Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkaman Bayangan
Angin malam berhenti berhembus. Udara di sekitar celah tebing berbatu itu seolah membeku oleh ketegangan yang mematikan.
Di tengah lautan tulang belulang putih, Bunga Sumsum Tulang berdenyut dengan pendaran merah redup, seakan menanti siapa yang berhak meminum sari patinya. Namun, jalan menuju harta karun surgawi itu dihalangi oleh sesosok bayangan hitam yang memancarkan aura pembunuh murni.
Macan Kumbang Bayangan (Shadow Panther) menatap Jian Chen dengan sepasang mata kuning vertikal yang sedingin es. Makhluk itu tidak mengaum layaknya babi hutan bodoh; ia hanya merendahkan postur tubuhnya, merapatkan perutnya ke bebatuan, bersiap melepaskan daya ledak yang mengerikan dari otot-otot kaki belakangnya.
"Kau cerdas," gumam Jian Chen, matanya menyipit menjadi celah berbahaya. Tangan kanannya menggenggam erat satu taring babi hutan, sementara tangan kirinya menyembunyikan taring kedua di balik lengan baju hitamnya. "Kau tahu aku bukan mangsa biasa. Sayangnya, kecerdasanmu tidak akan menyelamatkanmu malam ini."
Seolah memahami provokasi itu, Macan Kumbang Bayangan menghilang.
Bukan kiasan. Makhluk itu benar-benar lenyap dari pandangan, meninggalkan hembusan angin tajam yang mengoyak debu tulang di tanah.
Cepat!
Bahkan dengan pengalaman sepuluh ribu tahun, mata fana Jian Chen tidak mampu menangkap pergerakan penuh dari Binatang Iblis Tingkat 1 Kelas Menengah itu. Kecepatan makhluk ini setara dengan kultivator Kondensasi Qi Tingkat Empat. Namun, di mana mata gagal, insting tempur mengambil alih.
WUSH!
Rasa dingin yang mencekam menyengat tengkuk Jian Chen. Tanpa berpikir panjang, ia membuang tubuhnya ke samping, berguling di atas tumpukan tengkorak kasar.
TRAK! CRAAT!
Tiga bilah cakar hitam legam sepanjang telapak tangan manusia merobek udara di tempat Jian Chen berdiri sedetik yang lalu, menghancurkan bongkahan batu padat seolah itu adalah tahu sutra. Meskipun ia berhasil menghindar dari serangan mematikan itu, ujung cakar yang dialiri energi angin (Wind Qi) masih sempat menyerempet bahu kirinya.
Darah segar menyembur, mewarnai kain hitamnya. Tiga luka sayatan memanjang terbentuk, cukup dalam hingga menampakkan putihnya tulang.
"Hiss..." Jian Chen mendesis, merasakan rasa sakit yang membakar. Jika tubuhnya tidak lebih dulu diregenerasi oleh Darah Primordial, sabetan angin tadi pasti sudah memutuskan lengan kirinya sepenuhnya.
Macan Kumbang Bayangan tidak memberi jeda. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung memutar tubuhnya yang fleksibel bagai cambuk, menerjang kembali ke arah Jian Chen dengan rahang terbuka lebar, mengincar leher pemuda itu.
Satu langkah, batin Jian Chen. Napasnya melambat di tengah kekacauan, pikirannya memasuki kondisi ketenangan absolut yang hanya dimiliki oleh seorang Kaisar Pedang.
Ia tidak mundur. Ia justru mengambil satu langkah maju, menginjak sebuah tengkorak besar hingga hancur berkeping-keping.
Tangan kirinya yang terluka tiba-tiba terayun ke depan, melemparkan taring babi hutan pertama dengan kekuatan penuh ke arah mata monster yang sedang melayang di udara.
Macan Kumbang Bayangan mendengus meremehkan. Di udara, ia dengan kelenturan luar biasa memutar lehernya hanya beberapa sentimeter, membiarkan taring itu meleset dan menabrak tebing di belakangnya. Ia kembali mengarahkan rahang mematikannya ke leher Jian Chen.
Itu hanya umpan.
Saat mata kuning vertikal monster itu kembali terkunci pada mangsanya, ia tidak melihat ketakutan. Ia melihat jurang tak berdasar.
"BERLUTUT!"
Suara Jian Chen tidak keras, namun menggema langsung di dalam lautan jiwa. Bersamaan dengan kata itu, Jian Chen melepaskan seluruh Niat Membunuh (Killing Intent) dari sisa-sisa jiwa Kaisar Pedang Kekosongan, memfokuskannya menjadi satu pilar tak kasat mata dan menusukkannya tepat ke dalam kesadaran sang Macan Kumbang Bayangan.
Itu bukanlah serangan fisik, melainkan penindasan absolut dari entitas hierarki kosmik yang jauh lebih tinggi.
Untuk sepersepuluh detik—waktu yang nyaris tak berarti bagi manusia fana—otak Binatang Iblis itu berhenti berfungsi. Insting pembunuhnya hancur lebur oleh ketakutan purba yang meremukkan kewarasannya. Otot-ototnya membeku di udara.
Sepersepuluh detik itu adalah perbedaan antara hidup dan mati.
Niat Membunuh yang dipaksakan membuat darah segar menetes dari hidung dan mata Jian Chen akibat beban balik (backlash) pada jiwa fananya yang rapuh. Namun, tangan kanannya yang memegang taring babi hutan kedua bergerak tanpa ragu.
Ia tidak menusuk tubuh. Ia tidak menebas leher.
Jian Chen mengayunkan taring keras itu dengan tenaga lima ratus kilogram yang terkonsentrasi di ujung tajamnya, menusuk lurus ke atas, menembus dari bawah rahang bawah Macan Kumbang Bayangan. Ujung taring itu terus menembus ke atas, menghancurkan tulang langit-langit mulut, dan berakhir langsung di dalam otak makhluk tersebut.
CRAAAK!
Mata kuning monster itu membelalak ngeri, lalu cahayanya padam seketika. Tubuh seberat ratusan kilogram itu menabrak Jian Chen akibat sisa momentum, menghempaskan pemuda itu ke dinding tebing hingga memuntahkan seteguk darah.
Jian Chen terbatuk keras, dadanya terasa remuk, dan bahu kirinya berdenyut menyakitkan. Namun, saat ia mendorong bangkai raksasa itu dari atas tubuhnya, senyum buas kemenangan terlukis di wajahnya yang berlumuran darah.
"Kecepatanmu luar biasa, tapi akalmu masih sebatas binatang."
Tanpa mempedulikan luka-lukanya, Jian Chen segera meletakkan kedua telapak tangannya di atas bangkai Macan Kumbang Bayangan yang masih hangat.
"Seni Melahap Surga Primordial!"
Pusaran hitam di Dantiannya meledak dengan hisapan yang sepuluh kali lebih rakus dari sebelumnya. Esensi darah dari monster Tingkat 1 Kelas Menengah mengalir deras bagai sungai lahar panas ke dalam tubuh Jian Chen. Kualitas energinya sangat murni dan tebal, jauh melampaui gabungan kelima babi hutan yang ia bunuh sebelumnya.
Tubuh Jian Chen bergetar hebat. Luka koyak di bahunya mulai berhenti berdarah dan menutup dengan mata telanjang. Rasa sakit di dadanya sirna, digantikan oleh sensasi energi yang mengembang luar biasa.
Dalam hitungan puluhan napas, Macan Kumbang Bayangan yang gagah itu menyusut menjadi mumi tulang berbalut kulit kering.
BOOM!
Penghalang di dalam tubuh Jian Chen hancur. Aura di sekelilingnya meledak, menyapu debu di udara.
"Kondensasi Qi Tingkat Tiga."
Namun energi itu belum habis. Jian Chen membiarkan Qi terus menumpuk di meridian sementaranya, menstabilkan wilayah kekuasaan barunya di puncak Tingkat Tiga.
Ia membuka matanya yang kini memancarkan cahaya setajam pedang. Ia memotong cakar-cakar hitam tajam dari mumi Macan Kumbang itu sebagai senjata rampasan barunya, lalu melangkah menuju tengah celah bebatuan.
Di sana, Bunga Sumsum Tulang masih mekar dengan anggun, urat merahnya berdenyut bagai jantung kehidupan.
Jian Chen mencabut bunga seputih tengkorak itu beserta akarnya. Bersamaan dengan itu, ia mengeluarkan belasan Rumput Darah Beku dan Bunga Pengumpul Roh yang ia panen semalaman.
Sebagai seorang mantan Kaisar yang juga Alkemis Tingkat Dewa, ia seharusnya meracik bahan-bahan ini di dalam Tungku Pil Surgawi untuk membuat Pil Pembersih Sumsum yang sempurna. Namun, di hutan kumuh ini, ia harus menggunakan metode paling barbar.
"Pusaran Melahap Surga adalah tungkuku, dan tubuhku adalah kualinya!"
Jian Chen memasukkan Bunga Sumsum Tulang dan semua herbal pelengkap itu ke dalam mulutnya, mengunyahnya mentah-mentah, dan menelannya. Rasanya luar biasa pahit dan amis, seperti mengunyah lumpur berdarah.
Begitu ramuan mentah itu memasuki perutnya, Seni Melahap Surga Primordial langsung mengambil alih. Energi buas dari Bunga Sumsum Tulang meledak, berbenturan dengan sisa energi Macan Kumbang Bayangan.
"Bentuk ulang fondasiku!" aum Jian Chen.
Rasa sakit yang ribuan kali lipat lebih dahsyat dari saat ia memperbaiki tubuh di kamar klan menyapunya. Bunga Sumsum Tulang bekerja persis seperti namanya. Energi bunga itu meresap ke dalam sumsum tulang Jian Chen, membersihkan setiap kotoran genetik yang membuatnya menderita cacat bawaan.
Potongan-potongan meridian bawaannya yang hancur di dalam ototnya ditarik, dilebur, dan ditempa ulang menggunakan perpaduan esensi bunga, energi iblis, dan Qi Langit Bumi.
Kali ini, meridian yang terbentuk bukanlah meridian rapuh berwarna biru keputihan seperti milik manusia fana. Di bawah pengaruh pasif Darah Primordial, meridian baru yang terbentuk di sekujur tubuh Jian Chen berwarna keemasan pekat, selebar dan sekokoh pembuluh nadi naga!
Meridian Primordial!
Kecepatan aliran Qi di tubuhnya meledak sepuluh kali lipat. Dantiannya yang tadinya hanya pusaran kecil kini mengembang, siap menampung energi laksana danau yang haus.
Dengan terbentuknya fondasi yang sempurna tanpa cacat, sisa energi gabungan di tubuhnya langsung didorong ke puncaknya.
BOOM!
Ledakan energi kedua memecah fajar. Udara di celah berbatu itu bergetar hebat.
Jian Chen perlahan membuka matanya. Ia telah memuntahkan segumpal darah hitam berbau busuk—sisa terakhir dari kecacatan fisiknya selama lima belas tahun.
Ia mengepalkan tangannya. Bunyi retakan tulang terdengar beruntun seperti petasan. Kekuatan mengerikan merayap di setiap inci tubuhnya.
"Kondensasi Qi Tingkat Empat Awal," gumamnya, senyum dominasi kembali menghiasi wajahnya yang kini bersih dan bercahaya. "Meridian Primordial telah terbentuk. Aliran Qi-ku sekarang sepuluh kali lebih deras dari kultivator jenius mana pun di Kota Daun Gugur. Dengan fondasi ini, tubuh fisikku setidaknya memiliki tenaga dua ribu kilogram (delapan banteng)."
Dari sampah bawaan menjadi ahli Tingkat Empat dengan fondasi surgawi hanya dalam satu malam yang panjang. Jika para tetua Klan Jian mengetahui hal ini, mereka pasti akan memuntahkan darah karena tidak percaya.
Cahaya matahari pagi mulai menembus kanopi hutan, menyinari sosok pemuda berbaju hitam yang berdiri di tengah tumpukan tulang. Ia mengikatkan empat bilah cakar Macan Kumbang Bayangan di sabuknya, tampak seperti iblis kecil yang siap turun gunung.
"Sudah waktunya pulang," Jian Chen menyipitkan matanya ke arah selatan, tempat Kota Daun Gugur berada. "Kudengar Paman Kedua dan anjing peliharaannya, Jian Hu, sangat ingin merampas sumber dayaku. Mari kita lihat apakah mereka memiliki nyawa yang cukup panjang untuk menelannya."