Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories
VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan
Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.
Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?
Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 27: Ketimpangan kutukan [7]
...●◉◎◈◎◉●...
...#1 Original story [@clandestories]...
...#2 No Plagiatrism...
...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...
...•...
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...
Jari Zack berhenti sesaat di atas tutup kotak itu.
Kayunya gelap, permukaannya halus tapi penuh goresan halus—seperti sudah sering disentuh, namun jarang benar-benar dibuka. Di sudutnya ada ukiran kecil, pola yang tidak terlalu mencolok jika dilihat sekilas. Pola itu melingkar, bertemu di satu titik di tengah.
Titik lagi.
Zack menarik napas pelan, lalu membuka kotak itu.
Tidak ada cahaya aneh. Tidak ada suara. Hanya isi yang sederhana seperti sebuah buku tipis berbalut kain tua dan sebuah benda kecil berbentuk logam, seperti liontin tanpa rantai.
Ruangan tetap sunyi.
Zack mengangkat buku itu lebih dulu. Sampulnya polos, tanpa judul. Begitu dibuka, halaman pertama berisi tulisan tangan yang rapi, tinta yang sudah sedikit memudar.
Tulisan itu bukan cerita panjang. Bukan catatan sejarah yang lengkap. Lebih seperti catatan pribadi.
Ayah Zack berbicara pelan, suaranya tidak gemetar, tapi juga tidak sepenuhnya ringan.
“Itu ditulis oleh kakek buyutmu. Ia orang terakhir di keluarga ini yang mencoba memahami semuanya secara sadar.”
Zack membaca baris pertama.
Bukan tentang kutukan.
Bukan tentang penderitaan.
Tapi tentang tanggung jawab.
Tulisan itu menjelaskan bahwa keluarga mereka selalu tahu ada sesuatu yang melekat pada garis keturunan mereka. Sesuatu yang muncul di saat-saat tertentu. Sesuatu yang tidak bisa dihapus begitu saja.
Namun yang mengejutkan bukan pengakuan itu.
Melainkan kalimat berikutnya:
Jangan pernah terburu-buru ingin memutusnya sebelum mengerti apa yang ia jaga.
Zack menelan ludah.
Saka merasakan getaran yang lebih jelas saat itu. Tapi bukan seperti tekanan. Lebih seperti sesuatu yang akhirnya menemukan tempatnya.
Zack membalik halaman berikutnya.
Di sana ada sketsa sederhana denah rumah ini.
Lingkaran di ruang tengah.
Tanda di titik pusatnya.
“Rumah ini…” gumam Zack pelan.
Ayahnya mengangguk. “Dibangun ulang berdasarkan catatan lama. Posisi ruang tengah bukan kebetulan.”
Saka langsung memahami. Itulah sebabnya udara terasa padat di sini. Rumah ini bukan hanya tempat tinggal. Ia seperti wadah. Tempat sesuatu dijaga tetap stabil.
Zack menutup buku itu perlahan dan mengambil benda logam kecil tadi.
Begitu menyentuhnya, dadanya bergetar lebih kuat—tapi tidak menyakitkan. Seperti respons alami.
Benda itu terasa hangat, meski tidak seharusnya.
“Ini apa?” tanya Kale pelan.
Ayah Zack menjawab, “Simbol lama keluarga. Katanya, itu bukan alat untuk melepaskan. Tapi untuk mengingat.”
“Mengingat apa?” tanya Hamu.
Ayah Zack menatap Zack langsung. “Bahwa beban ini bukan hukuman. Tapi amanah.”
Kata itu membuat ruangan terasa lebih sunyi lagi.
Amanah.
Zack menunduk, memandangi liontin itu di tangannya.
Selama ini ia merasa diwarisi masalah.
Tapi kalau ini memang sesuatu yang sengaja dijaga, berarti keluarganya tidak hanya bertahan. Mereka memilih untuk tetap memegangnya.
“Kenapa gak pernah Ayah jelasin dari dulu?” tanya Zack pelan.
Ayahnya tersenyum tipis, lelah namun tulus. “Karena penjelasan tanpa kesiapan cuma jadi cerita kosong. Kamu harus sampai pada pertanyaan itu sendiri.”
Saka memperhatikan Zack.
Getaran di dalam dirinya sekarang benar-benar stabil. Tidak ada lonjakan. Tidak ada kekacauan.
Seolah rumah ini memang dirancang untuk meredam gejolak yang biasanya muncul.
Rakes berjalan perlahan mengelilingi ruang tengah. Ia berhenti tepat di titik pusat ruangan.
Lantai di sana sedikit berbeda warna, nyaris tak terlihat jika tidak diperhatikan.
“Di bawah sini ada apa?” tanyanya tenang.
Ayah Zack terdiam sejenak.
Lalu ia berkata pelan, “Fondasi lama.”
Zack mengangkat wajahnya.
“Fondasi apa?”
Ayahnya menatapnya dalam-dalam.
“Tempat pertama kali keluarga kita memutuskan untuk tidak melepasnya.”
Udara terasa berubah.
Bukan menekan.
Tapi dalam.
Zack memegang liontin itu lebih erat. Ia tidak lagi merasa seperti korban. Tidak juga seperti pahlawan.
Ia merasa seperti seseorang yang baru saja menemukan bahwa garis hidupnya lebih tua dan lebih rumit dari yang ia kira.
Dan jika jawaban sebenarnya ada di fondasi rumah ini…
Maka perjalanan mereka belum selesai.
Ia baru saja benar-benar dimulai.
Ruangan itu terasa berbeda setelah kalimat terakhir ayah Zack.
Bukan lebih menakutkan.
Tapi lebih nyata.
Zack berdiri perlahan dan berjalan ke titik tengah ruangan—tempat warna lantainya sedikit berbeda. Jika tidak diperhatikan dengan saksama, perbedaannya hampir tak terlihat. Namun sekarang, setelah membaca buku itu, ia tahu ini bukan kebetulan.
Ia berdiri tepat di atasnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, getaran di dadanya terasa… selaras dengan tempat itu.
Bukan ditarik, bukan cuman ditekan.
Tapi cocok.
Saka merasakan hal yang sama. Ia mendekat satu langkah, lalu berhenti. Resonansinya tidak melonjak. Justru stabil, seperti dua nada yang bertemu di frekuensi yang tepat.
Rakes memperhatikan dari samping. “Rumah ini bukan cuma tempat tinggal,” ujarnya pelan. “Ini penyeimbang.”
Ayah Zack mengangguk pelan. “Setiap generasi tahu, kalau gejalanya mulai kuat, jangan pergi jauh dari rumah terlalu lama.”
Zack menoleh cepat. “Ayah juga…?”
Ayahnya tersenyum tipis. “Aku pernah merasakannya. Tidak sekuat kamu. Tapi cukup untuk mengerti bahwa ini nyata.”
Zack terdiam.
Berarti ia bukan yang pertama sadar. Ia hanya yang pertama melangkah lebih jauh.
Ia menunduk, memandangi lantai di bawah kakinya. “Fondasi lama itu… masih ada?”
“Ada,” jawab ayahnya. “Di bawah ruang ini. Tidak pernah dipindah.”
Hening kembali turun.
Saka mengamati ekspresi Zack. Ia tahu ini bukan sekadar rasa ingin tahu lagi. Ini seperti naluri yang mengatakan bahwa sesuatu di bawah sana bukan hanya simbol.
Zack akhirnya berbicara pelan. “Aku mau lihat.”
Ayahnya tidak langsung menjawab. Ia menatap Zack cukup lama, seolah memastikan bahwa ini bukan dorongan sesaat.
Lalu ia mengangguk.
Mereka semua bergerak perlahan ketika ayah Zack membuka lemari kecil di sudut ruangan. Dari sana, ia mengeluarkan kunci tua yang lebih berat dari kelihatannya.
Ia berjalan kembali ke titik tengah ruangan, lalu berlutut. Dengan hati-hati, ia menekan bagian lantai tertentu. Sebuah garis tipis muncul, membentuk persegi kecil yang tersembunyi.
Penutup itu terangkat pelan.
Di bawahnya ada tangga sempit menuju ruang bawah tanah yang tidak terlalu dalam. Udara yang keluar tidak lembap atau berdebu. Justru terasa sejuk.
Zack menelan ludah, lalu turun lebih dulu.
Lampu kecil dinyalakan.
Ruang di bawah tidak besar. Hanya satu ruangan dengan dinding batu tua. Di tengahnya ada sebuah lingkaran batu yang tertanam di lantai. Polanya mirip dengan ukiran di kotak tadi, garis-garis yang bertemu di satu titik.
Zack melangkah mendekat.
Begitu ia berdiri di tepi lingkaran itu, dadanya bergetar lebih kuat, tapi tetap tidak menyakitkan.
Saka, yang turun setelahnya, langsung merasakan resonansi yang lebih jelas. Namun bukan seperti gelombang liar. Lebih seperti gema yang menemukan sumbernya.
“Ini bukan tempat buat nyimpen sesuatu,” gumam Saka pelan. “Ini tempat buat nahan sesuatu tetap stabil.”
Zack memandang lingkaran batu itu dengan saksama.
Tidak ada tulisan panjang. Tidak ada simbol rumit. Hanya pola sederhana yang menunjukkan satu hal bahwa semua garis kembali ke pusat.
Ia berlutut pelan, menyentuh batu itu dengan ujung jarinya.
Seketika, sensasi hangat menjalar ke telapak tangannya. Bukan kejutan. Bukan kekuatan besar. Lebih seperti pengakuan.
Ia menutup mata.
Tidak ada potongan memori dramatis.
Tidak ada bayangan masa lalu yang menjerit.
Yang ada hanyalah perasaan bahwa tempat ini sudah lama menunggu.
Menunggu seseorang yang tidak datang untuk memutus.
Tapi untuk mengerti.
Zack membuka mata perlahan.
“Ini bukan penjara,” katanya pelan.
Semua menoleh.
“Ini jangkar.”
Kata itu terasa tepat.
Jangkar tidak menghentikan kapal bergerak selamanya. Ia hanya menjaga agar kapal tidak hanyut saat ombak terlalu kuat.
Zack berdiri kembali.
“Kalau ini jangkar,” lanjutnya, “berarti kutukan itu bukan cuma nempel di darah. Ia ditahan di sini juga.”
Rakes mengangguk pelan. Ia akhirnya memahami.
Rumah ini bukan sekadar warisan keluarga. Ia bagian dari keseimbangan. Tempat di mana beban itu ditambatkan agar tidak menyebar liar.
Saka menghembuskan napas panjang. Resonansinya tetap stabil.
Zack menatap lingkaran batu itu sekali lagi.
Ia tidak merasa ingin menghancurkannya.
Ia tidak merasa ingin membebaskannya sekarang juga.
Ia hanya merasa… mengerti sedikit lebih banyak.
Dan mungkin itu memang langkah pertama yang sebenarnya.
Karena sebelum memutus jangkar,
seseorang harus tahu dulu ke mana kapalnya akan berlayar.
Ruangan itu terasa berbeda setelah kalimat terakhir ayah Zack.
Bukan lebih menakutkan.
Tapi lebih nyata.
Zack berdiri perlahan dan berjalan ke titik tengah ruangan—tempat warna lantainya sedikit berbeda. Jika tidak diperhatikan dengan saksama, perbedaannya hampir tak terlihat. Namun sekarang, setelah membaca buku itu, ia tahu ini bukan kebetulan.
Ia berdiri tepat di atasnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, getaran di dadanya terasa… selaras dengan tempat itu.
Bukan ditarik.
Bukan ditekan.
Tapi cocok.
Saka merasakan hal yang sama. Ia mendekat satu langkah, lalu berhenti. Resonansinya tidak melonjak. Justru stabil, seperti dua nada yang bertemu di frekuensi yang tepat.
Rakes memperhatikan dari samping. “Rumah ini bukan cuma tempat tinggal,” ujarnya pelan. “Ini penyeimbang.”
Ayah Zack mengangguk pelan. “Setiap generasi tahu, kalau gejalanya mulai kuat, jangan pergi jauh dari rumah terlalu lama.”
Zack menoleh cepat. “Ayah juga…?”
Ayahnya tersenyum tipis. “Aku pernah merasakannya. Tidak sekuat kamu. Tapi cukup untuk mengerti bahwa ini nyata.”
Zack terdiam.
Berarti ia bukan yang pertama sadar. Ia hanya yang pertama melangkah lebih jauh.
Ia menunduk, memandangi lantai di bawah kakinya. “Fondasi lama itu… masih ada?”
“Ada,” jawab ayahnya. “Di bawah ruang ini. Tidak pernah dipindah.”
Hening kembali turun.
Saka mengamati ekspresi Zack. Ia tahu ini bukan sekadar rasa ingin tahu lagi. Ini seperti naluri yang mengatakan bahwa sesuatu di bawah sana bukan hanya simbol.
Zack akhirnya berbicara pelan. “Aku mau lihat.”
Ayahnya tidak langsung menjawab. Ia menatap Zack cukup lama, seolah memastikan bahwa ini bukan dorongan sesaat.
Lalu ia mengangguk.
Mereka semua bergerak perlahan ketika ayah Zack membuka lemari kecil di sudut ruangan. Dari sana, ia mengeluarkan kunci tua yang lebih berat dari kelihatannya.
Ia berjalan kembali ke titik tengah ruangan, lalu berlutut. Dengan hati-hati, ia menekan bagian lantai tertentu. Sebuah garis tipis muncul, membentuk persegi kecil yang tersembunyi.
Penutup itu terangkat pelan.
Di bawahnya ada tangga sempit menuju ruang bawah tanah yang tidak terlalu dalam. Udara yang keluar tidak lembap atau berdebu. Justru terasa sejuk.
Zack menelan ludah, lalu turun lebih dulu.
Lampu kecil dinyalakan.
Ruang di bawah tidak besar. Hanya satu ruangan dengan dinding batu tua. Di tengahnya ada sebuah lingkaran batu yang tertanam di lantai. Polanya mirip dengan ukiran di kotak tadi—garis-garis yang bertemu di satu titik.
Zack melangkah mendekat.
Begitu ia berdiri di tepi lingkaran itu, dadanya bergetar lebih kuat—tapi tetap tidak menyakitkan.
Saka, yang turun setelahnya, langsung merasakan resonansi yang lebih jelas. Namun bukan seperti gelombang liar. Lebih seperti gema yang menemukan sumbernya.
“Ini bukan tempat buat nyimpen sesuatu,” gumam Saka pelan. “Ini tempat buat nahan sesuatu tetap stabil.”
Zack memandang lingkaran batu itu dengan saksama.
Tidak ada tulisan panjang. Tidak ada simbol rumit. Hanya pola sederhana yang menunjukkan satu hal—semua garis kembali ke pusat.
Ia berlutut pelan, menyentuh batu itu dengan ujung jarinya.
Seketika, sensasi hangat menjalar ke telapak tangannya. Bukan kejutan. Bukan kekuatan besar. Lebih seperti pengakuan.
Ia menutup mata.
Tidak ada potongan memori dramatis.
Tidak ada bayangan masa lalu yang menjerit.
Yang ada hanyalah perasaan bahwa tempat ini sudah lama menunggu.
Menunggu seseorang yang tidak datang untuk memutus.
Tapi untuk mengerti.
Zack membuka mata perlahan.
“Ini bukan penjara,” katanya pelan.
Semua menoleh.
“Ini jangkar.”
Kata itu terasa tepat.
Jangkar tidak menghentikan kapal bergerak selamanya. Ia hanya menjaga agar kapal tidak hanyut saat ombak terlalu kuat.
Zack berdiri kembali.
“Kalau ini jangkar,” lanjutnya, “berarti kutukan itu bukan cuma nempel di darah. Ia ditahan di sini juga.”
Rakes mengangguk pelan. Ia akhirnya memahami.
Rumah ini bukan sekadar warisan keluarga. Ia bagian dari keseimbangan. Tempat di mana beban itu ditambatkan agar tidak menyebar liar.
Saka menghembuskan napas panjang. Resonansinya tetap stabil.
Zack menatap lingkaran batu itu sekali lagi.
Ia tidak merasa ingin menghancurkannya.
Ia tidak merasa ingin membebaskannya sekarang juga.
Ia hanya merasa… mengerti sedikit lebih banyak.
Dan mungkin itu memang langkah pertama yang sebenarnya.
Karena sebelum memutus jangkar,
seseorang harus tahu dulu ke mana kapalnya akan berlayar.
Ruang bawah tanah itu sunyi, tapi bukan sunyi yang kosong.
Ada rasa tua di dalamnya. Bukan tua karena debu atau waktu, melainkan tua karena keputusan yang pernah dibuat di tempat itu—keputusan yang masih berdiri sampai sekarang.
Zack masih berdiri di dekat lingkaran batu. Tangannya sudah tidak menyentuh permukaan itu lagi, tapi sensasi hangatnya masih tertinggal di telapak tangannya.
Ia menatap pola garis yang bertemu di tengah.
Selama ini ia mengira dirinya adalah pusat dari semua ini. Titik tempat semuanya bertemu. Tapi sekarang ia melihat sesuatu yang berbeda.
Ia bukan satu-satunya pusat.
Lingkaran batu ini juga pusat.
Rumah ini pusat.
Keputusan leluhur mereka dulu juga pusat.
Semua saling terhubung.
Saka berdiri beberapa langkah di belakangnya. Resonansi di dadanya terasa stabil, tapi lebih dalam dari sebelumnya. Bukan lagi seperti gelombang yang mengikuti Zack, melainkan seperti ruang yang ikut menahan sesuatu bersama-sama.
“Aneh ya,” gumam Saka pelan. “Gue kira kalau kita sampai ke sini, bakal ada ledakan atau reaksi besar.”
Zack menggeleng pelan. “Kayaknya yang gede itu bukan reaksinya… tapi keputusan yang dulu dibuat di sini.”
Rakes berjalan mengelilingi ruangan perlahan. Dinding batu itu polos, tanpa ukiran besar, tanpa simbol berlebihan. Justru kesederhanaannya yang terasa kuat.
“Ini bukan tempat ritual,” katanya pelan. “Ini tempat kesepakatan.”
Kata itu membuat Zack terdiam.
Kesepakatan.
Berarti leluhurnya tidak terjebak. Mereka memilih.
Ia menunduk lagi ke arah lingkaran itu.
“Kalau dulu mereka milih buat nahan,” katanya pelan, “berarti mereka tau risikonya kalau dilepas.”
Hamu bersandar ke dinding, mengamati dengan tenang. “Dan mungkin mereka gak punya cukup kendali waktu itu.”
Zack memikirkan kalimat itu.
Mungkin benar. Mungkin pada zamannya, perubahan terlalu besar. Terlalu berbahaya. Jadi mereka memilih menambatkan semuanya di sini—di satu tempat yang bisa diawasi, dijaga, dan diwariskan dengan hati-hati.
Ayah Zack turun perlahan ke ruang bawah itu. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya lebih dalam dari sebelumnya.
“Kakekmu pernah berdiri di tempatmu sekarang,” katanya pelan. “Ia juga ingin melepasnya.”
Zack menoleh cepat. “Kenapa ngga jadi?”
Ayahnya tersenyum tipis. “Karena ia sadar, ia belum tahu harus membawa semuanya ke mana.”
Ruangan itu terasa makin sunyi.
Zack menarik napas panjang.
Ia mengerti sekarang. Ini bukan tentang keberanian atau ketakutan. Ini tentang kesiapan.
Kalau jangkar ini dilepas, kapal harus punya arah. Kalau tidak, ia akan hanyut lebih jauh daripada sebelumnya.
Saka mendekat satu langkah lagi. “Lo ngerasa dorongan buat ngapa-ngapain sekarang?”
Zack memeriksa dirinya sendiri.
Tidak ada dorongan untuk menghancurkan.
Tidak ada dorongan untuk memaksa.
Yang ada hanya rasa ingin tahu yang tenang.
“Enggak,” jawabnya jujur. “Gue cuma ngerasa… ini bukan musuh.”
Rakes memperhatikan ekspresi Zack dengan saksama.
Itu penting.
Karena selama ini semua dianggap sebagai ancaman. Tapi jika sumbernya bukan musuh, maka pendekatannya juga tidak bisa dengan perlawanan.
Zack berlutut sekali lagi, bukan untuk menyentuh, tapi untuk melihat lebih dekat pola di batu itu.
Garis-garisnya sederhana. Tidak rumit. Semua kembali ke tengah, lalu berhenti.
Berhenti.
Bukan terputus.
Itu bedanya.
Ia berdiri kembali.
“Kita ngga akan ngubah apa pun hari ini,” katanya pelan tapi tegas. “Kita cuma ngerti dulu.”
Ayahnya mengangguk pelan, seolah lega mendengar itu.
Saka merasakan resonansinya tetap stabil, bahkan lebih ringan. Seolah keputusan untuk tidak gegabah justru memperkuat keseimbangan yang ada.
Zack menatap ruang bawah itu sekali lagi sebelum naik.
Ia tidak lagi merasa seperti seseorang yang sedang mencari cara untuk kabur dari warisan. Ia merasa seperti penjaga yang baru sadar apa yang dijaganya.
Dan kesadaran itu tidak membuatnya lemah.
Justru membuat langkahnya lebih mantap.
Saat mereka naik kembali ke ruang tengah rumah, cahaya sore sudah mulai masuk lewat jendela. Rumah itu terasa berbeda sekarang—bukan misterius, bukan menekan—melainkan hidup.
Zack berdiri di tengah ruangan.
Ia memegang liontin kecil itu di tangannya.
“Kalau ini jangkar,” katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri, “suatu hari nanti gue mungkin bakal lepasin.”
Ia menatap ke arah ruang bawah tanah yang sudah tertutup kembali.
“Tapi bukan buat kabur.”
Ia mengangkat wajahnya, lebih tenang dari sebelumnya.
“Buat jalan.”
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, tidak ada getaran liar.
Hanya keseimbangan yang dipilih dengan sadar
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼....