Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TENTANG MENDEKAT
Di pertemuan keempat mereka — amplop kedelapan, di kafe dekat Kemang yang tutupnya selalu terlambat sehingga mereka sering menjadi pelanggan terakhir — Wren bertanya sesuatu yang tidak ia antisipasi.
"Kapan terakhir kali seseorang merekonstruksi kisah Anda?"
Arsa menatapnya. "Maksudnya?"
"Anda menghabiskan hidup Anda masuk ke dalam kisah orang lain. Menemukan kepingan yang hilang. Menyusunnya menjadi sesuatu yang utuh." Wren meletakkan tangannya di atas meja — gestur yang netral, tapi Arsa memperhatikannya. "Siapa yang melakukan itu untuk Anda?"
Pertanyaan yang sederhana secara struktur. Tapi efeknya seperti seseorang yang membuka pintu yang sudah lama tidak dibuka — dan di baliknya bukan gudang penuh debu, tapi ruang yang ternyata selalu ada dan tidak pernah benar-benar ditutup, hanya dibiarkan gelap.
"Tidak ada," kata Arsa. Jujur, tanpa drama.
Wren mengangguk. Tidak mengatakan kasihan atau itu tidak baik untuk Anda atau komentar apapun yang akan membuat Arsa merasa perlu mempertahankan diri. Hanya mengangguk seperti seseorang yang menerima informasi dan menyimpannya di tempat yang tepat.
"Saya juga tidak terlalu berbeda," katanya setelahnya. "Saya bekerja dengan kata-kata dan suara orang lain. Kehidupan orang lain." Ia menarik napas kecil. "Kanal saya anonim karena saya lebih nyaman jadi pengantar daripada subjek."
"Tapi Anda pengisi suara — orang mendengar Anda."
"Mereka mendengar suara saya membawa kata-kata orang lain. Itu berbeda." Wren memainkan sendok kopinya absentmindedly. "Tidak ada yang mendengar saya berbicara tentang saya."
"Saya mendengar Anda."
Kalimat itu keluar sebelum Arsa menyaringnya. Dan ketika sudah keluar ia tidak menariknya kembali — karena itu benar, dan karena kalimat yang benar tidak seharusnya ditarik kembali hanya karena terasa terlalu banyak untuk konteksnya.
Wren menatapnya. Sesuatu di matanya — sesuatu yang bergerak, yang tidak segera ia tutupi.
"Iya," katanya akhirnya, pelan. "Anda mendengar."
Tiga hari sebelum amplop kesembilan dibuka, Arsa menerima telepon dari Ibu Sari.
Bukan tentang wawancara atau materi rekonstruksi. Suaranya berbeda dari biasanya — sedikit lebih cepat, sedikit lebih tidak terkelola.
"Saya menemukan sesuatu di rumah Mama," katanya. "Di kamar Dito yang sudah kami biarkan seperti waktu ia tinggalkan." Suara gesekan kertas di ujung telepon. "Foto-foto. Tumpukan foto yang sudah dicetak — kebanyakan foto langit, seperti yang kamu bilang tentang Dito. Tapi ada beberapa foto orang."
Arsa sudah bisa menebak. "Raka."
"Ya." Hening sebentar. "Ada juga satu amplop. Tersegel, nama di luarnya hanya Tanah."
Jantung Arsa melambat satu ketukan.
Tanah. Nama panggilan Raka di komunitas itu. Yang hanya Dito yang pakai, dari yang Ninda ceritakan.
"Amplop itu dari Dito?" tanyanya, meski sudah tahu jawabannya.
"Tulisan tangannya." Suara Ibu Sari retak tipis. "Saya tidak buka. Saya rasa — saya rasa ini milik Raka. Atau keluarganya."
"Bisa Anda kirim ke saya?"
"Sudah saya foto dulu. Tapi ya — saya akan kirim yang aslinya."
Arsa menutup telepon dan duduk diam sebentar dengan ponsel di tangannya.
Dito juga menulis.
Bukan dua belas surat dalam kotak kayu — satu amplop, satu surat, untuk seseorang bernama Tanah yang tidak pernah menerimanya karena Dito pergi lebih dulu dan Raka pergi setahun kemudian dan amplop itu tertinggal di bawah tumpukan foto langit di kamar yang tidak pernah diubah siapapun.
Malam itu ia pergi ke studio Wren tanpa mengumumkan — tapi ia mengirim pesan dulu, dan Wren membuka pintu sebelum ia sempat mengetuk dua kali.
"Ada apa?" tanya Wren begitu melihat wajahnya.
"Dito juga menulis." Arsa masuk. "Untuk Raka."
Wren berdiri di ambang pintu studionya dengan ekspresi yang bergerak melalui beberapa lapisan sekaligus — terkejut, lalu mengerti, lalu sesuatu yang lebih lembut dari keduanya.
"Masuk," katanya. "Saya bikin teh."
Arsa duduk di kursi biasanya — bukan beanbag ungu, tapi kursi kayu yang entah kapan mulai ia anggap sebagai kursinya — dan menatap rak buku di depannya sambil menunggu.
Ini sudah hampir lima minggu sejak pertemuan pertama mereka. Lima minggu dari dua orang asing yang bertemu karena kotak kayu berisi surat-surat yang tidak pernah terkirim. Lima minggu dari amplop yang dibuka satu per satu, dari telepon malam yang mulai terasa bukan hanya tentang surat-surat itu, dari jam-jam di kafe yang sering berakhir lebih larut dari yang direncanakan karena percakapan tidak mau berhenti.
Arsa meletakkan punggungnya ke sandaran kursi dan memperhatikan Wren yang bergerak di dapur kecilnya dengan gerakan yang sudah familiar — cara ia membuka laci teh, cara ia menghitung detik steeping, cara ia tidak membuang waktu tapi juga tidak terburu-buru.
Ada hal-hal yang kamu pelajari tentang seseorang bukan dari apa yang mereka katakan tapi dari cara mereka bergerak di ruangnya sendiri. Cara mereka memperlakukan benda-benda di sekitar mereka. Apakah mereka orang yang menutup laci dengan keras atau dengan pelan. Apakah mereka orang yang selalu memastikan cangkir sudah di posisi yang tepat sebelum menuang atau tidak peduli asalkan cairan masuk ke dalam cangkir.
Wren adalah orang yang menutup laci dengan pelan. Yang memastikan cangkir sudah tepat. Yang mengerjakan hal kecil dengan perhatian penuh bukan karena perfeksionis tapi karena baginya cara melakukan sesuatu sama pentingnya dengan hasilnya.
Arsa menyimpan observasi itu di suatu tempat yang tidak ia beri label.
Wren membawa dua cangkir dan duduk di seberangnya. "Ceritakan."
Ia ceritakan.
Wren mendengarkan tanpa menyela, seperti biasa — tapi kali ini ada sesuatu di wajahnya yang berbeda. Lebih dekat ke permukaan. Ketika Arsa selesai, ia diam sebentar dengan kedua tangannya melingkari cangkirnya dan matanya menatap ke suatu titik di antara mereka.
"Jadi mereka berdua," katanya akhirnya, "menulis untuk satu sama lain tapi tidak pernah saling mengirim."
"Tampaknya begitu."
"Dan sekarang kita punya keduanya." Wren mengangkat matanya ke Arsa. "Satu amplop dari Dito untuk Raka, dua belas surat dari Raka untuk Dito. Kata-kata yang seharusnya bertemu tapi tidak pernah."
Arsa mengangguk.
"Arsa." Suara Wren pelan dan sungguh-sungguh. "Apa yang akan Anda lakukan dengan semua ini?"
Pertanyaan yang tepat. Pertanyaan yang sudah ada di kepalanya sejak telepon Ibu Sari tadi tapi belum sempat ia bentuk menjadi jawaban.
"Saya akan selesaikan rekonstruksi Pak Wahyu," katanya. "Itu sudah menjadi tanggung jawab saya. Tapi ada bagian dari kisah itu — bagian tentang Dito, tentang Raka, tentang semua yang tidak sempat tersampaikan — yang perlu ada di sana. Lengkap."
"Dan surat-surat Raka? Amplop dari Dito?"
"Surat-surat Raka..." ia berhenti. Menatap Wren. "Saya rasa mereka memilih Anda untuk alasan yang saya tidak sepenuhnya mengerti. Kotak itu berakhir di tangan Anda, bukan di tangan keluarga kami. Itu bukan kebetulan."
Wren menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa sepenuhnya ia baca — tapi ada sesuatu di sana yang terasa seperti seseorang yang tidak mengira akan dikatakan itu.
"Dan amplop dari Dito?" ulangnya.
Arsa memikirkan ini. "Amplop itu untuk Raka. Raka tidak bisa menerimanya." Ia menatap Wren. "Tapi mungkin ada cara lain untuk itu tersampaikan."
Mereka duduk dalam diam di studio kecil itu, di atas toko buku yang sudah tutup, dengan hujan yang sudah berhenti meninggalkan udara yang sedikit lebih bersih. Dua cangkir teh yang semakin dingin. Dua orang yang datang dari sisi yang berbeda dari kisah yang sama dan entah kapan mulai merasa seperti mereka berada di sisi yang sama.
"Wren," kata Arsa — dan ia menyadari ia menyebut namanya dengan cara yang berbeda. Nama yang dulu terasa seperti kata benda, sekarang terasa lebih seperti kata sapaan. Lebih personal. Lebih langsung. "Terima kasih. Untuk semuanya yang sudah beberapa minggu ini."
Wren menatapnya. Sesuatu di sudut bibirnya bergerak — bukan senyum penuh, tapi lebih dari itu dalam arti berbeda.
"Ini bukan tugas saya yang paling mudah," katanya. "Tapi mungkin yang paling berarti."
Arsa ingin bertanya apa yang ia maksud dengan itu — apakah tugas adalah kata yang tepat untuk ini, apakah mereka masih mendefinisikan ini sebagai sesuatu yang bisa masuk kategori tugas — tapi ia tidak bertanya.
Karena ada hal-hal yang lebih baik tidak terburu-buru untuk didefinisikan.
Dan ia sudah mulai belajar itu.