NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

​Pagi di meja makan itu seharusnya terasa hangat setelah kejadian nasi goreng tengah malam, namun bagi Davino, setiap suapan terasa seperti menelan kerikil. Pesan singkat yang masuk ke ponselnya tadi—sebuah bukti bahwa musuh bisa melihat hingga ke dalam privasi dapurnya—membuat naluri pelindungnya berteriak waspada. Ia menatap Alisa yang sedang mengoles selai ke rotinya dengan gerakan yang masih sedikit kaku, mungkin masih malu karena kejadian "tuduhan" di kamar tadi.

​"Alisa," panggil Davino pelan, suaranya kembali ke nada bariton yang serius.

​Alisa mendongak, matanya yang jernih menatap Davino. "Ya?"

​"Hari ini aku akan mengantarmu sampai ke dalam lobi. Dan aku ingin kamu memberikan daftar siapa saja perawat atau staf yang belakangan ini sering bertanya soal jadwalmu kepada Satgas," Davino meletakkan ponselnya di meja, layarnya menghadap ke bawah.

​Alisa menghela napas, ia meletakkan pisaunya. "Mas, aku sudah bilang, aku akan urus itu. Aku tidak mau lingkungan kerjaku jadi penuh dengan kecurigaan."

​"Ini bukan soal kecurigaan, ini soal fakta bahwa mereka tahu apa yang kita makan semalam pukul dua pagi, Alisa!" Davino sedikit menekan suaranya, membuat Maura yang sedang asyik dengan ponselnya langsung mendongak kaget.

​Suasana meja makan mendadak hening. Alisa terpaku. Ia melihat guratan kecemasan yang nyata di dahi Davino, sesuatu yang jarang ia lihat di balik topeng datarnya.

​"Mereka... mereka tahu soal tadi malam?" bisik Alisa, wajahnya memucat.

​Davino mengangguk kaku. "Rumah ini akan aku sterilisasi lagi sore nanti. Selama aku belum memberi sinyal aman, jangan pernah sendirian di area yang tidak terpantau kamera pengawas."

​Alisa terdiam cukup lama. Ia teringat bagaimana lelahnya ia semalam, bagaimana ia hampir kehilangan kesadaran karena kantuk, dan bagaimana bahayanya jika ia terus berada dalam kondisi fisik yang lemah di tengah ancaman seperti ini. Ia juga memikirkan kata-kata Fani tentang menjaga diri dan perasaannya.

​"Aku mengerti," ucap Alisa akhirnya. "Dan Mas... hari ini aku akan bicara dengan Dokter Wijaya, kepala rumah sakit."

​"Untuk apa?" tanya Davino.

​"Aku akan meminta untuk tidak diberikan shift malam lagi untuk sementara waktu. Aku tidak bisa terus-terusan pulang jam dua pagi dalam kondisi lelah jika situasi sedang seperti ini. Aku butuh fokus penuh, baik di meja operasi maupun saat harus waspada di jalan," Alisa berkata dengan nada yang sangat tenang namun penuh keputusan.

​Davino sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Alisa akan mengambil inisiatif secepat itu, apalagi Alisa adalah tipe wanita yang sangat mencintai pekerjaannya dan jarang sekali mengeluh soal jadwal.

​"Itu keputusan yang bijak," gumam Davino, ada rasa lega yang menyelinap di hatinya. "Aku akan mendukungmu. Jika Dokter Wijaya butuh jaminan keamanan dari kepolisian untuk alasan itu, aku akan menyediakannya."

​Sesampainya di Rumah Sakit Medika Utama, Davino benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Ia mengantar Alisa hingga depan pintu poli bedah, mengabaikan tatapan mata para perawat yang berbisik-bisik melihat betapa posesifnya suami sang dokter cantik hari ini.

​"Ingat, gelang daruratnya jangan dilepas," pesan Davino sebelum berbalik pergi.

​Alisa mengangguk, lalu ia melangkah menuju ruangan Dokter Wijaya. Ia harus menunggu sekitar tiga puluh menit sebelum akhirnya dipanggil masuk. Dokter Wijaya adalah pria paruh baya yang bijaksana, yang sudah menganggap Alisa seperti anaknya sendiri.

​"Masuk, Alisa. Tumben sekali kamu minta waktu khusus," sapa Dokter Wijaya dari balik meja kerjanya yang penuh buku.

​Alisa duduk dengan sopan. "Maaf mengganggu waktunya, Dok. Saya ingin membicarakan soal jadwal residensi saya."

​Dokter Wijaya melepas kacamata bacanya. "Ada masalah? Kamu adalah salah satu residen terbaik kami, Alisa. Apa ini soal Raka? Saya dengar dia sering mengganggu staf di bawah?"

​Alisa menggeleng pelan. "Bukan cuma soal Raka, Dok. Ini soal keamanan pribadi saya. Suami saya sedang menangani kasus besar, dan belakangan ini ada beberapa ancaman yang mulai masuk ke lingkungan pribadi kami. Saya merasa... shift malam membuat saya terlalu rentan. Saya tidak ingin membahayakan diri saya sendiri, atau staf lain yang mungkin ikut terseret jika sesuatu terjadi pada saya di jam-jam sepi."

​Dokter Wijaya terdiam, ia tampak berpikir serius. "Alisa, kamu tahu kan kalau shift malam adalah bagian penting dari penilaian residensi? Pasien trauma sering masuk di jam-jam itu."

​"Saya mengerti, Dok. Itulah sebabnya saya bersedia menggantinya dengan shift pagi atau sore yang lebih padat. Saya bisa mengambil lebih banyak jam operasi di siang hari untuk menutupi jam shift malam yang hilang. Saya hanya butuh kepastian bahwa saya bisa pulang saat hari masih terang atau saat pengawalan saya lebih mudah dilakukan," Alisa menjelaskan dengan argumen medis dan logis.

​Dokter Wijaya menghela napas, lalu tersenyum tipis. "Suamimu itu, Davino... dia benar-benar perwira yang teliti ya? Baiklah, Alisa. Saya mengerti situasimu. Saya tidak ingin kehilangan aset berharga seperti kamu karena masalah keamanan. Untuk tiga bulan ke depan, saya akan hapus jadwal shift malammu. Tapi sebagai gantinya, kamu harus memimpin tim di IGD pada jam-jam sibuk sore hari. Bagaimana?"

​Alisa merasa sebuah beban besar terangkat dari pundaknya. "Terima kasih banyak, Dok. Itu lebih dari cukup bagi saya."

​Saat Alisa keluar dari ruangan, ia merasa jauh lebih ringan. Namun, di koridor menuju ruang dokter, ia berpapasan dengan Fani yang tampak sedang terburu-buru.

​"Al! Baguslah kamu sudah keluar," Fani menarik lengan Alisa ke sudut koridor. "Baru saja ada instruksi dari administrasi, jadwalmu diubah? Kamu tidak ambil shift malam lagi?"

​Alisa mengangguk. "Aku yang minta, Fan. Davino benar, situasinya terlalu berbahaya."

​Fani mengembuskan napas lega. "Syukurlah. Kamu tahu tidak? Tadi aku lihat Raka lagi di kantin. Dia sepertinya sedang bicara dengan Suster Tini. Aku curiga dia mencoba cari tahu jam pulangmu hari ini. Tapi sekarang dia pasti bakal gigit jari karena jadwalmu sudah berubah."

​Alisa mengerutkan kening. "Raka benar-benar keterlaluan. Dia tidak tahu kalau tindakannya itu bisa membahayakan nyawaku jika orang yang mengincar Davino melihat dia sebagai celah."

​"Makanya, Al. Tetaplah dekat dengan suamimu yang 'kulkas' itu. Meskipun dia dingin, setidaknya dia tidak membiarkan nyamuk pun menyentuhmu," goda Fani, mencoba mencairkan suasana.

​Sementara itu, di sebuah gudang tua di pinggiran Jakarta, Davino berdiri di depan seorang pria yang terikat di kursi. Pria itu adalah salah satu informan yang sering memberikan informasi kepada kelompok Black Cobra. Alvin berdiri di samping Davino, melipat tangan di dada.

​"Siapa yang mengirim pesan ke rumahku?" tanya Davino, suaranya sedingin es, tidak ada lagi jejak kehangatan seperti saat ia menggoda Alisa tadi pagi.

​Pria itu meludah ke samping. "Aku tidak tahu, Kapten. Mereka menggunakan sistem terputus. Tapi mereka tahu istrimu adalah titik lemahku. Mereka tahu kamu mulai 'lunak' sejak menikah."

​Davino mencengkeram kerah baju pria itu. "Aku tidak pernah lunak. Dan jika kalian berani menyentuh satu helai rambut pun dari istri atau adikku, aku akan memastikan tidak ada satu pun dari kalian yang akan sampai ke pengadilan hidup-hidup."

​Davino melepaskan pria itu dengan kasar. Ia berjalan keluar dari gudang, diikuti oleh Alvin.

​"Vin, kamu harus tenang," ujar Alvin. "Kamu mulai emosional. Itu yang mereka mau. Mereka mau kamu panik dan membuat kesalahan."

​Davino berhenti di depan mobilnya. "Aku tidak panik, Al. Aku cuma sadar kalau sandiwara ini sudah berubah jadi nyata. Aku harus melindungi mereka dengan segala cara."

​"Termasuk melibatkan perasaanmu?" pancing Alvin.

​Davino terdiam sejenak. Ia teringat wajah Alisa yang tertidur di bahunya semalam. Aroma nasi goreng yang mereka makan bersama. Dan wajah ketakutannya saat ia menggoda Alisa pagi tadi.

​"Perasaanku bukan bagian dari perjanjian satu tahun ini, Al. Tapi tanggung jawabku adalah mutlak," jawab Davino, meskipun hatinya mulai meragukan kata-katanya sendiri.

​Sore harinya, Davino menjemput Alisa tepat waktu. Alisa tampak lebih ceria saat masuk ke dalam mobil.

​"Kepala rumah sakit setuju," lapor Alisa dengan senyum tipis. "Mulai besok, aku tidak ada shift malam lagi."

​Davino mengangguk puas. "Bagus. Itu langkah pertama yang benar."

​Saat mereka sedang di perjalanan pulang, Alisa melihat sebuah toko kue yang cukup terkenal. "Mas, bisa berhenti sebentar? Aku mau beli camilan untuk Maura. Dia bilang dia sedang stres menghadapi tugas kuliahnya."

​Davino ragu sejenak, namun melihat area toko kue itu cukup terbuka dan ramai, ia mengizinkan. "Tetap di sampingku. Jangan menjauh lebih dari satu meter."

​Di dalam toko kue, Alisa memilih beberapa croissant dan cupcake. Saat sedang menunggu antrean, Davino terus berdiri di belakangnya, matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan waspada.

​"Mas, santai sedikit. Orang-orang melihat kita seperti kita sedang membawa bom," bisik Alisa malu.

​"Biarkan saja mereka melihat," jawab Davino acuh tak acuh.

​Tiba-tiba, seorang pria dengan jaket hoodie gelap berjalan cukup cepat ke arah mereka. Davino dengan sigap langsung menarik pinggang Alisa ke belakang tubuhnya, tangannya sudah bersiap di balik jaketnya, tempat senjatanya berada.

​Pria itu terhenti kaget. "Eh... maaf, Pak. Saya cuma mau ambil tisu di meja sebelah Bapak."

​Alisa menepuk lengan Davino. "Mas! Dia cuma mau tisu!"

​Davino baru menyadari bahwa ia terlalu sensitif. Pria itu menatap Davino dengan ketakutan dan segera menjauh. Alisa menghela napas, wajahnya merah padam karena malu.

​"Mas benar-benar harus belajar membedakan warga sipil dan musuh," gerutu Alisa setelah mereka keluar dari toko.

​"Lebih baik salah sangka daripada terlambat bertindak," sahut Davino tenang, namun dalam hatinya ia merasa sedikit konyol.

​Malam itu di rumah, suasana terasa jauh lebih tenang. Maura sangat senang dengan kue yang dibelikan Alisa. Mereka bertiga duduk di ruang tengah, menonton acara televisi bersama. Davino duduk di kursi tunggal dengan laptopnya, namun sesekali matanya melirik ke arah Alisa yang sedang tertawa mendengar cerita Maura.

​Alisa merasa, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, rumah ini benar-benar terasa seperti rumah. Tidak ada shift malam yang menghantuinya, tidak ada keheningan yang mencekam. Hanya ada suara tawa Maura dan kehadiran Davino yang, meski kaku, memberikan rasa aman yang tak tergantikan.

​Namun, di balik jendela yang tertutup rapat, Davino tahu bahwa ketenangan ini hanyalah jeda singkat sebelum badai besar berikutnya datang menghantam. Ia menatap Alisa, dan dalam hati ia berjanji: Satu tahun atau selamanya, aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak tawa itu.

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!