NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat Warisan

Tiga malam berikutnya berjalan seperti tali yang direntangkan di atas jurang.

Setiap jam terasa panjang. Setiap langkah di lorong membuat napas tertahan. Setiap teriakan bandit di goa tengah membuat keempat anak itu saling berpandangan, bertanya-tanya dalam diam apakah rahasia mereka sudah terbongkar.

Namun sampai malam ketiga tiba, mereka masih hidup.

Dan formasi itu sudah  selesai, hanya masalah waktu yang tepat dan batu roh yang cukup.

Pada siang hari, Shou Wei tetap menggali seperti biasa. Ayunan cangkulnya stabil, matanya menunduk, tetapi pikirannya terus menghitung susunan garis dan aliran tenaga. Ia kini hafal seluruh bentuk lingkaran itu di luar kepala. Bukan hanya titik mana yang harus diisi batu roh, tetapi juga arah mana yang paling aman bila tenaga di dalam formasi mendadak meledak.

Hui Song membantu dengan kekuatan tubuhnya. Pemuda lima belas tahun itu memecah batu-batu besar yang diperlukan untuk inti penguat formasi. Tangannya lecet, kuku-kukunya retak, tetapi ia tidak pernah mengeluh. Setiap kali rasa lelah memuncak, ia hanya menatap lorong gelap di depan dan mengingatkan dirinya sendiri bahwa ada sesuatu di luar tambang ini yang layak diperjuangkan.

Chu Hua menjadi mata dan telinga mereka. Gadis kecil itu berjalan membawa makanan, keranjang, atau kain kotor seolah tak terjadi apa-apa, padahal setiap langkahnya adalah bagian dari pertaruhan. Ia yang paling sering mendengar percakapan para bandit. Ia tahu siapa yang sedang mabuk, siapa yang sedang marah, dan siapa dari murid sekte yang akan datang malam itu.

Sementara Bo De tetap menjadi bayangan. Ia mengambil hasil galian, menyisihkan batu roh terbaik sedikit demi sedikit, dan menyimpan segala sesuatu di tempat-tempat yang tidak akan dipikirkan orang dewasa. Kadang di bawah batu longgar, kadang di balik ember air keruh, kadang diselipkan di sela celana sobek para pekerja lain yang tak sadar tengah menjadi perisai rahasia.

Mereka bergerak pelan.

Namun cukup lama, sesuatu yang pelan pun bisa menjadi besar.

Pada malam ketiga, Shou Wei berdiri di tengah goa terdalam dan memandang formasi yang sudah lengkap.

Lingkaran luar telah utuh. Empat titik utama di utara, selatan, barat, dan timur sudah tertanam batu roh yang dipilih paling stabil. Garis-garis penghubung di antara titik itu berkelok seperti urat nadi. Di pusat lingkaran ada satu ruang kecil berbentuk segi delapan, tempat aliran darah dan tenaga akan dipertemukan.

Api obor memantul pada batu roh yang tertanam di lantai, membuat seluruh formasi tampak seperti makhluk hidup yang sedang tertidur.

“Ini malamnya,” kata Shou Wei.

Hui Song yang sedang mengangkat batu terakhir menghela napas panjang. “Akhirnya.”

Bo De berdiri menyilangkan tangan, tapi wajahnya tak setenang biasanya. “Masih bisa mundur?”

“Bisa,” jawab Shou Wei.

Chu Hua yang baru duduk dekat pintu masuk menatapnya. “Lalu besok?”

Shou Wei menatap ketiganya satu per satu. “Besok kita tetap budak. Besok atau lusa salah satu dari kita mungkin dipotong jari. Sebulan lagi mungkin dipukul mati. Setahun lagi, kalau masih hidup, kita mungkin dibunuh diam-diam setelah dianggap cukup dewasa untuk tahu terlalu banyak.”

Tak ada yang bicara.

Karena semuanya benar.

Bo De mendecak dan menurunkan tangan. “Kalau begitu jangan tanyakan mundur lagi.”

Shou Wei berlutut di sisi timur formasi dan membuka kitab kuno itu untuk terakhir kalinya. Kain gulungan itu kini jauh lebih kusam dibanding saat pertama ditemukan. Seolah setiap malam kitab itu juga terkikis bersama waktu mereka. Pada bagian akhir, tepat di bawah lambang empat roh, ada instruksi yang sejak awal paling membuatnya gelisah.

Darah harus diambil dari nadi hidup.

Darah harus cukup untuk membangunkan roh.

Mereka yang ragu, akan ditolak.

Mereka yang takut mati, akan mati lebih dulu.

Hui Song membaca wajah Shou Wei dan tahu bagian mana yang sedang dipikirkannya.

“Bilang terus terang,” katanya. “Seberapa berbahaya?”

Shou Wei menjawab tanpa berputar. “Kalau darah yang keluar terlalu sedikit, formasi gagal. Kalau terlalu banyak, kita bisa mati kehabisan darah sebelum warisan masuk. Kitab ini tidak memberi ukuran pasti. Hanya mengatakan ‘sampai roh mengenali persembahan’.”

Bo De mengumpat pelan. “Tentu saja kitab kuno harus bicara seperti orang gila.”

“Apakah ada cara lain?” tanya Chu Hua.

“Tidak.”

Hui Song duduk di sisi barat. “Kalau begitu kita lakukan.”

Bo De menatapnya tajam. “Kau bahkan tidak berpikir dua kali?”

“Aku sudah berpikir sejak tiga tahun lalu,” jawab Hui Song. “Setiap hari di tambang ini adalah kematian yang dipotong kecil-kecil. Aku lebih suka memilih sendiri malam matiku dari pada menunggu umur 17 tahun lalu di bunuh.”

Kata-kata itu membuat keheningan turun.

Chu Hua berjalan masuk mendekati lingkaran. Tubuhnya kecil, tapi langkahnya mantap. “Aku ikut. Sekalipun aku paling muda, di goa ini sama saja kemtaian.”

Bo De mengusap wajahnya kasar. “Sial. Kalian semua benar-benar gila.”

Ia memandang formasi itu lagi, lalu menendang batu kecil ke sudut ruangan. “Baik. Kalau mati, kita mati. Tapi kalau aku hidup dan kalian berubah jelek, jangan salahkan aku kalau kutertawakan.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Hui Song tertawa pendek.

Shou Wei menutup kitab dan menyembunyikannya di luar lingkaran. “Sebelum mulai, dengarkan ini. Begitu darah masuk dan formasi aktif, mungkin akan ada rasa sakit. Mungkin tubuh kita akan berubah. Mungkin kita kehilangan kesadaran. Apa pun yang terjadi, jangan keluar dari posisi kalian sampai formasi berhenti sendiri.” Shou menatap satu per satu. "Percayalah padaku."

“Kalau ada yang panik?” tanya Chu Hua.

“Pegang garis di bawah kaki. Jangan bergerak.”

“Kalau tubuh kita terbakar?” Bo De bertanya.

“Jangan bergerak.”

“Kalau tulang kita patah?”

“Jangan bergerak.”

Bo De menghela napas panjang. “Baik. Jadi jawabannya tetap jangan bergerak.”

Shou Wei mengangguk. "Percayalah padaku."

Mereka lalu mengambil posisi masing-masing.

Bo De berdiri di utara, di atas lambang Xuanwu. Hui Song di barat, di atas lambang Qilin. Chu Hua di selatan, di atas lambang Fenghuang. Shou Wei sendiri berdiri di timur, di atas lambang Longwang.

Empat anak kecil dalam lingkaran kuno.

Empat budak tambang di perut gunung.

Tidak ada langit di atas mereka. Tidak ada guru, tidak ada pelindung, tidak ada jaminan bahwa ritual ini akan berhasil. Yang ada hanya batu, debu, luka, dan tekad.

Shou Wei mengeluarkan pecahan batu paling tajam yang mereka punya. Batu itu kecil, tapi tepinya cukup halus untuk menyayat nadi.

“Tangan kiri,” katanya. “Di bagian dalam pergelangan.”

Hui Song langsung mengulurkan tangan.

Chu Hua menatap batu itu tanpa ekspresi.

Bo De bergumam, “Kalau nanti aku pingsan, jangan ambil batu roh simpananku.”

“Kalau kau mati, semua itu jadi milikku,” balas Hui Song.

Bo De hampir menyeringai.

Shou Wei menarik napas dalam-dalam. “Sekarang dan tetap Percayalah padaku.”

Ia menyayat pergelangan tangan kirinya sendiri lebih dulu.

Rasa panas tajam menyusul seketika. Darah merah gelap keluar dari nadi dan menetes ke garis formasi di bawah kakinya. Sesaat kemudian, tiga suara tarikan napas tertahan terdengar nyaris bersamaan dari arah lain. Hui Song, Chu Hua, dan Bo De juga telah menyayat tangan mereka.

Tetesan pertama jatuh.

Lalu kedua.

Lalu ketiga.

Awalnya, tak terjadi apa-apa.

Hanya darah yang mengalir ke ukiran garis dan menyusuri lekukan kecil yang telah mereka buat di lantai.

“Terus,” kata Shou Wei pelan, meskipun keringat dingin sudah mulai muncul di dahinya.

Darah terus menetes.

Garis merah tipis merambat menuju pusat lingkaran. Dari empat arah, aliran itu bertemu di segi delapan tengah, membentuk genangan kecil berwarna gelap.

Masih tak terjadi apa-apa.

Bo De mulai pucat. “Berapa banyak lagi?”

“Sedikit lagi,” kata Shou Wei, meskipun ia sendiri tidak yakin.

Luka di pergelangan tangan berdenyut keras. Tubuhnya mulai ringan. Lututnya serasa kehilangan kekuatan. Di sisi lain, Chu Hua menggigit bibir bawahnya sampai hampir berdarah, tetapi ia tidak bergerak. Hui Song menegakkan punggungnya, wajahnya pucat seperti kertas. Bo De sudah mengutuk pelan di bawah napas.

Lalu, tepat saat genangan darah di pusat formasi memenuhi ukiran terakhir—

seluruh lingkaran menyala.

Bukan terang obor.

Bukan pula cahaya batu roh biasa.

Cahaya itu bangkit dari garis-garis di lantai seperti api yang terbuat dari kabut. Merah, emas, hitam, dan biru pucat bercampur lalu menyebar ke empat arah. Batu roh yang tertanam di sekeliling lingkaran bergetar halus. Udara di dalam goa mendadak berat sampai napas terasa sulit.

“Jangan bergerak!” teriak Shou Wei.

Suara dengung rendah memenuhi ruangan. Seperti ada sesuatu yang sangat besar sedang membuka mata di bawah tanah.

Cahaya dari titik selatan lebih dulu melonjak, membungkus tubuh Chu Hua dengan semburat jingga kemerahan. Gadis kecil itu menahan jerit saat rambutnya beterbangan dan kulit di lehernya tampak berpijar seperti bara.

Di utara, cahaya hitam kebiruan menelan kaki Bo De. Anak itu mengumpat keras ketika kulit tangannya mulai berubah keras seperti sisik kusam.

Di barat, Hui Song melengkungkan tubuhnya. Cahaya keemasan gelap menyelimuti bahunya, dan dari bawah kulitnya terdengar bunyi retak halus seperti tulang yang sedang bergeser.

Di timur, Shou Wei merasa seluruh darahnya mendidih.

Rasa sakit itu datang begitu tiba-tiba hingga penglihatannya memutih. Sesuatu merayap di bawah kulit lengan, punggung, leher, seperti aliran panas yang hidup. Ia menunduk dan melihat garis-garis biru pucat muncul di lengannya, lalu pecah menjadi pola sisik samar sebelum menghilang lagi.

Formasi meraung.

Ya, meraung.

Bukan dengan suara biasa, tetapi langsung ke dalam kepala mereka. Shou Wei mendengar sesuatu seperti auman naga jauh di dasar laut, jerit burung api, langkah berat makhluk bertanduk, dan dengung panjang dari tempurung raksasa yang menahan langit.

Empat suara.

Empat roh.

Empat warisan.

Tangan Shou Wei gemetar hebat. Darah masih mengalir dari pergelangannya, tapi kini darah itu seperti ditarik oleh formasi, bukan sekadar menetes. Kakinya nyaris goyah.

“Jangan... bergerak...” bisiknya pada dirinya sendiri.

Di selatan, Chu Hua akhirnya menjerit. Dari punggungnya muncul bayangan sayap api sesaat sebelum menyusut kembali. Di utara, Bo De terjatuh berlutut, tapi tangannya masih menyentuh titik garis dan ia belum keluar dari posisi. Hui Song menahan geraman parau ketika dua tonjolan samar muncul di dahinya seperti bakal tanduk.

Cahaya makin terang.

Batu roh satu per satu retak.

Shou Wei sadar formasi ini memakan semua yang ada: darah mereka, tenaga di batu roh, bahkan mungkin udara di sekelilingnya. Kalau ini terus berlanjut terlalu lama, mereka semua akan mati.

Lalu di tengah rasa sakit yang nyaris menenggelamkannya, ia melihat sesuatu.

Di pusat lingkaran, tepat di atas genangan darah, muncul empat bayangan samar: naga panjang yang melilit, burung bersayap menyala, qilin bertanduk dengan kaki berat, dan kura-kura hitam berpunuk dengan ular melingkar di punggungnya. Semua itu tidak sepenuhnya nyata, namun cukup jelas untuk membuat bulu kuduknya berdiri.

Bayangan empat roh itu menoleh ke arah masing-masing anak.

Sesaat kemudian, seluruh cahaya tersedot kembali ke dalam tubuh mereka.

Ledakan sunyi mengguncang goa terdalam.

Shou Wei merasa tubuhnya dilempar ke dalam jurang tanpa dasar. Semua rasa sakit, panas, dan dengung pecah menjadi gelap pekat. Lututnya lemas. Penglihatannya runtuh.

Hal terakhir yang ia dengar sebelum pingsan adalah suara batu roh terakhir yang hancur menjadi debu.

Lalu semuanya lenyap. Semua garis formasi. Bahkan kitab yang dibaca Shou Wei juga menjadi debu..

Saat malam itu berakhir, empat anak di dalam lingkaran kuno telah roboh tak sadarkan diri, bersimbah darah dan debu.

Formasi yang mereka bangun dengan susah payah mulai meredup.

Kitab kuno di luar lingkaran bergetar halus.

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!