Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 11 LUKA YANG TAK PERLU DIINGAT, TAPI DISERET KELUAR
Malam turun pelan di rumah itu.
Lampu-lampu besar masih menyala, tapi hangatnya tidak sampai ke kamar.
Gadis itu duduk di tepi ranjang.
Gaunnya belum diganti.
Sepatunya masih terpasang—
seolah ia lupa cara pulang ke dirinya sendiri.
Pintu terbuka.
Pemuda itu masuk tanpa suara.
Menutup pintu.
Tidak mendekat.
Sunyi menggantung.
“Kamu tidak apa-apa?”
Pertanyaannya datar.
Seperti laporan cuaca.
Gadis itu mengangguk.
“Iya.”
Satu kata.
Terlalu pendek untuk menampung dada yang sesak.
Pemuda itu berdiri sebentar, lalu duduk di kursi.
Ia melepas jam tangan.
Gerakannya kaku.
“Kalau capek,” katanya, “bilang.”
Gadis itu tersenyum tipis.
“Iya.”
Ia menunduk.
Air mata jatuh ke punggung tangannya.
Cepat diseka.
Pemuda itu melihat.
Diam.
Tidak memeluk.
Tidak mendekat.
Dan di rumah sebesar itu,
diam terasa lebih kejam dari teriakan.
Di luar kamar, suara langkah terdengar.
Lalu suara tawa kecil.
“Kasihan ya,” suara itu berkata—
lembut tapi tajam.
Gadis itu mengenali suara itu.
Ibu pemuda.
Ia berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka.
“Perempuan itu,” lanjutnya,
“dari dulu memang begitu.”
Pemuda itu menoleh.
“Ibu.”
Ibu itu masuk tanpa izin.
Tatapannya dingin.
Mulutnya tersenyum.
“Kamu tahu?” katanya santai.
“Orang-orang kampungnya dulu sering cerita.”
Gadis itu membeku.
Ibu itu duduk dengan anggun.
“Masa kecilnya tidak cantik.”
Ia menatap gadis itu lurus.
“Bapaknya pergi. Ibunya kerja serabutan.”
Ia menghela napas, seolah iba.
“Anak perempuan ditinggal begitu, biasanya tumbuhnya… ya begitu.”
Kata begitu dibiarkan menggantung.
Busuk.
Gadis itu menelan ludah.
Tangannya mencengkeram gaun.
Ibu itu melanjutkan,
“Katanya kamu sering dihina tetangga.”
Ia tertawa kecil.
“Dibilang pembawa sial.”
Pemuda itu berdiri.
“Cukup.”
Ibu itu mengangkat tangan.
“Belum selesai.”
Ia mencondongkan badan.
“Kamu tahu julukan dia dulu?”
Gadis itu menutup mata.
“Anak buangan.”
Suara itu jatuh pelan.
Tepat di dada.
“Karena ibunya juga tidak dianggap,” lanjut sang ibu.
“Perempuan gagal melahirkan lelaki, katanya.”
Ia menggeleng pelan.
“Kamu tahu rasanya tumbuh dengan cap seperti itu?”
Ia tersenyum.
“Harusnya tahu diri. Tidak bercita-cita tinggi.”
Gadis itu tidak bergerak.
Air matanya jatuh satu-satu.
Diam.
Tanpa suara.
Ibu itu berdiri.
Berjalan mendekat.
“Kamu pikir kami tidak tahu?”
katanya pelan.
“Kamu menikah ke sini untuk apa?”
Ia menatap tajam.
“Keluar dari hidup kelammu?”
Pemuda itu melangkah maju.
“Ibu.”
Ibu itu menoleh.
“Kalau kamu tidak tega mendengar, bayangkan dia yang menjalaninya.”
Ia kembali ke gadis itu.
“Kamu beruntung.”
Ia tersenyum.
“Sangat beruntung.”
Ia menunjuk sekeliling.
“Dari rumah bocor, ke rumah ini.”
Ia mendekat, suaranya nyaris berbisik.
“Tapi keberuntungan yang terlalu besar… sering bikin orang lupa asalnya.”
Gadis itu akhirnya bersuara.
“Saya tidak pernah lupa.”
Suaranya kecil.
Patah.
Ibu itu tertawa pendek.
“Kalau begitu, ingat baik-baik.”
Ia menatapnya dari atas.
“Kamu tidak pantas berdiri sejajar.”
Kalimat itu seperti palu.
Menghancurkan sisa-sisa harga diri.
Ibu itu melangkah pergi.
Sebelum keluar, ia berkata tanpa menoleh,
“Jangan bawa luka kotormu ke keluarga ini.”
Pintu tertutup.
Sunyi.
Gadis itu terjatuh ke lantai.
Lututnya lemas.
Tangisnya pecah—akhirnya.
Ia menutup mulut,
menahan suara,
seperti dulu…
saat menangis pun dianggap salah.
Pemuda itu berdiri kaku.
Tangannya mengepal.
“Kamu—”
Kata itu berhenti.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Gadis itu menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Kalimat yang paling sering ia ucapkan seumur hidup.
Pemuda itu menatapnya lama.
Lalu berkata pelan,
“Tidur.”
Ia berbalik.
Keluar kamar.
Pintu tertutup.
Gadis itu sendirian.
Di lantai kamar besar itu,
ia menangis tanpa saksi.
Masa lalu yang ia kubur,
diseret keluar,
dijemur di depan cahaya.
Dan di rumah itu,
malam menjadi saksi—
bahwa luka lama bisa dibuka ulang
oleh orang yang merasa paling berhak.
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid