NovelToon NovelToon
Cinta Maraton

Cinta Maraton

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: Eli Elita Septiyani

menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang mencari cinta sejatinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Elita Septiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan Umimu, Bukan Pilihan Hatimu

Kukira istriku cuma paham sumur-dapur-kasur. Tapi saat kontrak 50 Miliar di ujung tanduk, justru wanita udik itulah yang menyelamatkan perusahaan dengan cara yang tak terduga! (2)

Zaki dan Syaza berkendara dalam hening. Malam ini ada acara makan malam di rumah Umi Halimah.

"Ingat, jangan pasang muka menyedihkan supaya Umi tidak curiga kalau kita tidur terpisah."

"Baik, Mas."

Begitu sampai, Umi Halimah langsung menyambut dengan wajah berseri.

Syaza menyalami tangan mertuanya dengan takzim. Umi Halimah memeluk Syaza erat.

“Lihatlah,” batin Zaki sinis. “Dia lebih terlihat seperti anak kandung daripada aku.”

Kyai Abdullah sedang ada acara di luar kota, jadi makan malam ini hanya milik mereka bertiga.

"Ayo dimakan, Zaki. Ini Syaza lho yang milih ikannya di pasar sebelum dia ke kantor yayasan," ujar Umi Halimah antusias sambil menyendokkan kuah gulai ke piring Zaki.

"Syaza ke kantor yayasan? Ada urusan apa? Bukannya kamu sibuk beres-beres rumah?"

"Lho, kamu tidak tahu? Hari ini jadwal audit bulanan koperasi pondok. Kalau tidak ada Syaza, duh, Umi pusing lihat angka-angka itu. Syaza itu cekatan, Zak. Tadi dia nemu selisih hitungan dari supplier beras yang hampir merugikan kita lima juta. Langsung beres sama dia."

Nemu selisih lima juta?

Ah, pasti hanya kebetulan. Siapa pun bisa melakukannya asal teliti. Tidak ada yang spesial.

"Zaki bisa bayar akuntan profesional kalau Umi mau. Syaza belum tentu sempat mengurus koperasi pondok setelah menikah.”

"Tidak apa-apa, Mas. Saya senang mengerjakannya," jawab Syaza lembut.

"Tuh kan, Zak," timpal Umi. "Lagi pula Umi tidak percaya sama orang luar. Sejak Syaza pegang pembukuan, Alhamdulillah koperasi tidak pernah defisit lagi. Umi tenang kalau Syaza yang pegang stempel."

Selera makan Zaki menguap. Pujian dari Umi sangat mengganggu di telinganya. Itu artinya Syaza punya kuasa dan kendali. Dan bagi Zaki, itu mencurigakan.

Seorang wanita dari keluarga miskin, tiba-tiba diberi akses ke keuangan yayasan besar, lalu dinikahkan dengan salah satu pewarisnya.

Sepanjang sisa makan malam, Zaki hanya diam mendengarkan Umi yang terus memuji betapa salehah dan pintarnya Syaza. Ia merasa Syaza adalah parasit yang perlahan menggerogoti logika ibunya.

Dalam perjalanan pulang, Zaki memacu kendaraan lebih kencang. Syaza mengeratkan pegangan pada sabuk pengaman.

"Hebat ya kamu. Di depan Umi, kamu pasang muka polos seolah-olah kamu itu malaikat penolong yayasan. Padahal itu caramu menjebak Umi, kan?" tuduhnya.

"Apa sebenarnya tujuanmu menikah denganku? Harta keluarga pesantren? Status sosial? Atau kamu memang haus kekuasaan?"

Zaki memegang setir erat.

"Kamu manfaatkan kepercayaan Umi. Kamu buat Umi ketergantungan sama kamu soal keuangan. Supaya kalau kita bercerai, yayasan akan goyah. Cerdas juga taktikmu untuk ukuran orang kampung."

"Kalau Mas pikir saya gila harta, Mas Zaki salah besar," balas Syaza tenang.

"Saya mengelola keuangan yayasan sejak 3 tahun lalu, saat kondisi kas pondok minus 200 juta karena salah urus. Abah Kyai hampir menjual tanah wakaf.”

Mata Zaki membelalak sedikit. Ia tidak pernah tahu soal defisit itu.

"Saya yang mengajukan proposal restrukturisasi, memangkas biaya operasional yang tidak perlu, negosiasi ulang kontrak dengan supplier, dan mengalihkan sebagian dana ke instrumen investasi syariah yang aman."

"Hasilnya? Tahun lalu profit bersih unit usaha pondok naik 20%. Utang lunas. Dan gaji petugas kebersihan bisa naik dua kali lipat."

"Dan soal gaji saya," lanjut Syaza. "Saya tidak mengambil sepeser pun gaji dari yayasan. Saya wakafkan tenaga dan pikiran sebagai bakti kepada guru saya, Umi Halimah."

"Mas Zaki boleh menghina fisik saya. Mas boleh jijik melihat daster gombrong atau masakan saya yang berminyak. Tapi tolong, jangan pernah ragukan integritas saya. Saya menikah dengan Mas bukan untuk mengeruk harta atau naik kasta,” terangnya panjang lebar.

Zaki tidak menjawab. Ia tidak bisa menjawab.

Ternyata, selama ia sibuk kuliah di Jerman dan bersenang-senang dengan dunianya, wanita di sampingnya inilah yang menyelamatkan salah satu lini bisnis pesantren dari kebangkrutan.

“Sial,” batin Zaki. “Siapa sebenarnya kamu, Syaza?”

Mercedes-Benz hitam mengkilap milik Zaki terpaksa berhenti di mulut gang. Mesinnya menderu pelan, kontras dengan hiruk-pikuk suara motor knalpot brong dan teriakan anak-anak kecil yang bermain layangan di lapangan terdekat.

"Serius rumah orang tuamu masuk ke dalam situ?" tanya Zaki, menatap lorong sempit yang becek sisa hujan semalam dengan tatapan tidak percaya.

Saat orang tuanya melamar Syaza, Zaki masih di Jerman. Ia hanya mendengar cerita tentang keluarga wanita itu dari uminya.

“Iya, Mas. Mobil tidak bisa masuk. Kita harus jalan kaki sekitar seratus meter."

"Astaga ... kenapa, sih, Umi maksa banget kita datang hari ini? Padahal saya bisa transfer uang buat biaya berobat Bapak kamu. Tidak perlu repot-repot jenguk langsung."

"Bapak cuma mau ketemu anaknya, Mas. Bukan mau minta uang," jawab Syaza pelan sambil membuka pintu mobil.

Dengan wajah masam, Zaki terpaksa turun. Ia memandang sepatu kulit mahalnya, lalu memandang jalanan gang yang berlumpur.

Sial. Sepatu jutaan rupiah ini harus mencium tanah becek perkampungan kumuh.

"Hati-hati melangkah, Mas. Jalanan licin." Syaza mengingatkan.

Zaki tidak menjawab. Ia berjalan di belakang Syaza sambil menutup hidung dengan sapu tangan. Aroma selokan yang mampet bercampur sampah warga yang dibuang sembarangan membuat perutnya mual.

Ia mempercepat langkah, ingin segera menyelesaikan mandat dari Umi dan kembali ke kenyamanan AC mobilnya.

"Sudah sampai, Mas," ucap Syaza tatkala berhenti di depan sebuah rumah petak sederhana.

Rumah itu kecil. Dindingnya dicat warna hijau muda yang sudah mulai mengelupas di sana-sini. Atap asbesnya terlihat berlumut. Di teras sempit itu, ada sebuah kursi panjang dari kayu yang kakinya sudah keropos.

Zaki menelan ludah. Ia tahu Syaza bukan dari keluarga berada, tapi tidak menyangka akan seburuk ini.

"Assalamualaikum, Pak, Bu ….”

"Wa’alaikumussalam."

Terdengar suara batuk berat dari dalam disusul suara langkah kaki yang diseret.

Pintu terbuka, menampakkan sosok laki-laki tua kurus dengan sarung lusuh dan kaus oblong. Wajahnya pucat, matanya cekung, tapi senyumnya merekah lebar begitu melihat siapa yang datang.

"Masya Allah ….”

Lelaki itu merentangkan tangan. Syaza langsung menghambur memeluk dan mencium punggung tangan keriput itu dengan takzim.

“Maaf baru baru sempat ke sini, Pak.”

Zaki berdiri kaku. Saat Bapak Syaza mengulurkan tangan padanya, ia hanya menyentuh ujung jari lalu menarik kembali secepat kilat.

"Ayo, masuk. Maaf rumahnya berantakan," ajak Pak Daud dengan suara parau.

Mereka masuk ke ruang tamu yang ukurannya tidak lebih luas daripada garasi rumah Zaki. Udara di dalam terasa panas dan lembap. Hanya ada kipas angin kecil yang berputar berisik di sudut ruangan.

Zaki duduk di kursi tua yang busanya sudah kempes. Punggungnya tegak, berusaha meminimalkan kontak tubuh dengan perabotan di situ.

“Ada salam dari Umi, Pak. Mohon maaf belum bisa datang langsung," ujar Zaki.

Bapak Syaza mengangguk takzim. "Waalaikumsalam warahmatullah. Sampaikan terima kasih kami ke beliau.”

"Bapak sakit apa? Sudah ke dokter?" tanya Syaza cemas sambil memijat bahu lelaki setengah abad itu.

"Cuma batuk biasa. Namanya juga orang tua. Kena angin malam sedikit langsung begini. Tidak usah khawatir."

Tak lama kemudian, Ibu Syaza keluar membawa nampan berisi tiga gelas teh manis hangat dan sepiring pisang goreng yang masih mengepul.

"Silakan diminum, Nak Zaki. Ini pisang kepok dari kebun belakang, manis lho," tawar Bu Wida dengan senyum ramah.

Zaki hanya mengangguk dan berterima kasih. Sampai teh itu dingin, tidak sekali pun ia mengambilnya.

Selama Syaza dan orang tuanya mengobrol, Zaki hanya diam saja. Bu Wida pun berinisiatif mengambil sesuatu dari dalam kamar.

“Ini album foto Syaza sejak kecil sampai menikah. Barangkali Nak Zaki mau lihat. Kalian kan belum lama saling kenal,” kata Bu Wida ketika menyerahkan sebuah buku tebal bersampul kusam.

“Ih, Ibu, aku malu ….”

Syaza berusaha mencegah, tapi tangan Zaki sudah lebih dulu terulur untuk mengambil album tersebut.

Zaki membuka lembar demi lembar. Sejak kecil, Syaza ternyata sudah sering memenangkan berbagai perlombaan dan menerima piagam penghargaan.

“Cantik, ya? Ini foto waktu Syaza wisuda. Di kampung ini, dia orang pertama yang berhasil meraih gelar sarjana.” Pak Daud tidak bisa menyembunyikan nada bangga dari suaranya.

“Oh, lulusan Administrasi Bisnis dari kampus swasta lokal,” komentar Zaki pendek.

“Dia sebenarnya diterima di kampus negeri nomor satu di Indonesia. Tapi karena beasiswa pesantren dan Umi Halimah tidak merestui kalau terlalu jauh, jadi ambil yang dekat supaya tetap bisa mengabdi di pondok."

Lelaki itu mengangkat alis, tidak sepenuhnya mempercayai pernyataan ibu mertuanya. Ia lantas menutup album foto dan menaruhnya di meja.

Merogoh saku jas, Zaki mengeluarkan sebuah amplop putih. Ia meletakkannya di atas meja kayu yang taplaknya bolong-bolong.

“Ini buat Bapak berobat ke dokter spesialis. Jangan ditunda supaya cepat sembuh. Biar Syaza tidak kepikiran dan merengek terus minta pulang," tambah Zaki.

Hening. Syaza mengangkat wajahnya, memandang Zaki dengan tatapan tidak percaya.

Pak Daud mengambil lalu menyodorkannya kembali ke arah Zaki.

"Kenapa dikembalikan?"

Pak Daud tersenyum. Senyum yang sangat teduh, tapi sorot matanya menyiratkan luka.

“Terima kasih atas niat baiknya. Simpan saja uang itu atau gunakan untuk membahagiakan Syaza. Kami menikahkan Syaza untuk menjadi istri salihah, bukan untuk jadi perantara meminta sedekah."

Wajah Zaki memerah padam. Telinganya panas.

Ia merasa ditampar bolak-balik tanpa disentuh. Niatnya pamer kemampuan finansial, tapi justru ia yang terlihat kerdil di hadapan lelaki tua bersarung lusuh ini.

Zaki menyambar amplop itu dengan kasar, memasukkannya kembali ke saku jas.

"Terserah Bapak kalau memang mau menolak rezeki," ucap Zaki ketus, menutupi rasa malunya dengan kemarahan. Ia berdiri tiba-tiba.

"Syaza, ayo pulang. Saya ada meeting daring jam dua."

Dengan berat hati, Syaza mengikuti perintah suaminya. Ia tak sampai hati jika orang tuanya mendengar omongan pedas Zaki lebih banyak.

Di dalam mobil, Syaza tak dapat membendung amarahnya.

“Saya bisa menahan diri di depan Umi Halimah, tapi kenapa Mas Zaki tidak bisa melakukan hal yang sama di depan orang tua saya?” tuntutnya.

"Mas Zaki tahu kenapa Bapak menolak?"

"Karena kurang banyak,” jawab Zaki kasar.

"Bukan," potong Syaza tegas. "Karena cara Mas memberi itu bukan seperti anak memberi pada orang tua. Tapi seperti majikan memberi pada pengemis."

Zaki mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu. Beberapa saat kemudian, notifikasi ponsel Syaza berbunyi.

[Ilyasa Zaki Farabi telah mengirimkan uang sebesar 50.000.000 ke rekening Anda]

"Pakai itu untuk renovasi rumah. Pasang keramik baru, cat ulang, dan beli sofa baru. Nanti saya kasih lagi buat pasang AC biar tidak gerah kalau bertamu,” ucapnya enteng sambil menginjak pedal gas.

Rahang Syaza mengeras. Tenggorokannya terasa kering.

“Benar kata orang, kesalihan tidak diturunkan dari orang tua ke anaknya. Padahal Abah Abdullah dan Umi Halimah adalah orang yang sangat beradab, tapi anaknya bisa seperti ini!”

Ciiiitt! Zaki menginjak rem mendadak.

"Jaga mulutmu!”

"Mas Zaki yang harusnya jaga sikap," balas Syaza sengit.

"Mas boleh hina fisik saya. Mas boleh bilang saya kampungan, bau bawang, atau tidak selevel dengan teman-teman Mas. Saya terima."

Air mata Syaza jatuh satu per satu, tapi suaranya tidak goyah.

"Tapi jangan pernah ... jangan pernah sekali-kali Mas coba beli harga diri kami dengan uang! Bapak saya memang miskin harta, Mas. Tapi hatinya jauh lebih kaya daripada Mas Zaki yang merasa bisa membeli segalanya!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!