum kedua tangannya nyaris menyentuh selimut Karinn. “Oi, kubilang jangan! Apa kau tidak dengar?!” Irene melingkarkan kedua lengannya di badan Erica, menahannya dengan separuh tenaganya. 

   “Lepaskan aku! Tidak akan kubiarkan kalian bertengkar di akhir pekan! Ini adalah hari untuk bersenang-senang!” Erica memukul-mukul jari Irene yang saling terkait di perutnya, sementara kakinya yang bergerak bebas terus berusaha melangkah walau tak bisa. 

   “Kubilang kami tidak bertengkar!” ujar Irene lagi. 

   “Aku tidak mempercayaimu.”

   “Kubilang tidak!”

   “Kalau begitu kenapa kau menahanku? Aku hanya mau membangunkannya untuk sarapan. Lepaskan aku!” Erica memberontak sekuat tenaga, melawan dekapan tangan Irene yang ternyata tenaganya jauh lebih besar ketimbang dirinya. 

   Sementara perseteruan itu terjadi, kedua senior bolak-balik ke balkon—menyiapkan piring, lauk-pauk, teko berisikan minuman dingin, dan lain-lain—bereaksi tak acuh walau beberapa kali atensi mereka tertuju ke sana. Bukan bermaksud tidak ingin melerai, tapi dipikir-pikir itu tidak ada gunanya karena mereka pasti akan bertengkar lagi tidak lama setelah dipisahkan. Kalau saja mereka berseteru lebih dari lima kali dalam sehari, bisa-bisa rahang menjadi kaku dan kejiwaan jadi terganggu; alias gila. 

   Karinn menggeram, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri saat telinganya menerima gelombang suara bising di dekatnya. Dia mulai membuka kelopak matanya perlahan, mendapati dua orang teman sebayanya yang juga sedang menatap dirinya.

   “Kau sudah bangun? Selamat pagi..” Secepat Erica melepaskan tubuhnya dari kekangan Irene, ia melambaikan tangannya di depan wajah Karinn—ucapan selamat pagi. “Berbenahlah, sebentar lagi kita akan sarapan.”

   Karinn mengangguk, mengacungkan jempol sebagai jawaban. Erica dan Irene kemudian berlalu dari hadapannya, lantas secercah cahaya putih super menyilaukan datang dari pintu kaca balkon, menerpa wajah juga matanya yang lesu karena jiwanya baru kembali ke raganya. Dia menguap panjang, lalu meregangkan tubuhnya sekali lagi guna melenturkan persendiannya yang kaku. Tangan kirinya menelusup ke bawah bantal, merogoh sesuatu yang biasa disimpannya di sana sebelum tidur; kalung choker liontin mawar hitam pemberian pamannya. 

   “Karinn!” Di lantai tempat menjalankan proyek menata barang-barang kebutuhan kamar, Erica memanggil namanya sembari mengangkat tinggi camilan keripik pedas yang dibelinya saat pergi ke Fe-Mart. Ia tahu itu kesukaan Karinn, makanya ia gunakan sebagai umpan untuk membangunkannya. “Aku mendapatkan stok terakhir!” katanya.

   Mendengar itu, kelopak mata Karinn langsung terbuka lebar. Mendadak hilang segala rasa kantuknya, tergantikan dengan rasa lapar dan keinginannya untuk mengunyah sesuatu. 

   “Oi!” Irene meledakkan suara secara tiba-tiba. Pantat Karinn yang bahkan belum menyentuh lantai pun jadi terlonjak kaget. “Lipat selimutmu atau kau akan mati!” Dia mengulurkan tangan kanannya, menyodorkan kemoceng sebagai senjata yang siap melayang kapan saja apabila perintahnya diabaikan. 

   Karinn menggertakkan gigi, sebal. Ia pikir ada hal besar sampai si gadis garang itu meledakkan suara. Ternyata lagi-lagi dia kena omel perihal hal kecil. Apa boleh buat, sambil mengumpat-umpat dalam hati ia pun menurut saja melaksanakan perintahnya. “Pukul berapa sekarang?” tanyanya saat kali kedua ini ia berhasil merosot ke lantai, bergabung dengan kedua teman sebayanya. 

   “Pukul setengah delapan! Kau terlambat satu jam!” Irene menyalak galak, menjitak kepala Karinn menggunakan kemoceng. Tentu sebagai korban yang tak mengerti apa kesalahannya kali ini, makin bertambah kesal—bukan karena diomeli lagi, tapi—karena ia tidak sempat memperhitungkan adanya serangan dadakan, lebih-lebih kepalanya yang kena.

   “Oi, kau mencegahku membangunkannya dan sekarang kau mengomel?” Erica menyikut lengan Irene, tapi dibalas sikut seakan diperintahkan untuk diam. 

   Sadar ada yang tidak beres, Karinn melotot pada si gadis garang. Tangannya bergerak cepat menyambar kemoceng tersebut, menyodorkannya ke depan wajahnya. “Dasar beruang laser! Kau cari masalah, ya? Mau kubalas, hu?!” 

   Irene tidak getir, dia malah tersenyum menyeringai sambil menangkis ancang-ancang kemoceng Karinn di udara. “Aku meragukannya.” 

   Secepat kilat, Irene menyambar balik kemoceng tersebut, membawanya pergi menuju balkon. Tentu Karinn mengejarnya dengan tekad berapi-api. Namun luput dari kesadarannya, mendadak Irene berbalik badan dan melemparkan kemoceng tersebut ke arahnya. Alhasil kepala Karinn pun kena pukulan telak. Meskipun tidak sampai membuatnya jatuh dan pantatnya terhantam lantai, ia merasa sangat harus membalasnya—lawan yang tidak boleh disia-siakan. Akhirnya mereka pun terus berkejaran sampai ke balkon. Karinn menarik rambut pendek Irene, menarik hoodie-nya, menarik tangannya, sampai kemudian Irene membalasnya dengan satu kali serangan takedown. Pergulatan berakhir, dimenangi oleh Irene—lagi. 

   “Karinn, Irene..” Villy melipat kedua tangannya ke dada, merasakan rambut panjangnya bergoyang karena embusan angin yang berasal dari kedua juniornya yang berputar-putar di belakang kursi. “Berhenti bergulat dan ayo sarapan.”

   “Oke, kak!” Irene menyahut sembari bergegas duduk di kursi, meninggalkan tubuh Karinn yang sudah ambruk di pintu kaca balkon karena jurusnya. 

   Si korban terngengah-engah, kepalanya langsung teramat pusing bagai sekelilingnya berputar. Jelas, pergulatan ini dimulai tidak lama setelah ia baru saja bangun dari tidur. Nyawanya bahkan belum bersemayam dengan nyaman di tubuhnya, tapi ia malah sudah lebih dulu dibuat terguncang oleh si gadis garang itu. “Irene! Kau..” Tepat saat kedua mata mereka bertemu, Karinn mengacungkan jari tengah. “Dasar kunyuk menyebalkan! Lihat saja, akan kubalas kau!”

...• • • • •...

   Lima mobil pengangkut barang perlahan memasuki area parkiran. Mesinnya yang sudah tua berderu pelan memecah keheningan pada pagi dini hari yang masih diselimuti oleh kabut tipis. Angin dingin berembus membawa aroma embun segar yang bercampur dengan bau aspal basah akibat hujan semalam, lenggang. 

   Tiga petugas keamanan dengan seragam biru tua sigap membantu mengarahkan sopir agar kendaraan pemuat itu bisa sampai menuju gedung asrama. “Tolong masuk dengan perlahan! Jangan sampai kita mengganggu para gadis!” kata Pak Sion, si petugas asrama yang mengangkat tinggi-tinggi tangannya guna memberikan instruksi. Dengan dibantu Pak John yang berjaga di pintu gerbang, keduanya bekerja sama memastikan persiapan Permainan Kelompok berjalan lancar. Tentu pertama-tama mereka harus memastikan kedatangan mobil pengangkut barang tidak memancing kehadiran para gadis, karena repot jikalau mereka yang rasa penasarannya besar itu sudah keluar dari kamar dengan membawa ponsel di tangan.

   “Lapor, pak! Barang-barangnya sudah tiba!” Pak John membungkukkan badan, menyapa kedatangan Riyan yang baru saja keluar dari mobil. 

   “Baiklah, kerja bagus.” Setelah balas membungkukkan badan, Riyan bergegas pergi menuju sisi kanan gedung sekolah. 

   Di sana juga telah ramai oleh para petugas asrama yang sedang berkerumun di salah satu pohon magnolia. Sementara dua dari mereka naik ke tangga dan memotong dahan yang telah rapuh, tiga yang lainnya sibuk berdiskusi dengan selembar kertas. Tampaknya sedang membahas mengenai macam-macam permasalahan juga solusi tepat untuk mengatasinya. 

   “Bagaimana dengan persiapan di sini?” tanya Riyan sembari menerima lembar catatan teknis dari si salah satu petugas. Sebentar kemudian dia melirik ke pohon magnolia besar di depannya. Cahaya matahari menembus melalui celah-celah pada dedaunannya, menciptakan bayangan samar di tanah.

   “Kami sudah mengujinya kemarin. Hasilnya menjawab bahwa satu pohon bisa menampung setidaknya empat puluh kapsul surat. Tentunya itu berdasarkan tingkat kekuatan dahan, jadi pagi ini kami memeriksanya sekali lagi kalau-kalau ditemukan dahan yang tidak sesuai kriteria,” jawab si salah satu petugas.

   “Tentang kendalanya sampai lima tahun ke depan, sepertinya tidak terlalu serius. Kami akan melakukan pemeriksaan harian dan melapor jika terjadi apa-apa.” 

   “Selain itu, kami juga sudah menyiapkan prosedur untuk mengganti kapsul atau memperbaiki gantungan jika diperlukan," lanjut dua rekan di sebelahnya, ikut menambahi. 

   “Itu artinya kali pertama ini harus berjalan dengan lancar. Tolong bekerja dengan baik.”

   Kelimanya—dua di atas pohon dan tiga yang lainnya di bawah—menyahut serempak, “Baik, pak!” 

   Masih dengan huru-hara kesibukan para penyelenggara acara, di sisi lain tempat, yakni lapangan asrama yang biasanya kosong melompong bahkan pada setiap sudutnya pun kini juga tak kalah ramai pada dini hari. Berbagai macam barang tergeletak di mana-mana. Tumpukan dus berjajar rapi membentuk belasan tingkat, sementara para guru berjongkok di sekitarnya untuk memeriksa keselamatan barang-barang tersebut selama dalam perjalanan kemari. 

   “Wah, cantiknya,” Bu Tiara memberi komentar, tersenyum. Di tangan kanannya, dia menggenggam sebuah botol bening berukuran kecil, media yang berperan sebagai kapsul waktu untuk menyimpan surat tulisan tangan para siswi. 

   “Bu Tiara,” Bu Kaila muncul dari belakang tubuhnya, memanggil namanya sembari ikut berjongkok di sebelahnya. “Mobil pengantar dus makanan tidak datang sekarang, ya?”

   “Kudengar Pak Riyan sengaja membuatnya begitu. Yah, sepertinya gosip tentang para gadis yang protes itu benar. Entah apa yang akan dibicarakan jika kali ini terjadi lagi.” 

   Bu Kaila tidak membalas banyak, dia hanya menganggukan kepala sekali dan pembicaraan pun selesai kurang dalam semenit. 

   “Oh ya, Bu Kaila.” Bu Tiara menyenggol lengan si pemilik nama, mencegahnya bangkit. “Kudengar kau menjadi sukarelawan di Panti Jompo Evening. Benarkah itu?”

   Bu Kaila berjongkok di samping Bu Tiara, urung pergi. “Ya, aku punya koneksi cukup baik dengan pendirinya. Kadang-kadang aku juga datang untuk mengisi seminar atau membantu kepengurusan.”

   Bu Tiara menundukkan kepalanya, ragu-ragu mengatakan, “...Begini, aku mau mendaftarkan ibuku ke panti jompo, tapi aku ragu karena belum banyak mengetahui daerah pusat. Jadi kurasa kau bisa membantu.”

   “Tentu, kau bisa mengandalkanku.” Bu Kaila tersenyum, menyerahkan kartu nama yang dikeluarkannya dari dalam dompet. “Datanglah kapan pun kau bersedia.”

   Alih-alih membalas dengan memasang wajah senang karena satu batu telah diangkat dari dadanya, Bu Tiara malah bereaksi datar—semburat kekosongan tampak jelas membayang di matanya. Dalam beberapa saat, dia diam sejenak sambil memandangi kartu nama tersebut. Diusapnya permukaannya yang halus tanpa berucap sepatah kata pun.

   “Kau butuh sesuatu yang lain?” tanya Bu Kaila. 

   “Ah, tidak. Tidak ada. Terima kasih atas bantuanmu, bu. Aku akan menghubungimu secara pribadi.” Bu Tiara bergegas bangkit, kemudian pergi berlalu dari hadapannya. Kali ini percakapan benar-benar berakhir secara sepihak. 

  Dalam kebingungan seorang diri, mendadak suara lain muncul—suara benda berat yang berasal dari potongan kayu yang sedang dikeluarkan dari dalam karung oleh petugas asrama. Mereka terdiri dari dua tim beranggotakan tiga orang, pagi-pagi sekali mereka sudah pergi ke kaki bukit untuk mencari dahan dan dedaunan kering. Tentunya bila sudah kembali ke lapangan pada jam segini, itu artinya langkah selanjutnya adalah menyortir kayu yang lapisan terluarnya telah basah karena kelembaban hutan. Mereka membuang kulitnya sehingga betul-betul menyisakan dahan yang layak untuk dijadikan pembakaran. 

   “Bu Kaila..”

   Yang dipanggil namanya lantas menoleh, tampaklah Riyan sedang menatap ke arahnya sambil menenteng jerigen zat pembakar di tangan kanannya. Dia meletakkannya di samping tumpukan kayu yang telah dikuliti. 

   “Bagaimana dengan botol kacanya? Apa ada yang mengalami kerusakan?” tanyanya sembari berjalan menghampiri.

   “..Iya, ada dua buah.”

   Riyan manggut-manggut, kemudian ikut berjongkok di dekat dus sembari menyertakan diri untuk memeriksa.

   Bu Kaila memperhatikan lamat-lamat wajah sang kepala administrasi, sebelum kemudian ia memberanikan diri bertanya, “...Pak Riyan. Apa kau yang akan menguji nyala api?”

   Riyan mengangkat kepalanya, berkontak mata dengan si lawan bicara. Dia menunjukkan senyum ganjil, balik bertanya, “Haruskah?”

   Dari arah belakang, Pak Sion dan Pak John lari tergopoh-gopoh. Setelah sampai menghampiri Riyan pun mereka masih bertingkah buru-buru dengan bergegas duduk di sebelah petugas asrama yang sedang menguliti dahan kayu—menunggu gilirannya menyusun kerucut raksasa dan menuangkan zat pembakar dalam uji coba nyala api. 

   “Pak Riyan..” Pak Sion menarik napas, mengeluarkannya dan menariknya lagi beberapa kali—terengah-engah. “Pengacara yang waktu itu ... datang mencarimu.”

   “Pengacara? Siapa?”

   “Pak Kean, pak,” kata Pak John, memperjelas maksud ucapan Pak Sion. “Sekarang dia sedang menunggumu di kafetaria gedung sekolah. Karena kubilang kau ada di sini, dia memintamu untuk segera menemuinya.”

   Senyum Riyan yang tadi ditunjukkan pada Bu Kaila memudar secara perlahan. Dalam beberapa saat hilang seluruhnya sebelum kemudian terganti oleh raut masam yang tampak tidak bersahabat. Wajahnya mengeras, tatapan matanya berubah kosong seolah sedang membentengi diri dari sesuatu yang tidak diinginkannya. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!