NovelToon NovelToon
The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Sistem
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
​Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
​Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
​Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
​"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

## **Bab 9: Nyali di Ujung Belati**

Malam semakin larut di panti asuhan "Kasih Abadi". Gerimis telah berhenti, meninggalkan hawa dingin yang menusuk tulang dan aroma tanah basah yang pekat. Di dalam bangunan tua itu, anak-anak sudah terlelap, tidak menyadari badai digital yang baru saja berkecamuk di kepala kakak asuh mereka.

Arka terduduk di kursi kayu teras, punggungnya bersandar kaku pada sandaran yang reyot. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena dingin, melainkan karena penalti fisik yang dijatuhkan oleh Sistem. Kepalanya terasa seolah dihantam palu godam berulang kali, dan setiap tarikan napas mengirimkan rasa sakit yang tajam ke dadanya.

**[Status Sistem: Kritis.]**

**[Integrasi Saraf: 35%. Mode Analisis: Non-Aktif.]**

**[Peringatan: Pengguna berada dalam kondisi rentan.]**

Arka menatap ponselnya yang layarnya retak. Pesan yang ia kirim ke Elina Clarissa masih berstatus *pending*. Gangguan sinyal akibat serangan siber tadi belum sepenuhnya hilang.

"Sial," umpat Arka lirih. Suaranya serak dan lemah. Ia mencoba berdiri, namun kakinya terasa seperti jeli. Ia jatuh kembali ke kursi, napasnya memburu. Di saat seperti ini, kecerdasan jeniusnya terasa tidak berguna. Ia hanyalah seorang pemuda kurus yang sedang sekarat.

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil pelan terdengar dari kejauhan, lalu mati tepat di depan gerbang panti.

Arka menegakkan tubuhnya dengan susah payah. Instingnya, yang diasah selama bertahun-tahun di jalanan, berteriak waspada. Ia menajamkan pendengarannya. Suara pintu mobil ditutup pelan, disusul suara langkah kaki yang berat dan terukur. Lebih dari satu orang.

"Naga itu bergerak cepat," gumam Arka. Ia menyadari Elina tidak akan datang tepat waktu.

---

Arka tahu ia tidak bisa melawan mereka secara fisik dalam kondisinya saat ini. Ia bahkan mungkin tidak bisa lari. Satu-satunya senjatanya adalah otaknya, dan panti asuhan ini adalah cetak birunya.

Ia merayap masuk ke dalam panti, mencoba tidak menimbulkan suara. Di bawah penglihatannya yang mulai kabur, ia tidak lagi melihat data emas Sistem, melainkan ingatan-ingatan taktil dari masa kecilnya di sini. Panti ini adalah bangunan tua penuh "cacat" yang ia hafal di luar kepala.

Pintu depan diketuk dengan keras, bukan ketukan sopan, melainkan pukulan ancaman.

"Arka! Buka pintunya! Kami tahu kau di dalam!" suara berat dan serak berteriak dari luar.

Arka tidak menjawab. Ia meraba lantai kayu di dekat dapur. Ada satu papan yang longgar yang selalu berdecit keras jika diinjak. Ia sengaja menggeser karpet lusuh di atasnya agar papan itu tertutup sempurna, menanti korbannya.

Di sudut lain, ia melihat tumpukan botol kaca bekas sirup yang dikumpulkan Ibu Fatimah. Ia menyusunnya dengan hati-hati di rak kayu di dekat pintu masuk dapur. Rak itu sudah tua dan paku-pakunya mulai lepas. Hanya butuh satu dorongan kecil untuk merobohkannya.

*Brak!*

Pintu depan didobrak paksa hingga engselnya copot. Tiga pria bertubuh besar masuk ke ruang tamu. Mereka mengenakan jaket kulit hitam dan masker, di tangan pemimpinnya berkilat sebilah belati panjang.

"Cari dia! Bos Hendra bilang, kalau dia melawan, buat dia cacat," perintah sang pemimpin.

---

Arka bersembunyi di balik lemari makan di dapur, menahan napasnya yang terasa sesak. Tubuhnya terus menuntut istirahat, namun nyalinya menolak untuk menyerah.

**[Sistem: Detak Jantung Terlalu Tinggi. Risiko Serangan Jantung.]**

*"Diam!"* sentak Arka dalam hati. *"Aku bukan lagi Arka yang dulu. Aku adalah sang arsitek. Dan arsitek tidak takut pada reruntuhan."*

Dua preman bergerak menuju lorong kamar anak-anak, sementara pemimpinnya berjalan menuju dapur. Arka mendengar langkah kaki berat itu mendekat.

*Krieeek!*

Salah satu preman di lorong menginjak papan lantai yang longgar di dekat karpet. Suaranya begitu keras di kesunyian malam. Preman itu tersentak kaget.

Suara decitan itu mengalihkan perhatian si pemimpin di dapur. Saat si pemimpin menoleh ke arah lorong, Arka menendang kaki rak piring dengan sisa-sisa kekuatannya.

*Praaang!*

Tumpukan botol kaca jatuh berhamburan ke lantai marmer di dekat kaki si pemimpin. Pecahan kaca melenting ke mana-mana, beberapa mengenai wajah dan tangannya. Si pemimpin berteriak kesakitan, refleks melepaskan belatinya untuk menutupi wajahnya yang berdarah.

Belati itu jatuh berdentang di lantai, tepat di dekat karpet tempat Arka bersembunyi.

"Brengsek! Dia di sini!" teriak si pemimpin.

---

Arka tidak membuang detik berharga. Meskipun tubuhnya menjerit kesakitan, ia merayap keluar dari balik lemari dan menyambar belati yang jatuh itu.

Si pemimpin, dengan wajah berlumuran darah dan kemarahan yang meluap, menerjang ke arah Arka. Arka tidak menghindar. Ia tidak bisa. Ia justru menggunakan berat tubuh preman itu sebagai momentum.

Arka berbaring di lantai, mengangkat kakinya dan menendang perut si pemimpin dengan teknik bela diri jalanan yang ia pelajari dari Bang Jago. Preman bertubuh besar itu melayang melewati tubuh Arka dan jatuh menghantam lemari kaca di belakangnya.

*Brak! Praaang!*

Lemari itu hancur, menimbun si pemimpin di bawah tumpukan kaca dan kayu.

Namun, dua preman lainnya kini sudah sampai di dapur, wajah mereka mengeras melihat pemimpin mereka dilumpuhkan oleh seorang pemuda kerempeng. Mereka tidak lagi membawa belati, melainkan pemukul bisbol besi.

Arka berdiri dengan susah payah, bersandar pada tembok dapur yang dingin. Di tangannya, belati si pemimpin digenggam erat, telapak tangannya kembali terluka oleh logam itu, namun ia tidak merasakannya. Rasa sakit di kepalanya mendadak hilang, digantikan oleh adrenalin dingin yang murni.

"Maju," ucap Arka, suaranya kini terdengar begitu tenang, begitu datar, hingga membuat kedua preman itu ragu sejenak. "Aku sudah meruntuhkan dinasti Wijaya di ruang rapat pagi ini. Apa kalian pikir dua batang besi bisa menghentikanku di rumahku sendiri?"

Di saat kritis itulah, penglihatan Arka kembali berdenyut. Bukan lagi data merah yang kacau, melainkan kilatan cahaya emas yang tajam.

**[Status Sistem: Reboot Darurat Berhasil.]**

**[Integrasi Saraf: 60%. Mode Analisis: Aktif.]**

*"Analisis Target,"* perintah Arka, matanya berkilat di kegelapan.

**[Target 1: Mengincar Kaki Kanan (Kelemahan: Lutut Kiri). Target 2: Mengincar Kepala (Kelemahan: Ulu Hati).]**

Di mata Arka, gerakan kedua preman itu mendadak melambat. Ia bisa melihat pola serangan mereka sebelum mereka mengayunkan tongkat.

Preman pertama mengayunkan tongkatnya ke arah kaki Arka. Arka melompat sedikit, membiarkan tongkat itu menghantam tembok kosong, lalu dengan gerakan cepat ia menikamkan ujung belati ke lutut kiri preman itu.

Preman itu berteriak nyaring dan jatuh berlutut.

Preman kedua, melihat temannya dilumpuhkan, menjadi kalap. Ia mengayunkan tongkatnya secara membabi buta ke arah kepala Arka. Arka menunduk, lalu melepaskan pukulan telak ke ulu hati preman itu dengan sisa tenaga pendorong dari Sistem.

Preman kedua terbatuk, pemukul bisbolnya jatuh dari tangannya saat ia tersungkur ke lantai, tidak bisa bernapas.

Arka berdiri tegak di tengah reruntuhan dapurnya. Belati di tangannya berlumuran darah preman pertama. Tubuhnya gemetar hebat, namun tatapannya adalah tatapan seorang pemenang. Ia menatap ketiga preman yang kini mengerang kesakitan di lantai.

---

"Kembalilah pada Hendra Wijaya," suara Arka bergema di dapur yang hancur. "Katakan padanya, jika dia berani menyentuh panti asuhan ini lagi, aku tidak akan hanya menghancurkan bisnisnya secara digital. Aku akan datang padanya secara personal. Dan percayalah... arsitek jalanan sepertiku tahu bagaimana cara meruntuhkan sebuah menara dari fondasinya."

Di luar gerbang panti, lampu mobil Lexux putih Elina Clarissa akhirnya menyala, diikuti oleh dua mobil pengawal. Suara sirine polisi terdengar di kejauhan, terlambat, namun tetap datang.

Elina Clarissa masuk ke dalam panti dengan langkah cepat, diikutip pengawalnya. Ia berhenti di ambang pintu dapur, matanya terbelalak melihat kekacauan di dalamnya.

Ia menatap preman-preman yang tergeletak, lalu menatap Arka yang berdiri dengan belati di tangan. Wajah Arka pucat, namun matanya memancarkan kekuatan yang belum pernah Elina lihat sebelumnya.

"Kau..." bisik Elina, ada nada kekaguman yang jarang ia tunjukkan dalam suaranya. "Kau melakukan ini sendiri tanpa pengawalku?"

Arka menjatuhkan belati itu ke lantai. Dentangnya terdengar seperti penutup sebuah bab. Tubuhnya akhirnya menyerah pada kelelahan, dan ia jatuh pingsan ke pelukan Elina yang dengan cepat menangkapnya.

"Ya," jawab Elina pelan, sambil mengusap dahi Arka yang penuh keringat dingin. "Kau benar-benar bukan sekadar kurir, Arka Pramudya. Kau adalah baja yang baru saja ditempa oleh api."

Malam itu, di tengah reruntuhan rumah masa kecilnya, harga diri Arka tidak lagi dipertanyakan. Ia telah membuktikannya, bukan dengan uang, tapi dengan nyali di ujung belati. Dan Tanjungbalai, di bawah bayang-bayang senjanya yang gelap, kini tahu bahwa arsitek sesungguhnya telah bangun dari tidurnya.

---

1
marsellhayon
ceritanya menarik,melawan sistem.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.
variable of ancient
banyak cingcong di kepalanya
variable of ancient
lama banget anjg
Manusia Biasa
Konsep Sistemnya menarik thor🫣
adib
banyak pengulangan... tolong dikoreksi lagi
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Cut Founna: siap💪
total 1 replies
Cut Founna
iya kaka, maaf ya🙏 belum lulus review
Wega Luna
ini cerita nya diganti kah Thor , perasaan kemarin GK gini deh
Cut Founna: iya kak, maaf ya🙏 Belum lulus review kemaren
total 1 replies
Naga Hitam
"ayo sayang....."
Loorney
Pasar langsung kacau nih kalau ada yang begini, 100% terlalu gede.
Dewiendahsetiowati
Sarah sama Adrian tadi kan naik mobil pergi dari sana to
Cut Founna: Halo Kak Dewi! Makasih banyak ya masukannya, sangat membantu Fonna memperbaiki cerita ini. 🙏 Fonna baru saja merevisi Bab 1 dan Bab 2 supaya alurnya lebih nyambung. Ternyata Sarah dan Adrian nggak langsung pergi, tapi mereka sombong mau pamer kamar suite dulu. Yuk, dibaca ulang revisinya, dijamin lebih greget! 🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Wega Luna
setuju, biar tahu rasanya di rendah kan ,untung 2 tobat , setidaknya sadar diri GK mengharapkan mantanya🤣🤣🤣🤣
Wega Luna
ehm dibuang sih,,,dia sejak awal bohong ,dia dapat transfer an terus ,
BaekTae Byun
Mending nanti aja thor cinta cinta an mah kan baru mulai move on kalau bisa nikmatin dulu waktu sendiri thor
Wega Luna
🙀 semangat
Jack Strom
Itu tergantung Sarah-nya Thor, kalau dia masih originil ya boleh sih baikan kembali sama Arka, tapi kalau sudah dol... ya jangan lah... 🤭😁😂🤣😛
Jack Strom
Seandainya Arka-nya jadi kaya pelan², tahap demi tahap, mungkin cerita ini lebih seru... 🙂😁😛
Jack Strom: Baik, tak tunggu ya Om... 🤭😁😁😛😛
total 2 replies
iky__
3 bab perhari thor
iky__
tes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!