“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: JUDI BATU DAN KEAJAIBAN PATUNG BUDDHA
Udara sore di teras samping mansion keluarga Jayadi terasa begitu segar. Rimba sedang menyesap teh hangatnya ketika Rendi melangkah mendekat dengan senyum lebar. Ia menarik kursi di samping Rimba, menatap kabut yang mulai turun menyelimuti taman.
"Bagaimana keadaan Eyang dan Papa di dalam, Rim?" tanya Rendi, suaranya mengandung nada kecemasan sekaligus harapan yang besar.
Rimba meletakkan cangkir tehnya, menatap Rendi dengan tenang. "Kondisi mereka sudah sangat stabil, Bang. Saat ini seluruh saraf dan otot mereka sedang dalam proses sinkronisasi ulang dengan energi herbal yang aku berikan. Mereka akan tertidur sangat lelap dan baru akan terbangun besok pagi saat energi itu terserap sempurna. Jadi, Bang Rendi tidak perlu khawatir."
Rendi menghela napas lega, pundaknya yang tegang tampak sedikit merileks. "Syukurlah. Terima kasih banyak, Rim. Omong-omong, kau punya agenda malam ini? Jika tidak, aku ingin mengajakmu ke sebuah tempat yang mungkin menarik bagi orang yang mengerti batu sepertimu."
"Ke mana, Bang?"
"Pelelangan judi batu giok di pinggiran kota. Aku butuh menambah stok batu mentah untuk perusahaan Tulip Jewelry. Siapa tahu ada batu bagus yang bisa kita amankan," ajak Rendi.
Rimba yang merasa tidak ada pekerjaan lain di dunia nyata, mengangguk setuju. "Boleh juga. Aku ingin melihat bagaimana sistem judi batu di kota besar."
---
Mereka berangkat menggunakan iring-iringan tiga mobil mewah. Rendi dan Rimba berada di mobil tengah dengan seorang sopir, sementara dua mobil SUV hitam lainnya mengapit mereka. Di dalam kedua mobil itu terdapat delapan pengawal bertubuh tegap. Total ada sembilan orang pengawal yang mengamankan perjalanan mereka.
Sebelum berangkat tadi, Rimba sempat berinteraksi dengan kesembilan orang itu.
Rimba memejamkan mata dan mengaktifkan indra persepsinya, ia sedikit terkejut. Sembilan orang ini semuanya adalah kultivator, batin Rimba. Meskipun tingkat mereka rata-rata hanya di Tingkat 1 (Tinggi) dan ada tiga orang pemimpin tim yang berada di Tingkat 1 (Puncak), kehadiran mereka membuktikan bahwa dunia persilatan masih eksis di balik kemegahan kota modern.
Para pengawal itu sebenarnya merasa sangat tidak nyaman berada di dekat Rimba. Mereka bisa merasakan tekanan batin yang luar biasa, seolah-olah mereka sedang berdiri di samping predator purba yang sedang tidur. Mereka tidak bisa merasakan Qi di tubuh Rimba—Rimba tampak seperti warga sipil biasa—namun insting tempur mereka terus berteriak agar mereka waspada.
Rimba yang menyadari suasana kaku itu memutuskan untuk mencairkan suasana. "Bapak-bapak, kalian latihannya di mana? Apakah kalian satu perguruan?" tanya Rimba ramah.
Para pengawal itu tersentak, lalu salah satu dari mereka menjawab dengan hormat, "Kami dari perguruan yang berbeda-beda, Nak Rimba. Kami direkrut secara profesional oleh keluarga Jayadi."
Rimba tersenyum, lalu ia mengeluarkan tiga botol kecil berisi cairan energi tingkat 1 dari sakunya—yang sebenarnya ia ambil dari dimensi dalam sekejap mata. Ia memberikannya kepada tiga orang pemimpin tim yang berada di tingkat puncak.
"Ini untuk kalian. Gunakan saat kalian libur kerja. Carilah tempat yang sepi dan bagus untuk bermeditasi. Cairan ini akan membantu kalian menembus Tingkat 2. Tapi ingat, bersiaplah menghadapi petir penyiksaan surgawi," bisik Rimba dengan nada serius.
Para pengawal itu tercengang. Mata mereka membelalak menatap botol kecil di tangan mereka. Bagaimana pemuda ini tahu tentang tingkatan mereka? Bagaimana ia tahu tentang petir surgawi? Rasa kagum seketika menggantikan rasa takut mereka. Sejak saat itu, mereka memandang Rimba dengan hormat yang setara dengan mereka memandang Eyang Jayadi.
---
Mereka tiba di lokasi lelang yang menyerupai hanggar pesawat raksasa. Tempat itu sangat luas, dengan ribuan gundukan batu mentah dari berbagai ukuran, mulai dari sekecil kepalan tangan hingga sebesar kerbau. Suasana sangat riuh; para kolektor, pemilik toko perhiasan, dan penjudi batu dari berbagai kota berkumpul di sana untuk mengadu nasib.
Rendi mulai menjelaskan aturan mainnya. "Di sini disebut judi karena kita membeli batu yang terbungkus kulit bumi yang tebal. Kau bisa membeli batu seharga miliaran namun isinya hanya batu kali biasa, atau kau bisa membeli batu murah yang ternyata berisi giok berkualitas tinggi. Itu semua tergantung insting dan keberuntungan."
Rimba hanya mengangguk, namun matanya sudah berubah. Visi Asura-nya diaktifkan secara maksimal. Ia melihat ke arah empat batu raksasa yang diletakkan di panggung utama sebagai highlight lelang malam itu. Harganya diprediksi mencapai miliaran rupiah.
Rimba meneliti satu per satu. Dua batu itu kosong melompong. Dua lainnya ada gioknya, tapi kecil dan banyak retakan. Tidak sebanding dengan harganya, batin Rimba.
Tiba-tiba, pendengaran tajam Rimba menangkap bisikan-bisikan dari sudut ruangan yang gelap. Sekelompok orang di dalam keramaian tampak sedang menyusun rencana. "Tunggu sampai pemenang lelang batu besar itu keluar. Kita cegat mereka di jalan sepi. Batu sebesar itu pasti berat, mereka tidak akan bisa lari cepat," bisik salah satu dari mereka.
Rimba segera menarik lengan Rendi dan membisikkan sesuatu. "Bang, jangan ikut lelang empat batu besar itu. Itu sampah. Dan lebih baik kita waspada, ada kelompok perampok yang sedang mengincar pemenang lelang malam ini."
Rendi terkejut. "Kau yakin, Rim? Itu batu dari tambang terbaik."
"Percayalah padaku, Bang. Aku akan pilihkan batu yang bagus untukmu. Tapi sebelumnya, Bang... pinjami aku uang dua puluh ribu rupiah saja," pinta Rimba.
Rendi merogoh sakunya, namun ia tidak membawa uang tunai kecil. "Aku tidak punya cash, Rim. Mari ikut aku." Rendi mengajak Rimba menemui pemilik tempat lelang yang ternyata adalah kenalan lamanya. Rendi meminta agar semua pengeluaran Rimba dicatat dalam tagihan pribadinya yang akan dibayar via transfer nanti. Pemilik tempat lelang pun menugaskan seorang asisten untuk mengikuti rombongan Rendi guna mencatat pembelian.
---
Rimba melangkah menuju tumpukan batu mentah yang paling murah, yang dihargai hanya Rp20.000 per batu. Ia menunjuk sebuah batu sebesar semangka yang tampak kusam dan berlumut.
"Apapun hasil dari batu ini, Bang Rendi jangan menginginkannya ya. Batu ini ingin aku jual lagi untuk modal membeli batu yang lain bagi perusahaan Abang," ujar Rimba. Rendi hanya mengangguk heran.
Rimba membawa batu itu ke meja pemotongan. Ia menginstruksikan tukang potong dengan sangat detail. "Jangan dipotong belah tengah. Kelupas kulit permukaannya setebal satu milimeter saja, lalu buat menjadi bulat presisi."
Tukang potong itu bekerja dengan ragu, namun saat kulit batu mulai terkelupas dan dibilas dengan air, ia berteriak kaget. Seluruh orang di hanggar itu menoleh. Di bawah sinar lampu, batu itu kini berbentuk bola giok hijau yang sangat jernih. Di dalamnya, terdapat inklusi alami yang membentuk sosok Buddha sedang bersila secara utuh dan tiga dimensi. Cahaya hijau yang dipancarkannya begitu suci dan menenangkan.
"Keajaiban! Ini Giok Buddha Hidup!" teriak seseorang.
Kolektor-kolektor kaya segera berlarian mengerumuni Rimba. Suasana menjadi kacau karena semua orang ingin melihat. Rimba mengangkat batu itu tinggi-tinggi. "Aku buka lelang dadakan! Siapa penawar tertinggi, batu ini miliknya!"
Penawaran melonjak gila-gilaan. Dari 500 juta, 1 miliar, hingga akhirnya berhenti di angka 14 Miliar Rupiah. Seorang kolektor tua dari ibu kota memenangkan lelang tersebut. Atas instruksi Rimba, orang itu mentransfer uangnya ke rekening Rendi sebagai deposit pembelian batu selanjutnya.
Rendi terpana. Batu seharga 20 ribu menjadi 14 miliar dalam hitungan menit! "Rim, kenapa tidak dijual padaku saja?"
"Batu ini tidak cocok untuk pedagang, Bang. Ini batu keberuntungan untuk kolektor. Untuk Abang, aku sudah siapkan yang lain," jawab Rimba tenang.
---
Rimba kemudian bertanya kepada asisten rumah lelang tentang tumpukan batu di pojok yang sangat banyak namun tidak berlabel harga. "Oh, itu batu bonus, Dek. Setiap pembelian di atas seratus ribu, boleh ambil satu batu bonus di sana secara gratis," jelas asisten itu.
Rimba tersenyum lebar. Dengan bantuan sembilan pengawalnya yang membawa troli besar, Rimba mulai menyisir hanggar. Ia memilih batu-batu dengan harga variasi dari 20 ribu sampai 1 juta rupiah. Namun, yang ia incar sebenarnya adalah kombinasi antara batu berbayar dan batu bonus yang mengandung giok murni di dalamnya.
Total mereka membeli 1.000 batu mentah dan mendapatkan bonus 800 batu tambahan. Rendi hanya membayar kurang dari 1 miliar untuk ribuan batu tersebut. Semuanya langsung dimuat ke dalam lima truk yang disediakan rumah lelang.
Sesudah pembayaran selesai, Rendi ingin mencoba memotong satu buah batu. Dia ingin tahu hasil pilihan Rimba. Namun, Rimba mencegahnya. "Jangan potong di sini Bang, jika yang Abang potong menghasilkan giok, orang bisa menebak yang kita kumpulkan sebanyak itu adalah giok semua, kita akan jadi sasaran Bang. Potongnya besok pagi-pagi saja oleh karyawan sendiri. Lagian apa yang Abang risaukan terhadap pilihanku? Dari 1.800 batu pasti ada lebih dari satu batu yang ada gioknya, anggap lah pilihanku banyak yang gagal. Tapi kan kita gak rugi Bang, kan semua batu hanya kita beli dengan Rp20.000, jadi santai saja Abangku…! "
Rendi akhirnya menyadari rencana Rimba yang rapi. Rendi mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ayo pulang sekarang, Bang," ajak Rimba tiba-tiba.
Pemilik rumah lelang mencoba menahan mereka. "Rendi, acara puncaknya belum dimulai! Kamu tidak mau ikut lelang batu miliaran itu?"
"Maaf, Papaku sedang kurang sehat. Aku datang hanya untuk mencari stok, bukan untuk kompetisi," jawab Rendi sesuai instruksi Rimba.
---
Iring-iringan tiga mobil dan lima truk itu melesat meninggalkan lokasi lelang menuju gudang Tulip Jewelry. Di dalam mobil, Rendi bertanya, "Kenapa terburu-buru, Rim?"
"Perampok itu sedang fokus pada pelelangan besar. Jika kita pulang sekarang, mereka tidak akan curiga pada iring-iringan truk kita karena mereka pikir itu hanya batu murah sisa lelang. Kita lewat dengan aman tanpa hambatan," jelas Rimba. Benar saja, perjalanan mereka sangat lancar.
Sesampainya di gudang Tulip Jewelry, Rendi memerintahkan untuk segera menyimpan di gudang stock yang jelas dijaga ketat.
Rendi juga menghubungi kepala pemotongan batu agar datang lebih pagi dan mengaktifkan semua alat potong batu, karena ada 1.800 batu yang harus di potong.
Setelah urusan gudang selesai, mereka kembali ke mansion keluarga Jayadi.
Pukul 11 malam, mereka tiba di mansion. Rimba berpisah dengan Rendi di koridor. "Istirahatlah, Bang. Besok pagi akan ada banyak kejutan. Usahakan Abang melihat berita besok pagi."
Rimba masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan seketika menghilang ke dalam Dimensi Independen. Baginya, petualangan di dunia nyata barulah pemanasan; ia harus kembali ke latihan brutalnya untuk mempersiapkan diri menghadapi badai yang lebih besar di masa depan.