persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Nama Saya Bumi dan Beban Menjadi Tempat Berpijak
Nama saya Bumi. Lengkapnya Bumi Aksara. Ayah saya memberikan nama itu barangkali karena dia sedang merasa sangat puitis saat saya lahir, atau mungkin dia cuma sedang malas berpikir dan melihat judul buku di atas mejanya. Katanya, menjadi Bumi itu harus sabar. Kamu harus rela diinjak-injak, harus rela dijadikan tempat sampah bagi sebagian orang, tapi kamu tetap harus menyediakan oksigen dan tempat bertumbuh bagi bunga-bunga. Masalahnya, Ayah lupa kalau Bumi juga bisa gempa kalau sudah terlalu banyak menampung beban. Dan saat ini, beban saya adalah seorang guru Fisika bernama Pak Subagyo yang sedang menjelaskan tentang hukum Newton seolah-olah itu adalah resep membuat nasi goreng yang sangat penting bagi masa depan umat manusia.
Saya duduk di barisan paling belakang di kelas XI-IPA 2. Barisan ini adalah tempat favorit bagi orang-orang yang keberadaannya dianggap mitos oleh guru. Di sini, saya punya dunia sendiri. Meja kayu saya sudah penuh dengan coretan spidol permanen, mulai dari rumus yang salah tulis sampai gambar kucing yang sedang merokok. Saya lebih suka memperhatikan bagaimana debu-debu menari di celah cahaya matahari yang masuk lewat jendela kelas daripada memperhatikan papan tulis. Debu-debu itu bebas, tidak perlu ujian semester, dan tidak perlu takut kalau seragamnya tidak dimasukkan ke dalam celana.
"Bumi, kamu tahu kenapa benda ini jatuh?" Suara Pak Subagyo menggelegar, memutus rantai imajinasi saya tentang debu yang merdeka.
Saya mengerjapkan mata. Beliau memegang sebuah penghapus papan tulis yang berdebu. Saya menatap penghapus itu, lalu menatap Pak Subagyo yang kumisnya sedikit miring ke kiri karena terlalu banyak bicara.
"Karena Bapak lepaskan, Pak," jawab saya jujur. Seisi kelas tertawa. Pak Subagyo tidak tertawa. Beliau mendengus seperti banteng yang sedang melihat kain merah, lalu menyuruh saya berdiri di depan kelas sampai jam pelajarannya selesai.
Menjadi Bumi memang berat. Sekarang saya harus berdiri di depan kelas, menghadap ke arah teman-teman saya yang sebagian besar merasa kasihan tapi lebih banyak yang merasa terhibur. Di antara sekian banyak wajah itu, ada satu wajah yang tidak tertawa. Dia malah menatap saya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara gemas, kasihan, dan mungkin sedikit ingin melemparkan sepatunya ke arah saya.
Namanya Kayla.
Kalau saya adalah Bumi, maka Kayla adalah hujan yang turun setelah kemarau panjang. Dia tidak berisik, tapi dia bisa mengubah tanah yang keras menjadi empuk dan penuh kehidupan. Kayla adalah teman saya sejak kami masih sangat kecil, saat kami masih sama-sama tidak tahu kalau hidup di masa depan akan serumit ini. Dulu, masalah terbesar kami hanyalah bagaimana cara merebut ayunan di taman tanpa harus berkelahi dengan anak tetangga sebelah yang badannya seperti raksasa. Sekarang, masalahnya sudah beda lagi.
Kayla duduk di barisan kedua dari depan. Rambutnya diikat kuda, menampakkan lehernya yang putih dan kecil. Setiap kali dia mencatat, bahunya akan bergerak naik turun dengan ritme yang teratur. Saya hafal betul bagaimana cara dia memutar pulpen saat sedang berpikir, atau bagaimana dia akan menggigit bibir bawahnya kalau dia tidak tahu jawaban dari soal di buku cetaknya.
Bel istirahat berbunyi seperti suara malaikat yang membawa kabar gembira. Pak Subagyo merapikan bukunya, menatap saya sekali lagi dengan tatapan 'kamu-adalah-beban-masa-depan-bangsa', lalu keluar kelas. Saya menghela napas panjang, meregangkan otot-otot kaki yang rasanya mau copot karena berdiri hampir satu jam.
"Bumi! Kamu itu ya, hobinya bikin masalah saja."
Kayla sudah berdiri di samping saya. Dia tidak setinggi saya, jadi dia harus sedikit mendongak kalau mau memarahi saya. Bau parfumnya khas, seperti bau toko kue yang baru saja mengeluarkan roti manis dari panggangan. Bau yang selalu sukses bikin perut saya keroncongan dan jantung saya berdetak tidak keruan.
"Saya tidak bikin masalah, Kay. Saya cuma memberikan jawaban yang paling logis secara filosofis," kata saya sambil mulai berjalan menuju meja saya untuk mengambil tas.
"Filosofis matamu! Itu namanya nyari gara-gara," Kayla memukul bahu saya pelan dengan buku tulisnya. "Ayo ke kantin. Saya lapar."
Kami berjalan menyusuri koridor sekolah yang mulai ramai. SMA ini adalah tempat yang aneh. Di sini ada kasta-kasta yang tidak tertulis. Ada kasta anak basket yang selalu berjalan berkelompok seolah-olah koridor ini milik nenek moyang mereka. Ada kasta anak pintar yang bicaranya selalu tentang olimpiade dan masa depan di universitas ternama. Dan ada saya, kasta pengamat yang lebih suka berada di pinggiran, melihat semua drama itu terjadi dari jauh.
"Bumi, nanti sore jadi ke toko buku?" tanya Kayla sambil sesekali menyapa teman-temannya yang lewat. Kayla itu populer, tapi dia tidak menyadarinya. Dia baik kepada siapa saja, bahkan kepada kucing kurap yang suka mangkal di depan gerbang sekolah.
"Jadi. Memangnya mau cari buku apa lagi? Koleksi novelmu sudah hampir meruntuhkan lemari, kan?"
"Mau cari referensi buat mading. Oh iya, nanti ada Arkan juga ikut."
Langkah kaki saya terhenti sebentar. Nama itu lagi. Arkan. Nama yang kalau diucapkan Kayla, rasanya seperti ada butiran pasir yang masuk ke dalam mata saya. Pedih dan bikin ingin menangis, tapi tidak bisa.
Arkan adalah murid pindahan dari Jakarta yang masuk dua bulan lalu. Dia punya segalanya yang tidak saya punya. Dia punya motor besar yang suaranya bisa membangunkan orang mati. Dia punya senyum yang rapi, gigi yang putih, dan gaya bicara yang sangat sopan sampai-sampai Ibu kantin sering memberikan dia gorengan gratis. Dan yang paling menyebalkan, dia adalah ketua mading yang baru, di mana Kayla menjadi sekretarisnya.
"Kenapa harus ada dia?" tanya saya, mencoba terdengar biasa saja, padahal di dalam kepala saya sedang terjadi perang dunia ketiga.
"Ya kan dia ketua mading, Bumi. Kita mau bahas konsep buat edisi bulan depan. Masa dia tidak diajak?" Kayla menatap saya dengan mata besarnya yang jernih. "Kamu tidak keberatan, kan?"
Saya ingin bilang, "Iya, saya sangat keberatan! Saya ingin kita pergi berdua saja seperti dulu, tanpa ada gangguan suara motor besarnya atau senyumnya yang sok manis itu." Tapi tentu saja, sebagai Bumi yang sabar, saya tidak bisa mengatakannya.
"Tidak. Biasa saja," jawab saya pendek.
Kami sampai di kantin. Suasananya seperti pasar tumpah. Bau minyak goreng, keringat siswa, dan suara teriakan Ibu kantin bercampur jadi satu. Di sudut pojok, di meja yang paling bersih, Arkan sudah duduk manis dengan sebotol air mineral dan buku catatan di depannya. Dia melambai ke arah kami. Eh, lebih tepatnya ke arah Kayla.
"Kayla! Di sini!" teriak Arkan dengan suara baritonnya yang menyebalkan.
Kayla tersenyum lebar—jenis senyum yang seharusnya hanya diberikan kepada saya—lalu setengah berlari menuju meja itu. Saya mengikuti dari belakang dengan langkah yang berat, seperti sedang menyeret beban seratus kilo di setiap kaki.
"Hai, Arkan. Sudah lama?" Kayla duduk tepat di depan Arkan.
"Baru sepuluh menit. Eh, ada Bumi juga," Arkan menyapa saya dengan nada sok akrab. Dia mengulurkan tangan.
Saya melihat tangannya yang bersih, lalu melihat tangan saya sendiri yang terkena sisa debu kapur dari depan kelas tadi. Saya menjabat tangannya sekilas, lalu duduk di samping Kayla, berusaha memposisikan diri sedekat mungkin dengannya seolah-olah sedang menandai wilayah kekuasaan.
"Jadi, konsep madingnya gimana?" Kayla langsung antusias.
Mereka mulai bicara. Tentang layout, tentang tema 'Cinta di SMA', tentang narasumber yang harus diwawancara. Saya hanya duduk diam, memperhatikan bagaimana Arkan menatap Kayla. Dia menatap Kayla dengan cara yang saya kenal betul—cara seorang pemburu menatap mangsanya, atau mungkin cara seorang pengagum menatap lukisan mahal.
Saya merasa terasing di meja saya sendiri. Saya merasa seperti sebuah planet yang terlempar keluar dari orbitnya. Biasanya, di jam istirahat seperti ini, saya dan Kayla akan duduk berdua, membicarakan hal-hal yang tidak ada gunanya, seperti kenapa warna langit harus biru atau kenapa tukang bakso selalu memukul mangkoknya dengan nada yang sama. Tapi sekarang, percakapan itu digantikan oleh istilah-istilah mading yang membosankan.
"Bumi, menurut kamu gimana kalau kita pakai konsep retro?" Arkan tiba-tiba bertanya pada saya.
"Retro itu apa?" tanya saya pura-pura bodoh.
"Ya itu, konsep gaya lama, pakai warna-warna cokelat, sepia..." Arkan menjelaskan dengan sabar, yang justru membuat saya semakin kesal.
"Oh. Terserah saja. Selama tidak pakai konsep masa depan, karena masa depan itu tidak pasti," jawab saya asal.
Kayla mencubit pinggang saya di bawah meja. "Bumi, serius sedikit dong!" bisiknya tajam.
Saya meringis. Rasa sakit di pinggang saya tidak sebanding dengan rasa sesak di dada saya melihat bagaimana Kayla begitu nyaman berdiskusi dengan Arkan. Ternyata benar kata Ayah, menjadi Bumi itu berat. Tapi Ayah tidak pernah bilang kalau yang paling berat bukan menahan pijakan orang lain, melainkan melihat orang yang paling kamu sayang mulai berpijak di bumi yang lain.
Istirahat berakhir dengan rencana pergi ke toko buku jam empat sore nanti. Arkan pamit duluan karena ada urusan dengan guru olahraga. Kayla masih sibuk merapikan catatannya.
"Kay," panggil saya pelan saat kami berjalan kembali ke kelas.
"Hmm?"
"Kamu benar-benar suka ya sama mading?"
Kayla berhenti jalan, menatap saya bingung. "Suka. Seru tahu, kita bisa berekspresi lewat tulisan dan gambar. Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Cuma tanya saja."
Saya ingin bertanya hal lain. Saya ingin bertanya, "Kay, kamu suka sama madingnya, atau kamu suka sama ketuanya?" Tapi pertanyaan itu tertahan di tenggorokan, pahit sekali rasanya. Saya takut kalau saya bertanya, jawabannya akan membuat saya ingin berhenti menjadi Bumi dan berubah menjadi lubang hitam yang menghisap apa saja di sekitar saya.
Kami masuk ke kelas lagi. Pelajaran berikutnya adalah Sejarah. Saya kembali ke barisan belakang, kembali menatap cicak, dan kembali menjadi pengamat. Di depan sana, Kayla kembali mencatat dengan tekun. Dunia terus berputar, jam terus berdetak, tapi saya merasa ada sesuatu yang mulai bergeser di antara kami. Sesuatu yang saya harap hanyalah perasaan saya saja yang terlalu sensitif, tapi hati kecil saya bilang kalau badai sedang menuju ke arah saya.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya baru sadar kalau Bumi bisa merasa sangat sepi meskipun ada miliaran orang yang menginjaknya. Apalagi kalau satu-satunya orang yang dia ingin tetap tinggal, malah sedang bersiap-siap untuk pergi.