𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 10 - ** LANGIT KE 99 **
Malam turun perlahan di pusat kota.
Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu, membentuk pola cahaya yang berkilauan seperti papan sirkuit raksasa jika dilihat dari ketinggian. Namun di Gedung Cakrawala, khususnya di lantai 99, suasana justru semakin senyap.
Jam dinding menunjukkan pukul 22.47.
Sebagian besar karyawan Bluesky Corporation telah pulang sejak berjam-jam lalu. Bahkan lantai-lantai direksi sudah gelap. Lift utama berhenti beroperasi. Sistem keamanan malam aktif sepenuhnya.
Namun satu ruangan masih menyala.
Ruangan itu milik Rizuki.
Ia duduk sendirian di kursi kerjanya, jas telah dilepas dan digantung rapi di sandaran kursi lain. Lengan kemeja hitamnya tergulung hingga siku. Rambut wolfcut-nya sedikit berantakan—bukan karena lelah fisik, melainkan karena pikirannya bekerja tanpa henti.
Ponselnya tergeletak di sisi meja.
Tidak disentuh.
Hari ini ia tidak pulang ke apartemen.
Hari ini ia memilih tetap di sini.
“Tidak sekarang,” gumamnya pelan, menatap layar ponsel yang gelap. “Belum.” lanjut ucapnya
Ia berdiri, melangkah mendekati jendela besar yang menghadap kota.
Dari lantai 99, dunia tampak kecil. Jalanan yang sibuk siang tadi kini terlihat seperti garis-garis cahaya yang bergerak lambat.
Rizuki menyilangkan tangan.
“Ada sesuatu yang harus aku mulai.” tatapan tajam ke arah jendela kaca besar yang samar-samar memantulkan bayangan dirinya.
MISI TANPA NAMA
Meja kerja Rizuki kini dipenuhi beberapa layar holografik transparan.
Tidak ada logo Bluesky. Tidak ada akses jaringan internal perusahaan.
Semuanya terpisah.
Ia membuka sebuah folder berlabel sederhana:
PROJECT: NULL
Tidak ada subjudul. Tidak ada keterangan.
Rizuki menghela napas perlahan.
“Jika Bluesky adalah masa lalu dan masa kini,” bisiknya, “maka ini… adalah masa depan.”
Ia mulai mengetik cepat. Diagram muncul—alur sistem, struktur data, arsitektur teknologi. Fokusnya tajam, nyaris tanpa berkedip. Ini bukan sekadar ide bisnis. Ini adalah obsesi yang telah lama ia simpan.
Industri teknologi, Efisiensi, Mandiri.
Berdiri di luar Bluesky Corporation.
Tidak ada direksi.
Tidak ada dewan pengawas.
Tidak ada bayang-bayang masa lalu.
Hanya dia.
“Teknologi bukan sekadar alat,” katanya pelan pada dirinya sendiri. “Ia adalah kendali.”
INTERUPSI YANG TERTUNDA
Bel berbunyi di ruangan rizuki, Pintu ruangan terbuka perlahan. Mira masuk dengan langkah hati-hati, seolah takut mengganggu ketenangan malam itu.
“Tuan Rizuki,” ujarnya lirih. “Maaf mengganggu. Saya melihat lampu masih menyala.”
Rizuki tidak menoleh.
“Kenapa kamu masih di sini?”
“Saya… memastikan Anda tidak membutuhkan apa pun.”
Hening sejenak.
“Tidak,” jawab Rizuki akhirnya. “Kamu boleh kembali.”
Mira ragu. Lalu bertanya lagi. “Anda tidak pulang ke apartemen malam ini?”
“Tidak.” Nada suaranya tegas namun tidak keras.
Mira mengangguk.
“Baik, Tuan. Kalau begitu… saya akan menunggu instruksi selanjutnya.”
Saat ia berbalik hendak keluar, Rizuki memanggilnya.
“Mira.”
Ia berhenti.
“Ya, Tuan?”
“Apa yang kamu lihat malam ini,” ujar Rizuki tenang, “tidak pernah terjadi.”
Mira menelan ludah, lalu menunduk dalam-dalam.
“Saya mengerti.”
Mira melangkah mundur lalu keluar. Pintu tertutup kembali.
Sunyi kembali menguasai lantai 99.
DI TEMPAT LAIN, DI WAKTU YANG SAMA
Di sisi timur kota, Vhiena berbaring di atas tempat tidurnya. Lampu kamar dimatikan, hanya cahaya dari jendela yang menyelinap masuk.
Ia memeluk bantal.
Ponselnya berada di genggaman, layar menyala.
Tidak ada pesan baru.
“Kenapa hari ini terasa panjang sekali…” gumamnya.
Ia membuka percakapan dengan Rizuki. Chat terakhir masih dari kemarin.
Jarinya bergerak, mengetik sesuatu… lalu menghapusnya lagi.
“Ah… bodoh,” katanya pelan pada dirinya sendiri.
Ia tidak tahu bahwa pada saat ini, Rizuki sedang merancang sebuah dunia yang kelak bisa mengguncang segalanya—termasuk hubungannya dengan Vhiena.
KEMBALI KE LANTAI 99
Jam menunjukkan 01.12 dini hari.
Rizuki masih terjaga.
Kopi dingin di meja tak tersentuh. Matanya merah, namun fokusnya tidak goyah. Ia berdiri di depan layar besar, memandangi satu kata yang ia ketik dengan hati-hati.
INDEPENDENT TECHNOLOGY DIVISION
Lalu ia menghapusnya.
“Bukan divisi,” katanya pelan. “Perusahaan.”
Ia mengganti judulnya.
— masih kosong —
Nama itu belum ada.
Dan belum boleh ada.
Pintu otomatis tiba-tiba terbuka, Langkah kaki terdengar pelan dari belakang. Keira berdiri di ambang pintu, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang ia sembunyikan dengan baik.
“Kau belum pulang,” katanya, kali ini tanpa formalitas berlebihan. Hanya Keira yang berani berbicara seperti itu.
Rizuki tidak menoleh.
“Aku tahu.”
Keira melangkah masuk dengan pelan sambil melihat layar holografik di dekat meja Rizuki dan menatap layar-layar yang bukan bagian dari sistem Bluesky.
“Ini… bukan proyek perusahaan,” katanya hati-hati.
“Bukan,” jawab Rizuki singkat.
Keira menghela napas.
“Kau akan membuat sesuatu yang baru.”
“Ya.” Jawab rizuki dengan mata dan pikiran yang masih fokus pada proyek baru nya.
“Di luar Bluesky?. ” lanjut pertanyaan keira
“Ya.” jawaban singkat rizuki tanpa memandang keira.
Keira menatapnya lama.
“Dan kau tidak memberi tahu siapa pun.”
Rizuki akhirnya menoleh. Tatapan mata birunya dingin namun mantap.
“Karena jika aku memberi tahu,” katanya pelan namun tegas,
“maka itu tidak akan pernah benar-benar bebas.”
Hening menyelimuti ruangan.
Keira menyilangkan tangan.
“Menurut ku Ini berbahaya.”
“Semua hal besar selalu begitu.” rizuki kembali memfokuskan diri pada proyek nya.
Keira tersenyum tipis, getir.
“Kau masih sangat muda untuk menanggung risiko sebesar ini.”
Rizuki membalas tatapannya tanpa ragu.
“Aku sudah terlalu lama menanggung risiko yang lebih besar.”
Keira terdiam. Ia tahu kalimat itu bukan metafora.
“Aku tidak akan menghentikanmu,” katanya akhirnya. “Tapi aku juga tidak akan terlibat.”
Rizuki mengangguk.
“Itu yang aku inginkan.”
Keira melangkah mundur.
“Kalau begitu… semoga kau tahu apa yang kau lakukan.”
“Aku tahu.” Rizuki menutup mata dan tersenyum kecil.
Keira keluar, meninggalkan Rizuki kembali sendirian.
KEPUTUSAN DI ATAS LANGIT
Menjelang subuh, cahaya samar mulai muncul di balik gedung-gedung tinggi.
Rizuki berdiri di depan jendela, mata menatap horizon.
Satu tangan di saku celana.
Satu tangan menggenggam ponsel.
Ia membuka aplikasi pesan.
Nama Vhiena muncul.
Jarinya berhenti di udara.
“Tidak,” bisiknya lagi. “Belum.”
Ia mematikan layar.
“Jika aku melangkah ke dunia ini,” katanya pelan, seolah berbicara pada kota di bawah sana,
“maka tidak ada jalan mundur.”
Rizuki kembali ke mejanya. Mengetik satu kalimat terakhir di dokumen rahasia itu:
Project ini akan berjalan tanpa jejak.
Ia menyimpan file, lalu menutup semua layar.
Hari baru telah dimulai.
Dan tidak seorang pun tahu—
bahwa di lantai 99 Gedung Cakrawala,
sebuah industri teknologi baru telah lahir… dalam keheningan.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/