Hwang zin bukanlah orang dari era ini,dia lahir di tahun 2028 dan berusia 30 tahun,dia yatim piatu,Dia bekerja keras selama hidupnya.
Dia menjadi koki , petugas pengangkutan barang, bartender,pelayan restoran dan lainnya,dia hidup dengan menghemat banyak uang saat tabungannya mencapai 100 juta dalam 15 tahun hidupnya.
Hwang zin membeli bangunan toko kecil yang lengkap penuh dengan barang-barang grosir dari barang orang tua hingga anak-anak dan makan pokok dan sejenisnya.
dia akan mulai berbisnis tapi siapa kira saat dia dalam perjalan pulang justru mobilnya tertabrak truk dan bangun disini .....bukannya mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa dia gila
Sejak kejadian di kantin, Paman Dong semakin menghargai keberadaan Hwang Zin dalam tim mereka.
Pria dengan wajah terluka, Li Ming, bahkan menjadi sangat akrab dan selalu menjaganya.
Begitu pula rekan-rekan lainnya – anak ini tampan, baik hati, dan bijaksana; siapa yang tidak menyukainya?
Prajurit yang ada di lokasi saat itu menyebarkan kata-kata Hwang Zin pada rekan-rekannya, membuat banyak prajurit merasa terharu.
Jadi saat Hwang Zin keluar dari kamarnya, prajurit yang mengenalnya akan menyapanya dengan ramah, dan anak itu akan membalasnya dengan senyum kecil yang memperlihatkan gigi taring lucu di sudut mulutnya.
Di kantin – ini sudah dua minggu Hwang Zin berada di sini. Dia sudah akrab dengan banyak orang, namun tidak pernah lagi melihat Jendral muncul.
"Saat makan malam apa yang akan dibuat....?"tanya Hwang Zin pada Paman Dong saat mereka sedang membagikan makan siang.
"Hanya makanan biasa dengan sayuran...."jawab Paman Dong dengan nada santai. Alis Hwang Zin mengerut. "...Paman, mereka tidak berburu?"
"Tidak... itu hanya dilakukan saat stok makanan hampir habis atau saat mereka ingin makan daging saja...." jelasnya sambil mengambil makanan dengan cekatan.
"Aku melihat ada penjaga di hutan.. apakah Hutan Perbatasan berbahaya?" tanya Hwang Zin sambil membagikan roti. Dia melihat bahwa hutan di sekitar barak dijaga oleh beberapa prajurit.
"Tidak juga, hanya kadang ada babi yang suka masuk ke barak dan membuat kekacauan, jadi Jendral meminta beberapa orang berpatroli di sekitar sana...." Paman Dong menjelaskan dengan sabar.
Mereka mengobrol santai. Total penjaga Divisi 1 adalah 200 orang, termasuk tukang masak, dokter, dan staf lainnya.
Ada sekitar 50 divisi di seluruh wilayah penjagaan, sehingga 5.000 orang dikerahkan untuk mengelilingi Negara Hu – belum termasuk prajurit di setiap pusat kota dan kawasan Istana yang dijaga oleh ribuan orang.
Mereka selesai memberi makan sekitar pukul dua siang, dan saat selesai, rekan-rekan segera membawa peralatan yang sudah habis digunakan untuk dicuci ke sungai dekat barak.
Hwang Zin ingin ikut membantu, tapi Paman Dong menahannya. "...Biarkan mereka saja, kamu ikut denganku..."
"Pergilah..." Rekan-rekan segera menyuruh mereka pergi dan menyerahkan tugas itu pada diri mereka sendiri.
Jadi Hwang Zin hanya bisa mengikuti Paman Dong, yang berjalan dengan tangan di belakang punggungnya. "Aku akan mengajakmu berkeliling....."
Hwang Zin merasa senang. Pertama, Paman Dong membawanya ke arena pandai besi.
Dia cukup terkejut melihat fasilitas tersebut ada di dalam barak. "Kalian memiliki pandai besi sendiri?"
"Tentu saja nak... kami membuat pedang dan peralatan lainnya di sini...." jawab Paman Dong dengan bangga.
Hwang Zin tertawa kecil dan terus mengobrol saat berjalan. Tak lama kemudian, mereka sampai di tempat penampungan pakaian yang dekat dengan sungai.
"...Jika pakaian rusak, datanglah kesini. Mereka bertugas mencuci dan menjahit pakaian para prajurit – gaji mereka lebih besar dari gaji kami..." desah Paman Dong dengan nada iri.
Namun melihat kondisi para pekerja yang setiap hari tertutup debu dan lumpur membuatnya merasa kasihan.
Lalu mereka pergi ke area tempat dokter bekerja. Di depan rumah kayu, terlihat pria yang dia lihat pergi bersama Jendral waktu itu.
"Itu dokter di sini...." kata Paman Dong pada Hwang Zin, kemudian menambahkan dengan suara berbisik. "Dia cukup licik..."
Melihat mereka mendekat, pria itu tersenyum dengan mata dingin. ".....Paman Dong, siapa ini?"
"Dia koki yang dibawa kembali oleh Jendral sendiri......" ucap Paman Dong dengan senyum kecil, tak perduli pada sikap tidak sopan pria itu.
"Apa perlu kamu menekankan bahwa dia dibawa oleh Jendral sendiri?" cibir Dokter Fei dengan jijik.
Senyum pria tua itu memudar,Wajah Paman Dong segera berubah jelek.Hwang Zin melirik Dokter Fei dengan mata menyipit.
Dokter Fei melihatnya dengan pandangan arogan."Ya, tapi terserah... baguslah, kalian memang membutuhkan bantuan lebih banyak...."
Kondisi tim Paman Dong memang cukup berat – empat orang memasak untuk 300 orang, sementara tim cuci atau dokter memiliki lebih banyak anggota, sekitar 10 sampai 12 orang.
"Zin.an ayo pergi..."Paman Dong segera pergi dari sana dengan wajah muram.Hwang Zin segera mengikutinya.
"Pria tua sombong..."gumam Dokter Fei menoleh tak puas melihat kearah mereka sebelum mendengus dan berbalik pergi.
"....Pria muda itu benar-benar terlalu sombong hanya karena dekat dengan Jendral..."ucap paman Dong dengan gertakan gigi.
Hwang Zin mendengarnya dan mengingat perilaku Jendral yang memang sedikit lebih lembut dan dekat pada Dokter Fei.
Selanjutnya, Paman Dong menunjukkan gudang makanan mereka – jika bahan makanan kurang, mereka bisa mengambilnya dari sana namun harus memberitahu Jendral terlebih dahulu.
Mereka berkeliling hampir satu jam sebelum Paman Dong memintanya kembali untuk istirahat.
Hwang Zin kembali ke kamar sendiri yang berada di sebelah kamar Song Wen dan dekat dengan kamar kelompok Hang Si.
Dia satu-satunya yang memiliki kamar sendiri – hak istimewa dari Jendral sendiri.
Ini lebih baik ketimbang harus berbagi dengan orang lain dan tidak bisa mengeluarkan makanan sesuka hati.
Hwang Zin duduk di atas dipan kayu yang dilapisi dengan kasur tipis dari tokonya, lalu ditutupi dengan alas piknik.
Lantai kamar masih batu yang dingin, namun bagian atas dipan kayu cukup lebar hingga bisa menampung meja kecil dan kasur lipat di atasnya.
Sambil mengunyah permen jelly, dia membuka sepatunya dan menyimpannya di sisi dekat ranjang, lalu naik ke atas dipan.
Dia juga membuat tirai tipis untuk memberikan privasi pada tempat tidurnya,Kemudian dia berbaring di kasur lipat dan segera tertidur setelah memejamkan mata.
Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki yang berhenti di depan pintu.
Pintu terbuka dan wajah Jendral – yang tidak pernah dilihat Hwang Zin selama seminggu terakhir – muncul di dalam kamar tanpa diundang.
Jiang Feng melihat ke bawah dan melihat sepatu anak itu yang dilepas di samping tempat tidur.
Kondisi kamar ini terlihat berbeda dari pertama kalinya dia datang – tepatnya pada malam hari kejadian kantin, saat Hwang Zin tertidur lelap.
Malam itu, Jiang Feng hanya diam mengawasinya tidur selama dua jam sebelum kembali ke tendanya.
Dari celah tirai, dia bisa melihat samar-samar bahwa Hwang Zin sedang tidur. Dia berjalan beberapa langkah dan mengangkat tirai itu perlahan.
Anak itu tidur dengan wajah damai.
Jiang Feng melihatnya dengan mata gelap – cahaya keruh di dalamnya dipenuhi rasa posesif yang tidak seharusnya dia miliki.
Hwang Zin merasa sedikit sakit di bibirnya, seperti digigit sesuatu.
Dia mengulurkan tangannya, namun segera ditahan.
Ini tidak benar!
Dia dengan paksa membuka matanya dan mendapati wajah Jendral begitu dekat dengannya – hidung mereka bersentuhan dan nafas hangat Jiang Feng menerpa wajahnya.
"Jendral...!"panggil Hwang Zin terkejut saat melihat Pria itu menundukkan wajahnya.
Matanya melebar – sial! Dia mengulurkan tangan untuk menahan lengan Jiang Feng, namun pria itu justru menggigit bibirnya dengan sedikit kasar, membuat Hwang Zin merasa linglung.
Beberapa saat kemudian mereka berpisah, nafas mereka tersengal-sengal.Hwang Zin benar-benar ingin memukulinya, tapi ini adalah Jendral – kekuatan mereka jelas berbeda.
Jadi dia hanya bisa memandangnya sambil Menggertakkan giginya."...Apa maksudmu?"
"Aku hanya ingin melakukannya..." jawab Jiang Feng dengan jujur, lalu menjauh dan berdiri tegak.
Matanya tampak begitu bersih hingga membuat Hwang Zin meragukan kelakuan mesum yang baru saja dilakukan pria itu beberapa menit lalu.
"....." Apa pria besar ini jelas bermain hooligan! Sambil tetap berbaring, dia memelototi pria itu dengan wajah dingin.
"Keluar....!"
"Ya... tidurlah lagi...." Jiang Feng mengangguk dan keluar begitu saja, seolah tidak pernah melakukan apa-apa padanya.
"......." Siapa yang bisa tidur lagi setelah ciuman pertamanya diambil begitu saja!
Bajingan ini!
Di luar kamar, Jendral berbalik pergi dengan leher dan telinga memerah. Dia mempercepat langkahnya seperti sedang melarikan diri.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Tuan Muda Jiang – Jendral Negara Hu – melakukan hal tidak sopan seperti itu.
Pada sejenisnya! Pria dengan pria! Apalagi dia masih anak-anak!
Dia merasa sangat malu, namun tangannya terulur untuk menyentuh bibirnya – rasanya lembut dan manis.
Matanya menjadi tajam dengan cahaya keruh.
Dia menyukainya!
Keesokkan harinya,Hwang Zin bangun dengan lingkaran hitam di bawah matanya,
Karena serangan mendadak Jendral tadi malam, dia tidak bisa tidur nyenyak.
Dia bahkan sempat bertanya-tanya apakah itu hanya mimpi atau halusinasi!
Paman Dong melihat anak itu masuk ke dapur dengan mata merah dan kantung mata membengkak, sepertinya tidak tidur sama sekali."...Zin-an, apa kamu tidak tidur?"
"Ya, banyak nyamuk...." jawabnya sambil menguap.
"....." Apa serangga tidak tidur saat musim dingin? Beberapa orang tertawa kecil mendengarnya.
Paman Dong merasa anak ini hanya mencari alasan,jadi dia segera menyuruhnya memasak."Pergilah potong sayuran, jangan malas...."
"Oke..." Hwang Zin pergi dengan langkah ringan, namun tetap mengerjakan pekerjaannya meskipun terlihat lesu.
Tak! Tak! Tak!
"......" Paman Dong dan yang lain melihatnya dengan terkejut – bocah ini memotong sayuran dengan kecepatan luar biasa meskipun matanya hampir terpejam!
Sing! Sing! Sing!
Hwang Zin bahkan mengiris kubis dengan cekatan seolah akan tertidur di detik berikutnya!
"......." Paman Dong dan rekan-rekannya merasa jantung mereka berdebar kencang karena melihatnya!
Saat sarapan pagi, Hwang Zin seperti biasa berdiri untuk membagikan roti – mengenakan celemek dengan rambut diikat rapi.
Hang Si berbaris untuk mengambil roti dan melihat wajah lesunya, menjadi cemas."Zin'an, kamu tidak tidur?"
"Banyak nyamuk...." Hwang Zin memberikan roti padanya dengan wajah tanpa ekspresi.
"......" Paman Dong dan lainnya meliriknya dengan tidak percaya.
"....." Kapten Song yang berada di belakang Hang Si juga terdiam.
"......" Jendral Jiang yang baru saja mengantri juga merasa tidak nyaman.
"Apa mereka tidak tidur sepanjang musim dingin...?" tanya Hang Si dengan kepala miring dan wajah bingung.
"Tidak.. aku rasa itu jenis baru, fisiknya cukup gelap dan jelek!" gerutu Hwang Zin dengan mata menyipit dan nada jijik.
"......"Jendral Jiang merasa seperti anak ini sedang membicarakan dirinya sendiri!