Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Buntu
Pagi itu suasana rumah sakit terasa begitu sunyi dan mencekam bagi Rachel—mungkin karena tindakan medis untuk Anna tengah dilakukan. Ya, beberapa saat yang lalu, tindakan transplantasi sel punca untuk Anna sudah dimulai, setelah menjalani serangkaian pemeriksaan lanjutan selama beberapa hari terakhir. Dan saat ini, Rachel tengah duduk di kursi rumah sakit yang panjang dan dingin, tepat di depan ruang isolasi—menunggu proses transplantasi selesai dengan perasaan cemas.
Bau antiseptik yang memenuhi lorong rumah sakit menemaninya sejak sekitar sejam yang lalu, bercampur dengan suara langkah cepat perawat dan dokter yang berlalu lalang di sekitarnya. Sesekali mulutnya terlihat komat-kamit merapalkan doa untuk kesembuhan Anna. Saat ini, tidak ada hal lainnya yang memenuhi pikirannya, selain keinginannya melihat Anna sembuh dan tersenyum lagi.
Sekitar setengah jam kemudian, seorang dokter dan beberapa perawat yang mengenakan APD khusus keluar dari ruang isolasi. Rachel sontak berdiri dan menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan kondisi Anna, dengan langkah terburu-buru yang bahkan hampir membuatnya terjatuh.
"Bagaimana kondisi adik saya, dok?", tanyanya dengan nada cemas dan suara bergetar.
Dokter itu pun langsung menghentikan langkahnya, dan menjelaskan tentang proses transplantasi sel punca yang baru saja selesai, juga tentang kondisi yang akan dihadapi Anna kedepannya. "Proses transplantasi berjalan dengan baik, Miss Lane. Sekarang kita tinggal menunggu apakah tubuh adik Anda bisa menerimanya, dan apakah sel bisa tumbuh."
"Berapa lama, dok?"
"Kami akan terus pantau perkembangan adik Anda, paling tidak sampai satu hingga dua bulan ke depan. Di saat itulah nanti kita bisa menilai keberhasilannya."
"Apa kemungkinan terburuknya, dok?"
"Tindakan transplantasi ini memang memiliki prosentase keberhasilan 50:50, Miss Lane. Kalau sampai terjadi graft failure, kemungkinan terburuknya bisa terjadi infeksi berat hingga sepsis, pendarahan fatal, dan kegagalan multi organ. Tapi, kita bedoa saja, semoga tubuh adik Anda bisa merespon dengan baik. Kami akan berupaya melakukan yang terbaik untuk kesembuhan adik Anda."
Rachel pun akhirnya mengangguk pasrah, mencoba menerima apapun hasilnya nanti. Tindakan transplantasi ini memang tidak menjamin Anna akan sembuh, tapi setidaknya ini adalah jalan terakhir yang bisa Rachel upayakan dan memberinya sebuah harapan. "Terima kasih, dok."
Kemudian, hari-hari berikutnya bergerak perlahan—hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Sejak dilakukannya tindakan transplantasi, Anna diharuskan menjalani rawat inap sampai dokter menyatakan kondisinya aman untuk dipulangkan. Tapi setidaknya kondisi Anna berangsur-angsur tampak membaik, seperti suhu tubuhnya yang stabil, kebutuhan transfusinya menurun, dan nafsu makannya yang perlahan kembali. Bahkan, kini ia sudah bisa duduk dan mengobrol dengan Rachel, tidak seperti kondisinya sebelum itu yang hanya terbaring lemah.
Sementara itu, setiap harinya Rachel tetap bekerja sejak pagi hingga malam sebagaimana hal itu menjadi rutinitasnya. Ia sadar betul bahwa waktu masih terus berjalan, dan hutangnya pada Tom sedang menunggu untuk dibayar. Jadi sebagai gantinya, ia meminta tolong Mrs. Portman untuk menjaga Anna di rumah sakit ketika dibutuhkan. Untungnya Anna adalah anak yang sangat pengertian—tidak jarang ia berada di kamar rawat inapnya sendirian, tanpa Rachel dan juga Mrs. Portman. Dan itu tidak pernah ia permasalahkan sekalipun.
"Syukurlah, kondisi adik Anda semakin membaik dan stabil, Miss Lane. Sejauh ini proses transplantasi dinilai telah berhasil. Jadi, hari ini adik Anda sudah diijinkan pulang.", kata dokter, tepat di hari ke-45 setelah proses transplantasi itu berlangsung.
"Terima kasih, dok.", balasnya dengan senyuman lebar yang merekah bersama rasa lega dan bersyukur yang menyelimuti hatinya.
"Tapi, kita masih perlu tetap memantau perkembangan kondisi adik Anda hingga satu tahun ke depan. Dan selama itu, adik Anda diharuskan menjalani pengobatan, terapi dan kontrol rutin.", imbuh dokter itu sebagai sebuah peringatan bahwa ini masih belum sepenuhnya berakhir.
Rachel pun mengangguk pelan setelah mencerna perkataan dokter dengan baik. "Baik, dok. Saya mengerti."
Malam itu Rachel akhirnya bisa membawa Anna pulang ke rumah dengan senyuman yang bertahan lebih lama di wajahnya. Mrs. Portman yang melihat Rachel dan Anna baru saja turun dari taksi di depan rumah mereka pun langsung bergegas menghampiri mereka.
"Rachel! Anna!", seru Mrs. Portman, lalu memeluk erat mereka dengan hangat dan rasa syukur. "Terima kasih, Tuhan. Haleluya!"
"Ayo masuk, dan hangatkan badan kalian!", ajak Mrs. Portman begitu menyadari angin malam yang semakin berhembus kencang.
Mrs. Portman membantu Rachel menuntun Anna masuk ke dalam rumah mereka. Di dalamnya, udara rumah yang hangat menyambut mereka, bersama kesunyian yang memenuhi isi rumah. Dengan gerakan cepat, ia membersihkan tempat tidur Anna dan menyiapkannya untuk Anna agar bisa segera beriatirahat. Setelah membaringkan Anna yang tampak sudah mengantuk, Rachel mengecup keningnya dan keluar dari kamar untuk membiarkannya tertidur.
Di ruang tengah, Mrs. Portman masih ada di sana, tengah duduk di kursi panjang, dan langsung menatap Rachel seraya tersenyum saat Rachel keluar dari kamar Anna. "Akhirnya, senyum Anna kembali.", kata Mrs. Portman dengan wajah yang menenangkan.
Rachel duduk tepat di samping Mrs. Portman, lalu memeluknya lagi. "Terima kasih, Mrs. Portman. Anda sudah banyak membantu kami selama ini.", air mata pun perlahan menetes, membasahi pipi Rachel yang tampak sedikit pucat karena kelelahan.
"Sama-sama, Sayang."
Tidak lama setelah itu, Mrs. Portman pun pamit pulang—memberi Rachel waktu untuk beristirahat. Dan Rachel pun melangkahkan kaki menuju kamarnya, setelah melihat Anna sudah tertidur pulas dengan nafas yang lebih teratur. Di kamarnya yang hangat, ia mulai mencatat pemasukannya di buku kecil, seperti yang sudah dilakukannya sejak sebulan yang lalu—gaji dari rumah makan dan minimarket, uang lembur, dan uang tip dengan penuh harapan untuk melunasi hutang. Namun, angka-angka itu masih jauh untuk bisa menyentuh jumlah hutangnya pada Tom.
Keesokan paginya, Rachel kembali bekerja seperti biasa, setelah menyiapkan sarapan untuk Anna dan meminta Mrs. Portman sesekali datang dan menemaninya. Dan rutinitasnya setiap hari selalu hampir sama seperti itu. Ia bangun pagi-pagi sekali untuk memasak dan membersihkan rumah, menyiapkan sarapan untuk Anna, pergi bekerja di rumah makan, pulang ke rumah untuk menyiapkan makan malam untuk Anna sekaligus berganti seragam, pergi bekerja di minimarket hingga tengah malam, lalu kembali pulang. Rachel menjalani semua rutinitas itu hingga tanpa sadar tubuhnya begitu kelelahan. Namun senyuman Anna yang hangat selalu mampu menjadi jangkar yanh menahannya untuk tetap bertahan.
Hingga akhirnya, malam itu tiba begitu saja. Suasana minimarket nyaris sepi, hanya dipenuhi bunyi mesin pendingin yang berdengung konstan dan langkah kaki pelanggan yang sesekali masuk lalu keluar.
Rachel berdiri di balik meja kasir bersama Ashley, menyusun ulang rak permen sambil sesekali melirik ke arah jam yang ada di layar komputer yang menyala. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya terus waspada—seperti kebiasaan yang tidak pernah benar-benar hilang. Bayang-bayang akan hutangnya yang menunggu untuk dibayar terus mengganggu pikirannya.
Tidak lama setelah itu pintu otomatis terbuka. Sam masuk dengan langkah santai sambil mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Rachel. Bau alkohol tipis mengikutinya, bercampur dengan senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. Rachel merasakan dadanya mengencang sebelum Sam berdiri tepat di depannya dan membuka mulut.
“Kau tampak sibuk, ya sekarang,” katanya, menatap Rachel dengan senyum yang mengerikan. “Sampai-sampai kau lupa dengan hutangmu.”
Rachel menarik napas panjang, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. “Aku sudah mengumpulkan uang untuk membayarnya, Sam. Tapi, biaya pengobatan Anna ternyata jauh lebih besar dari perkiraan. Bahkan ia masih harus menjalani pengobatan lanjutan dan terapi hingga setahun ke depan." Rachel berusaha menjelaskan kondisinya pada Sam perlahan. Berharap ia akan memberikan pengertian padanya. "Tapi, aku akan tetap membayar hutang itu pelan-pelan. Aku janji, Sam.”, lanjutnya.
Sam tertawa pelan, meskipun jelas tidak ada hal lucu yang perlu ditertawakan malam itu. Ia mendekat ke arah Rachel, jaraknya kini terlalu dekat, hingga Rachel mampu mencium aroma keras dari alkohol yang menyeruak lewat nafasnya. Nada suaranya turun, lebih rendah dan dingin. Bahkan ia tampak tidak peduli ada Ashley yang berdiri hanya beberapa langkah darinya dan Rachel.
“Jangan konyol, Rachel,” katanya. “Kau pikir waktumu akan cukup untuk melunasi hutangmu itu. Bahkan jika kau harus bekerja seumur hidup pun, rasanya tidak mungkin kau bisa melunasinya.”
Rachel menelan ludah. Tangannya mencengkeram tepi meja kasir. “Beri aku waktu, Sam. Kumohon. Akan kuusahakan untuk melunasinya, dengan cara apapun.”
Sam memiringkan kepala, menatap Rachel seperti sedang menimbang sesuatu. Lalu, tangannya tiba-tiba bergerak cepat menuju wajah Rachel. Ia melayangkan sebuah tamparan yang mendarat tepat di pipi Rachel. Bunyi tamparan itu keras, seakan memantul di dinding kaca. Rachel terdiam, merasakan panas yang menjalar di pipinya.
Ashley refleks maju dengan napas yang tertahan. Rachel tau ia hendak membelanya dari Sam, jadi ia segera mengangkat tangan dan menahannya dengan gerakan kecil tapi tegas untuk menghentikannya. Ia menoleh sedikit, suaranya hampir tak terdengar. “ Jangan, Ashley. Kumohon.” katanya lirih, sembari menggelengkan kepala.
Ia tahu lebih dari apa pun bahwa satu langkah yang akan diambil Ashley untuk membelanya akan berakhir buruk. Dan, ia tidak ingin menyeret Ashley ke dalam masalahnya. Rachel berdiri tegak, menahan rasa perih dan amarah yang tidak akan menyelamatkan siapa pun.
Sam tersenyum lagi, tampak puas. “Orang seperti mereka paling tidak suka dikecewakan,” katanya, dengan nada santai. “Kalau kau tidak datang malam ini… jangan harap adikmu akan aman.”
Kata-kata itu menghantam lebih keras dari tamparan tadi. Rachel merasakan tubuhnya mendadak kaku. Tidak ada air mata yang keluar dari sudut matanya, melainkan hanya ketakutan yang dingin dan terasa nyata. Ia menatap Sam, lalu menunduk sedikit—bukan karena patuh, melainkan karena mencemaskan ancaman yang baru saja keluar dari mulutnya.
“Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya nyaris pecah. “Aku… akan ikut.”
Sam melangkah mundur, seolah urusan di antara mereka sudah selesai begitu saja. Ia berbalik menuju pintu tanpa menoleh lagi. "Baiklah. Aku tunggu di rumah.", katanya setengah berteriak.
Setelah pintu otomatis menutup dan bayangan Sam menghilang di balik kaca, Ashley bergerak cepat. Ia mengambil sebotol air mineral dari kulkas pendingin dan menyodorkannya ke Rachel tanpa banyak bicara.
“Tanganmu gemetar, Rachel,” kata Ashley pelan, nadanya tidak menuntut. “Ayo duduk dulu.”
Rachel menuruti perkataan Ashley di sampingnya. Ia meneguk air itu perlahan, seperti sedang belajar menelan sesuatu yang lebih besar dari sekadar cairan. Pipinya masih panas, dan dadanya naik turun tidak beraturan.
“Rachel…” Ashley bersandar di meja kasir, masih memperhatikan tubuh Rachel yang separuh gemetar, “Kau mengenal orang itu?”, tanyanya dengan nada cemas.
Rachel masih terdiam menatap lantai. Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya mengangguk pelan. Kata-kata yang selama ini ia simpan rapat akhirnya menemukan celah. Ia bercerita singkat tentang adiknya yang sakit dan harus segera mendapat pengobatan, tentang hutang yang terpaksa harus ia miliki, juga tentang Sam dan Tom Nicholson.
Ashley mendengarkan setiap cerita Rachel tanpa menyela. “Kau tidak pantas diperlakukan seperti ini, Rachel,” kata Ashley akhirnya, dengan kemarahan yang ditahan. “Bagaimana pun pria itu ayah tirimu, Rachel. Ia seharusnya bertanggung jawab untukmu dan Anna. Atau setidaknya, tidak mempersulitmu seperti itu. Ini salah, Rachel. Dan juga berbahaya.”
Rachel mengangguk, bibirnya terkatup rapat. Ia jelas tahu apa yang dikatakan Ashley benar. Bahwa menyetujui tawaran Sam dan terlibat kesepakatan dengan Tom itu salah. Tapi tetap saja, kesadaran itu tidak memberinya jalan keluar. “Aku tidak punya pilihan lain, Ashley. Sekarang aku harus pulang dan mengikuti kemauan Sam,” katanya.
Ashley menatapnya cukup lama, lalu mengangguk pelan, seolah menyadari bahwa Rachel memang tidak memiliki pilihan lain. “Baiklah. Kalau kau butuh apa pun, segera hubungi aku. Jangan menanggungnya sendirian, Rachel.”
"Terimakasih, Ashley,", ucap Rachel, lalu mengemasi barang-barangnya dan pergi.
Setibanya di beranda rumah, Rachel membuka pintu dengan pelan. Di dalam sana, Sam sedang duduk santai di kursi ruang tengah dengan kaki disilangkan, tampak sedang menunggu kedatangan Rachel. Dan tidak jauh darinya, televisi menyala tanpa suara.
“Akhirnya, kau pulang juga.” katanya, tanpa menoleh. “Ganti bajumu dulu!”
Rachel berdiri di antara ruang tamu dan ruang tengah, dengan tas masih menggantung di bahunya. “Kita bisa langsung berangkat.”
Sam menoleh, menilai dari ujung rambut sampai ujung kaki Rachel, lalu tersenyum miring. “Penampilanmu itu… memalukan.” Ia berdiri dan mendekat. “Kau mau bertemu orang penting seperti Tom Nicholson. Pakailah sesuatu yang lebih pantas dan...lebih menarik”
Apa yang baru saja keluar dari mulut Sam terdengar seperti sebuah perintah yang tidak memiliki ruang untuk Rachel bisa menawar. Rachel pun akhirnya mengangguk pelan, lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu pelan. Lemari kayu miliknya yang sudah tampak usang berderit saat dibuka. Ia memilih dress yang paling sederhana—berwarna netral dengan potongan lurus dan tampak tidak terbuka. Bukan pakaian yang sengaja diperuntukkan menarik pria hidung belang, seperti yang diinginkan Sam.
Ia berdiri di depan cermin kecil yang terdapat retakan tipis di sudutnya—menatap bayangannya yang tampak menyedihkan di cermin itu. Perlahan ia menyapukan lipstik tipis pada bibir penuhnya, hanya untuk menghidupkan warna bibirnya yang tampak pucat. Lalu rambut panjangnya disisir rapi, dibiarkan terurai begitu saja menutupi punggungnya. Tidak ada perhiasan yang menghiasi tubuhnya, tidak ada riasan yang berlebihan di wajahnya. Ia hanya berusaha terlihat lebih layak saja dibandingkan sebelumnya.
Sementara itu, dari luar kamar terdengar suara langkah kaki Sam yang mendekat lalu menjauh lagi. Ia tidak mengetuk, namun ia menunjukkan suara batuk yang sengaja dibuat agar Rachel segera keluar dari kamarnya, dengan cukup jelas. Rachel pun sontak merapikan ujung dress seraya menarik napas pendek dan satu lagi napas panjang—seperti sedang menyiapkan diri untuk menyelam tanpa tahu seberapa dalam lautan di depannya.
Rachel mematikan lampu kamar, hingga bayangannya seakan menelan ruang kamar itu, dan menyisakan pantulan samar di cermin tadi. Lalu, ia membuka pintu dan melangkah keluar—ia mendapati sosok Sam yang sudah menunggu di ruang tengah, menilai cepat penampilannya, lalu mengangguk kecil sebagai sebuah persetujuan atas penampilannya.
“Bagus,” katanya singkat. “Ayo.”
Rachel pun mengikutinya tanpa bicara. Setiap langkah kakinya mulai terasa berat, seakan apa yang akan ia lakukan adalah sebuah kesalahan besar. Ia melewati kursi panjang di ruang tengah, kamar Anna, sofa di ruang tamu, lalu pintu utama rumah. Dan saat pintu dibuka, udara malam menyentuh kulitnya, cukup dingin dan angkuh.
Ia berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh ke arah kamar Anna, yang lampunya redup. Rachel mengingat suara napas kecil itu dengan ritme yang mulai stabil. Dan hal itulah yang menjadi alasan ia bisa berdiri hingga di titik ini. Tangannya mengepal, lalu mengendur. Rachel tidak tahu apa yang menunggunya malam itu. Tapi apapun yang akan ia hadapi malam itu, ia harus siap—sebagai sebuah konsekuensi yang harus ia ambil demi keselamatan Anna.
Ia menarik napas panjang, lalu melangkah keluar rumah, menuju sesuatu yang tak akan pernah ia setujui, tapi juga tak bisa ia hindari.