Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
“Tidak, Axlyn pasti membutuhkan pekerjaan ini. Lagipula dia hanya ditugaskan sebagai pengawal Hezlyn selama tiga bulan saja, bukan?” Noah memastikan, sementara Spencer hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Oke, aku akan mengikuti caramu saja.” Spencer pasrah dengan rencana Noah.
“Ingat, kau harus berpura-pura tidak mengenal Axlyn saat di depan Kay,” ucap Noah menekankan.
“Lagipula aku juga tidak pernah dekat dengan wanita itu,” balas Spencer terkesan tak peduli.
“Baguslah, kalau begitu!” sahut Noah yang berjalan pergi lebih dulu untuk menemui Kay dan yang lainnya lagi.
Meninggalkan Spencer sendirian yang tengah memikirkan sesuatu yang mengganjal pikirannya karena pembicaraan barusan. Hingga tak lama kemudian, Nero menghampirinya untuk menyampaikan laporan atas tugas yang ia jalankan.
“Tuan, Brian sudah berhasil menemukan identitas orang-orang yang menyerang Tuan dan Nyonya besar saat itu. Laporan detailnya sudah Brian kirimkan melalui akun email anda,” ujar Nero begitu menghadap Spencer.
“Nero, kau bilang kalau pengawal Hezlyn yang aku minta didatangkan langsung dari Praha, bukan?”
Bukannya membahas tentang laporan yang Nero sampaikan, Spencer malah mempertanyakan tentang para pengawal yang ditugaskan untuk melindungi adiknya.
“Benar, Tuan! Apakah ada masalah dengan mereka?” Nero sedikit khawatir melakukan kesalahan tanpa di sengaja. “Saya dan Maria sudah memastikan dengan baik tentang identitas mereka dan ….”
“Apa kau masih ingat dengan polisi wanita yang dekat dengan Kay saat di Kota Xennor?” sela Spencer.
“Maksud anda…?” Nero tampak berpikir sejenak.
“Tunggu, sepertinya aku melihat nama polisi wanita itu ada dalam daftar pengawal untuk Nona kecil.” Sambungnya dengan cepat ia memeriksa kembali data tentang para pengawal tersebut.
Dan benar saja, data tentang Axlyn termasuk menjadi salah satu pengawal untuk Hezlyn. Nero berniat menjelaskan, tetapi Spencer sudah lebih dulu memberikan perintah. “Nero, kirimkan semua data tentang Axlyn selama di Praha. Dan cari tahu apa yang terjadi dengan Kay saat di Praha dua bulan yang lalu.”
“Ba-baik, Tuan! Namun, untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan Tuan Kay saat di Praha. Bukankah lebih baik anda menanyakannya sendiri saja secara langsung?” ujar Nero.
“Apa kau sedang mengajariku sekarang?”
“Tidak, Tuan! Kalau begitu aku akan segera melaksanakannya.” Melihat ekspresi tidak senang yang Tuannya tunjukan, Nero pun segera bergegas pergi untuk menjalankan tugas barunya itu.
...****************...
Beralih kembali pada Kay yang kini sudah berada di dalam Mansion kediaman Gustavo. Dimana lampu kristal di langit-langit mansion itu memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan. Lantai marmer putih mengilap, dinding tinggi dihiasi lukisan mahal, dan jendela-jendela besar memperlihatkan taman luas yang terawat sempurna.
Tampak Kay berdiri di balkon lantai dua, memandangi halaman depan mansion milik orang tua sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Spencer. Angin lembut menyentuh wajahnya, membawa aroma bunga dari taman. Semua terasa familiar, sebab ia sering berkunjung ke tempat itu.
Rumah sebesar ini. Percakapan bisnis. Suara langkah para pelayan. Semua… kecuali satu bagian dari hidupnya. Namanya Axlyn. Katanya, ia adalah teman dekat Noah, namun setiap kali ia melihatnya perasaannya menjadi sangat aneh. Seakan perasaan rindu yang tak pernah tercapai.
Langkah kaki terdengar dari dalam. Kay segera menoleh mengira bahwa itu Spencer atau Noah yang datang untuk menemuinya. Namun, rupanya langkah kaki tersebut menuju ke ruang tengah hingga membuatnya tertarik untuk melihatnya.
Di ruang tengah, Hezlyn… adik sahabatnya sedang berbicara dengan seorang wanita bersetelan hitam bernama Axlyn yang sejak pertemuannya tadi membuatnya terus kepikiran. Rambutnya diikat rendah, ekspresinya tenang dan profesional. Tubuhnya berdiri sedikit di depan bocah kecil itu, posisi protektif yang jelas menunjukkan perannya sebagai pengawal.
Kay mengerutkan kenin, karena lagi-lagi perhatiannya tertarik ke wanita itu. Padahal bukan dia yang ingin ia lihat. Bukan dia yang seharusnya memenuhi pikirannya, tapi wanita yang kemungkinan kini tengah mengandung anaknya. Namun ada sesuatu dalam cara wanita itu berdiri terkesan tegap, tapi lembut. Kuat, tapi menyimpan rapuh yang membuat dada Kay terasa sesak.
Seolah ia pernah berdiri begitu dekat di belakangnya, melindunginya dari dunia. Tanpa sadar langkahnya kembali turun ke ruang tengah. Langkahnya pelan, tapi tatapannya tak lepas dari sosok pengawal bernama Axlyn.
Tepat di tangga terakhir Axlyn menyadari kehadirannya. Ia langsung menunduk hormat. “Selamat malam, Tuan.”
Suara itu, seolah terdengar tidak asing di indera pendengarannya. Deru napasnya terasa hangat dan tatapan matanya yang tertahan seolah tengah menyimpan rahasia serapat mungkin darinya. Tiba-tiba jantung Kay berdetak lebih cepat tanpa alasan jelas.
“Kita pernah bertemu, bukan? Selain di restaurant itu.” tanyanya tiba-tiba.
Hezlyn menoleh heran. “Papah Kay, dia pengawalku. Namanya Akak Alyn. Papah pelnah bertemu dengan Kak Alyn?”
“Ya, aku seperti sudah mengenalmu sejak lama,” jawab Kay jujur.
Degh....
Detak jantung Axlyn semakin berpacu cepat, "Apa Kay sudah mulai mengingatku? Tidak mungkin... dia tidak akan bertanya seperti itu jika sudah mengingatnya."
“Saya baru mulai bekerja beberapa hari yang lalu, Tuan. Dan aku rasa pertemuan pertama kita memang terjadi di restaurant itu,” jawab Axlyn tenang, padahal ia sedang berbohong.
Baru beberapa hari. Tapi kenapa setiap melihat matanya, Kay merasa seperti menatap seseorang yang pernah menangis di pelukannya? Kay melangkah lebih dekat hingga tanpa sadar, jaraknya kini hanya beberapa langkah.
Axlyn hanya bisa menahan napas di tempatnya berdiri. Aroma maskulin yang begitu ia rindukan selama ini, kini berada tepat di hadapannya. Begitu dekat, begitu ia kenal. Namun kini terasa asing karena tidak lagi disertai tatapan penuh cinta.
Axlyn memaksakan ekspresi datar untuk menyembunyikan debar jantungnya yang seakan tengah berpacu sangat cepat. Berusaha tetap bersikap professional dan tidak lebih batas seorang pengawal. Namun, tanpa sadar Axlyn menyentuh perutnya seakan tengah berusaha menyembunyikan keberadaan bayi kembarnya dari ayah kandungnya sendiri.
Siapa sangka Kay malah memperhatikan pergerakan tangan itu. Setelan hitamnya sedikit lebih longgar dari biasanya. Tangannya sesekali bergerak halus ke arah perut, seperti refleks yang tak disengaja.
“Apakah kamu tidak enak badan? Apa perutmu sedang sakit?” tanya Kay spontan, mengira Axlyn sedang sakit perut karena terus menyentuh perutnya sendiri.
Bersambung ….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌