Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Pukul lima sore, kepalaku terasa berdenyut dua kali lipat lebih hebat. Efek obat dari Baskara memang sedikit meredakan batukku, tapi demam ini membuat pandanganku berkunang-kunang. Aku tidak mungkin menyetir atau menunggu taksi lagi dalam kondisi seperti ini.
Aku segera mengirim pesan singkat ke Danesha.
"Dan, jemput aku di lobi kantor sekarang. Aku nggak kuat nyetir, badanku panas banget."
Sepuluh menit kemudian, aku sudah berdiri di lobi, menyandarkan tubuh ke pilar marmer yang dingin. Aku merapatkan syal ke leher, mencoba menahan menggigil yang mulai menyerang. Di tanganku, aku masih menggenggam plastik obat pemberian Baskara—benda yang ingin kubuang tapi hatiku menolaknya.
Tiba-tiba, pintu lift di belakangku terbuka. Langkah kaki yang mantap itu terdengar mendekat. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma parfum woody yang bercampur dengan dinginnya AC kantor sudah cukup memberi tahu indra penciumanku.
"Belum pulang?" suara berat itu menginterupsi kesunyian lobi.
Aku berbalik pelan, menemukan Baskara berdiri dengan tas laptop tersampir di bahunya. Ia sendirian, sepertinya Rasya sudah pulang lebih dulu atau ada urusan lain. Tatapannya langsung jatuh pada plastik obat yang kugenggam erat.
"Sudah minum obatnya?" tanyanya datar, tanpa ekspresi peduli yang dulu selalu menghiasi wajahnya.
"Sudah. Terima kasih, Bas. Berapa harganya? Biar aku ganti," jawabku dengan suara serak, mencoba menjaga tembok profesionalitas yang susah payah kubangun.
Baskara mendengus sinis. Ia melangkah maju, memperpendek jarak di antara kami. "Simpan uangmu, Aruna. Aku tidak butuh kembalian dari rasa bersalahmu. Anggap saja itu investasi supaya proyek ini tidak hancur karena kamu pingsan."
Aku menunduk, merasa seperti remah-remah di bawah sepatunya. "Aku sedang menunggu Danesha menjemput."
Mendengar nama Danesha, rahang Baskara sedikit mengendur. Danesha adalah saksi hidup betapa brengseknya aku padanya dulu. "Baguslah. Setidaknya kamu tidak nekat pulang sendiri dan merepotkan orang jalanan kalau pingsan di tengah jalan."
Tepat saat itu, mobil Danesha berhenti di depan lobi. Klakson pendek berbunyi. Aku merasa lega sekaligus sesak secara bersamaan.
"Aku duluan, Bas," pamitku lirih.
Aku melangkah menuju pintu kaca, namun suara Baskara kembali menghentikanku. "Aruna."
Aku menoleh.
"Jangan pernah berpikir kebaikan kecil tadi siang berarti sesuatu. Aku hanya melakukan apa yang orang normal lakukan pada rekan kerjanya yang sekarat. Jangan besar kepala," ucapnya tajam, lalu ia berbalik menuju arah parkiran tanpa menunggu balasan dariku.
Aku masuk ke mobil Danesha dengan sisa tenaga yang ada. Begitu pintu tertutup, aku langsung memejamkan mata.
"Tadi itu Baskara, kan?" tanya Danesha sambil mulai melajukan mobilnya. "Na, mukamu pucat banget. Dia ngomong apa lagi?"
"Dia cuma mengingatkanku kalau aku ini cuma rekan kerja yang menyebalkan, Dan," jawabku pahit. Aku meremas plastik obat itu. Gema suaranya yang tajam terasa lebih menyakitkan daripada demam yang membakar tubuhku sekarang. Ternyata, menerima kebaikan dari orang yang kita sakiti adalah bentuk hukuman yang paling menyiksa.
"Ayo ke dokter ya, Na? Mukamu sudah seperti kertas zink, pucat sekali," Danesha memutar setir dengan cemas, sesekali melirikku yang menyandarkan kepala lemas di kaca mobil.
Aku menggeleng pelan, rasa sakit di kepalaku membuat gerakan sekecil apa pun terasa seperti dihantam palu. "Enggak usah, Dan. Aku cuma butuh tidur. Obat dari... dari dia tadi sudah agak lumayan, kok."
"Tapi panasmu tinggi banget, Aruna. Jangan keras kepala kenapa sih? Kebiasaan burukmu dari dulu nggak hilang-hilang, selalu merasa bisa handel semuanya sendiri," omel Danesha, namun nada suaranya penuh kekhawatiran.
"Aku cuma butuh istirahat, Dan. Benar-benar cuma butuh merem sebentar," bisikku parau. "Ke dokter cuma bakal bikin aku tambah stres lihat jarum suntik dan bau rumah sakit. Tolong, antar aku balik ke apartemen saja."
Danesha menghela napas panjang, tanda menyerah. Ia tahu betul jika aku sudah berkata tidak, maka tidak akan ada yang bisa memaksa. "Ya sudah. Tapi kalau besok pagi panasmu belum turun, aku nggak mau dengar alasan lagi. Aku seret kamu ke IGD, mengerti?"
"Iya, makasih ya, Dan."
Sepanjang perjalanan, aku hanya terdiam melihat rintik hujan yang mulai membasahi kaca mobil lagi. Bayangan wajah Baskara di lobi tadi terus menghantuiku. Kata-katanya yang tajam seolah menjadi dinding kaca yang tak kasat mata. Dia benar, aku tidak boleh besar kepala. Kebaikannya hanyalah sisa-sisa kemanusiaan, bukan sisa-sia perasaan.
Sesampainya di apartemen, Danesha membantuku sampai ke dalam kamar. Ia bahkan sempat merebus air dan memastikan aku minum vitamin lagi sebelum ia pamit pulang.
Begitu pintu apartemen tertutup dan aku benar-benar sendirian, sunyi kembali menyerang. Aku menatap plastik obat di atas nakas. Gema masa lalu seolah berbisik, mengingatkanku pada ribuan kali Baskara merawatku dengan sabar, tanpa pernah meminta ganti, tanpa pernah menghina.
Kini, aku mendapatkan perawatan yang sama, namun dengan rasa yang sangat berbeda. Dulu terasa manis namun tak kuhargai, sekarang terasa pahit namun sangat kubutuhkan. Aku meringkuk di balik selimut tebal, menggigil bukan hanya karena demam, tapi karena menyadari betapa dinginnya hidup tanpa kehangatan tulus yang dulu kusia-siakan.