Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kedatangan Ketua Tim Basket Putri
Napas Liana terasa putus-putus. Keringat bercucuran deras dari pelipisnya, membasahi kaus olahraga yang kini melekat di punggung. Setiap kali kakinya menghantam semen lapangan terbuka, paru-parunya seolah diperas. Ini baru putaran kedelapan, tapi rasanya dunia di sekitar Liana mulai sedikit berputar.
Matahari sore di atas kampus Universitas Cakrawala seolah enggan beranjak, memancarkan panas yang membuat aspal lapangan mengeluarkan uap tipis. Di sampingnya, Dhea yang wajahnya sudah merah padam seperti kepiting rebus, masih mencoba bertahan.
"Li... atur napas... jangan lewat mulut," bisik Dhea terengah-engah. Ia melihat Liana yang sudah pucat. "Pelan aja, yang penting jangan berhenti. Lo bisa, Li!"
Di pinggir lapangan, Justin berdiri dengan posisi tegap, kedua tangan di pinggang. Matanya yang tajam seperti elang tidak pernah lepas memantau barisan mahasiswa baru yang terseok-seok. Jam digital di tangannya terus berdetik.
"Sisa dua putaran lagi! Jangan ada yang jalan! Kalau kaki kalian berhenti, mental kalian juga berhenti!" teriak Justin. Suaranya menggelegar, dingin, dan tidak mengenal kompromi.
Liana memejamkan mata sejenak, memacu kakinya yang terasa seberat timah. Ia tidak boleh jatuh. Tidak di depan Justin. Kalimat-kalimat dari lagu About You mendadak melintas di benaknya, seolah menjadi ritme untuk setiap langkah kakinya yang berat.
Duk. Duk. Duk.
Putaran kesembilan lewat. Dan akhirnya, di putaran kesepuluh, Liana melewati garis start semula dengan kaki yang gemetar hebat. Begitu sampai, ia langsung membungkuk, menumpu kedua tangannya di lutut, berusaha mengisi paru-parunya dengan oksigen sebanyak mungkin.
"Selesai! Istirahat lima menit! Atur napas, minum secukupnya, jangan langsung duduk!" instruksi Justin tegas sambil melihat arlojinya.
Dhea segera menarik lengan Liana menuju bangku penonton di pinggir lapangan yang sedikit teduh. Mereka berdua jatuh terduduk di sana, benar-benar tidak peduli lagi dengan citra mereka sebagai mahasiswi baru yang cantik. Liana menyambar botol minumnya, meneguk isinya hingga tersisa separuh. Dinginnya air itu terasa seperti anugerah paling mewah yang pernah ia rasakan.
"Gila... Kak Justin beneran nggak punya perasaan ya?" gumam Dhea setelah napasnya agak tenang. "Gue rasa dia robot yang dipasangin kulit manusia, Li."
Liana hanya tersenyum tipis sambil menyeka keringat di lehernya dengan handuk kecil. Ia melirik ke arah Justin yang kini sedang berbicara serius dengan Raka di tengah lapangan. "Mungkin itu cara dia biar kita nggak manja, Dhe."
Tiba-tiba, suasana di sekitar lapangan yang tadinya hanya diisi oleh suara napas maba yang terengah-engah, berubah menjadi sedikit riuh. Seorang perempuan berjalan mendekat dari arah GOR. Ia mengenakan jersey basket putri berwarna putih dengan nomor punggung 07. Rambutnya diikat kuda dengan rapi, menonjolkan wajahnya yang cantik dan terlihat sangat ramah.
"Wah, wah... Kapten kita ini beneran nggak kasih ampun ya buat hari pertama?" suara perempuan itu terdengar renyah, memecah ketegangan di lapangan.
Dia adalah Kaila. Senior semester lima, Kapten Tim Basket Putri, sekaligus salah satu primadona di Fakultas Ekonomi. Berbeda dengan Justin yang dingin, Kaila dikenal sangat hangat dan mudah bergaul. Namun, semua anak basket tahu satu hal: jika sudah masuk ke ruang rapat sekretariat, Kaila adalah satu-satunya orang yang berani mendebat ide-ide Justin hingga berjam-jam.
Kaila berjalan menghampiri barisan maba yang sedang beristirahat. "Halo semuanya! Selamat datang di neraka kecilnya Justin," candanya yang langsung disambut tawa kecil dari beberapa peserta. "Nama saya Kaila. Jangan takut, saya lebih manusiawi dibanding laki-laki yang berdiri di sana itu."
Kaila mengedipkan mata ke arah Justin, yang hanya dibalas dengan tatapan datar oleh pria itu.
"Kai, jangan ganggu sesi gue," ucap Justin pelan namun tegas.
Kaila tertawa, mengabaikan protes Justin. Ia kemudian berjalan mendekati bangku tempat Liana dan Dhea duduk. "Hai, kalian berdua maba Akuntansi ya?"
Liana dan Dhea langsung tegak dari posisi duduk mereka. "Iya, Kak Kaila," jawab mereka serempak.
"Gimana? Masih sanggup lanjut atau mau pingsan sekarang?" tanya Kaila ramah. Matanya menatap Liana dengan penuh minat. "Tadi saya liat kamu di putaran terakhir. Kaki kamu udah gemeter, tapi kamu nggak mau jalan. Bagus. Kita butuh mental kayak gitu di tim putri."
Liana merasa pipinya memanas, kali ini bukan karena sinar matahari. "Terima kasih, Kak. Saya cuma nggak mau berhenti aja."
Kaila mengangguk puas, lalu ia menoleh ke arah Justin yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. "Justin! Jangan galak-galak sama mereka! Kalau mereka trauma dan keluar semua, tim putri gue nggak dapet anggota baru tahun ini!"
Justin berjalan mendekat, langkahnya tenang namun berwibawa. "Gue nggak galak, Kai. Gue cuma seleksi alam. Yang nggak kuat di fisik, nggak bakal kuat di tekanan pertandingan."
"Alasan klasik," Kaila mendengus sambil tersenyum tipis. "Oh ya, soal rapat anggaran buat turnamen bulan depan, gue nggak setuju sama usul lo tadi pagi. Kita perlu bicara lagi nanti malam di sekretariat."
Justin menghela napas panjang, terlihat sedikit jengah namun tidak bisa menolak. "Oke. Jam tujuh. Jangan telat."
Kaila memberikan hormat dua jari pada Justin, lalu kembali menatap Liana dan Dhea. "Sampai ketemu di latihan teknik nanti ya, Girls. Semangat!"
Liana memperhatikan interaksi antara Justin dan Kaila. Ada dinamika yang aneh di antara mereka. Meski sering beradu argumen, terlihat jelas bahwa mereka saling menghormati satu sama lain. Ada sedikit rasa sesak yang aneh di dada Liana saat melihat betapa santainya Kaila berbicara dengan Justin—sesuatu yang Liana sendiri belum berani lakukan.
"Li, liat deh," bisik Dhea menyenggol lengan Liana setelah Kaila pergi. "Kak Kaila keren banget ya? Cuma dia yang berani lawan Kak Justin. Cocok banget mereka, yang satu es, yang satu api."
Liana hanya mengangguk pelan, meskipun dalam hati ia merasa sedikit tidak nyaman dengan ucapan Dhea. Ia kembali menatap Justin yang kini meniup peluitnya dengan keras, menandakan waktu istirahat telah usai.
"Waktu habis! Kembali ke barisan! Kita mulai latihan dribble dasar!" teriak Justin.
Liana bangkit dari bangkunya. Meski kakinya masih terasa nyeri, ia memaksakan diri untuk berdiri tegak. Ia tahu, di lapangan ini, ia bukan siapa-siapa. Namun, setiap detik yang ia lalui di bawah pengawasan Justin, ia ingin membuktikan bahwa ia layak berada di sana. Bukan hanya sebagai maba, tapi sebagai seseorang yang ingin Justin perhatikan—meskipun ia harus bersaing dengan bayang-bayang sehebat Kak Kaila.
Sore itu, di bawah langit Universitas Cakrawala, Liana memulai langkahnya yang sebenarnya. Di antara peluh dan rasa lelah, ada satu tujuan yang kini tertanam kuat di hatinya: ia ingin Justin tahu, bahwa ia bukan sekadar maba yang lewat begitu saja dalam hidupnya.