Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EVOLUSI MELALUI KESAKITAN
Empat puluh lima menit tersisa.
Bahu kiri masih berdarah meskipun sudah mulai beku karena adrenalin. Tiga Singa Neraka terus mengelilingi dengan pola berburu yang sangat terkoordinasi.
Mereka tidak menyerang bersamaan. Justru bergantian—satu serang dari depan untuk mengalihkan perhatian, dua lainnya cari celah dari samping atau belakang.
Strategi berburu kelompok yang sempurna.
Haki Pengamatan bekerja maksimal untuk memprediksi gerakan mereka. Tapi ada jeda—aku bisa memprediksi tapi tubuh tidak selalu bisa bereaksi cukup cepat karena kelelahan dan luka.
Singa pertama melesat dari kiri dengan kecepatan tinggi.
Aku menghindar ke samping—tapi singa kedua sudah menunggu di posisi itu dengan cakar terayun.
"Sialan!"
Menahan dengan Hinokami—benturan mendorong tubuhku mundur tiga meter.
Singa ketiga langsung memanfaatkan celah itu—melompat dari belakang dengan taring terbuka lebar.
Tidak sempat berbalik!
Aku cuma bisa memutar tubuh sedikit—taring yang seharusnya mengenai leher cuma mengenai bahu kanan.
Gigi tajam menembus daging. Darah menyembur keluar.
"GYAAAHHH!"
Sakit luar biasa. Seperti ditusuk seratus jarum sekaligus.
Tapi rasa sakit juga memicu sesuatu.
Sesuatu di dalam diriku terbangun.
Haki Pelindung tiba-tiba mengalir ke seluruh tubuh tanpa kontrol sadar—murni insting untuk bertahan hidup.
Tubuhku mengeras dengan Pengerasan—tidak hanya di satu bagian tapi SELURUH TUBUH.
Singa yang menggigit bahuku terkejut—giginya tidak bisa menembus lebih dalam karena bertemu lapisan Haki keras seperti baja.
Aku gunakan kesempatan itu. Kepala mundur lalu menghantam hidung singa dengan Haki Pelindung penuh.
Singa terlempar—melepaskan gigitan.
Aku langsung menebas dengan Hinokami ke arah dua singa lain yang mencoba menyerang—
Gelombang energi keluar dari pedang meskipun aku tidak boleh menggunakan Buah Iblis.
Tunggu. Ini bukan api dari Buah Api.
Ini energi dari Haki Pelindung yang berkembang—menciptakan efek tambahan yang mirip api tapi sebenarnya murni energi Haki.
Dua singa terkena gelombang—terpental mundur dengan luka bakar dari gesekan Haki.
Aku terengah berat. Energi terkuras banyak dari perkembangan mendadak itu.
Tapi aku bisa merasakan. Haki Pelindung naik tingkat. Tidak banyak tapi jelas ada peningkatan.
Tiga puluh lima menit tersisa.
Singa-singa bangkit lagi. Mereka terlihat lebih hati-hati sekarang—tahu aku jadi lebih berbahaya.
Tapi mereka tidak mundur. Malah geraman jadi lebih keras—marah dan siap menyerang dengan lebih brutal.
Aku mengambil posisi tempur dengan Hinokami. Napas diatur dengan teknik yang diajarkan Yamamoto—lambat dan dalam untuk memaksimalkan pemulihan tenaga bahkan dalam pertempuran.
Di sisi lain hutan, Sabo menghadapi situasi yang tidak kalah putus asa.
Dua Singa Neraka yang mengejarnya lebih kecil dari yang mengejar Ace—tapi lebih cepat dan lebih lincah.
Sabo sudah terluka di beberapa tempat—goresan dalam di lengan kiri, luka gigitan di paha kanan, dan beberapa luka ringan di wajah dan dada.
Darah mengalir dari luka-luka itu tapi dia tidak punya waktu untuk merawat.
Dua singa terus menyerang dengan pola yang sulit diprediksi—bahkan dengan Penglihatan Masa Depan sepuluh detik.
Bukan karena Penglihatan Masa Depan tidak bekerja. Tapi karena singa bergerak dengan murni insting—tidak ada niat yang jelas untuk dibaca oleh Haki Pengamatan.
Mereka bergerak berdasarkan refleks murni yang berubah-ubah setiap sepersekian detik.
Dia harus menyesuaikan. Harus cari cara baru gunakan Haki Pengamatan.
Tidak hanya membaca niat tapi membaca gerakan otot—memprediksi gerakan dari kontraksi otot yang sangat kecil.
Dia fokus lebih dalam. Haki Pengamatan aktif maksimal—bukan ke otak singa tapi ke otot-otot di kaki dan cakarnya.
Singa kiri—otot kaki belakang berkontraksi sedikit. Artinya akan melompat ke kanan dalam sepertigapuluh detik.
Singa kanan—otot bahu bergetar. Artinya akan mencakar dari atas dalam setengah detik.
Sabo bergerak duluan. Menghindar ke posisi yang belum diserang sebelum singa bahkan memulai gerakan.
"Berhasil!"
Tapi itu baru satu pertukaran. Dia harus mempertahankan tingkat fokus ini untuk tiga puluh menit lebih.
Sangat menguras mental.
Singa menyerang lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Sabo menghindar dengan prediksi gerakan otot—akurasi meningkat drastis.
Lima menit berlalu tanpa terkena serangan sama sekali.
Tapi konsentrasi di tingkat ini tidak bisa dipertahankan lama. Kepala mulai pusing. Penglihatan sedikit kabur.
Haki Pengamatan kelebihan beban—terlalu banyak informasi diproses sekaligus.
Singa kiri melompat. Sabo memprediksi dan menghindar—
Tapi terlambat sepersepuluh detik karena kelelahan mental.
Cakar sempat menyentuh rusuk—meninggalkan goresan tidak terlalu dalam tapi cukup untuk membuat sakit luar biasa.
Sabo jatuh berlutut—napas tercekat dari sakit.
Singa kanan melihat celah. Langsung melesat dengan taring terbuka untuk gigitan terakhir.
Waktu terasa melambat.
Sabo bisa melihat singa mendekat dengan gerakan lambat—tapi tubuh tidak bisa bergerak karena rasa sakit dari rusuk.
Tidak mau mati disini.
Tidak setelah semua yang sudah dilalui.
Tidak sebelum melihat Luffy jadi Raja Bajak Laut.
TIDAK!
Sesuatu di dalam Sabo meledak.
Haki Penakluk—meskipun tidak boleh dipakai—keluar refleks karena kehendak untuk hidup sangat kuat.
Gelombang tekanan spiritual meledak dari tubuhnya—menghantam dua singa dengan kekuatan yang jauh lebih kuat dari Haki Penakluk biasanya.
Dua singa terlempar mundur sepuluh meter—pingsan seketika karena tekanan.
Sabo terengah berat—berlutut dengan napas hampir berhenti.
"Aku... pakai Haki Penakluk... tapi... itu keluar sendiri... bukan sengaja..."
Dari balik pohon, Yamamoto muncul sambil mencatat di buku kecil.
"Ledakan Haki Penakluk yang tidak disengaja karena insting bertahan hidup. Itu tidak masalah—bahkan itu tanda bagus. Berarti Haki Penaklukmu sudah menyatu dengan refleks bertahan hidup."
"Tapi... aturannya..."
"Aturan ada untuk mendorong kalian. Tapi aku tidak akan membiarkan kalian mati sungguhan. Kau sudah mencapai batas untuk hari ini. Istirahat."
Yamamoto melempar obat dan perban.
"Rawat lukamu. Ace masih ada dua puluh menit lagi. Setelah dia selesai, kalian berdua istirahat penuh hari ini dan besok lanjut lagi."
Sabo mengangguk lemah—terlalu lelah untuk bicara. Dia mulai merawat luka sambil bermeditasi untuk pemulihan mental dan spiritual.
Lima belas menit tersisa.
Ace sudah dalam kondisi sangat buruk. Luka di bahu kiri dan kanan masih berdarah. Beberapa tulang rusuk retak dari benturan. Energi hampir habis.
Tapi mata masih tajam. Fokus masih ada.
Tiga singa juga tidak dalam kondisi baik—semua punya luka bakar dan patah tulang dari serangan Ace. Tapi mereka masih bisa bertarung.
Singa menyerang dengan putus asa—mereka juga tahu waktu hampir habis dan mau menang sebelum itu.
Kombinasi serangan dari tiga arah bersamaan—tidak ada ruang menghindar.
Ace tidak menghindar.
Malah maju langsung ke tengah formasi mereka.
"Kalau tidak bisa hindari—hancurkan!"
Hinokami menyala dengan Haki Pelindung yang berkembang tadi—menciptakan efek seperti api tapi murni energi Haki.
Tebasan tiga ratus enam puluh derajat dengan kecepatan sangat tinggi—menciptakan gelombang energi melingkar yang menghantam ketiga singa sekaligus.
Ledakan energi melempar semua—termasuk Ace sendiri—ke arah berlawanan.
Ace jatuh keras—punggung menghantam pohon dengan bunyi yang menyakitkan.
Tapi dia berdiri lagi dengan susah payah—menggunakan Hinokami sebagai penopang.
Tiga singa juga berdiri—meskipun sempoyongan dan terluka parah.
Mereka saling tatap. Tidak ada yang mau mundur. Tapi juga tidak ada yang punya energi untuk serangan besar lagi.
Peluit Yamamoto berbunyi—tanda waktu habis.
"SATU JAM! LATIHAN SELESAI!"
Ace langsung kolaps—jatuh berlutut dengan napas terputus-putus.
Tiga singa juga kolaps—terlalu lelah untuk bahkan bergerak.
Yamamoto muncul dan langsung periksa kondisi Ace.
"Luka berat di kedua bahu, rusuk retak, kehilangan banyak darah, energi spiritual hampir habis total..." dia bergumam sambil mengeluarkan obat dan perban. "Tapi kau bertahan. Bahkan berkembang di tengah pertempuran."
"Haki Pelindung naik tingkat?" Ace bertanya lemah.
"Lebih dari itu. Kau mulai kembangkan Haki Pelindung Tingkat Lanjut versimu sendiri—yang menciptakan efek panas dari gesekan energi Haki. Itu langkah bagus."
Yamamoto merawat luka dengan cepat dan ahli.
"Sekarang istirahat. Besok kita lanjut dengan latihan berbeda tapi sama brutalnya."
Yamamoto membantu Ace berdiri dan membawanya kembali ke gubuk.
Di gubuk, Dadan langsung panik melihat kondisi mereka berdua yang penuh luka.
"Kalian gila! Ini latihan atau percobaan bunuh diri?!" dia berteriak sambil siapkan air hangat dan kain bersih untuk membersihkan luka.
"Latihan untuk bertahan hidup melawan musuh yang jauh lebih kuat," Yamamoto menjawab tenang. "Dan berhasil. Mereka berdua berkembang lebih banyak dalam satu jam ini daripada sebulan latihan biasa."
"Tapi dengan harga hampir mati!"
"Tidak ada pertumbuhan tanpa risiko. Mereka sudah pilih jalan ini dengan sadar."
Dadan tidak bisa membantah. Dia hanya bisa merawat luka mereka sambil bergumam khawatir.
Luffy yang melihat kondisi kakak-kakaknya langsung menangis.
"Ace-nii! Sabo-nii! Kenapa banyak luka?!"
"Kami latihan, Luffy. Supaya bisa jadi lebih kuat," Ace menjawab sambil tersenyum meskipun sakit.
"Tapi Luffy tidak mau Ace-nii dan Sabo-nii terluka seperti ini..."
"Ini perlu. Supaya kami bisa lindungi Luffy dari musuh yang sangat kuat nanti."
Luffy mengusap air mata. "Maka Luffy juga akan latihan keras! Supaya bisa bantu Ace-nii dan Sabo-nii!"
"Bagus. Tapi kau latihan dengan cara yang aman dulu. Jangan seperti kami."
Setelah luka dirawat dan makan malam selesai, Ace dan Sabo berbaring di kasur dengan tubuh penuh perban.
"Besok lebih brutal lagi katanya," Sabo bergumam sambil menatap langit-langit.
"Kita sudah terlanjur pilih jalan ini. Tidak ada mundur."
"Aku tahu. Cuma... ini lebih sakit dari yang kukira."
"Tapi berhasil kan? Haki kita naik tingkat."
"Ya. Berhasil."
Mereka terdiam sejenak.
"Ace, menurutmu kita bisa capai tingkat Laksamana dalam tiga bulan?"
"Entah. Tapi kita harus coba. Tidak ada pilihan lain."
Sabo mengangguk. Tidak lama kemudian, kelelahan mengalahkan rasa sakit dan mereka berdua tertidur.