NovelToon NovelToon
Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Penyesalan Suami / Romantis / Romansa / Cintapertama
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Itz_zara

Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.

Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.

Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.

“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”

Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Pelukan Hangat

Sore harinya Samira memutuskan untuk pulang ke rumah. Sejak pagi ia memang sudah memberi tahu Samudra bahwa hari ini ia akan berkunjung ke rumah orang tua suaminya. Namun karena hari ini ia belum sempat memasak makan malam, akhirnya Samira memilih pulang lebih awal.

Mobil yang dikendarainya berhenti tepat di halaman rumah. Samira menoleh ke kursi belakang.

Binar masih tertidur dengan posisi kepala miring ke samping. Anak itu memang sempat tertidur selama perjalanan pulang dari rumah Oma dan Opanya.

Samira tersenyum kecil.

Perlahan ia membuka pintu mobil, lalu menggendong Binar dengan hati-hati agar tidak terbangun. Begitu sampai di dalam rumah, Samira langsung membawa anaknya ke kamar.

Namun baru saja ia menurunkan Binar di atas tempat tidur, anak itu mulai membuka matanya.

“Mama…” gumamnya pelan.

“Iya sayang,” jawab Samira lembut sambil mengusap rambut anaknya.

Samira kemudian menoleh ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima sore.

“Sayang, sekarang mandi dulu yuk,” ajak Samira sambil tersenyum.

Binar yang baru saja bangun dari tidurnya hanya mengerjapkan mata beberapa kali. Anak kecil itu tampak masih setengah mengantuk.

Namun bukannya menjawab ajakan ibunya, Binar malah bertanya,

“Papa mana, Mah?”

Samira tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu.

“Papa belum pulang, sayang,” jawabnya lembut.

Ia lalu mendekat dan menepuk pelan punggung Binar.

“Makanya sekarang Bibi mandi dulu. Nanti kalau Papa pulang, Bibi sudah wangi.”

Binar masih menatap ibunya dengan wajah sedikit ragu.

Samira kembali membujuk dengan suara lembut.

“Nanti kalau Papa sudah pulang dan sudah mandi juga, Bibi bisa main sama Papa.”

Mendengar itu, wajah Binar mulai sedikit cerah.

“Beneran?” tanyanya dengan nada masih setengah tidak yakin.

Samira langsung mengangguk.

“Beneran dong.”

Ia lalu mencubit pelan pipi anaknya.

“Sekarang Bibi mandi dulu, oke?”

Binar akhirnya mengangguk kecil.

“Oke…”

Samira tersenyum lega. Ia lalu mengajak Binar ke kamar mandi. Setelah beberapa menit, suara air terdengar dari dalam kamar mandi disertai celoteh kecil Binar yang mulai kembali bersemangat.

Beberapa saat kemudian, Binar keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah dan tubuh yang sudah dibungkus handuk kecil bergambar kartun.

Samira membantu memakaikan baju rumah yang nyaman untuknya.

“Wah, Bibi sudah wangi,” ujar Samira sambil mencium pipi anaknya.

Binar tertawa kecil.

“Papa nanti senang.”

“Iya,” jawab Samira sambil tersenyum.

Setelah itu ia mengajak Binar turun ke ruang keluarga. Samira kemudian menuju dapur untuk mulai menyiapkan makan malam.

Hari mulai beranjak senja. Cahaya matahari yang masuk dari jendela dapur mulai meredup perlahan.

Samira sedang memotong beberapa sayuran ketika tiba-tiba suara mesin mobil terdengar dari luar rumah.

Ia berhenti sejenak.

Samira menoleh ke arah jendela dapur yang menghadap ke halaman depan.

Mobil hitam milik Samudra baru saja berhenti di depan rumah. Tanpa sadar, Samira tersenyum kecil.

“Sepertinya Papa sudah pulang,” gumamnya pelan.

Di ruang keluarga, Binar yang sedang duduk sambil bermain bonekanya langsung berdiri ketika mendengar suara pintu mobil.

“Papa!”

Anak itu berlari kecil menuju pintu depan.

Tak lama kemudian pintu rumah terbuka. Samudra baru saja masuk dengan jas kerja yang masih melekat di tubuhnya. Wajahnya terlihat sedikit lelah setelah seharian bekerja.

Namun begitu melihat sosok kecil yang berlari ke arahnya, ekspresinya langsung berubah.

“Papa!” seru Binar dengan penuh semangat.

Samudra langsung berjongkok dan membuka kedua tangannya. Binar segera memeluknya erat. Samudra tertawa kecil sambil mengusap rambut anaknya.

“Wah, anak Papa sudah mandi?” tanyanya sambil mencium kening Binar.

“Iya!” jawab Binar bangga.

“Bibi sudah wangi, Papa.”

Samudra tersenyum.

“Pantes wangi banget.”

Dari arah dapur, Samira memperhatikan pemandangan itu dengan diam.

Ada perasaan hangat yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

Sudah lama rasanya ia tidak melihat Samudra pulang dengan wajah setenang itu.

Beberapa detik kemudian Samudra mengangkat pandangannya. Tatapan mereka bertemu. Samira tersenyum kecil.

“Mas sudah pulang.”

Samudra mengangguk pelan.

“Iya.”

Namun entah kenapa, kali ini tatapan Samudra kepada Samira terasa sedikit berbeda dari biasanya. Lebih lembut. Ia benar-benar memperhatikan istrinya.

@@@

Selesai makan malam, suasana rumah kembali seperti hari-hari sebelumnya. Ruang keluarga terasa hangat dengan cahaya lampu yang lembut. Di depan televisi, kartun kesukaan Binar sedang diputar dengan suara yang tidak terlalu keras.

Di lantai, tepat di atas karpet ruang keluarga, Samudra dan Binar sedang duduk berhadap-hadapan sambil bermain Lego. Beberapa balok kecil warna-warni berserakan di sekitar mereka.

“Papa, ini jadi robot!” ujar Binar dengan wajah penuh semangat sambil mengangkat susunan Lego yang baru saja ia buat.

Samudra tersenyum tipis. Ia memperhatikan hasil karya anaknya itu.

“Wah, keren,” katanya pelan.

Binar tertawa kecil lalu kembali membongkar susunan Lego itu untuk membuat bentuk lain.

Beberapa langkah dari sana, Samira sedang merapikan meja makan yang baru saja mereka gunakan. Ia mengumpulkan piring dan gelas ke dalam nampan untuk dibawa ke dapur.

Ketika Samira sedang berjalan menuju dapur, tiba-tiba suara Samudra terdengar.

“Aku boleh minta tolong buatin kopi?”

Ucapan itu membuat langkah Samira terhenti sejenak.

Ia menoleh ke arah suaminya dengan sedikit terkejut.

Entah kenapa, kalimat itu terdengar berbeda. Bukan karena permintaannya, melainkan cara Samudra mengatakannya.

Selama ini Samudra memang sering minum kopi, tetapi biasanya ia akan langsung mengambilnya sendiri atau hanya berkata singkat tanpa nada meminta.

Ini pertama kalinya ia benar-benar meminta tolong seperti itu.

Samira menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.

“Iya, Mas.”

Ia kemudian bertanya lagi dengan suara lembut,

“Mau sama camilan juga? Ada kue yang tadi Mama kasih.”

Samudra menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Binar yang sedang sibuk bermain.

“Enggak, kopi aja.”

Samira mengangguk lagi.

“Baik.”

Ia lalu berjalan ke dapur.

Di dalam dapur, Samira meletakkan nampan di atas meja. Ia mengambil cangkir putih dari lemari, lalu mulai menyiapkan kopi untuk Samudra.

Namun sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir, pikirannya kembali pada kejadian barusan.

Samudra… meminta tolong. Hal kecil sebenarnya. Tapi entah kenapa terasa berbeda.

Samira menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.

“Mungkin aku saja yang terlalu memikirkannya,” gumamnya pelan.

Beberapa menit kemudian kopi itu sudah siap. Aroma kopi hangat langsung menyebar di udara.

Samira membawa cangkir itu ke ruang keluarga.

Samudra masih duduk di lantai bersama Binar. Kini mereka sedang menyusun Lego menjadi bentuk mobil kecil.

“Mas,” panggil Samira pelan.

Samudra menoleh.

Samira meletakkan cangkir kopi itu di atas meja kecil dekat sofa.

“Kopinya.”

Samudra mengangguk.

“Makasih.”

Sekali lagi, Samira sedikit terdiam. Ucapan itu juga jarang ia dengar dari suaminya.

Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Binar tiba-tiba berseru,

“Papa lihat! Mobilnya jadi!”

Samudra langsung kembali menoleh pada anaknya.

“Coba Papa lihat.”

Binar mengangkat Lego kecil berbentuk mobil itu dengan wajah bangga.

Samudra tertawa kecil.

“Wah, ini mobil balap ya?”

“Iya!” jawab Binar semangat.

Samira berdiri di sana beberapa detik, memperhatikan mereka berdua.

Pemandangan itu terasa begitu sederhana. Namun entah kenapa… terasa hangat.

Akhirnya Samira kembali ke dapur untuk mencuci piring yang tersisa.

Sementara itu di ruang keluarga, Samudra mengambil cangkir kopinya dan menyesapnya perlahan.

Matanya sesekali melirik ke arah dapur.

Ia bisa melihat bayangan Samira yang sedang sibuk di sana.

Beberapa detik kemudian, tanpa sadar Samudra kembali menatap ke arah itu.

Lama.

Seolah-olah ia sedang memikirkan sesuatu.

Di dekatnya, Binar masih asyik bermain Lego tanpa menyadari tatapan ayahnya yang sesekali tertuju pada ibunya.

“Papa,” panggil Binar tiba-tiba.

Samudra menoleh.

“Iya?”

“Besok Papa kerja lagi?”

Samudra mengangguk pelan.

“Iya.”

Binar terlihat berpikir sebentar sebelum berkata lagi,

“Kalau Papa libur… kita makan es krim lagi ya.”

Kalimat polos itu membuat Samudra tersenyum kecil.

“Iya.”

Ia lalu mengusap lembut rambut anaknya.

“Papa janji.”

Namun tanpa disadari oleh siapa pun di ruangan itu…

Di dalam hati Samudra, ada satu hal yang mulai berubah perlahan.

Dan perubahan itu… semuanya selalu berujung pada satu orang.

Samira.

@@@

Malam itu, Samudra yang menidurkan Binar. Setelah selesai membereskan dapur, Samira akhirnya naik ke kamar.

Awalnya Samira berpikir Samudra pasti sudah tertidur. Biasanya setelah menidurkan Binar, laki-laki itu akan langsung tidur tanpa menunggu siapa pun.

Namun ternyata dugaannya salah.

Saat Samira membuka pintu kamar, ia mendapati Samudra masih terbaring di atas ranjang dengan mata yang terbuka.

Samira sedikit terkejut.

“Loh, kirain Mas sudah tidur,” gumamnya pelan.

Samudra menoleh ke arahnya.

“Kamu habis ngapain di bawah? Kok lama banget?” tanyanya.

Samira berhenti sejenak sebelum menjawab.

“Aku habis beresin dapur sebentar, Mas. Jadi baru naik.”

Jawaban itu tidak sepenuhnya bohong. Selain membereskan dapur, Samira memang sempat menyiapkan beberapa bahan masakan untuk besok pagi agar pekerjaannya tidak terlalu banyak saat subuh nanti.

Mendengar jawaban itu, Samudra hanya mengangguk pelan. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Melihat itu, Samira pun ikut terdiam.

Akhirnya ia memutuskan masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah, tangan, dan kakinya. Ia juga mengganti pakaiannya yang sedikit basah karena terkena air cucian piring tadi.

Beberapa menit kemudian, Samira keluar dari kamar mandi dengan pakaian rumah yang lebih nyaman.

Namun ia kembali terkejut ketika melihat Samudra ternyata masih belum tidur.

“Loh, Mas. Aku pikir kamu sudah tidur,” ujar Samira.

Samudra menoleh ke arahnya.

“Kamu mau tidur sekarang?” tanyanya balik.

Samira berjalan mendekati ranjang.

“Aku agak capek sih… tapi belum ngantuk,” jawabnya jujur.

Ia lalu menambahkan dengan nada lembut,

“Kalau Mas ngantuk, tidur dulu aja. Nggak apa-apa.”

Samira sama sekali tidak bertanya mengapa Samudra belum tidur. Biasanya kalau mereka berada dalam satu ruangan, Samudra akan langsung tidur tanpa banyak bicara dan meninggalkan Samira dengan jarak di antara mereka.

Sebenarnya Samira juga mulai menyadari perubahan kecil pada suaminya sejak kemarin. Namun ia tidak ingin terlalu berharap.

Ia hanya berharap… perubahan itu adalah perubahan yang baik.

Karena sejak kemarin, Samudra benar-benar terasa berbeda. Tidak sedingin sebelumnya.

Melihat Samira yang hanya diam di atas ranjang, Samudra sempat melirik bantal panjang yang biasanya selalu mereka letakkan di tengah tempat tidur sebagai pembatas.

Namun kali ini ia justru mengambil bantal itu dan memindahkannya ke sisi lain ranjang.

Samira mengerutkan kening sedikit, bingung melihatnya.

“Sini,” ujar Samudra sambil menepuk sisi ranjang di sampingnya.

Samira semakin bingung.

“Mas?”

“Sini tidur di sini. Aku sudah ngantuk soalnya,” kata Samudra singkat.

Samira benar-benar tidak mengerti. Kalau Samudra mengantuk, bukankah biasanya ia tinggal tidur saja?

Kenapa sekarang malah memanggilnya?

“Sini, Mir. Cepetan,” ujar Samudra lagi ketika melihat Samira masih diam.

Akhirnya, mau tidak mau Samira berjalan mendekat. Ia kemudian berbaring di sisi Samudra.

Biasanya mereka tidur dengan jarak yang cukup jauh, bahkan dipisahkan oleh bantal panjang.

Namun malam ini tidak ada lagi penghalang di antara mereka.

Entah kenapa, jantung Samira tiba-tiba berdegup lebih cepat.

Padahal mereka pernah melakukan hal yang jauh lebih dari sekadar tidur berdampingan.

Tapi kenapa sekarang rasanya justru membuatnya gugup?

Baru saja Samira berbaring, tiba-tiba Samudra bergerak mendekat.

Laki-laki itu langsung memeluknya dari belakang.

Tangan kanan Samudra melingkar di perut Samira, sementara salah satu kakinya menindih kaki wanita itu.

“Mas…” panggil Samira pelan dengan nada gugup.

“Apa?” jawab Samudra singkat.

“Mas belum tidur?”

“Aku ngantuk.”

Setelah mengatakan itu, Samudra langsung memejamkan matanya.

Samira terdiam.

Biasanya Samudra bahkan tidak mau terlalu dekat dengannya. Tapi sekarang justru memeluknya erat, seolah menjadikannya seperti guling.

Beberapa saat Samira hanya bisa menatap ke depan dengan pikiran yang dipenuhi berbagai pertanyaan.

Sementara itu, di belakangnya Samudra masih memejamkan mata.

Namun sebenarnya ia belum sepenuhnya tertidur.

Di dalam hatinya, ada pikiran yang berputar.

"Ternyata… tidur sambil memeluk istri rasanya senyaman ini."

Samudra bahkan sedikit mengeratkan pelukannya tanpa sadar.

Kalau saja dari dulu ia tahu rasanya seperti ini… mungkin ia sudah melakukannya sejak lama.

Jarang sekali ia begadang seperti ini. Namun entah kenapa malam ini terasa berbeda.

Sepertinya mulai sekarang ia tidak akan lagi menggunakan bantal penghalang itu.

Setelah merasakan kenyamanan seperti ini, Samudra merasa enggan kembali ke kebiasaan lama mereka.

Keputusan yang ia ambil siang tadi kembali terlintas di kepalanya.

Keputusan untuk tidak menceraikan Samira.

Dan kali ini ia benar-benar yakin.

Keputusan itu sudah bulat.

Samudra tidak akan pernah menceraikan istrinya.

Samira… akan tetap menjadi miliknya.

Selamanya.

@@@

Hai Semuanya!

Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!

Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.

Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!

Terima Kasih!

1
Favmatcha_girl
akhirnya ya🥺
Favmatcha_girl
Betul itu😍
Favmatcha_girl
Biarin😝
Favmatcha_girl
Gak jadi kayaknya mah, anaknya lagi kecintaan🤭
Favmatcha_girl
Tumben amat🤭
Favmatcha_girl
Gampang ya nyuruh² orang😅
Favmatcha_girl
Huhuhu🥺 kasihan nya
Favmatcha_girl
Lagi bahagia sayang🥺
Favmatcha_girl
Lagi kasmaran mungkin😅
Favmatcha_girl
Masakin batu dan kayu aja🤭
Favmatcha_girl
Baik dong kan ajaran ibu yang baik😍
Favmatcha_girl
Anak lagi masa pertumbuhan🥺
Itz_zara: Iya nih makannya makan banyak
total 1 replies
Favmatcha_girl
Tumben ngomong maaf🤭
Itz_zara: Jarang ya😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gengsi aja digedhein😑
Itz_zara: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Emang cantik, baru tau ya, lo🤭
Itz_zara: Selama ini dia tutup mata🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gas lah ma jodohin aja Samira sama duda kaya raya🤭
Itz_zara: Hahaha Duren kan ya🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Rasain deh🤭 gak diinget anak
Itz_zara: Rasakan😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gemes banget si kamu😍
Itz_zara: Maacih🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Santai Pak jawabnya 😡
Itz_zara: Gak bisa😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Kasihan pasti dah anggap mantu kaya anak sendiri 🥺
Itz_zara: Udah sayang level tinggi kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!