Katarina Ayudia adalah siswi genius penerima beasiswa yang hidup sederhana, sementara Alarick Valerius adalah putra tunggal konglomerat sekaligus ketua geng motor yang ditakuti. Cinta mereka yang membara harus menghadapi tembok besar bernama Victoria Valerius, ibu Alarick, yang merancang fitnah keji untuk memisahkan mereka. Victoria mengancam masa depan Kate dan memanipulasi Alarick hingga pria itu percaya bahwa Kate adalah gadis oportunis yang telah mengkhianatinya dengan banyak pria.
Perpisahan pahit selama bertahun-tahun meninggalkan luka mendalam, Kate hidup dalam kemiskinan dan kerja keras demi bertahan hidup, sementara Alarick tumbuh menjadi CEO dingin yang menderita trauma psikologis berupa rasa mual hebat setiap kali menyentuh Kate karena bayangan fitnah masa lalu.
langsung baca aja dear😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun Diatas Luka Yang Kering
Alarick baru saja hendak menyeduh kopi untuk Kate, matanya masih memancarkan kelembutan yang jarang terlihat. Namun, saat ia membuka tab trending di media sosial, wajahnya berubah pucat pasi. Rahangnya mengatup begitu keras hingga urat-urat di lehernya menonjol.
Pagi yang seharusnya menjadi awal baru yang tenang di pondok tepi danau itu mendadak berubah menjadi neraka dalam hitungan detik.
Sebuah unggahan dari akun anonim yang kemudian dikonfirmasi oleh Bara Mahendra meledak. Di sana, Bara mengunggah foto-foto lama saat Kate terlihat keluar dari sebuah hotel bersamanya, foto hasil rekayasa sudut pandang (angle) yang sangat rapi. Namun yang paling mematikan adalah caption yang ditulis Bara:
"Selama Lima tahun ini, dia bukan hanya milik satu orang. Aku tahu persis bagaimana rasanya menghabiskan malam-malam panjang bersamanya, Dia genius, bukan? Terutama dalam urusan memuaskan pria."
Kate, yang baru saja keluar dari kamar dengan wajah segar, merasakan firasat buruk saat melihat punggung Alarick yang menegang. "Al? Ada apa?"
Alarick berbalik perlahan. Matanya tidak lagi lembut. Ada kilatan luka, keraguan, dan kebencian yang kembali merayap naik. Ia melemparkan ponselnya ke atas meja kayu. "Jelaskan ini, Kate."
Kate membaca tulisan itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Ini fitnah, Al! Kamu tahu Bara benci kita. Dia bekerja sama dengan ibumu atau Elara, aku tidak tahu, tapi ini tidak pernah terjadi!"
"Tapi fotonya nyata, Kate!! Kamu di depan hotel itu, jam dua malam, dua tahun lalu!" suara Alarick meninggi.
"Malam itu aku bekerja sebagai pelayan tambahan di acara perjamuan hotel, Al! Aku pulang lewat pintu belakang dan Bara mencegatku hanya untuk menghinaku! Dia sengaja mengambil foto itu!" Kate berteriak, air mata mulai mengalir deras di pipinya. "Demi Tuhan, Al, jangan percaya dia!"
Melihat wajah Kate yang menangis, Alarick ingin percaya. Namun, kata-kata Bara yang begitu deskriptif seolah menjadi pemicu bagi trauma psikologis yang belum sepenuhnya sembuh. Bayangan Kate disentuh pria lain, pria yang paling ia benci di dunia, kembali meracuni syarafnya.
Seketika, perut Alarick bergejolak. Rasa mual yang hebat itu kembali. Ia mencengkeram pinggiran meja, wajahnya berubah menjadi hijau pucat.
"Ugh...Uhuk Uhuk!" Alarick terhuyung ke arah kamar mandi. Suara ia memuntahkan isi perutnya kembali terdengar, lebih parah dari sebelumnya. Ia memuntahkan semua rasa percaya yang baru saja ia bangun.
Kate berlari mengejarnya, bersimpuh di depan pintu kamar mandi yang terbuka. "Alarick, kumohon... jangan seperti ini. Kamu menyakitiku. Kamu membuatku merasa seperti sampah padahal aku menjaga diriku hanya untukmu!"
Alarick keluar dengan napas tersengal, ia menatap Kate dengan tatapan yang sangat menyesakkan.
"Aku ingin percaya padamu, Kate... tapi setiap kali aku melihatmu sekarang, kepalaku membayangkan Bara... membayangkan tangan kotornya di kulitmu... dan aku merasa ingin mati karena jijik!"
Kate merasa sesak. Dadanya terasa seperti dihantam batu besar. Ia tidak bisa lagi hanya diam dan membela diri dengan kata-kata. Ia harus menghancurkan keraguan Alarick, atau hubungan mereka akan berakhir selamanya di tempat ini.
"Kamu ingin bukti, Al?" Kate berdiri dengan tubuh gemetar. Ia menghapus air matanya dengan kasar. "Kamu ingin tahu siapa yang benar?"
Dengan tangan yang gemetar hebat, Kate mulai membuka kancing kemeja yang ia kenakan.
"Kate, apa yang kamu lakukan?" Alarick mencoba membuang muka, mualnya masih terasa.
"Lihat aku, Alarick Valerius!" teriak Kate, suaranya pecah oleh tangis yang paling menyakitkan. "Lihat tubuh yang kamu bilang bekas ini! Selama Lima tahun ini, aku bekerja sampai pingsan hanya agar aku tidak punya waktu untuk memikirkan pria lain! Aku menahan lapar agar aku bisa tetap bangga bahwa satu-satunya pria yang pernah menyentuhku adalah kamu!"
Kate melangkah mendekat, menarik tangan Alarick yang dingin dan meletakkannya tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang.
"Sentuh aku, Al. Masuki aku malam ini juga. Jika kamu menemukan bahwa aku berbohong, jika kamu menemukan bahwa aku tidak lagi utuh untukmu, maka silakan bunuh aku atau buang aku ke danau itu!" Kate terisak, suaranya sangat lirih sekarang.
"Tapi aku bersumpah demi nyawa bibiku... tidak pernah ada siapapun yang memasukiku. Tidak Bara, tidak pria kaya pilihan ibumu, tidak siapapun. Selain jarimu... selain bibirmu... aku masih sama seperti Kate yang kamu kenal di SMA Pelita."
Alarick menatap mata Kate yang penuh dengan keputusasaan yang jujur. Di sana tidak ada kebohongan, hanya ada luka yang sangat dalam karena tidak dipercayai oleh orang yang paling ia cintai.
"Aku menjaganya untukmu, Al... meski dunia menghinaku, aku menjaganya hanya untukmu..."
Kate luruh di depan Alarick, memeluk kaki pria itu sambil terisak hebat. "Jangan mual lagi karena aku... kumohon... itu membunuhku pelan-pelan."
Melihat kehancuran Kate, mual di perut Alarick perlahan sirna, berganti dengan rasa benci yang luar biasa pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia begitu lemah? Bagaimana bisa ia membiarkan fitnah Bara Mahendra merusak sisa-sisa kepercayaan gadis ini?
Alarick berlutut, menarik Kate ke dalam dekapannya. Ia menangis bersama Kate. "Maafkan aku... aku monster, Kate. Aku monster karena meragukanmu."
"Buktikan padaku, Al," bisik Kate di sela isakannya. "Buktikan kalau kamu tidak jijik padaku."
Alarick tidak lagi ragu. Ia mengangkat tubuh Kate, membawanya kembali ke tempat tidur. Malam itu, ia menciumi setiap inci tubuh Kate dengan penuh pemujaan, seolah ingin menghapus setiap kata kotor yang pernah diucapkan Bara.
Ia membuktikan sendiri. Melalui setiap sentuhan, melalui setiap reaksi tubuh Kate yang masih begitu murni dan hanya mengenali sentuhannya, Alarick menyadari betapa besarnya pengorbanan Kate. Tidak ada mual lagi. Hanya ada gairah yang bercampur dengan rasa hormat yang amat sangat dalam.
Di malam yang dingin itu, di pondok yang sunyi, Alarick benar-benar menyatu dengan Kate, bukan hanya secara fisik, tapi secara jiwa. Ia menyadari bahwa ia baru saja menyia-nyiakan permata yang paling berharga hanya karena bayangan palsu yang diciptakan musuh-musuhnya.
Esok paginya, Alarick bangun dengan mata yang menyimpan kemarahan yang tenang namun mematikan. Ia menatap Kate yang tertidur lelap di sampingnya, tampak begitu damai setelah badai semalam.
Alarick mengambil ponselnya, menghubungi Rio.
"Rio, kumpulkan semua bukti tentang foto rekayasa Bara Mahendra. Dan siapkan konferensi pers sore ini di kantor pusat Valerius Group."
"Lo mau ngapain, Al?"
"Gue mau menghancurkan Bara Mahendra sampai dia memohon untuk mati. Dan setelah itu... gue akan menjemput Ibu. Permainan ini sudah terlalu jauh. Mereka sudah membuat wanitaku menangis darah, dan sekarang, mereka harus membayar harganya."
Alarick mencium kening Kate sekali lagi sebelum pergi. "Tunggu aku di sini, Sayang-ku. Saat aku kembali, tidak akan ada lagi yang berani menyebut namamu dengan nada menghina."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading😍