NovelToon NovelToon
Tak Setara

Tak Setara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Nyawa, Dua Kemungkinan

Klinik itu terlihat lebih sepi.

Hanya ada beberapa orang yang sedang mengantre menunggu panggilan dokter.

"Nona Aluna Pramesti."

Aluna berdiri dari duduknya setelah menunggu beberapa saat. Ia masuk ke dalam ruangan, disana sudah ada seorang dokter perempuan yang tengah duduk di meja.

"Tensi Anda sangat rendah," ucap seorang dokter sambil menatap layar di depannya.

"Pantas saja akhir-akhir ini saya sering pusing dan lemas."

Jelas Aluna.

"Kapan Anda terakhir kali menstruasi?"

Pertanyaan itu sontak membuat Aluna terkejut.

Ia mencoba kembali mengingat-ingat tanggal, bulan. Namun tak kunjung menemukan ingatannya.

"Saya lupa, Dok."

Ucapnya lirih.

Terlalu banyak beban pikiran dan kesibukan di kantor, membuatnya mengabaikan hal-hal kecil.

"Bagaimana kalau kita lakukan USG?" tanya dokter itu.

Aluna mengerutkan keningnya.

"Saya kan cuma pusing, Dok. Kenapa harus USG?" tanyanya ragu.

"Agar kita bisa menganalisis lebih dalam, apalagi Anda juga lupa kapan terakhir kali menstruasi."

Dokter memberikan isyarat pada perawatan agar segera menyiapkan ruang USG.

Perawat menuntut Aluna untuk mengikutinya.

Rasa bingung tergambar di wajahnya, pikirannya semakin berat.

Bagaimana jika aku punya penyakit yang berbahaya...

Ia mulai berpikir tidak logis.

Di ruangan itu, Aluna berbaring diatas bed.

Area perutnya dioles gel dingin yang merambat di sekujur perutnya, membuat Aluna sedikit merintih.

Dokter mulai meraba perutnya dengan alat, matanya fokus pada layar monitor di hadapannya.

Beberapa saat kemudian, Aluna disuruh menunggu di ruang tunggu pasien sebelum mengetahui hasilnya.

Perempuan itu menyapu seluruh ruangan di area klinik, sampai ia melihat sosok yang tidak asing.

"Pak Damar."

Aluna memanggil pria paruh baya yang sedang duduk di seberangnya.

Damar yang sedang membaca majalah, sontak mengangkat wajahnya melihat Aluna.

"Loh.. Aluna. Sedang apa disini?"

"Saya ingin memeriksakan keadaan saya," jelasnya.

"Sekarang sudah lebih baik?" tanya Damar.

"Lumayan, walau masih lemas."

Damar melirik ruangan itu.

"Tapi kenapa kamu ada di ruang tunggu USG?"

Aluna terdiam sesaat, "saya hanya mengikuti perintah dokter."

Jelasnya.

"Aluna Pramesti.. silahkan masuk."

Aluna berlalu meninggalkan Damar sebelum ia sempat menanyakan tujuan pria itu berada disini.

Perempuan itu kini duduk berhadapan dengan dokter sebelumnya.

Jemarinya meremas punggung tangannya, kepalanya tertunduk, ia bahkan tidak berani menatap dokter dihadapannya.

"Hasilnya sudah keluar," ucap dokter itu.

Aluna mengangkat kepalanya.

"Saya sakit apa, Dok?"

"Selamat ya.. ternyata anda sedang mengandung," ucap dokter itu dengan wajah yang terlihat gembira.

Hening.

Aluna membeku.

Tatapannya kosong.

Tangannya gemetar, pikirannya berusaha mencerna ucapan dokter itu.

"Pusing dan mual.. itu gejala umum saat seseorang sedang hamil..." Ia melanjut lagi kalimatnya. "Apalagi di usia kehamilan yang masih muda." Ucap dokter.

"Memangnya.. usia kandungan saya, berapa Dok?"

Suaranya gemetar.

"Sekitar... Empat Minggu."

Dunia seakan berhenti di detik itu.

Tidak ada suara. Tidak ada gerakan.

Bahkan napasnya terasa tertahan di tenggorokan.

Aluna tidak langsung bereaksi.

Matanya hanya menatap kosong ke satu titik, seolah kalimat itu belum benar-benar sampai ke pikirannya.

Hamil.

Jemarinya perlahan mengencang, mencengkeram rok yang ia kenakan.

Napasnya mulai tak beraturan.

Tidak mungkin…

Pikirannya bergerak liar.

Menghitung… mengingat… mencoba menyusun potongan waktu yang terasa kabur.

Wajahnya perlahan pucat.

untuk pertama kalinya…

ia menyadari satu hal yang jauh lebih menakutkan dari kehamilan itu sendiri.

Ia tidak tahu…

siapa ayah dari anak yang sedang ia kandung.

***

Tok.. tok.

Pintu ruangan itu diketuk dari luar.

"Masuk."

Sahut Arka dari dalam.

Damar berjalan menuju meja kerja Arka.

"Bagaimana?" tanya Arka .

Damar duduk di sofa berhadapan dengan Arka.

"Dia terlihat lebih baik, tapi..." Kalimatnya tertahan.

Membuat Arka semakin penasaran.

"Tapi anehnya, kenapa dia ada diruang USG?"

Lanjut Damar.

"Apa sakitnya parah?" tanya Arka, kedua tangannya menutupi sebagian wajahnya, terlihat frustasi.

"Saya belum sempat bertanya, dia sudah masuk lebih dulu," jelas pria itu.

"Oke.. terima kasih atas bantuannya," kata Arka kemudian. "Maaf karena sudah merepotkan Anda dihari libur."

Pria itu tersenyum pada sekretarisnya.

Arka terlalu mengkhawatirkan Aluna sejak kejadian di kantor beberapa hari yang lalu.

Sejak perempuan itu mulai terlihat tidak baik-baik saja.

Ia ingin bisa selalu berada disisinya, namun kesibukannya menjadi tembok yang tak mampu ia runtuhkan—membuatnya hanya bisa mengkhawatirkan dari jauh, tanpa pernah benar-benar ada di saat perempuan itu membutuhkan.

***

Air shower mengalir deras, menghantam kulitnya tanpa jeda.

Ia berdiri di bawahnya, diam.

Lalu perlahan, tubuhnya mulai bergetar.

Isakan kecil lolos dari bibirnya, teredam oleh suara air yang seolah menutupi segalanya.

Tangannya mencengkeram rambutnya sendiri, kepalanya tertunduk dalam.

Napasnya berantakan.

Ia mencoba menahan, mencoba kuat—

tapi semuanya sudah terlalu penuh.

Dan akhirnya… ia menyerah.

Tangis itu pecah, jatuh bersama derasnya air yang tak pernah berhenti.

Air itu akhirnya dimatikan.

Namun isakannya belum benar-benar berhenti.

Beberapa saat kemudian—

Aluna sudah duduk diam di tepi ranjang, tubuhnya masih basah, rambutnya meneteskan air ke lantai.

Tatapannya kosong.

Di tangannya.. sebuah foto hasil USG memperlihatkan bayangan hitam putih yang samar.

Sebuah titik kecil di tengah ruang gelap—hampir tak berbentuk.

Sekarang.. apa yang harus ku lakukan?

Pikirannya masih berusaha mengingat… siapa yang menjadi awal dari kehadiran janin ini.

Gavin...

Tidak mungkin.

Ia mencoba mengingat.

tapi justru itulah yang paling ia takuti, karena semakin ia mencari, semakin jelas bahwa jawabannya tidak sesederhana itu.

Atau jangan-jangan...

Tiba-tiba muncul sebuah ingatan dan nama yang paling takut untuk ia sebut.

Pak Arka...

Tidak! Itu mustahil.

Ia berusaha untuk menepis ingatannya.

Ia berusaha untuk menyangkal memori-memori yang akhirnya jelas tergambar di pikirannya.

Jangan.. ku mohon jangan.

Jangan dia.

Aluna kembali menangis.

Tangannya menutup wajahnya, tubuhnya membungkuk, dadanya bergetar.

Ia terlalu takut...

Bukan hanya pada apa yang sudah terjadi, tapi pada kemungkinan yang harus ia hadapi setelah ini.

Dunia ini… memang sekejam itu, ya?

Aluna menunduk, napasnya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menekan dadanya tanpa henti.

Ia sudah mencoba.

Sudah bertahan sejauh yang ia bisa.

Tapi kenapa… justru semakin ia melangkah, semuanya terasa semakin berantakan?

Apa… keputusan ku salah?

Berpisah dari Gavin—

apakah itu benar-benar jalan yang seharusnya ku pilih?

Atau justru sejak awal…

Aku memang tidak pernah punya hak untuk memilih?

Bibirnya bergetar, ia tertawa pelan.. getir.

Lucu...

Saat ia bertahan, ia disakiti.

Saat ia pergi, hidup malah menghukumnya dengan cara yang lebih kejam.

Jadi… apa yang sebenarnya diinginkan dunia dariku?

Aluna mengangkat wajahnya sedikit, matanya kosong.

Ia bukan siapa-siapa.

Tidak punya kekuatan untuk melawan.

Tidak punya tempat untuk benar-benar pulang.

Dan sekarang…

bahkan hidup di dalam dirinya sendiri pun terasa seperti sesuatu yang tak ia pahami.

Jika seperti ini caranya…

apa ia memang ditakdirkan hanya untuk terus bertahan, tanpa pernah benar-benar bahagia?

1
Gira Hurary
sukaaaa alurnya... author ini berani beda, tetep semangat ya thor
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Gira Hurary
semangaaaat
Rini
Lanjut thor🤭
Rini
Baru diawal bagus bgt, setiap kata-katanya tersusun rapi mudah dipahami😍 semangat thor💪
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Annida Annida
lanjut tor
Dian
lumayan bagus
Lass96: Terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Senang sekali kalau ceritanya bisa kamu nikmati.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!