Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fatal Obsession
Dentuman musik techno yang menggema dari pengeras suara kelas atas di kediaman Hastings terasa seperti detak jantung pesta malam itu.
Di bawah pendar lampu disko yang berputar liar, suasana aula terasa pekat oleh aroma parfum mahal, uap alkohol, dan sisa-sisa asap ganja yang tipis berterbangan di udara.
Atmosfir di sana seolah bergetar, penuh dengan kegilaan anak-anak muda yang merasa dunia adalah milik mereka sendiri.
Di berbagai sudut, pemandangan khas kaum elit Milford Hall tersaji tanpa sensor. Ada sekelompok atlet rugby dan Lacrosse yang sedang bersorak gila-gilaan di meja beer pong, beberapa gadis dengan gaun sutra yang tertawa terlalu keras, hingga pasangan-pasangan yang tidak malu menempati sudut gelap untuk bercumbu.
Ini adalah ritual Sabtu malam yang sudah biasa, di mana aturan dan moralitas sering kali ditinggalkan di depan pintu gerbang.
Namun, di tengah semua keriuhan itu, Damian Harding justru terlihat sangat asing.
Ia duduk di sofa kulit yang terletak di sudut paling gelap, posisi strategis yang membuatnya bisa mengawasi seluruh ruangan tanpa harus berbaur. Wajahnya yang biasanya menjadi pusat perhatian, malam ini tampak muram dan dingin.
Ia memutar-mutar gelas kristal berisi whiskey tua, memperhatikan bongkahan es yang perlahan mencair, persis seperti rasa bosannya yang semakin menjadi-jadi.
Damian menyandarkan punggungnya pada sofa kulit yang dingin, namun suhu tubuhnya justru merangkak naik seiring malam yang semakin larut.
Ia melirik arloji Patek Philippe di pergelangan tangannya. Pukul sepuluh malam. Jemarinya gatal ingin merogoh saku, mengambil ponselnya, dan menekan nomor cewek sialan yang kemarin meng-klaim sudah akan tidur di balik selimut pada jam 8 malam.
Liar. Damian tahu persis Fraya tidak mungkin tidur secepat itu di hari Sabtu. Gadis itu pasti sedang terjaga di dalam kamarnya yang tenang. Entah sedang menenggelamkan diri dalam tumpukan buku atau menonton film lama yang membosankan.
Pikiran Damian mulai liar, melintasi jarak antara kediaman Hastings dan kamar Fraya yang sunyi.
Ia memproyeksikan bayangan Fraya yang sedang bersantai dengan dunianya sendiri.
Dalam benak Damian, Fraya hanya mengenakan kaus kebesaran yang menutupi tubuhnya dengan longgar, tanpa sehelai benang pun di baliknya.
Bayangan itu mengunci saraf Damian. Ia teringat dengan jelas bagaimana rupa kaki jenjang Fraya yang sering tertutup rok seragam. Di dalam kepalanya, kulit itu tampak begitu halus, mulus tanpa sedikit pun noda atau pori-pori yang terlihat, memantulkan cahaya lampu kamar yang temaram.
Damian mendamba untuk menyentuhnya, merasakan tekstur paha Fraya yang panjang dan kencang. Ia membayangkan jika saja kaus itu tersingkap sedikit saja ke atas, ia akan bisa melihat perut Fraya yang rata dan pinggangnya yang ramping—lekukan tubuh yang sanggup menghancurkan sisa-sisa kewarasan pria mana pun.
Damian menelan ludah dengan susah payah. Hasratnya bergejolak, menuntut dilepaskan. Membayangkan proyeksi Fraya yang mungkin saat ini sedang berguling di atas ranjang, membiarkan kulitnya bersentuhan langsung dengan seprai tanpa penghalang apa pun, membuat sesuatu dalam diri Damian menegang hebat. Ada gairah yang begitu gelap dan mendalam yang bangkit di bawah permukaan, sebuah rasa haus akan sosok Fraya Alexandrea yang tidak bisa lagi ia tekan.
Matanya terpejam kuat, namun justru itu membuat visualisasi di kepalanya semakin tajam.
Ia bisa merasakan imajinasinya bekerja terlalu baik—membayangkan aroma tubuh Fraya yang khas, kehangatan kulitnya yang lembut, dan bagaimana rasanya jika ia benar-benar ada di sana malam ini, bukan di tengah pesta sialan ini.
Damian memaki diri sendiri dengan suara rendah, "Sialan... sialan."
Sejak kapan gadis itu berhasil menyesap seluruh raga Damian sampai ke sumsum tulang? Rasanya setiap sel dalam tubuhnya kini sedang berteriak, lapar akan kehadiran Fraya. Ia merasa seperti pecandu yang sedang mengalami sakau, dan satu-satunya obat yang ia inginkan adalah melihat gadis itu benar-benar berada di bawah kendalinya.
"You're here."
Damian membuka mata seraya seluruh otot tubuhnya menegang kaku. Suasana damai dalam bayangannya tentang Fraya yang sedang meringkuk di atas ranjang seketika hancur, digantikan oleh realitas yang menyesakkan.
Ia merasakan sepasang tangan lembut dengan kuku-kuku yang dipoles sempurna melingkar dari belakang, memeluk dadanya dengan gestur posesif yang terlalu akrab.
Sisi wajah seorang gadis bersandar di pipi Damian, menyebarkan aroma parfum bunga peony yang mahal dan memuakkan bagi indra penciumannya malam ini.
Beberapa helai rambut pirang panjangnya jatuh terjuntai di bahu Damian, menyentuh kemeja putihnya dengan tiga kancing teratasnya dibiarkan terbuka.
Tanpa menoleh pun, Damian sudah tahu siapa yang tengah ber gelendot manja di tubuhnya.
Alana Highmore.
Satu-satunya orang yang merasa memiliki hak istimewa untuk menyentuhnya di depan publik seperti ini.
"Alana, please..." Suara Damian serak, menahan jemari Alana yang mulai meraba dada bidangnya, bergerak liar hendak membuka kancing ke empat kemejanya.
"What? Kamu biasanya selalu menikmatinya, Nick," bisik Alana tepat di telinga Damian. Napasnya yang hangat berembus di sana, sementara jemarinya masih dengan lembut membelai kain kemeja Damian, mencoba membangkitkan gairah yang ia kira masih tersisa untuknya.
"Tidak, Alana. Hentikan." Damian menggeram rendah di tengah hentakan musik pesta yang membahana, memberikan peringatan yang tidak bisa dibantah.
Alana akhirnya menyerah, meski dengan sisa-sisa ketidakpuasan yang nyata. Ia tegakkan kembali tubuhnya sambil berdecak kesal, namun ambisinya untuk menarik atensi Damian tidak berhenti di situ.
Dengan gerakan yang diatur sedemikian rupa agar terlihat anggun sekaligus menggoda, ia berjalan memutari sofa.
Ia memilih duduk di atas meja kayu yang berada tepat di hadapan Damian, yang saat ini sedang duduk setengah merosot di kursinya sambil menekan pelipis—mencoba mengusir pening yang bukan berasal dari alkohol.
Alana menyibakkan rambut pirangnya yang tergerai indah ke belakang bahu, memamerkan leher jenjangnya. Ia menyilangkan kakinya dengan sengaja, memperlihatkan keindahan paha dan betisnya yang terpampang nyata karena gaun pendeknya yang tersingkap naik, nyaris tak menutupi bagian paling privasi dari tubuhnya.
Alana berpose begitu berani, berharap Damian akan tergoda, atau setidaknya meliriknya dengan gairah yang sama seperti pria-pria lain di ruangan ini.
Tapi memang malang tak bisa dibendung, reaksi Damian hanya melirik sebentar dengan mata dingin yang datar.
Detik selanjutnya, Damian justru mengembuskan napas panjang dengan ekspresi malas yang sangat kentara.
Alana jelas menyadari sikap acuh tak acuh itu.
Harga dirinya yang setinggi langit mulai retak. Emosinya memantik hebat ketika menyadari bahwa segala daya tarik fisiknya sama sekali tidak mampu mengalihkan Damian dari lamunannya sendiri.
"Kamu benar-benar mau mengabaikan ku semalaman ini, Nick? Begitu?" tanya Alana dengan suara yang mulai bergetar karena amarah.
Damian mengangkat manik matanya, menghujam bola mata Alana dengan tatapan sadis yang seolah ingin menguliti gadis itu.
"Perlu berapa kali lagi harus kukatakan kalau aku sudah punya kekasih, Alana? Atau harus pakai bahasa apa lagi selain bahasa kita sendiri untuk membuatmu paham kalau aku sudah pensiun dengan segala hal yang kamu tawarkan padaku?"
Kalimat itu menghantam Alana lebih keras daripada tamparan fisik. Mulutnya praktis menganga, kehilangan kata-kata. Wajahnya yang biasanya sombong kini terlihat begitu terluka dan hancur. Ia segera menarik kakinya dan duduk dengan tegak, tak lagi menampilkan pose seksi yang sia-sia itu.
"Kalau memang kamu benar-benar pacaran dengan cewek Asia itu, lalu di mana dia sekarang? Kenapa kamu tidak bersamanya? Kenapa tidak kamu bawa ke sini?" Alana tertawa getir, suaranya melengking tajam di antara dentuman bass pesta. "Oh iya, aku lupa... dia kan memang tidak ditakdirkan berada di sini, di lingkaran sosial kita. Tempatnya jelas masih jauh di bawah tempat kita, Nick. Kamu masih belum sadar juga kalau yang kamu pacari itu bahkan belum menyentuh radar terdekat level kita?"
Damian mengerutkan kening dengan dramatis, menatap Alana seolah gadis itu adalah makhluk paling menyedihkan yang pernah ia temui.
"Kamu ini bicara apa sih? Apa memang tolak ukur hidupmu pada seseorang hanya ditentukan dari kelas sosial? Yang kamu bicarakan itu sama-sama perempuan, Alana. Bahkan bedanya, pacarku punya prinsip yang ia buat sendiri. Bukan atas dorongan atau ekspektasi orang lain. Sedangkan kamu..."
"Apa? Ada apa denganku? Memangnya kamu pikir orang sepertiku tidak punya prinsip?" Alana berdiri, menantang Damian dengan wajah yang memerah padam karena murka.
Sambil menarik napas panjang dengan gestur yang sangat malas-malasan, Damian beranjak dari sofa. Ia berdiri menjulang tinggi, mengintimidasi Alana tepat di depan hidungnya.
"We're not having this kind of conversation again, Alana. Jika ku teruskan apa yang ingin kukatakan tentang dirimu, aku yakin setelah ini kamu akan membenciku seumur hidup."
Tanpa menunggu balasan, Damian berlalu begitu saja sembari meneguk sisa whiskey di gelasnya hingga tandas.
Ia hendak menaruh gelas kosong itu ke sudut meja dengan asal, ketika langkahnya terhenti secara tiba-tiba.
Dunia di sekitar Damian seolah berhenti berputar.
Napasnya mendadak memburu. Jantungnya seolah berhenti berdegup untuk satu detik yang terasa abadi.
Di ambang pintu aula yang megah itu, berdiri seorang gadis yang tampak seperti anomali di tengah kegilaan pesta Robby.
Ia mengenakan gaun putih setengah paha yang memeluk lekukan tubuhnya dengan begitu elegan—namun yang membuat Damian nyaris kehilangan kewarasan adalah sepatu kets Converse yang dikenakannya. Kontradiksi yang begitu liar namun sangat mematikan.
Gaun itu... adalah gaun yang tidak pernah Damian bayangkan akan menjadi gaun paling "terkutuk" yang membangkitkan kembali gairah liarnya.
Putih gading, bersih, namun memeluk tubuh Fraya dengan cara yang begitu provokatif. Damian bisa melihat lekukan pinggangnya, perutnya yang rata, dan kaki jenjangnya yang tadi ia bayangkan, kini terpampang nyata di depan matanya.
Fraya menengadahkan mata, melihat sekeliling dengan wajah antara terpana dan bingung karena kerumunan yang begitu kacau. Di sebelahnya, Florence tidak bisa menutupi kegirangannya, berjingkrak-jingkrak kecil hingga gaun hijau gelapnya bergoyang.
"Lexy, aku mau ambil minuman dulu ya!" Damian bisa mendengar Florence berseru di kejauhan.
Sebelum Fraya sempat memprotes, Florence sudah menghilang ditelan kerumunan, meninggalkan Fraya sendirian di ambang pintu, menjadi pusat perhatian pria-pria yang kini menatapnya dengan lapar.
Rambut hitam Fraya dibiarkan terurai bebas, jatuh menutupi sebagian bahunya yang indah. Wajahnya dipoles riasan tipis, namun eyeliner tajamnya menegaskan mata cokelat yang selalu membuat Damian bertekuk lutut. Bibirnya yang dipoles lipstik nude alami terlihat begitu ranum dan menggoda.
Melihat sosok sesempurna itu berdiri di sana—di wilayah kekuasaannya—membuat perasaan Damian membuncah.
Bukan hanya kebahagiaan, tapi rasa haus yang luar biasa untuk segera mengklaim gadis itu di depan semua orang, terutama di hadapan Alana yang masih mematung di belakangnya.
Fraya Alexandrea, di mata Damian malam ini, adalah definisi dari segala gairah yang tidak bisa ia jinakkan lagi.
...°°°°°...
Fraya berdiri mematung di ambang pintu yang megah, merasa seperti sepotong pualam putih yang tersesat di tengah lautan hitam yang pekat.
Florence, yang janjinya akan tetap di sisi Fraya selama pesta, sudah menghilang ditelan kerumunan manusia yang bergoyang mengikuti dentuman bass.
Fraya meremas jemarinya, merasa asing dengan gaun putih yang kini terasa terlalu pendek, terlalu pas di tubuh, dan terlalu mencolok.
"Need some company, sweetheart?"
Sebuah suara berat yang tidak dikenal merayap masuk ke pendengarannya.
Fraya menoleh, menemukan seorang laki-laki dengan kemeja flanel yang kancingnya terbuka lebar—entah siswa Milford atau penyusup pesta—berdiri terlalu dekat dengan senyum yang dipaksakan terlihat menawan.
Tatapannya lapar, menelusuri jenjang kaki Fraya yang terpampang nyata di bawah lampu disko.
"Teman-temanku sedang mengambil minum," sahut Fraya dingin, berusaha menjaga jarak.
"Kenapa menunggu kalau kamu bisa minum denganku sekarang?" Laki-laki itu menyodorkan sebuah gelas plastik berisi cairan biru elektrik yang aromanya menyengat tajam. "Ayo, seteguk saja. Pesta ini akan terasa jauh lebih menyenangkan kalau kamu sedikit... rileks."
"Nope, thank you very much, but i don't drink any alcohol ," Fraya bersikap defensif, tangannya menolak gelas itu dengan tegas.
Laki-laki itu justru tertawa, melangkah maju hingga Fraya terdesak ke pilar pintu. "Jangan sombong. Gadis secantik kamu tidak seharusnya berdiri sendirian seperti pajangan—"
"She's not alone."
Suara itu rendah, dingin, dan mengandung otoritas yang sanggup membekukan aliran darah.
Fraya tersentak. Damian sudah berdiri tepat di belakang laki-laki asing itu.
Sosoknya tampak begitu dominan; kemeja putihnya dengan tiga kancing teratas yang terbuka memperlihatkan dada bidang yang tegas, kontras dengan celana bahan berwarna kaki dan sepatu kets putih yang membuatnya terlihat seperti pangeran yang baru saja keluar dari pemotretan majalah elit.
"Dan yang sedang kamu rayu ini," Damian melanjutkan, matanya menyipit berbahaya, "adalah kekasihku."
Mendengar nama Damian, dan melihat tatapan predator yang terpancar dari mata kebiruannya, laki-laki asing itu mendadak pucat pasi.
Ia hampir menjatuhkan gelasnya, bergumam minta maaf dengan terbata-bata, lalu menyingkir secepat kilat sebelum Damian sempat melayangkan tinjunya.
Fraya menghela napas lega, namun jantungnya justru berdegup lebih kencang saat Damian berbalik menatapnya.
Damian membiarkan rambut pirangnya berantakan, dan pandangan matanya... Fraya merasa seolah ditelanjangi. Ada gairah yang begitu jujur, begitu lapar, dan begitu berbahaya.
"Putih?" Damian berbisik, suaranya parau, nyaris seperti geraman rendah yang menggetarkan tulang belakang Fraya. "Aku memintamu memakai gaun hitam agar aku bisa berkonsentrasi, Ace. Tapi kamu malah datang seperti malaikat yang salah masuk ke sarang penyamun."
Fraya mencoba menarik napas, berusaha tetap tenang meski jantungnya sedang melakukan maraton.
"Hitam itu membosankan, Damian. Lagipula, bukankah malaikat memang tugasnya menyelamatkan orang berdosa sepertimu?"
Damian terkekeh, suara tawa yang maskulin dan serak. Ia menarik pinggang Fraya dengan satu sentuhan posesif yang membuat kulit Fraya terasa terbakar.
"Don't be too cocky, Ace. Kamu tidak sedang menyelamatkanku, namun kamu justru sedang menghancurkan ku pelan-pelan dengan gaun ini."
"Oh, benarkah? Tuan Harding yang hebat ternyata bisa hancur hanya karena sepotong kain putih?" Fraya membalas, matanya menantang dengan binar jenaka yang berani.
"Bukan kainnya, tapi siapa yang ada di dalamnya,"
Damian mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidung mereka bersentuhan. "Ayo. Aku tidak mau membiarkan bajingan-bajingan di sini terus-terusan menguliti tubuhmu dengan mata mereka. Kamu harus berada di bawah pengawasanku."
Damian menggiring Fraya masuk ke tengah kerumunan aula Hastings yang semakin bising.
Ia berjalan seolah sedang memamerkan berlian paling langka di dunia. Setiap pria yang berani menoleh menatap Fraya lebih dari dua detik harus berhadapan dengan tatapan tajam Damian yang seakan berkata, 'Lihat sedikit saja, dan aku pastikan wajahmu akan ku hancurkan.'
Di tengah lantai dansa, musik berubah. Bukan lagu mendayu yang romantis, melainkan beat elektronik yang berat dan intens—jenis musik yang memaksa setiap saraf untuk bergerak.
Fraya yang awalnya kaku mencoba menjauh, merasa tidak enak menjadi pusat perhatian.
"Aku tidak bisa berdansa seperti ini, Damian. Ini terlalu... ramai," gumam Fraya canggung.
Damian tidak membiarkannya lepas. Ia justru melakukan gerakan kecil, sedikit bergoyang konyol dan kaku yang sangat tidak mirip dengan dirinya yang keren, hanya untuk memancing tawa Fraya.
"Lihat? Aku lebih buruk darimu,"
Damian mengedipkan sebelah mata.
Fraya tidak bisa menahan tawa. Tawa kecilnya meledak, dan saat itulah benteng pertahanannya runtuh total. Damian segera mengambil kesempatan itu untuk merapatkan tubuh mereka.
Kedua tangan besarnya mendarat di pinggang dan punggung Fraya, mencengkeram dengan posesif yang liar.
Fraya merasa seolah tersengat listrik ribuan volt. Musik yang menghentak keras seolah menyatu dengan aliran darahnya.
Tanpa sadar, ia mulai mengikuti irama, menggoyangkan tubuhnya di depan Damian. Setiap gerakan pinggul Fraya yang bergesekan dengan tubuh Damian membuat pertahanan cowok itu nyaris runtuh.
Tangan Damian tidak pernah lepas, jari-jarinya seolah ingin meresap ke dalam kulit Fraya melalui kain gaun putihnya.
Damian kemudian menarik Fraya berputar, lalu memeluknya dari belakang. Ia merapatkan dada bidangnya yang hanya tertutup kemeja putih tipis pada punggung Fraya, dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Fraya, menghirup aroma vanila dan keringat tipis yang justru terasa sangat memabukkan.
Damian mencium kulit sensitif itu dalam-dalam, membuat Fraya memejamkan mata dan sedikit mendongak, pasrah pada sensasi yang menguasainya.
"You have no fucking idea how beautiful and sexy you are. You are mine, Alexandrea. Only mine. No one can have you except me," bisik Damian, napas hangatnya yang berbau whiskey mahal menggelitik indra pendengaran Fraya, mengirimkan gelombang hasrat primitif yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Fraya berbalik dalam dekapan posesif itu, menatap mata Damian yang kini sayu dan gelap oleh gairah yang tidak lagi ditutup-tutupi. Dalam remang lampu pesta yang berkedip pelan, wajah mereka semakin dekat.
Mereka menghirup napas satu sama lain dalam antisipasi yang menyiksa. Bibir mereka hanya berjarak beberapa milimeter, nyaris bersentuhan, siap untuk saling memangsa...
Tap.
Sebuah tepukan berat di bahu Damian menghancurkan gravitasi di antara mereka.
"Damian, Axel mencari mu. Sekarang," ujar Ronny yang tiba-tiba muncul seperti hantu di tengah pesta.
"Later, Ron," Damian mendesis tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari bibir Fraya yang sedikit terbuka.
"Urusan ini tidak bisa ditunda. Axel bilang ini soal 'proyek' itu. Dia akan menunggu di balkon." desak Ronny dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Dengan geraman kesal yang terdengar sangat frustrasi, Damian terpaksa melepaskan pelukannya. Namun, sebelum ia melangkah pergi, ia meraih tangan Fraya, menariknya ke arah bibirnya, dan mencium punggung tangan itu begitu dalam dan lama.
Matanya tetap mengunci mata Fraya, seolah sedang menandai wilayahnya.
"Tunggu aku di sini. Jangan pergi ke mana pun. Jika ada yang menyentuhmu, aku akan membunuhnya," bisik Damian serius sebelum akhirnya berbalik mengikuti Ronny.
Sepeninggal Damian, Florence muncul dengan segelas minuman di tangan, wajahnya berseri-seri penuh kemenangan.
"Holy shit, Alexa! Kalian berdua tadi... gila! Sangat serasi! Aku hampir pingsan melihat Damian menatapmu seolah-olah kamu adalah satu-satunya air di tengah gurun!"
Namun, di sudut aula yang paling gelap, Alana Highmore berdiri dengan tangan mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih.
Matanya menyala karena amarah yang nyaris meledak melihat kemesraan yang menurutnya adalah penghinaan.
"Axel, jelaskan padaku! Katamu yang dilakukannya hanya bagian dari balas dendam yang kamu suruh? Coba jelaskan, bagian balas dendam mana dari seorang Nicholas yang menatap cewek sialan itu seolah dia adalah oksigennya?" tuntut Alana tajam pada Axel yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi datar.
Axel Rosewood hanya terdiam. Matanya terpaku pada punggung Damian yang sedang berjalan menuju balkon rumah Robby, tempat Axel akan menemuinya nanti.
Axel jelas bukan orang bodoh. Ia adalah pengamat yang ulung.
Ia bisa melihat bahwa apa yang dilakukan Damian sudah bukan lagi sekadar akting atau bagian dari taruhan yang di awal rencananya.
Damian sudah terlalu jauh tenggelam.
Seharusnya Axel sudah mengantisipasi tindakannya ini, bahwa Damian tidak lagi sedang berpura-pura mendekati Fraya agar gadis itu jatuh hati pada Damian.
Justru sebaliknya. Sekarang terpampang dengan jelas, Damian jatuh bertekuk lutut untuk seorang Fraya Alexandrea.
"Sepertinya rencana nya berubah, Alana," gumam Axel tenang, namun matanya memancarkan kilat yang mengerikan.
Ia menyeringai tipis, sebuah skenario rencana yang jauh lebih jahat dan kompleks kini tersusun rapi di kepalanya.
Sesuatu yang akan menghancurkan bukan hanya ke satu orang, melainkan dua orang sekaligus yang sejak dulu ia benci karena satu diantaranya telah merebut hati yang seharusnya menjadi miliknya sejak lama.
Milik Axel.
part yg bikin bad mood wkwkwk
tim Damian in action
terima kasihhhhh bagus ceritanya🥰
kalo udah dapat jgn disia2in
semangat nunggu ceritamu kak🥰
tapi lama2 mirip film horor euy serem bacanya🥰
bacanya sambil berharap terus nyambung g berhenti 😂 keren ceritanya
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍