Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjuangan Tasya
Dua minggu setelah acara keluarga Kay, hubungan Kay dan Bima mulai menemukan ritmenya. Mereka punya rutinitas sederhana: Bima jemput Kay setelah kuliah, makan siang di warteg langganan, kadang nongkrong di kos sambil Bima menggambar dan Kay mengerjakan tugas. Sederhana, tapi hangat.
Tapi di balik kebahagiaan itu, ada seseorang yang tidak bisa menerima kenyataan.
---
Tasya Namira duduk di kursi teras kos Bima dengan senyum termanisnya. Hari itu ia mengenakan dress motif bunga-bunga dengan jilbab pink pastel, dandanan yang sempurna—terlalu sempurna untuk sekadar "mampir" ke kos teman.
"Bim, maaf banget ganggu. Tugas gue error terus, mentok banget. Lo bisa bantu?" Tasya menunjukkan laptopnya dengan wajah memelas.
Bima menatap layar laptop itu sebentar. "Error apa?"
"Ini looping-nya nggak jalan. Gue udah ikutin modul tapi tetep error."
Bima menghela napas. Sebenarnya ia sedang mengerjakan tugas sendiri dan besok ada orderan ojek pagi. Tapi melihat Tasya yang sudah datang jauh-jauh—dengan alasan "kebetulan lewat"—ia merasa tidak enak hati.
"Masuk," katanya singkat.
Tasya tersenyum lebar, lalu masuk ke kamar Bima yang sempit. Ini kedua kalinya ia ke sini, dan ia sudah hafal betul suasana kamar itu. Dinding penuh sketsa, tumpukan buku, dan bau khas kamar laki-laki yang sederhana.
Matanya langsung tertuju pada satu sketsa yang ditempel di dekat meja—sketsa Kay sedang tersenyum. Tasya menahan perasaan tidak nyaman di dadanya.
"Bim, ini gambar Kay, ya?" tanyanya pura-pura polos.
"Iya."
"Bagus banget. Lo emang jago." Tasya duduk di lantai—satu-satunya tempat duduk selain dipan—dan membuka laptopnya. "Jadi, ini error gue enggak ngerti."
Bima duduk di dipan, mengambil laptop itu, dan mulai menganalisis kode. Ia cepat menemukan masalahnya—kesalahan sintaks di bagian looping.
"Ini. Harusnya pake titik koma, bukan koma," tunjuk Bima.
Tasya mendekat, pura-pura melihat. Bahu mereka hampir bersentuhan. "Oh iya! Bodoh banget gue. Makasih, Bim!"
Bima menggeser sedikit, menjaga jarak. "Iya. Udah selesai?"
"Udah. Tapi Bim, lo bisa ajarin gue bentar? Soalnya gue masih bingung konsepnya."
Bima menatap jam. Masih ada waktu sejam sebelum ia harus narik. "Bentar aja."
---
Satu jam kemudian, Tasya masih belum beranjak. Ia terus bertanya, kadang tentang tugas, kadang tentang hal lain—hobi Bima, makanan favoritnya, apakah ia suka jalan-jalan. Bima menjawab seperlunya, tetap dengan nada datarnya.
"Bim, lo udah punya pacar kan?" tanya Tasya tiba-tiba.
Bima menatapnya. "Iya."
"Kay? Yang anak FEB itu?"
"Iya."
Tasya tersenyum—senyum yang tidak sepenuhnya tulus. "Cocok sih. Kay cantik, kaya, populer. Tapi Bim... lo nggak mikir apa mereka mungkin cuma kasian?"
Bima mengerutkan kening. "Maksudnya?"
Tasya menghela napas, pura-pura ragu. "Maaf ya kalo gue terlalu blak-blakan. Tapi gue denger-denger dari temen, Kay tuh orangnya baik banget, suka nolongin orang susah. Lo tahu sendiri kan, Bim, lo... ekonomi lo pas-pasan. Mungkin dia cuma..."
"Kasihan?" Bima menyelesaikan kalimatnya.
Tasya mengangguk pelan. "Gue cuma nggak mau lo sakit hati. Laki-laki kayak lo, pinter, baik, berbakat—lo pantas dapet cewek yang bener-bener sayang, bukan yang cuma kasian."
Bima diam. Kata-kata itu mengendap di kepalanya, meskipun ia berusaha mengabaikannya.
"Makasih sarannya," katanya akhirnya. "Tapi gue percaya sama Kay."
Tasya tersenyum—kali ini senyum kemenangan yang disembunyikan. "Iya, semoga aja. Oh iya, gue pamit dulu ya. Makasih banyak bantuannya."
Setelah Tasya pergi, Bima duduk termenung. Kata "kasihan" terus berputar di kepalanya. Ia ingat bagaimana reaksi keluarga Kay waktu acara ulang tahun. Ia ingat tatapan sinis, bisik-bisik, senyum canggung. Apakah Kay benar-benar sayang? Atau hanya merasa bertanggung jawab karena sudah masuk ke hidupnya?
---
Sore itu, Kay datang ke kos Bima dengan bekal masakan Bi Inem. Ia menemukan Bima duduk di dipan, menatap dinding dengan pandangan kosong.
"Bim? Lo kenapa?" Kay meletakkan bekal di meja, lalu duduk di samping Bima.
Bima menoleh. "Nggak. Capek."
Kay mengamati wajah Bima. Ada sesuatu yang berbeda—biasanya Bima memang datar, tapi kali ini ada kabut di matanya. Sesuatu yang mengganggu.
"Ada yang mau lo omongin?" tanya Kay lembut.
Bima menggeleng. "Nggak. Makan aja."
Kay tahu Bima tidak jujur, tapi ia tidak memaksa. Mereka makan dalam diam, tapi Kay bisa merasakan jarak yang tiba-tiba terbangun di antara mereka.
---
Sementara itu, di kampus, gosip mulai berhembus. Tasya dengan cerdik menyebarkan cerita versinya—bahwa Bima sebenarnya tidak bahagia dengan Kay, bahwa ia merasa tertekan karena selalu dibantu secara finansial, bahwa hubungan mereka hanya karena rasa kasihan Kay.
"Kasian deh Bima," kata Tasya pada teman-temannya di kantin teknik. "Dia tuh anak beasiswa, harus kerja ojek, terus dipacarin sama anak konglomerat. Pasti banyak tekanan. Mending sama orang yang setara, kayak kita-kita."
Teman-temannya mengangguk-angguk. Dalam seminggu, gosip itu menyebar ke berbagai fakultas.
---
Mika pertama kali mendengar gosip itu dari teman sekelasnya. Ia langsung menghubungi Kay.
"Kay, lo denger gosip terbaru?"
Kay yang sedang di perpus mengerutkan kening. "Gosip apa?"
"Katanya Bima nggak bahagia sama lo. Katanya lo cuma kasian sama dia, dan dia ngerasa tertekan."
Kay membeku. "Apa? Siapa yang nyebar?"
"Tasya, gue yakin. Dia mulai gerak."
Kay menghela napas panjang. "Gue tahu Tasya suka sama Bima. Tapi nyebar gosip? Nggak tahu malu banget."
"Mau lo hadapin?"
Kay berpikir sejenak. "Nanti. Sekarang gue mau ngomong sama Bima dulu. Gue rasa dia tahu sesuatu."
---
Malam harinya, Kay datang ke kos Bima tanpa kabar. Ia membawa serta Mika—sebagai pendukung moral. Mereka menemukan Bima sedang membereskan perlengkapan ojeknya.
"Bim, kita perlu ngomong," kata Kay serius.
Bima menatap mereka bergantian. "Tentang?"
"Duduk dulu."
Mereka bertiga duduk di lantai—satu-satunya tempat yang kosong. Kay memulai dengan hati-hati.
"Bim, ada yang nyebar gosip katanya lo nggak bahagia sama gue. Katanya gue cuma kasian sama lo."
Bima diam. Ekspresinya tidak berubah, tapi tangannya yang memegang helm mengerat.
"Lo tahu tentang ini?" tanya Kay.
Bima menghela napas. "Tasya pernah bilang."
Kay dan Mika bertukar pandang. "Kapan? Ngomong apa?"
"Pas dia ke sini minta bantuan tugas. Bilang... mungkin lo cuma kasian."
Mika mendengus. "Dasar ular. Dia sengaja."
Kay meraih tangan Bima. "Bim, lo percaya gosip itu?"
Bima menatapnya. Matanya rumit—antara percaya dan ragu, antara cinta dan takut. "Gue nggak tahu harus percaya apa."
Kay merasa dadanya diremas. "Bim, gue nggak pernah—"
"Gue tahu lo nggak pernah bilang kasian." Bima memotong. "Tapi kadang, tanpa lo sadari, orang bisa kasian tanpa ngomong."
"Jadi lo ragu sama gue?"
Bima tidak menjawab. Keheningan itu lebih menyakitkan daripada kata-kata.
Mika yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Bima, gue nggak kenal lo lama. Tapi dari cerita Kay, dari yang gue liat, lo tuh orang yang paling nggak suka dikasihani. Makanya lo kerja ojek, makanya lo nggak mau terima bantuan. Tapi coba lo pikir: kalo Kay cuma kasian, apa dia bakal repot-repot nyari lo pas lo ilang? Apa dia bakal nangis tiap malem mikirin lo? Apa dia bakal lawan ibunya, lawan Rendra, lawan semua orang buat lo?"
Bima terdiam.
Mika melanjutkan, "Gue tahu lo punya harga diri. Tapi jangan biarin harga diri itu nutup mata lo dari orang yang bener-bener sayang."
Kay menggenggam tangan Bima lebih erat.
"Bim, gue tahu dunia kita beda. Tapi gue milih lo. Bukan karena kasian. Tapi karena lo—lo yang gambar gue di perpus, lo yang jalan di hujan, lo yang peluk gue pas gue nangis. Lo, Bima. Cuma lo."
Bima menunduk. Pundaknya turun naik—mungkin menahan sesuatu.
"Gue takut," bisiknya akhirnya.
"Takut apa?"
"Takut suatu saat lo sadar kalo gue nggak cukup. Dan lo pergi."
Kay menarik Bima ke dalam pelukan. "Gue nggak akan pergi. Lo dengar? Nggak akan."
Bima diam dalam pelukan itu. Mika tersenyum, lalu perlahan berdiri dan keluar kamar, memberi mereka ruang.
---
Keesokan harinya, Kay memutuskan untuk menghadapi Tasya. Bukan dengan kekerasan atau kemarahan, tapi dengan cara yang lebih elegan. Ia menemui Tasya di kantin setelah muterin kampus, ditemani Mika.
"Tasya, kita perlu ngobrol," sapa Kay, duduk di hadapannya tanpa permisi.
Tasya tersenyum manis—pura-pura tidak tahu. "Hai, Kay. Ada apa?"
Kay menatapnya tajam. "Gue tahu lo nyebar gosip tentang gue dan Bima. Lo bilang gue kasian sama dia. Lo juga yang bilang ke Bima langsung."
Tasya memasang wajah polos. "Aduh, Kay. Itu cuma omongan orang. Bukan gue yang mulai."
"Tasya, kita sama-sama cewek. Kita sama-sama tahu kalo kita suka sama laki-laki. Tapi cara lo—menebar gosip, merusak hubungan orang—itu rendah."
Tasya tersenyum—kali ini senyum sinis.
"Lo pikir lo bisa menggertak gue, Kay? Lo pikir lo super karena kaya dan cantik? Gue juga punya perasaan, gue juga suka Bima. Dan gue nggak lihat salahnya gue berusaha."
"Berusaha itu beda sama merusak," sela Mika.
"Lo nggak lihat Bima bahagia sama Kay? Kenapa lo nggak bisa terima?"
Tasya menatap Mika dengan pandangan kesal.
"Lo sahabatnya, pasti bela dia. Tapi coba liat dari sisi gue: gue yang lebih dulu kenal Bima. Gue yang selalu bantuin dia. Gue yang—"
"Bima nggak pernah minta bantuan lo," potong Kay.
"Dia cuma nerima karena dia baik. Tapi lo salah kalo mengartikan itu sebagai sinyal."
Tasya membeku. Kay melanjutkan dengan nada lebih lembut.
"Tasya, gue nggak musuhin lo. Gue cuma minta lo berhenti nyebar gosip. Kalo lo suka Bima, silakan. Tapi hormati hubungan kami. Jangan jadi perusak."
Kay berdiri. Sebelum pergi, ia menambahkan, "Oh iya, gue tahu lo kemarin bikin-bikin cemburu dengan pacaran sama laki-laki lain di depan Bima. Tapi Bima nggak lihat, karena dia cuek. Dan kalo dia lihat pun, dia nggak peduli. Renungkan itu."
Kay dan Mika pergi, meninggalkan Tasya yang terpaku dengan perasaan campur aduk—malu, marah, sakit hati.
---
Malamnya, Kay mendapat telepon dari ibunya.
"Nak, Mama dengar ada gosip tentang kamu sama Bima," suara Lydia di seberang. "Itu bener? Dia nggak bahagia?"
Kay menghela napas. "Ma, itu gosip. Jangan percaya."
"Tapi Nak, kadang gosip ada benarnya. Mungkin memang kalian nggak cocok. Liat aja dari awal—"
"Ma, berhenti." Kay memotong tegas. "Ini hidup aku. Bima orangnya baik, pinter, bertanggung jawab. Dan aku sayang dia. Kalo Mama nggak bisa dukung, setidaknya jangan memperkeruh keadaan."
“Realita itu gak butuh sayang aja Kanaya”
Kay melanjutkan dengan nada lebih lembut.
"Ma, Mama tahu aku nggak pernah minta apa-apa. Tapi kali ini aku minta: percaya sama pilihan aku."
Lydia menghela napas panjang. "Nak, Mama cuma nggak mau kamu sakit hati."
"Aku tahu, Ma. Tapi bersama Bima, aku bahagia. Beneran bahagia."
Setelah telepon berakhir, Kay menatap langit-langit kamarnya. Tekanan datang dari berbagai sisi—Tasya, keluarga, bahkan dari dalam dirinya sendiri. Tapi ia tidak akan menyerah.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Bima: "Makasih udah bela gue. Makasih udah percaya."
Kay membalas: "Lo percaya gue kan?"
Bima: "Iya. Maaf sempet ragu."
Kay: "Nggak apa-apa. Yang penting sekarang kita sama-sama yakin."
Bima: "Besok gue traktir nasi goreng. Pake telur."
Kay tersenyum. Telur adalah kemewahan di kos Bima. Itu artinya ia benar-benar ingin membuat Kay bahagia.
Kay: "Gue tunggu. Jangan lupa, sayang."
Bima: "... itu kata-kata yang susah."
Kay: "LOH?"
Bima: "Hehe. Besok."
Kay tertawa. Laki-laki cuek itu sedang belajar, dan itu sudah lebih dari cukup.
---
Di kamar kosnya, Bima membuka buku sketsa. Ia mulai menggambar—Kay sedang berdiri tegar di hadapan Tasya, dengan mata berbinar penuh keyakinan. Di bawahnya, ia menulis:
"Dia membelaku tanpa ragu. Dan aku, untuk pertama kalinya, merasa pantas dibela."
Bima tersenyum. Mungkin luka harga dirinya belum sepenuhnya sembuh. Mungkin masih ada rasa takut di sana-sini. Tapi bersama Kay, ia belajar bahwa cinta tidak selalu tentang kesempurnaan.
Cinta adalah tentang memilih—setiap hari, setiap saat—untuk tetap bersama meskipun dunia tidak mendukung.