NovelToon NovelToon
Satu Notifikasi Seribu Luka

Satu Notifikasi Seribu Luka

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.

Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.

Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Satu bulan sejak insiden martabak itu, keberadaan Arkana Pradipta di rumahku bukan lagi pemandangan asing. Hampir setiap sore, motor besarnya terparkir di samping motor Kak Pandu. Alih-alih merasa terganggu, aku justru mulai terbiasa dengan suara tawa renyahnya yang sering bocor dari balik pintu kamar Kak Pandu.

Namun, aku tetaplah Nara. Aku adalah ahli dalam menarik diri.

"Ra, ini ada titipan dari Arkan," Kak Pandu meletakkan sebuah kotak susu cokelat dingin dan sebungkus roti sobek di meja belajarku.

Aku mendongak dari tumpukan tugas Kimia. "Kenapa dia nggak kasih sendiri?"

"Katanya takut ganggu konsentrasi 'Tuan Putri'. Dia cuma pesen, jangan lupa napas kalau lagi ngerjain tugas, jangan cuma ngerjain soal," Kak Pandu terkekeh sambil mengacak rambutku.

Aku menatap susu cokelat itu. Arkan tahu persis kalau aku benci kopi tapi butuh asupan gula saat pusing. Bagaimana bisa dia sedetail itu?

Sore berikutnya, hujan deras mengguyur SMA Garuda. Aku berdiri sendirian di halte depan sekolah, memeluk tas ranselku erat. Kak Pandu ada latihan tambahan dan tidak bisa menjemput. Sialnya, aplikasi ojek online sedang susah sekali didapat.

Brummm...

Sebuah motor berhenti tepat di depanku. Pengendaranya membuka kaca helm hitamnya. Arkan.

"Butuh tumpangan, Tuan Putri? Atau mau nunggu sampai jadi patung es di sini?" godanya. Wajahnya sedikit basah terkena percikan air, tapi senyumnya tetap kering dan hangat.

"Gue nunggu ojek," jawabku datar, meski jemariku sudah mulai membiru karena kedinginan.

Arkan turun dari motornya tanpa banyak bicara. Ia melepas jaket varsity basketnya yang tebal, lalu memakaikannya ke bahuku. Bau parfumnya yang maskulin namun lembut langsung menyerbu indra penciumanku.

"Pake. Jangan keras kepala, Nara. Dinginnya udara nggak akan kalah sama dinginnya sikap lo," ucapnya pelan namun tegas.

Aku terdiam. Jaket itu hangat sekali. Terlalu hangat sampai-sampai aku merasa benteng yang kubangun selama bertahun-tahun mulai retak di bagian bawahnya.

"Ayo naik. Gue anter sampai depan pintu kamar kalau perlu," Arkan memberikan helm cadangan padaku.

Di atas motor, di tengah guyuran hujan, aku terpaksa berpegangan pada jaketnya agar tidak terjatuh. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa terancam berada sedekat ini dengan seorang laki-laki. Arkan tidak banyak bicara selama perjalanan, ia hanya memastikan kecepatannya stabil agar aku tidak terlalu basah kuyup.

"Sampai," ucapnya saat kami tiba di depan pagar rumah.

Aku turun dan mengembalikan helmnya. "Makasih, Arkan. Dan... jaket lo basah."

"Nggak apa-apa. Yang penting lo nggak sakit," Arkan menatapku dalam, seolah mencari sesuatu di mataku. "Nara, kenapa lo takut banget buat ngerasa seneng? Gue perhatiin, setiap kali lo mulai ketawa, lo langsung narik diri lagi. Kayak lo takut kalau bahagia itu bakal ada pajaknya."

Hatiku mencelos. Dia benar. Aku takut jika hari ini aku tertawa, besok semesta akan mengambil sesuatu yang berharga dariku sebagai gantinya. Sama seperti saat Ayah memberiku kado ulang tahun terindah, lalu besoknya ia pergi meninggalkan rumah demi perempuan itu.

"Bahagia itu cuma jebakan, Arkan. Gue lebih milih datar daripada hancur di akhir," jawabku lirih.

Arkan mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya hanya menepuk puncak kepalaku pelan. "Kalau gitu, biar gue yang jadi asuransinya. Kalau lo hancur, gue yang bakal rapihin lagi. Satu per satu."

Aku terpaku menatap punggungnya yang menjauh di tengah hujan. Arkan adalah anomali. Dia adalah laki-laki yang menawarkan perlindungan di saat aku sudah bersumpah tidak butuh siapa pun.

Malam itu, di bawah selimut, aku mencium sisa aroma parfum Arkan di jaketnya yang belum sempat kukembalikan. Jantungku berdebar hebat. Sial. Sepertinya es di hatiku benar-benar mulai mencair, dan aku tidak tahu apakah aku harus senang atau justru harus lebih takut lagi.

Keesokan harinya, aroma maskulin yang tertinggal di jaket varsity itu masih memenuhi kamarku. Aku sengaja bangun lebih pagi untuk mencucinya, namun tanganku berhenti di depan mesin cuci. Ada keraguan aneh; seolah jika aku mencucinya sekarang, keberanian Arkan yang tersisa di sana juga akan luntur.

Aku akhirnya memutuskan untuk membawanya ke sekolah, terbungkus rapi dalam paper bag.

Di kelas, konsentrasiku buyar. Setiap kali pintu kelas terbuka, kepalaku otomatis menoleh, berharap—atau mungkin takut—melihat sosok jangkung dengan cengiran khasnya itu. Namun, Arkan tidak muncul hingga bel istirahat berbunyi.

"Nyari siapa, Ra? Tumben leher lo kayak jerapah gitu," celetuk Tasya, teman sebangkuku.

"Nggak ada. Cuma pegal," kilahku cepat.

Baru saja aku hendak membuka bekal, sebuah notifikasi muncul di ponselku.

Arkan P: Gue di atap. Bisa bawa 'asuransi' gue ke sini? Gue kedinginan, butuh kehangatan.

Aku memutar bola mata. Drama king. Tapi kakiku justru bergerak melampaui logika. Aku meraih paper bag itu dan berjalan menuju tangga belakang sekolah

1
Sutrisno Sutrisno
puitis banget, jadi makin penasaran
Sutrisno Sutrisno
semangat
Sutrisno Sutrisno
semangat Arkhan, semoga berhasil
falea sezi
lanjut donk g sabar liat arkan nikah ma nara
falea sezi
arkan aja goblok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!