NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:615
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Polisi mulai terbelah

Pagi di Kota Sagara terasa lebih tegang dari biasanya. Udara lembap membawa bisik-bisik yang beredar cepat di kantor kepolisian yaitu sebuah laporan besar telah masuk, menyeret nama-nama penting, dan menuntut penyelidikan menyeluruh. Berita itu tak diumumkan secara resmi, namun gaungnya menjalar dari ruang arsip hingga ruang interogasi, dari meja petugas jaga hingga lorong-lorong sunyi di lantai atas.

Di balik pintu-pintu tertutup, perdebatan mulai memanas.

Sebagian perwira senior memilih diam. Mereka paham, menyentuh perkara ini berarti menantang kekuatan yang selama bertahun-tahun menjadi pelindung sekaligus penentu karier. Di sisi lain, sekelompok polisi muda dan beberapa penyidik idealis justru melihat ini sebagai kesempatan langka yaitu peluang untuk membersihkan institusi yang selama ini dibebani dosa-dosa masa lalu.

Retakan pertama muncul ketika tim penyelidik internal menerima berkas tambahan dari jaksa muda yang bekerja sama dengan Bima dan kawan-kawan. Berkas itu memuat aliran dana, rekaman percakapan, serta hubungan gelap antara politisi, pengusaha, dan oknum aparat.

Kepala satuan reskrim, Komisaris Mahendra, membaca dokumen itu dengan wajah menegang. Ia dikenal sebagai perwira berintegritas, namun juga realistis. Di tangannya, keputusan ini bisa menjadi awal perubahan atau akhir segalanya.

“Ini bukan perkara biasa,” katanya dalam rapat tertutup. “Jika kita lanjutkan, tak ada jalan kembali.”

“Justru karena itu kita harus maju,” sahut Inspektur Vito, penyidik muda yang selama ini dikenal keras kepala. “Jika kita mundur, kita mengkhianati sumpah kita sendiri.”

Ruang rapat terdiam. Mata saling menatap, menimbang risiko. Di luar, hujan turun perlahan, mengetuk kaca seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tak terelakkan.

Sementara itu, kabar tentang penyelidikan internal bocor ke luar. Media yang tak sepenuhnya berada dalam kendali kekuasaan mulai memberitakan adanya perpecahan di tubuh kepolisian. Opini publik terbelah dimana sebagian mendukung langkah berani aparat, sebagian lagi ragu, takut kebenaran akan kembali dikubur.

Tekanan datang dari berbagai arah. Telepon Mahendra nyaris tak berhenti berdering. Peringatan halus, ancaman terselubung, hingga tawaran menggiurkan berdatangan. Namun setiap kali ia menutup sambungan, wajah-wajah korban terlintas di benaknya.

Di sisi lain kota, Bima dan timnya memantau perkembangan dengan jantung berdebar. Mereka sadar, kini nasib mereka terikat erat pada keputusan para aparat ini.

“Jika mereka pecah, sistem akan goyah,” ujar Sinta. “Dan di situlah celah kita.”

Namun celah selalu dibarengi bahaya. Malam itu, dua penyidik muda mengalami intimidasi di jalan pulang. Motor mereka dipepet, pesan ancaman diselipkan di saku jaket. Tak ada luka, tapi ketakutan mengendap.

Alih-alih surut, kejadian itu justru menyulut solidaritas. Para polisi idealis mulai berkumpul diam-diam, menyusun strategi perlindungan internal. Mereka saling berbagi informasi, mengunci jalur komunikasi, dan memastikan bukti disimpan di tempat aman.

Perpecahan semakin nyata. Di satu sisi, ada mereka yang ingin menjaga status quo. Di sisi lain, mereka yang rela mempertaruhkan segalanya demi keadilan.

Ketegangan memuncak ketika seorang perwira senior mengundurkan diri secara mendadak. Isu suap dan tekanan politik merebak. Kantor kepolisian berubah menjadi medan bisu penuh kecurigaan. Senyum menjadi topeng, sapaan terdengar dingin.

Di tengah kekacauan itu, Komisaris Mahendra mengambil keputusan besar. Ia membentuk tim khusus independen, beranggotakan penyidik-penyidik yang dianggap bersih. Langkah ini ibarat menyalakan api di tengah gudang mesiu.

“Kita tidak bisa lagi setengah-setengah,” katanya pada tim kecil itu. “Kebenaran menunggu keberanian kita.”

Keputusan itu mengguncang struktur internal. Protes bermunculan, laporan dilayangkan, tekanan politik meningkat. Namun roda telah bergerak, dan sulit dihentikan.

Bagi Bima, ini adalah titik balik. Untuk pertama kalinya, ia melihat peluang nyata. Bukan hanya untuk membersihkan nama keluarganya, tetapi untuk meruntuhkan jaringan busuk yang selama ini mencengkeram kota.

Namun ia juga tahu, semakin dekat mereka pada inti kebenaran, semakin besar risiko yang mengintai. Musuh yang terpojok cenderung lebih berbahaya.

Malam itu, ia berdiri di balkon rumah, menatap lampu-lampu Kota Sagara yang berkilau di kejauhan. Di balik gemerlap itu, ia merasakan denyut perubahan pelan, rapuh, tapi nyata.

Polisi mulai terbelah. Dan dalam retakan itulah, harapan baru mulai tumbuh.

Retakan itu tak muncul sebagai ledakan besar, melainkan sebagai gesekan kecil yang terus membesar. Di ruang-ruang kantor yang sunyi, di lorong-lorong sempit, di sudut kantin yang riuh oleh suara sendok dan cangkir, perbincangan berubah menjadi bisik-bisik yang penuh kehati-hatian. Setiap kata ditimbang, setiap pandangan dicurigai.

Mereka yang selama ini memilih aman mulai gelisah. Kabar tentang tim khusus independen yang dibentuk Komisaris Mahendra menyebar cepat. Beberapa perwira senior merasa terancam, sementara yang lain pura-pura acuh, meski jantung mereka berdetak lebih kencang dari biasanya.

Di satu sisi, para polisi idealis merasakan semangat baru. Untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi merasa sendirian. Ada kekuatan kecil yang tumbuh, menyatukan tekad untuk membongkar kebusukan yang selama ini menggerogoti institusi mereka.

Namun, harapan selalu datang beriringan dengan ketakutan.

Setiap langkah tim khusus itu diawasi. Setiap pergerakan dicatat. Bahkan, beberapa anggota mulai menyadari bahwa mereka diikuti. Motor asing parkir terlalu lama di depan rumah, telepon tanpa suara berdering di tengah malam, dan pesan singkat tanpa nama pengirim mulai berdatangan.

Ancaman tidak lagi disamarkan.

Sementara itu, Bima dan timnya semakin berhati-hati. Mereka tahu, setiap informasi yang mereka pegang kini memiliki nilai yang jauh lebih besar dan jauh lebih berbahaya. Kirana menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang redaksi kecil yang tersembunyi, menyusun potongan-potongan data menjadi rangkaian logis. Matanya sering merah karena kurang tidur, tetapi tekadnya tak pernah surut.

“Jika mereka berhasil memecah polisi, ini akan jadi preseden besar,” ujar Kirana suatu malam, suaranya lirih. “Tapi kalau gagal, kita semua bisa lenyap tanpa jejak.”

Bima mengangguk. Ia merasakan beban yang sama. Setiap kali menutup mata, bayangan ayahnya yang terbaring lemah di rumah sakit kembali muncul. Perjuangan ini bukan lagi sekadar membela nama baik keluarga, melainkan soal hidup dan mati.

Di kantor kepolisian, konflik semakin meruncing.

Sebuah rapat besar digelar. Para perwira dari berbagai divisi dikumpulkan. Suasana tegang sejak awal. Tidak ada senyum basa-basi, tidak ada obrolan ringan. Semua tahu, rapat ini bukan sekadar formalitas.

Komisaris Mahendra berdiri di depan, menatap wajah-wajah yang telah lama ia kenal. Rekan seperjuangan, atasan, bawahan semua kini berada di persimpangan.

“Kita berada di titik krusial,” katanya tegas. “Jika kita membiarkan kejahatan terus bersembunyi di balik seragam ini, maka kita bukan lagi pelindung masyarakat. Kita hanyalah alat kekuasaan.”

Beberapa perwira menunduk. Yang lain menatap tajam, menahan emosi.

Seorang perwira senior bangkit. Suaranya dingin. “Kau tahu risikonya, Mahendra. Ini bisa menghancurkan institusi kita.”

“Tidak,” jawab Mahendra tanpa ragu. “Yang menghancurkan institusi kita adalah kebohongan yang terus kita pelihara.”

Ruang rapat bergemuruh. Perdebatan sengit tak terhindarkan. Argumen tentang stabilitas, keamanan, dan loyalitas dilontarkan silih berganti, beradu dengan seruan keadilan dan sumpah jabatan.

Pada akhirnya, tidak ada kesepakatan bulat. Rapat ditutup dengan wajah-wajah tegang dan langkah-langkah berat.

Retakan itu semakin lebar.

Sebagian polisi mulai menunjukkan keberpihakan secara terbuka. Beberapa laporan lama dibuka kembali. Kasus-kasus yang dulu ditutup mendadak dengan alasan “kurang bukti” kini diselidiki ulang. Arsip-arsip lama dikeluarkan dari gudang berdebu.

Di sisi lain, kelompok yang berseberangan tak tinggal diam. Mereka menggerakkan jaringan, menekan dari atas, memainkan jalur birokrasi, bahkan mencoba menjatuhkan Darma lewat isu-isu personal.

Fitnah kembali digunakan sebagai senjata.

Sebuah berita muncul di media yang dikuasai pihak lawan, menuding Mahendra terlibat dalam penyalahgunaan wewenang. Tuduhan itu tak disertai bukti kuat, namun cukup untuk menggoyahkan kepercayaan publik.

Bima membaca berita itu dengan rahang mengeras. “Mereka mulai menyerang balik.”

Kirana menghela napas panjang. “Dan ini baru permulaan.”

Meski demikian, harapan tetap menyala. Di balik tekanan, semakin banyak polisi yang diam-diam menyatakan dukungan pada tim khusus. Mereka menyuplai informasi, membuka jalur rahasia, dan melindungi saksi-saksi penting.

Satu demi satu, kebenaran kecil bermunculan ke permukaan, membentuk mozaik besar yang mulai menampakkan wajah aslinya.

Pada suatu malam, Bima menerima pesan singkat dari nomor tak dikenal: Kami di dalam. Jangan menyerah. Bukti akan segera sampai.

Pesan itu singkat, tanpa tanda tangan, namun cukup membuat jantung Bima berdebar.

Ia menatap layar ponselnya lama, lalu tersenyum tipis. Di tengah kegelapan yang menekan, secercah cahaya akhirnya terlihat lebih jelas.

Namun, ia juga sadar, cahaya itu bisa memancing badai yang lebih besar.

Di langit Kota Sagara, awan gelap masih menggantung. Kilat sesekali menyambar, menandakan hujan deras akan segera turun. Di bawahnya, manusia-manusia dengan niat berbeda bersiap menghadapi pertempuran yang tak terelakkan.

Polisi mulai terbelah, dan dalam retakan itulah, harapan baru mulai tumbuh—rapuh, bergetar, namun penuh janji. Sebuah harapan bahwa kebenaran, betapapun lama terpendam, akhirnya menemukan celah untuk bernapas kembali.

1
jstmne.
hadir Thor. kayaknya seru ni cerita
Reza Ashari: mkasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!