NovelToon NovelToon
Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Horor / Slice of Life / Komedi
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: W. Prata

“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”

Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.

Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 2 - CH 9 : The Unexpected Guest

Ketegangan di ruangan itu mendadak lebih pekat daripada saus demi-glace yang direbus 48 jam. Musik jazz romantis yang tadi mengalun lembut berhenti dengan bunyi SCREEECH yang menyakitkan telinga karena bassist band pengiringnya saking kagetnya sampai menjatuhkan kabel jack.

Mona seorang wanita bergaun merah menyala yang lekuk tubuhnya seolah menentang hukum fisika berdiri di tengah ruangan. Kacamata hitam oversized miliknya sudah dilepas, menampakkan sepasang mata yang menyala penuh amarah, lengkap dengan eyeliner tajam yang seolah siap menusuk bola mata Adrian.

"Nenek kamu meninggal lagi, Adrian?" suara Mona tidak berteriak, tapi intonasinya sedingin freezer penyimpan daging di ruko Bara. Dia melangkah maju. TAK. TAK. TAK. Bunyi stiletto merahnya menghujam karpet beludru, seirama dengan detak jantung Adrian yang mungkin sudah mencapai 200 BPM.

Di pojok ruangan, Bara menyandarkan punggungnya ke pilar marmer. Tangannya bersedekap.

"Tang," bisik Bara tanpa mengalihkan pandangan dari arena gladiator di depannya. "Amankan tas perkakas. Kalau ada piring melayang, jadiin badan Mang Ojak tameng. Pisau ukir gue harganya tiga ratus ribu, nggak boleh lecet."

"Mas, lo gila ya?" Lintang berbisik histeris. Posisi Lintang sekarang setengah jongkok di balik pot tanaman hias mahal, kedua tangannya memegang HP yang kameranya merekam ke arah tengah ruangan. Layarnya berkedip merah: Recording. "Ini momen emas, Mas! FYP TikTok jalur karma real-life! Hashtag-nya #LamaranMaut atau #BuayaDaratKenaAzab nih enaknya?"

"Fokus evakuasi, bego. Bukan hastag," desis Bara.

Di tengah ruangan, Sarah, sang calon pengantin yang cantik jelita, mengerutkan dahi. Kebingungan mengalahkan kemarahannya untuk saat ini. Dia menatap Adrian yang bibirnya komat-kamit tanpa suara, lalu menatap Mona.

"Maaf, Mbak ini siapa ya?" tanya Sarah dengan nada sopan yang sangat dipaksakan. "Dan apa urusannya sama neneknya Mas Adrian?"

Mona tertawa sinis. Tawa yang bikin bulu kuduk Mang Ojak berdiri. "Siapa saya? Tanya aja sama calon suami kamu yang super sibuk ini. Tanya siapa yang nemenin dia di Bali weekend kemarin waktu dia bilang ke kamu lagi 'dinas luar kota'."

GASPPP! Seruan kaget berjamaah terdengar dari barisan ibu-ibu sosialita tamu undangan. Beberapa bahkan refleks menutup mulut dengan kipas sutra mereka.

Wajah Ibu Jenderal mama dari Sarah, berubah menjadi merah padam. Urat di lehernya menonjol. "Satpam! Kenapa perempuan gila ini bisa masuk?! Seret dia keluar sekarang juga!"

"Nggak usah repot-repot nyeret saya, Tante!" Mona mengangkat tangan kirinya, memamerkan layar HP-nya yang menyala terang. "Saya bisa keluar sendiri setelah saya kasih lihat ini. Chat dari calon menantu kesayangan Tante, tadi subuh jam 4 pagi!"

Adrian akhirnya menemukan kembali pita suaranya. Dia melompat ke depan, mencoba meraih HP Mona dengan panik. "Mona, please! Kita bicarakan di luar! Lo salah paham! Ini... ini cuma acara... urusan keluarga!"

"Urusan keluarga matamu!" Mona menepis tangan Adrian dengan kasar, gerakannya secepat kilat bak petarung MMA. "Lo bilang subuh tadi pesen kue anniversary buat kita! Lo bahkan forward resi pesanannya ke gue! Mana kuenya?!"

Mata Mona dengan cepat menyapu sekeliling ruangan, mencari bukti. Dan tebak apa yang berhenti tepat di depan mata wanita bergaun merah itu?

Sebuah kue Black Forest raksasa, tiga tingkat, yang berdiri pongah di atas meja utama.

Mona melangkah mendekati meja kue itu. Adrian mencoba menahan, tapi didorong kuat hingga terhuyung mundur. Sarah hanya mematung, matanya mulai berkaca-kaca menyadari kenyataan pahit yang baru saja meledak di depan wajahnya.

Bara menahan napas. Otaknya mulai menghitung jarak. Jarak Mona ke meja kue: dua meter. Jarak Bara ke meja kue: lima meter. Sial. Kalau terjadi apa-apa, Bara kalah cepat.

Mona memicingkan mata, membaca tulisan di atas krim putih yang baru saja "dioperasi plastik" oleh Bara sepuluh menit lalu.

"SARAH?" eja Mona, suaranya meninggi. Dia menoleh ke Adrian dengan tatapan membunuh. "Lo bener-bener bangsat, Adrian! Di resi yang lo forward, pesenannya pakai nama MONA! Lo suruh koki itu ngubah namaku jadi nama cewek ini?!"

Skakmat.

Bara menepuk jidatnya keras-keras. Bodoh! Adrian si buaya darat itu terlalu bodoh. Dia niat ngasih bukti ke selingkuhannya kalau dia inget hari anniversary mereka dengan men-forward resi Bara's Kitchen. Adrian murni typo ngasih nama "Mona" ke Bara, dan bodohnya lagi, invoice digital otomatis itu langsung dikirim Adrian ke Mona asli buat pamer.

Sarah yang sedari tadi diam, akhirnya meledak. Air matanya jatuh merusak makeup mahalnya. Dia berbalik menatap Adrian.

"Jadi... ini alasan tulisan di kuenya berantakan?!" jerit Sarah, menunjuk kue Black Forest malang itu. "Karena tadi tulisannya MONA?! Dan kamu suruh kokinya ganti di detik-detik terakhir?!"

"Sayang, dengerin aku dulu! Itu fitnah! Dia... dia orang gila yang obsesi sama aku!" Adrian masih mencoba meronta dalam kebohongan yang sudah karam.

PLAK!

Sebuah tamparan keras, nyaring, dan sangat bertenaga mendarat mulus di pipi kiri Adrian. Bukan dari Mona, tapi dari Sarah. Tenaga tamparan itu begitu kuat, membuktikan bahwa Sarah benar-benar anak seorang prajurit militer.

Tubuh Adrian terhuyung ke belakang. Keseimbangannya hilang. Langkahnya gontai, kakinya tersandung karpet.

Dan sayangnya, di belakang Adrian... adalah meja tempat mahakarya Bara berada.

"ADRIAN, AWAS MEJANYA, ANJING!" Bara berteriak refleks, melupakan semua sopan santun dan tata krama pesta orang kaya.

BRAKKK!

Punggung Adrian menghantam ujung meja bundar itu dengan keras. Meja bergoyang hebat. Piring saji perak tempat kue itu berpijak bergeser cepat ke arah tepi.

Hukum inersia terjadi. Kue Black Forest seberat hampir lima kilogram itu tergelincir dari meja, jatuh bebas menuju lantai marmer yang keras.

Bagi para tamu, itu adalah jatuhnya sebuah kue. Bagi Bara, itu adalah jatuhnya uang sewa ruko, tagihan listrik tiga bulan, dan harga dirinya sebagai Chef.

"TIDAAAKKKK! MATI LO SEMUA!"

Dalam gerakan slow-motion yang seolah menentang gravitasi, Bara melesat dari balik pilar. Dia melakukan lompatan sliding ala pemain baseball yang mencuri base. Sepatu kasualnya yang murah bergesekan dengan karpet beludru, menciptakan sensasi panas di lututnya.

Kue itu berada di udara, melayang menuju kehancuran. Tingkat paling atasnya mulai terlepas, ceri merah berhamburan layaknya hujan meteor mini.

Bara merentangkan kedua tangannya lebar-lebar di atas lantai, memasang badannya layaknya kasur pendaratan.

BUP! SPLAT!

Kue tingkat paling bawah dan tingkat kedua mendarat tepat di dada dan perut Bara. Sisa krim dan beberapa serpihan cokelat menyiprat mengenai wajahnya. Sementara kue tingkat paling atas... berhasil ditangkap oleh kedua tangan Bara dengan pose seperti sedang memegang bola basket, hanya berjarak satu sentimeter dari lantai marmer.

Selamat. Kuenya tidak hancur lebur di lantai, melainkan hancur secara "terhormat" di atas tubuh sang koki pembuatnya.

Keheningan kembali menyergap ruangan itu selama tiga detik. Semua orang terpaku melihat aksi akrobatik Bara yang absurd. Kemeja flanel kebanggaannya kini penuh dengan krim putih susu, ganache pekat, dan remah-remah cokelat. Dia terlihat seperti korban pembunuhan yang dibantai pakai bahan baking.

"Mas Bara!" Lintang menjerit, berlari keluar dari tempat persembunyiannya sambil tetap memegang HP yang merekam. "Mas, lo nggak apa-apa?! Tulang lo ada yang patah?!"

Bara menghembuskan napas panjang. Bau rhum halal dan cokelat manis menginvasi lubang hidungnya. Dia melirik ke tangannya yang masih memegang erat kue tingkat ketiga.

"Gue... selamat," desah Bara pelan. Dia perlahan duduk, menyingkirkan puing-puing kue dari dadanya dengan hati-hati seolah itu artefak Mesir kuno.

Namun, kedamaian Bara hanya bertahan sebentar.

"HAJAR BAJINGAN ITU!"

Suara bariton menggelegar dari ujung ruangan. Itu suara Bapak Jenderal yang juga ayah Sarah. Kesabarannya sudah habis. Tiga orang pemuda berbadan tegap yang sedari tadi berdiri di belakang Jenderal yang kemungkinan besar ajudan atau sepupu Sarah langsung melesat maju.

Keributan masif pecah seketika.

Tiga pemuda tegap itu menerjang Adrian yang masih linglung setelah menabrak meja. Terjadilah baku hantam freestyle. Adrian dipiting, ditendang, dan diseret menjauh dari meja altar. Meja-meja prasmanan terguling, gelas-gelas champagne pecah berserakan di lantai. Ibu-ibu menjerit histeris sambil menyelamatkan tas branded mereka.

Mona memanfaatkan kekacauan itu untuk mengambil clutch mahalnya, lalu dengan santai memukul kepala Adrian yang sedang dipiting, sebelum melenggang pergi keluar ruangan sambil mengibaskan rambutnya. "Selesai urusan kita, Loser," ucap Mona puas.

Sarah menangis sesenggukan dipelukan ibunya, sementara para tamu undangan berebut jalan keluar menuju pintu utama untuk menghindari piring terbang.

Bara masih duduk di lantai, persis di tengah badai kekacauan itu. Pakaiannya lengket, badannya pegal linu, dan masterpiece-nya telah gugur dalam tugas.

Mang Ojak merangkak mendekati Bara, berlindung dari sebuah kursi lipat yang baru saja dilempar entah oleh siapa. "Den! Ayo kita kabur, Den! Ini udah masuk ranah pidana! Abah nggak mau ikut campur!"

"Bentar, Mang!" Bara menolak berdiri. Matanya mencari-cari sosok Adrian yang sedang diseret melewati karpet merah oleh para ajudan Jenderal. Wajah Adrian sudah babak belur, jas mahalnya robek.

Dengan sisa tenaga dan determinasi seorang debt collector tingkat dewa, Bara bangkit berdiri, menepis krim di lengannya, lalu berlari menembus kerumunan orang yang saling dorong.

"MAS BARA! MAU KE MANA?!" teriak Lintang panik.

Bara mengabaikan Lintang. Dia menerobos dua bapak-bapak yang sedang berdebat, menghindari pot bunga yang jatuh berguling, dan berhasil mencegat rombongan yang sedang menyeret Adrian ke arah pintu belakang.

Bara mencekeram kerah jas Adrian yang sudah koyak. Para ajudan Jenderal berhenti sebentar, mengira Bara adalah salah satu keluarga yang mau ikut memukul.

Adrian menatap Bara dengan mata kanan yang sudah membiru. Napasnya putus-putus. "T-tolong gue, Mas..." rengeknya lirih.

Bara mendekatkan wajahnya yang berlepotan cokelat ke wajah Adrian yang berlepotan darah. Tatapannya dingin, tanpa belas kasihan.

"Gue nggak peduli lo mau dibuang ke laut atau dijadiin samsak militer," desis Bara tajam, mencengkeram jas Adrian makin erat. "Gue cuma mau nanya satu hal..."

Adrian menelan ludah, ketakutan.

"Mana sisa pelunasan kue gue dan duit tutup mulut lima juta yang lo janjikan tadi?! Transfer sekarang atau gue sendiri yang nambahin luka di mata kiri lo!"

Di tengah hancurnya sebuah pertunangan, ancaman pembunuhan dari Jenderal, dan kekacauan pesta miliaran rupiah, Bara Mahendra tetap memprioritaskan satu hukum alam semesta yang paling mutlak baginya: Uang dapur harus tetap cair.

1
yumin kwan
kok jadi cerita horor sih.... padahal cerita keseharian dapur Bara sudah ok....
W. Prata: Wkwk sabar Kak Yumin! Ini demitnya cuma cameo bentar doang kok buat ngedorong Bara ngambil keputusan besar. Next bab udah otw balik ke kota buat ngurusin Bara's Kitchen lagi. Ditunggu kelanjutannya ya! thanks udah setia baca yaa...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!