NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Rekaman rahasia

Malam kembali turun di Kota Sagara, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di sebuah rumah kontrakan sempit yang kini menjadi markas sementara, Bima duduk menatap layar laptop tanpa berkedip. Cahaya biru redup memantulkan kelelahan di wajahnya.

Di layar itu, sebuah file audio berjudul DRM_Confidential_07 terbuka, namun belum diputar.

“Ini benar-benar yang kita cari?” tanya Naya pelan.

Sinta mengangguk. “Sumberku di pusat data pemerintah mengirimkannya beberapa jam lalu. Ia bilang, file ini sengaja disimpan di server terisolasi.”

Raka bersedekap. “Kalau isinya sesuai dugaan, ini bisa jadi peluru terakhir.”

Bima menarik napas panjang, lalu menekan tombol play.

Suara statis terdengar, disusul desahan napas seseorang.

“Kita tidak bisa terus bermain defensif,” suara pria paruh baya terdengar, dingin dan penuh perhitungan. “Tekan media, belokkan opini, dan buat mereka terlihat seperti penjahat.”

Bima merasakan jantungnya berhenti sesaat. Ia mengenali suara itu.

“Darma,” bisiknya.

Rekaman berlanjut. Terdengar beberapa suara lain—anggota dewan, pengusaha, dan aparat. Nama-nama disebut, skema dijelaskan, rencana dijabarkan dengan detail mengerikan: bagaimana fitnah dibuat, bagaimana toko keluarga Wijaya dijatuhkan, bagaimana media dikendalikan, dan bagaimana intimidasi dijalankan.

“Kalau anak itu terus bergerak, hancurkan keluarganya. Orang akan berhenti kalau yang disakiti orang tercinta,” suara Darma terdengar kejam.

Naya menutup mulutnya, menahan isak.

Sinta menunduk, tangannya gemetar.

“Ini… ini kejahatan terstruktur,” gumam Raka. “Dan mereka membicarakannya seperti bisnis biasa.”

Rekaman itu berdurasi hampir satu jam. Setiap menitnya terasa seperti belati yang menusuk nurani.

Ketika audio berhenti, keheningan panjang menyelimuti ruangan.

“Kalau ini kita rilis,” ujar Sinta akhirnya, “tidak ada jalan kembali.”

“Tidak ada sejak awal,” jawab Bima.

Namun sebelum keputusan diambil, Amran mengangkat tangan. “Tunggu. Kita harus verifikasi keaslian. Sekali kita salah, mereka akan menghancurkan kita.”

Proses verifikasi berlangsung sepanjang malam. Metadata diperiksa, spektrum suara dianalisis, dan sumber dicocokkan. Hasilnya konsisten.

“Ini asli,” kata Sinta tegas.

Di saat bersamaan, pesan masuk dari sumber rahasia itu.

Mereka sudah curiga. Aku mungkin tidak bisa menghubungi kalian lagi.

Bima menatap layar dengan rahang mengeras. “Mereka memburu semua saksi.”

“Kalau begitu, kita harus bergerak sekarang,” kata Naya.

Pukul empat pagi, mereka mengirim paket investigasi lengkap ke jaringan media internasional, organisasi HAM, dan lembaga antikorupsi pusat. Mereka mengatur rilis serentak agar tak bisa dibendung.

Ketika matahari terbit, Kota Sagara diguncang gempa informasi.

Rekaman rahasia Darma Pranoto tersebar luas. Suaranya menggema di layar televisi, radio, dan media sosial. Tak ada lagi ruang tafsir. Semuanya terang benderang.

Demonstrasi pecah di berbagai titik. Gedung DPRD dikepung massa. Spanduk-spanduk menuntut penangkapan Darma dan kroninya berkibar di jalan-jalan utama.

Pemerintah pusat turun tangan.

Di markas kecil mereka, tim kecil itu menatap layar dengan napas tertahan. Televisi menayangkan pernyataan resmi Kejaksaan Agung: penyelidikan khusus dibuka.

“Ini… berhasil?” bisik Kirana.

“Ini baru awal,” jawab Raka.

Tak lama, kabar mengejutkan datang: Darma Pranoto menghilang dari kediamannya.

“Dia kabur,” kata Sinta.

Bima merasakan amarah mendidih. “Dia tidak boleh lolos.”

Melalui jaringan relawan, mereka melacak pergerakan terakhir Darma. Sinyal ponsel menunjukkan arah ke bandara kecil di luar kota.

“Kita ke sana,” kata Raka tanpa ragu.

Namun dalam perjalanan, mereka menerima kabar lain: sumber rahasia yang mengirim rekaman ditemukan tewas di apartemennya.

Mobil seketika sunyi.

“Dia dibungkam,” ujar Naya dengan suara pecah.

Bima memejamkan mata. “Ini harga yang harus dibayar.”

Kesedihan berubah menjadi tekad yang membara.

Di bandara kecil itu, pasukan gabungan sudah bersiaga. Dari kejauhan, mereka melihat kerumunan aparat mengepung sebuah jet pribadi.

Raka menyeringai tipis. “Terlambat, Pak Darma.”

Beberapa menit kemudian, Darma digiring keluar, wajahnya pucat, langkahnya gontai. Kamera wartawan berkilat-kilat.

Saat tatapan mereka bertemu, Darma menatap Bima dengan sorot kebencian.

Namun kali ini, tidak ada lagi senyum angkuh.

Di bawah langit pagi yang pucat, Bima merasakan beban di dadanya sedikit terangkat.

Perjuangan panjang belum berakhir. Proses hukum masih menanti dan banyak pihak lain yang harus diungkap.

Tapi hari itu, satu hal pasti yaitu

Rekaman rahasia telah meruntuhkan tembok kekuasaan yang selama ini tampak tak tergoyahkan.

Dan untuk pertama kalinya, Kota Sagara benar-benar berani berharap.

Namun harapan itu rapuh, seperti cahaya lilin di tengah badai. Di balik sorak-sorai warga dan gegap gempita pemberitaan, ancaman masih bersembunyi dalam bayangan.

Di rumah aman, Bima berdiri di depan jendela, menatap lampu-lampu kota yang berpendar samar. Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya merasakan lega. Tapi jauh di dalam hati, ia tahu, kemenangan sejati belum diraih.

“Kita sudah melangkah sejauh ini,” kata Naya pelan, berdiri di sampingnya. “Tapi kamu masih terlihat gelisah.”

Bima tersenyum tipis. “Karena aku tahu, mereka tidak akan menyerah begitu saja.”

Seolah mengonfirmasi ucapannya, ponsel Sinta berdering. Wajahnya seketika menegang.

“Ada pergerakan mencurigakan,” katanya. “Beberapa kroni Darma menghilang. Aset dipindahkan. Mereka sedang mengamankan diri.”

Raka menghela napas. “Tikus-tikus mulai meninggalkan kapal.”

“Dan itu berarti mereka masih punya rencana,” sambung Arman.

Di tengah situasi genting itu, sebuah undangan resmi tiba. Sidang pendahuluan kasus Darma dan jaringan korupsinya akan digelar terbuka. Tim kecil itu diminta hadir sebagai saksi kunci.

“Ini momen penentuan,” ujar Kirana.

Namun di balik legalitas proses, ancaman bayangan tetap menghantui. Mereka mendapat pengawalan ketat, berpindah dengan rute acak, dan hampir tak pernah tidur di tempat yang sama dua malam berturut-turut.

Tekanan itu mulai menggerogoti mental.

Suatu malam, Bima terbangun karena mimpi buruk. Ia melihat kembali toko manisan ayahnya yang terbakar fitnah, wajah ayahnya yang pucat di rumah sakit, dan Kirana yang terikat di gudang.

Keringat dingin membasahi tubuhnya.

Di ruang tamu, ia menemukan Naya masih terjaga, menatap catatan investigasi.

“Kamu juga tidak bisa tidur?” tanyanya.

Naya tersenyum pahit. “Aku takut berhenti berpikir.”

Mereka duduk berdampingan, berbagi keheningan.

“Kamu menyesal?” tanya Bima tiba-tiba.

Naya menoleh. “Menyesal melawan kebohongan?”

“Menyesal menyeret dirimu sejauh ini.”

Naya menggeleng. “Kalau kita diam, kita mati perlahan. Aku memilih hidup, meski harus terluka.”

Kata-kata itu menguatkan.

Keesokan harinya, mereka menghadiri sidang pendahuluan. Gedung pengadilan dikepung massa dan wartawan. Spanduk bertuliskan tuntutan keadilan berkibar di udara.

Ketika Bima melangkah masuk, sorot kamera menyilaukan. Untuk pertama kalinya, ia berdiri bukan sebagai korban, melainkan sebagai saksi.

Di ruang sidang, Darma duduk di kursi terdakwa, wajahnya muram. Tak ada lagi aura penguasa. Hanya seorang pria tua yang terperangkap konsekuensi perbuatannya.

Tatapan mereka bertemu sejenak.

Bima tidak melihat kebencian di mata Darma, melainkan ketakutan.

Dan itu memberi kepuasan pahit.

Kesaksian berlangsung panjang. Bima memaparkan kronologi fitnah. Naya menjelaskan manipulasi media. Sinta memaparkan data aliran dana. Arman mengungkap jaringan redaksi yang dikendalikan.

Setiap kata seperti palu yang memukul tembok kebohongan.

Namun di tengah persidangan, kejutan terjadi.

Seorang saksi baru muncul mantan ajudan Darma. Dengan suara gemetar, ia membuka rahasia yang lebih besar: keterlibatan pejabat pusat, skema pencucian uang lintas negara, dan operasi intimidasi sistematis.

Ruang sidang gempar.

Hakim memerintahkan skors. Keamanan diperketat.

Di luar, massa semakin banyak. Kota Sagara seolah menahan napas.

Malam itu, berita tentang kesaksian tersebut menyebar luas. Harapan berubah menjadi tekad kolektif. Warga yang selama ini takut mulai berani bicara. Laporan-laporan baru bermunculan.

“Bendungan mulai jebol,” kata Raka.

Namun di saat yang sama, ancaman meningkat.

Seseorang melemparkan surat ancaman ke rumah aman mereka.

Ini belum selesai.

Tak ada nama. Tak ada tanda.

Bima memandang surat itu lama. Lalu merobeknya perlahan.

“Biarkan mereka datang,” katanya tenang. “Aku tidak akan berhenti.”

Di luar, angin malam bertiup membawa aroma hujan. Kota Sagara, yang selama ini dibungkam, mulai bernapas lebih lega.

Perjalanan menuju keadilan masih panjang, penuh tikungan tajam dan jurang menganga.

Namun satu hal telah berubah selamanya:

Ketakutan tidak lagi memegang kendali.

Dan selama itu, harapan sekecil apa pun akan terus menyala.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!