NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Dara terdiam sejenak, merasakan pelukan hangat dari Rafa. Air matanya perlahan mengalir, mencerminkan perasaan campur aduk di hatinya.

"Maafkan saya, Dara," ucap Rafa lagi, suaranya bergetar. "Saya sadar kalau saya belum sepenuhnya bisa melepaskan masa lalu, tapi saya ingin berusaha. Kamu adalah yang terpenting bagi saya sekarang, dan saya gak mau kehilangan kamu karena kebodohan saya sendiri."

Dara menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya.

"Aku hanya ingin kita sama-

sama berusaha, Mas. Aku gak minta kamu buat lupain semuanya, aku cuman pengen Mas Rafa belajar buat gak terlalu keiket sama masa lalu Mas Rafa sendiri."

"Seperti trauma yang sering Mas Rafa rasain. Trauma itu gak bakal pergi atau ilang kalau Mas Rafa sendiri gak ada usaha buat lupain kenangan pahit itu," sambungnya.

Dalam hal ini, benar adanya kalau usia tidak bisa menjadi tolak ukur dalam kedewasaan seseorang. Dara memang usianya lebih muda dari Rafa, tapi dia bisa berpikir dan bersikap lebih bijak daripada Rafa.

Dalam pelukan itu, Rafa mengangguk. Dia tahu kalau

permintaan Dara sangatlah tulus dari hatinya.

"Jangan pergi dan ninggalin saya. Saya mohon, temani saya dalam setiap proses yang bakal saya lewatin," pinta Rafa. Suaranya terdengar bergetar menahan tangis.

Selama lima tahun ini dia merasa hatinya kosong dan kini perlahan terisi oleh sosok Dara. Rafa tiba-tiba merasa takut kalau Dara akan meninggalkannya.

Dara melepaskan pelukan Rafa. Dia berbalik perlahan hingga bisa melihat kedua mata Rafa yang berkaca-kaca.

"Aku gak bakal ninggalin Mas

Rafa selama bukan Mas Rafa sendiri yang ninggalin aku. Aku siap nemenin Mas Rafa dalam kondisi apa pun," ucapnya dengan yakin.

 

Rafa kini sudah ada di kamarnya. Dia sedang duduk di atas lantai dengan sebuah kotak besar di hadapannya. Rafa berulang kali menarik napas dan menghembuskannya perlahan.

Rafa masih merasa berat kalau harus membuang semua barang kenangan dirinya bersama Khaylila.

Pandangan Rafa tertuju pada pergelangan tangan kirinya. Dia bahkan masih memakai gelang tali

pemberian Khaylila dengan gantungan gembok kecil berbentuk hati.

Khaylila sendiri dulu menggunakan gelang yang sama, hanya saja gantungannya berbentuk kunci kecil. Katanya kunci dari gembok yang ada di gelang milik Rafa.

"Kuncinya ada di aku. Jadi kamu gak bakal bisa lepasin atau lupain aku kalau bukan aku yang buka gemboknya." Ucapan Khaylila waktu itu.

Rafa menarik gelang yang dipakainya hingga ukurannya sedikit membesar lalu perlahan melepaskannya.

"Maaf, Khay. Bukankah kamu sendiri yang bilang di mimpiku waktu itu kalau aku harus mulai bahagia di sini? Kamu benar, Dara memiliki hati yang baik dan tulus. Aku gak mau nyakitin dia dengan diriku sendiri yang masih belum bisa lupain kamu," ucapnya pelan.

Rafa menyimpan gelang itu ke dalam kotak dan membawa kotak itu keluar dari kamarnya.

Sebelum menuruni tangga, Rafa berhenti sejenak dan melihat ke arah kamar Dara yang pintunya tertutup rapat.

Menghela napas pelan, Rafa pun kembali melanjutkan langkahnya. Rafa menyimpan kotak itu di kursi samping dengan

dia sendiri yang masuk ke dalam mobil setelahnya.

Dari atas, tepatnya di balkon, Dara melihat Rafa pergi dan menghembuskan napas beratnya.

"Aku gak egois, 'kan?" batinnya.

Dara sadar, kebersamaan yang dia jalin bersama Rafa belum terlalu lama. Mungkin bisa dibilang masih singkat.

Tapi.. Mengingat ucapan Rafa yang pernah mengatakan kalau pria itu menyukainya, bukankah hal yang wajar jika dia ingin Rafa benar-benar fokus padanya?

Dara hanya tidak ingin kalau Rafa mengatakan suka tapi hati pria itu masih untuk orang lain. Yah ...

Meski orang itu sudah tiada.

Rafa menghentikan mobilnya saat sudah sampai di tempat pembuangan sampah yang ada di ujung perumahan. Di sana ada beberapa kotak besi berukuran besar dengan warna yang berbeda pula.

Rafa perlahan membuang semua barang kenangan dirinya dan Khaylila ke tempat sampah tersebut. Setelah selesai, dia diam sebentar dan kembali masuk ke mobilnya.

Tidak langsung pergi, Rafa meyakinkan dirinya sendiri kalau keputusan yang dia buat sudah

benar. Bayangan wajah cantik Dara terlintas di depan matanya.

"Yang kamu lakukan sudah benar, Rafa. Dara adalah istrimu," gumamnya.

Rafa pulang dengan perasaan yang jauh lebih lega. Seakan beban yang selama ini dia pikul terangkat semuanya.

Setelah memarkirkan mobilnya ke garasi, Rafa langsung masuk lewat pintu yang ada di garasi. Pandangannya langsung tertuju pada Dara yang sedang berada di dapur bersama Bi Inem.

"Trus diapain, Bi? Eeh! Eh!" Dara yang sedang belajar memasak dengan Bi Inem pun kaget saat

tangannya ditarik oleh Rafa.

"Mas Rafa ih! Aku lagi masak sama Bibi!" ujar Dara agak teriak.

"Gak boleh. Mulai sekarang, kamu kalau mau masak buat saya aja," balas Rafa.

"Kok gitu?" tanya Dara, dia tidak menolak saat Rafa membawanya ke lantai atas.

"Jangan banyak tanya sama protes. Nurut aja!" ucap Rafa dengan tegas.

Dara manyun. Dia yang kini sudah duduk di sofa dekat kamar Rafa pun memasang wajah cemberutnya.

Rafa jongkok di depan Dara, memperhatikan dengan lekat wajah cantik istrinya yang kalau cemberut begitu malah tambah bikin gemas.

"Saya udah buang semuanya," ucap Rafa.

"B-buang apa?" tanya Dara pura-pura.

"Semua barang kenangan saya sama Khaylila."

Dara diam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. "Maaf," ucapnya.

"Untuk?"

"Maaf kalau aku udah maksa Mas Rafa," jawab Dara.

Rafa menggelengkan kepalanya. "Enggak, kamu gak ada maksa saya. Justru seharusnya saya

melakukan ini sejak lama. Tapi... hanya kamu yang bisa bikin saya sadar dan akhirnya melalukan sesuatu yang benar."

Jantung Dara berdetak cepat saat Rafa memegang tangannya. Ditambah dengan Rafa yang tiba-tiba mengecup punggung tangannya itu.

"Mungkin terdengar terlambat. Tapi.. maukah kamu memulai semuanya dari awal sama saya?" tanya Rafa.

Kedua mata Dara berkaca-kaca. Dia diam sejenak dan mengangguk pelan sebagai jawaban.

Rafa tersenyum tipis. Dia hendak mencium kening Dara tapi

kaget saat Dara malah mendorongnya hingga dia terjengkang.

"K-kamu...."

Dara menggerakkan bola matanya ke samping kanan. Rafa pun mengikuti arah yang Dara maksud dan melihat sandal yang biasa dipakai oleh Bi Inem.

"Ekhem!" Rafa berdehem, "bibi ngapain nguping sama ngintip di sana?"

Bi Inem yang memang sedang bersembunyi pun muncul sambil nyengir. "Hehe. Maaf, Tuan. Saya cuman diminta Oma buat manggil kalian. Udah waktunya makan malam," ucapnya.

Setelahnya Bi Inem langsung pergi sambil ketawa ketiwi. "Aduh gemes pisan. Non Dara nya masih malu-malu kucing."

❤️

Besoknya di sekolah, Dara yang hendak turun dari mobil pun terpaksa kembali duduk saat Rafa menarik tas gendongnya.

"Iih. Kebiasaan ditarik terus. Nanti kalau sobek gimana?" tanyanya.

"Saya beliin yang baru," jawab Rafa dengan entengnya.

Dara mencebik. "Ada apa?" tanya Dara.

"Jangan judes gitu kalau ngomong sama suami. Harus penuh

kelembutan sama ditambah senyuman," goda Rafa.

Dara celingukan menatap area parkiran yang lumayan ramai oleh guru dan murid lain yang baru datang.

"Ih, jangan bercanda sekarang deh. Kalau ada yang curiga gimana?" tanya Dara.

Wajah Rafa langsung masam. "Saya cuman mau bilang. Kamu harus bisa jaga jarak sama Aiden atau mantan pacar kamu itu."

Dara membulatkan mulutnya. "Oh. Berarti kalau sama cowok lain boleh, ya?" godanya.

"Ssst!" Rafa mendesis disertai mata yang melotot. "Yang lain juga

sama!"

"Satu lagi. Upacara nanti, kamu barisnya di tengah-tengah. Jangan baris di paling belakang," ucap Rafa.

Dara menghela napas pelan. Makin banyak aja rasanya peraturan dari Rafa untuknya.

"Aiden sama Braden selalu keliling buat meriksa murid lain. Saya cuman gak mau mereka curi kesempatan buat deketin kamu nantinya."

Dara tertawa pelan. Rafa se-posesif itu padanya sekarang.

"Iya, bawel banget. Aku ada piket. Babay!" bisik Dara kemudian memberikan kecupan jauh sebelum keluar dari mobil.

Rafa memegang dadanya yang berdebar kencang. Aksi Dara barusan, sungguh diluar nurul dan membuat Rafa bengong seperti orang linglung.

"Dasar!"

 

Dara menyusuri koridor sekolah sendirian. Dia terkesiap saat Aiden tiba-tiba menepuk pundaknya.

"Tumben sendirian," ucap Aiden.

"Iya. Bebi kayaknya udah ke kelas duluan," jawab Dara.

"Gue duluan ya, ada piket," kata Dara. Dia merasa tengkuknya tiba-tiba merinding. Takut kalau Rafa

ada di belakangnya.

"Eh, tunggu!" seru Aiden malah berlari menyusul Dara.

"Apa?" tanya Dara. Dia takut Rafa akan melihatnya bicara berdua dengan Aiden.

"Emm... pulang sekolah nanti. Lo ada acara?" tanya Aiden.

"Duh. Kali ini gue harus ngasih alesan apa lagi?" batin Dara.

"Gue harus ke rumah sakit. Ayah lagi dirawat," jawab Dara.

"Ayah lo sakit apa?" tanya Aiden kaget.

"Emm... Abis operasi usus buntu."

"Hm. Gue juga abis dari sana

kemarin."

Dari arah lapang, tiba-tiba Braden menimpali ucapan Dara.

"Lo? Ngejenguk ayahnya Dara?" tanya Aiden tidak percaya.

"Hm. Tanya aja sama Dara," jawab Braden. Dia kayak yang puas ngeliat raut wajah Aiden.

Dara memutar bola matanya malas. Tanpa mengatakan apapun, dia melanjutkan langkahnya menuju kelas karena memang hari ini jadwal dia piket.

"Ada hubungan apa lo sama Dara?" tanya Aiden. Hanya ingin memastikan, karena dia pernah tidak sengaja mendengar obrolan Dara dan Bebi di taman sekolah

waktu itu.

"Gue ada hubungan atau enggak sama Dara, itu bukan urusan lo," jawab Braden.

"Lo udah punya Monica kalau lo lupa. Lo mau, cewek ja-hat lo itu ngelakuin sesuatu sama Dara lagi?" tanya Aiden.

"Jaga mulut lo! Monica gak ja-hat!" Meski perasaannya pada Monica sudah terasa hambar, tapi Braden tetap tidak suka saat Aiden mengejek bahkan menghina Monica.

"Emang bener, 'kan? Lo lupa pas Dara disiram sama Monica waktu itu?" tanya Aiden.

Braden diam. Dia tidak mungkin lupa pada kejadian itu. Hari di mana dia tidak mengakui Dara sebagai kekasihnya. Dia bahkan mengatakan dengan tegas kalau dia tidak mengenal Dara.

"Gue tau. Lo sebenernya mantan pacarnya Dara, 'kan? Lo buang trus hina dia karena penampilannya yang dulu. Sekarang, di saat dia udah berubah, lo mau deketin dia lagi?" tanya Aiden.

Kedua mata Braden melebar. Bagaimana Aiden bisa tahu?

Aiden tersenyum miring. "Lo cowok pengecut, Braden," ucapnya kemudian pergi lebih dulu.

Braden mengepalkan

tangannya. "Breng-sek!" umpatnya.

 

Dara langsung piket seperti biasa. Dia menyimpan spidol sambil melihat ke arah Bebi yang seperti takut saat bertemu Renita.

Bebi belum bercerita padanya karena waktunya juga mepet dengan dia yang harus piket dan sebentar lagi upacara.

"Yuk, ke lapang!" ajak Dara saat dia sudah mengambil topi dari dalam tas.

Bebi mengangguk dia keluar dari kelas bersama Dara. Hingga saat sudah agak jauh dari kelas, Dara pun menuntut penjelasan pada sahabatnya itu.

"Nanti, jangan sekarang. Nanti gue cerita sama lo," ucap Bebi.

Dara mengangguk pasrah. Dia tidak ingin terkesan memaksa Bebi untuk bercerita dengan segera padanya.

Mereka kini sudah berbaris di lapang dan Dara baris di tengah-tengah.

"Bukannya lo suka di belakang?" tanya Bebi.

"Gak, ditengah kayaknya lebih adem," jawab Dara.

Rafa yang berbaris bersama guru yang lain pun tersenyum tipis saat melihat istri kecilnya ada di tengah-tengah barisan.

Sedangkan Dara, dia fokus

menatap ke arah Rafa yang auranya terlihat lebih bersinar daripada guru yang lain. Meski kata murid lain Pak Yoga pun gak kalah ganteng, tapi di mata Dara, tetap Rafa yang paling ganteng.

 

Jam pertama setelah upacara, langsung disuguhi dengan pelajaran matematika. Rafa menjelaskan materi yang ada di buku sambil keliling memperhatikan semua murid takutnya ada yang diam-diam bermain ponsel.

Namun, kedua mata melotot saat Dara menunjukkan dua jari membentuk love ala-ala di drama korea padanya secara sembunyi-

sembunyi.

Rafa berdehem pelan, dia melengos dengan bibir yang sibuk menahan senyum. Rafa menepuk pelan meja Dara dan kembali menjelaskan materi.

Dara cekikikan dalam hati. Senang sekali dia melihat guru sekaligus suaminya itu salah tingkah.

[Kamu sengaja?]

Dara tertawa pelan membaca pesan yang dikirimkan oleh suaminya. Pelajaran pertama sudah selesai dan Rafa sudah keluar dari kelas.

[Sengaja apanya?] balas Dara, sambil mengirimkan emoji melet.

Pesan yang dia kirim langsung berubah biru centang duanya. Tertera kalau Rafa juga sedang mengetik sekarang.

"Ra, anter gue ke UKS yuk!" Bebi berucap, membuat Dara membalikkan ponselnya seketika.

"Lo sakit?" tanya Dara khawatir.

Bebi memegang perutnya, "Hari pertama," ucapnya.

Dara mengangguk paham dia memasukkan ponselnya ke saku seragam dan memegang lengan Bebi lalu keluar dari kelas menuju UKS.

"Kemana dia?" gumam Rafa saat pesan yang dia kirim tidak

kunjung berubah centang biru.

"Dara? Kamu kenapa?" tanya Bu Nindi.

"Bukan saya, Bu. Tapi teman saya," jawab Dara.

Bu Nindi membulatkan mulutnya. "Kenapa? Hari pertama?" tebaknya saat melihat Bebi yang terus memegangi perut.

Bebi meringis dan Bu Nindi tertawa pelan lalu pergi untuk mengambil obat dan alat kompres.

Bebi rebahan di ranjang dan menyimpan alat kompres di atas meja.

"Kok disimpen?" tanya Dara.

"Gue gak apa-apa. Gue ngajak lo ke sini cuman buat alesan doang biar Renita gak curiga," jawab Bebi.

"Ceritain!" pinta Dara.

Bebi menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Renita, dia... Dia saudara tiri gue," ucapnya.

"Hah?!" pekik Dara lalu menutup mulut dengan kedua tangan. "Kok bisa? Sejak kapan?"

"Baru beberapa hari ini. Nyokapnya nikah sama bokap gue," jawab Bebi.

"Lalu, dia ja-hat sama lo kayak cerita-cerita di film?" tebak Dara dan Bebi mengangguk.

"Kenapa lo gak lawan aja?

Bilang juga sama bokap lo," ujar Dara.

Bebi menangis, dia menutup wajah dengan kedua tangan dan menghapus air matanya. "Ibunya suka ngancem kalau dia bakal celakain papa kalau gue gak nurut. Papa juga kayaknya percaya banget sama mereka. Papa keliatan lebih bahagia semenjak nikah lagi, dan gue gak mau ngancurin kebahagiaan papa."

"Tapi gak harus ngorbanin diri lo sendiri juga, Bebi," sahut Dara.

"Trus gue harus gimana? Mau ngomong sama papa juga gue gak ada bukti. Bahkan di rumah itu, gue udah berasa kayak tamu dan mereka tuan rumahnya. Mereka

bersikap baik kalau ada papa doang. Bibi juga diancem sama mereka."

Dara menggenggam kedua tangan Bebi, seolah memberikan kekuatan kepada sahabatnya itu. "Bikin bukti itu, Beb. Lo harus lebih pinter dari mereka. Lo punya hak lebih dari mereka yang ibaratnya dipungut sama bokap lo."

Bebi menatap Dara dengan mata berkaca-kaca. "Tapi gimana caranya? Gue gak tahu harus mulai dari mana."

"Kita bisa mulai dengan merekam percakapan mereka. Sekarang kan banyak aplikasi di HP yang bisa dipakai buat merekam suara secara diam-diam," usul Dara.

Bebi mengangguk pelan. "Iya, mungkin itu bisa dicoba. Tapi gue takut banget, Dara. Kalau mereka tahu, gue bisa celaka."

"Gue ngerti, Beb. Tapi gue bakal bantu lo. Kita harus cari cara buat nangkep mereka pas lagi berbuat jahat. Gue bakal bantuin lo setiap langkahnya," ujar Dara sambil memeluk sahabatnya erat.

"Thanks, Dara. Gue gak tahu apa yang bakal gue lakuin tanpa lo," jawab Bebi dengan suara serak.

"Kita sahabat, kan? Kita harus saling bantu," balas Dara dengan senyum hangat.

Mereka terus berbincang sampai Dara tidak sadar kalau Rafa

terus mengiriminya pesan. Dara lupa kalau ponselnya juga dalam mode senyap.

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!