Setelah dua puluh dua tahun berlalu, Gavin dan Aretha bertemu kembali. Namun Gavin tidak menyadari bahwa gadis cantik tersebut adalah orang dari masa kecilnya, ke duanya bekerja di perusahaan yang sama. Aretha tak pernah lupa dengan Gavin, sekalipun mereka sudah tidak ada komunikasi sejak terakhir bertemu. Lalu bagaimana dengan Gavin? Akankah dia ingat dengan Aretha? Apakah Aretha akan menagih janji om Leo padanya untuk menjadikan Gavin suami Aretha?
Sebenarnya itu bukan pertemuan pertama, tiga tahun lalu ke duanya sempat bertemu dan Aretha salah paham dengan status Gavin.
“Dasar papa tidak bertanggung jawab. Nitip anak tapi tidak ingat,” ucap Aretha sadis.
“Haah! Anak? Kapan kamu nikah, Vin?” ucap Langit dan Raja bersamaan.
Gavin mengerutkan dahinya, dia termangu menatap wajah perempuan yang ada di hadapannya. Lalu bagaimana kisah dan hari-hari mereka nantinya?
cover by pinterest & canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan ayah dan anak
Daddy Axel ikut bergabung dengan istri dan putri sulungnya, dia memeluk mommy Rena dan Aretha. Azura yang mengintip dari balik pintu langsung nyelonong masuk begitu saja, hal tersebut membuat Enzo kelabakan.
“Ndak bica di bialin. Itu mommy cama daddy na Zula,” omelnya sambil mendorong pintu.
“Woilah cil. Bisa bahaya ini,” Enzo berusaha menghentikan adik bungsunya tersebut, namun sia-sia. “Apes. Bakal kena hukum daddy lagi ini sih,” monolognya.
Azura mendorong pintu ruang kerja daddy Axel hingga menimbulkan suara derit pintu yang cukup kencang. “Itu mommy daddy na aku. Kakak Aletha ndak boleh ambil,” gadis kecil itu berlari kearah di mana ke dua orang tuanya dan sang kakak sulung duduk.
Mereka bertiga kompak menoleh kearah sumber suara, Aretha bahkan sudah tertawa melihat sang adik tantrum. Mommy Rena dan daddy Axel hanya bisa saling tatap, keduanya menghela napas bersamaan. “Drama di mulai,” lirih mommy Rena.
“Daddy tangkap Zula. Aku juga mau di peluk cepelti kakak,” gadis kecil itu berlari sambil merentangkan ke dua tangannya, Axel tertawa lebar melihat itu. Axel langsung membungkukkan badannya untuk meraih Azura.
Putri bungsunya ini memang terbilang unik, Azura lebih tantruman dari pada Aretha waktu seusianya. Terlebih semenjak Aretha pulang, tingkat manja Azura naik drastis. Entah itu manja pada mommy, daddy, Enzo ataupun Aretha. Sepertinya Aretha yang lebih kena dampak, karena Azura selalu mengekorinya. Dia mengkopi paste hal-hal yang di lakukan sang kakak, kelakuan Azura bukan lagi di luar prediksi BMKG. Melainkan sudah sampai luar planet, ada saja gebrakan barunya.
“Azura menguping?” tanya Axel dengan lembut setelah dia membawa Azura ke dalam pangkuannya, daddy Axel sambil melirik kearah Enzo yang berdiri diambang pintu.
Pemuda itu langsung tersenyum kikuk dan akhirnya masuk juga ke dalam ruang kerja daddynya, Enzo duduk tepat berhadapan dengan sang daddy.
“Zula ndang nguping, daddy. Zula hana kepo,” jawabnya dengan jujur dan polos tentunya. “Abang na yang ajakin Zula,” tunjuk Azura pada Enzo.
Enzo menepuk jidatnya. “Dasar bocil satu ini. Dia malah masuk ke mulut harimau,” gumam Enzo lirih tak terdengar. “Bu-bukan Enzo, daddy. Aku tidak mengajari yang aneh-aneh,” ucap Enzo.
“Kamu tunggu hukuman dari daddy besok!” tegas daddy Axel.
“Tuh kan aku lagi yang kena. Dasar hama satu ini,” kesal Enzo karena mendapat hukuman dari daddy Axel.
Azura justru tertawa. “Ihihihi. Bukan calah Zula kalau abang Enzo di hukum daddy,”celetuk Azura santai.
“Sudah-sudah, sekarang semuanya mandi. Lalu siap-siap untuk makan malam syukuran ulang tahunnya Azura,” mommy Rena menengahi. “Azura malam ini harus patuh sama daddy dan mommy, oke!” mommy Rena berkata dengan lembut namun tegas.
Azura mengangguk, dia lantas merentangkan ke dua tangannya pada mommy Rena. “Mau cama mommy,”
Mommy Rena langsung membawa putri bungsunya tersebut ke lantai atas untuk mandi, Azura harus bersiap untuk acara ulang tahun sederhana. Bukan hanya Azura, karena Aretha maupun Enzo juga mendapatkan hal yang sama. Tidak ada pesta ulang tahun meVah, yang ada adalah makan malam sederhana sebagai bentuk syukur untuk semua nikmat yang sudah putra-putri mereka dapatkan.
“Enzo bersih-bersih dulu, dad.” Pemuda itu berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan kerja daddy Axel. Di sana menyisakan Aretha dan sang daddy,
Daddy Axel menepuk sofa di sampingnya. “Duduk sini, sayang! Masih ada waktu sebelum acaranya Azura,” daddy Axel melihat arlojinya.
Aretha kemudian duduk di samping sang daddy, jika tadi dia mendapatkan omelan dari mommy Rena. Entah kali ini daddy Axel akan menegurnya seperti apa, bagi Aretha hal tersebut tidak masalah karena dia menganggap itu bentuk rasa sayang daddy dan mommynya.
“Aretha yakin bisa bekerja sama dengan Gavin secara profesional, sayang?” tanya daddy Axel pada putri sulungnya.
Aretha mengangguk dengan mantap. “Daddy jangan khawatir tentang itu, Aretha bisa mengatasinya. Bukankah daddy tahu kalau aku punya target?”
Daddy Axel mengusap kepala putrinya. “Daddy tahu. Tapi hati manusia tidak bisa di tebak, sayang. Kamu butuh keteguhan hati untuk melaluinya,”
Aretha memeluk daddy Axel. “Aretha tahu. Aku bahkan sempat ragu, daddy. Tapi aku harus belajar menghadapi semuanya bukan? Aku tidak mau kabur lagi,” ucap Aretha. “Apalagi kaburku sia-sia saja,” imbuhnya.
Daddy Axel mencubit hidung mancung Aretha. “Kalau itu salah kamu sendiri, sayang. Apa kamu lupa siapa daddymu ini, hmm? Daddy bisa membantumu mencari informasi akurat,”
Aretha terkekeh. “Lupa dan mana ada kepikiran, daddy. Aretha buru-buru saat itu," gadis itu membela diri.
"Kamu bukan buru-buru harus berangkat ke Korea, sayang. Tapi kamu tergesa ingin menghindar dari masalah karena mbak belum menerima kenyataan yang ternyata hanya semu dan pikiran mbak Aretha saja,” ucap daddy Axel.
“Apapun keputusan mbak kelak, daddy akan selalu mendukung selama itu baik untuk mbak. Tapi jangan protes jika daddy akan terus mengawasimu,” lanjut daddy Axel.
Aretha mengangguk. “Mana berani Aretha sama pemegang tahta tertinggi. Takut di keluarkan dari kartu keluarga,” jawab Aretha membuat daddy Axel terkekeh.
“Selesaikan tanggung jawabmu dengan baik, sayang. Daddy percaya padamu,” daddy Axel mengecup kening Aretha.
“Daddy memang yang terbaik,” ucap Aretha.
***
Makan malam yang di tunggu akhirnya tiba, daddy Axel dan mommy Rena hanya megundang makan malam keluarga terdekat.
“Mbak Aretha!” Queena datang bersama ke dua orang tuanya dan Dean sang adik, gadis itu menghambur kearah Aretha. “Ueena kangen,” ucapnya memeluk sang kakak sepupu.
“Aku juga kangen,” Aretha membalas pelukan Queena, sejenak mereka saling melepas rindu. “Anak gadis satu ini tambah cantik,” Aretha mencubit ke dau pipi Queena.
Aretha mengurai pelukannya dengan Queena, dia beralih pada pasangan suami istri yang datang bersama Queena. “Onty Rhea, om Rega. Aretha kangen,” ucapnya memeluk bergantian onty dan om nya tersebut.
“Ck...dasar gadis nakal, lain kali jangan ambil keputusan kalau belum tahu faktanya. Repot sendiri jadinya,” omel om Rega.
“Pasti daddy sama mommy sudah cerita sama om,”
Rhea terkekeh. “Tidak usah dengarkan ocehan om Rega! Sekarang Aretha harus memperbaiki apa yang bisa di perbaiki, yang sudah berlalu tidak bisa diulang. Jadi lakukan yang terbaik untuk masa depan,”
“Onty memang terbaik,” Aretha mengangkat ke dua jempolnya pada onty Rhea.
Aretha kemudian beralih pada remaja yang sedang asik bermain game, dia dengan sengaja mengusak rambutnya.
“Mbak Aretha! Ish ganggu banget sih,” kesal Dean. “Sengaja. Biar kamu kesal dan berhenti dulu sejenak dari main games,” ucap Aretha.
“Ish mbak sih gak tahu, main games begini juga ada bagusnya. Lagi pula besar nanti aku mau menciptakan games yang bagus,” jawab Dean.
“Iya-iya. Galak amat Dean ih sama mbak,” Aretha lantas membiarkan Dean tetap pada gamesnya.
Sementara itu yang lain mulai berdatangan, Alvian menyusul di belakang. Dia datang hanya bersama Aila sang adik, karena Karin menemani Aiden perjalanan bisnis luar negeri. Selanjutnya ada Dio bersama Almira, Raffa tidak ikut karena jadwal kuliahnya di Jogja sangat padat.
Selanjutnya datang Leo bersama istri dan anak mereka Arlo dan Aqila, malam itu semua datang lengkap. Aretha mempersilahkan semuanya menuju taman samping di mana acara makan malam di lakukan, sementara itu sang bintang utama masih sibuk memilih baju di kamar.
“Zula ndak mau pake gaun lapunzel, ndak mau plincess-plincess. Mau na yang cejuk-cejuk bial ndak gelah,” ocehnya.
Mommy Rena tersenyum, dia selalu sabar dengan segala tingkah polah Azura. “Bagaimana kalau adek pakai ini saja!” mommy Rena membawa rok dan juga atasan berbahan kaos yang aman, nyaman untuk bocil satu itu.
“Mau yang walna lilac mommy!” pintanya.
Setelah drama kostum, akhirnya putri bungsu Axel turun ke lantar sati. Mommy Rena membawa Azura ke taman belakang.
“Wah ini dia bintang utamanya datang,” celetuk Dio.
cibe -cibe kalau ga salah