Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.
Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
“Laine kerumah kakek?” Shock Damian saat Glenn memberitahukan informasi itu, “Apa yang dia lakukan?”
“Hanya datang berkunjung, ia juga bermalam dirumah bibi Lily. Seorang diri.” Jawab Glenn.
Sesuai janji bibi Lily tak memberitahukan tentang Hansen dan Killian. Sesuai permintaan Elaine saat itu.
“Apa dia masih di Asgard?”
“Hari ini dia sudah selesai. Dia akan kembali ke Malice.”
“Tanyakan kapan dia kembali ke Amber city. Aku perlu tahu tujuannya kembali ke rumah kakek.”
“Dam… Dia sedang mengatasi rasa traumanya. Jika kau menanyakan lebih dalam itu hanya akan menekannya nanti.” Tegur Glenn.
“Aku sudah bersusah payah menutup masa lalu Glenn. Aku tidak ingin dia dalam masalah dan bayang-bayang masa lalu. Kau tahu yang terjadi dimasa lalu bukan hal sederhana. Aku tidak ingin Laine…”
Damian tak mampu melanjutkan perkataannya. Ia hanya takut jika sang adik, keluarga satu-satunya juga mati begitu saja.
“Baiklah aku mengerti. Setelah tugasku selesai disini, aku akan menemuinya nanti.” Ujar Glenn.
...****************...
“Tumben direksi kita baik memberi cuti tidak tanggung-tanggung hingga 3 hari.” Ujar Mia saat mereka sudah tiba di rumah sakit pusat Malice.
Elaine hanya tersenyum mendengarnya. Semua itu diatur oleh Killian, karena pria itu memiliki tujuannya sendiri. Siang itu El mengendarai mobilnya dari rumah sakit menuju apartemennya dengan lancar dan aman. Untuk memastikan hal tersebut, Lian memerintahkan anak buahnya untuk mengawal perempuan itu. Ia tak ingin jika ada antek-antek dari Lyxander mengikuti Elaine.
Sesaat setelah masuk kedalam apartemen seorang kurir pengantar makanan tiba. Killian membelikan banyak makanan untuk El.
BIP BIP BIP
“Kau sudah dirumah?”
“Ya… Aku baru selesai mandi.”
“Sudah makan?”
“Sudah. Terimakasih Lian. Tapi kau memesannya banyak sekali. Aku tidak akan habis.”
“Sisakan untukku. Sebentar lagi aku akan selesai.”
“Sisakan? Kau akan ke tempat ku?”
“Ya… kenapa? Apa tidak bisa?”
“Bukan begitu. Hanya saja…”
“Kalau begitu tunggu aku.”
Tak ingin mendengar penolakan dari wanita nya, Lian segera mengakhiri panggilan tersebut.
Sebenarnya ada rasa cemas jika Glenn tiba-tiba datang kerumah dan bertemu dengan Killian. Glenn tentu akan mengenal pria itu, bukankah diberkas kakaknya, Killian merupakan target unsuspect mereka.
BIP BIP BIP
“Kakak!!! Kau sedang apa?” El melakukan panggilan video pada kakaknya Damian.
Selama ini Damian tidak akan pernah menghubungi Elaine terlebih dulu. Untuk keamanan. Ia akan selalu menunggu adiknya yang menghubunginya. Melalui Glenn lah selama ini Damian mengetahui kondisi adiknya.
“Kau baru ingat kakak mu? Kenapa baru menghubungi ku anak nakal?!” Kesal Damian.
“Aku sibuk. Bukankah Glenn memberitahumu kalau aku ada perjalanan dinas luar.”
“Ya… dia juga mengatakan kau kembali pulang. Kerumah kakek.”
El terdiam. Kakaknya tidak menyukai jika ia kembali kerumah lama itu. Mungkin mereka mengetahui hal tersebut dari para pekerja yang ada dirumah itu.
“Aku hanya ingin melihatnya saja kak. Itu juga tidak ada 3 jam aku disana. Aku juga menginap ditempat Lily.”
“Tapi kau bisa menghubungi ku dulu Laine.”
“Ya… maafkan aku.” Pasrah El, “Kau dimana? Apa kau sedang di laut?”
“Ya… aku sedang latihan.”
“Glenn bersama mu?”
Ya. Tujuan El memastikan mereka berdua tidak akan datang ke apartemen nya hari itu.
“Hai El…” Sapa Glenn, “Kenapa? Kau merindukan ku?”
El tertawa ringan mendengar ucapan itu, “Aku rindu kalian berdua. Kapan kita liburan bersama lagi? Bulan depan Lena sudah kembali bukan?”
“Bukannya kau juga sekarang libur 3 hari? Kenapa tidak kembali ke Amber city?” Tanya Damian.
“Aku harus kekampus kak. Sebentar lagi aku akan lulus. Kau harus datang melihatnya. Janji?! Jangan tidak datang lagi.”
Selama El menerima penghargaan dan kelulusan, kakaknya Damian hanya akan menyambutnya dirumah. Hanya Glenn yang akan hadir mewakili Damian.
“Akan ku usahakan.”
El menghabiskan waktu sore itu bercengkrama dengan Kakaknya dan Glenn. Hampir dua jam lamanya. Bahkan ia juga melakukan panggilan grup bersama Lena, kekasih Damian.
PIP PIP
“Kak… aku sudahi dulu ya. Sepertinya teman ku datang. Lain waktu aku akan menghubungi lagi.”
Mengakhiri panggilan tersebut. El langsung berlari membuka pintu depan, Killian berdiri disana dengan membawa banyak makanan lagi.
“Apa ini? Makanan?” El mengambil plastik tersebut dan meletakkannya di meja dapur, “Kau sengaja ingin membuat ku tampak gemuk?”
“Kau sedang menghubungi seseorang?” Tanya Lian karena sedari tadi ia mencoba menghubungi El namun tidak dapat tersambung.
“Ya… kakak ku.” Jawab El.
“Dua jam lebih?” Lian melepas jas nya dan dasi yang melingkar di kerahnya.
“Ya…” El memakan sesendok kue tart, “Jangan bilang kau ingin tahu apa yang kami bicarakan.”
Lian terdiam. Sejujurnya ia sangat ingin mengetahui apa saja yang wanita itu lakukan, dengan siapa dan apa yang diobrolkan. Posesif nya ia tekan mati-matian saat ini hanya karena baru mendapatkan Elaine disisinya. Ia tak ingin wanita itu takut karenanya.
“Apa itu enak?” Tanya Lian saat melihat El makan hampir sekotak kue tart.
“Ya, kau mau?” El menyodorkan sendoknya.
SRAAAK
KLAANG
Sendok itu terjatuh dilantai dapur saat tangan Lian menarik El kepelukannya.
“Manis.” Ucap Lian usai mencium bibir El.
El tertunduk senyum melihat kelakukan pria itu.
“Mau aku ambilkan makan?” Tawar El.
“Aku tidak makan setelah lewat jam 7 malam.”
El melihat jam dindingnya, saat itu pukul 8 malam.
“Kau ingin pulang?”
“Bisa aku bermalam disini?” Pinta Lian.
“Aku rasa tidak.”
“Baiklah. Setelah kau tidur nanti aku akan pulang.”
Lian melepas dekapannya dan mulai membasuh wajahnya.
“Kau jadi kedokter hari ini?” Tanya El, “Bukankah sekarang jadwal kontrol luka mu?”
“Periksalah.” Lian melebarkan kedua tangannya untuk El memeriksa luka diperutnya.
El melangkah menuju sofa besar diruang tamu dan mengambil kotak besar dibawah meja itu. Lian mengikuti dan duduk disisinya.
“Bagaimana kau bisa mengenal Daniel?” Tanya El saat itu membuka perban diperut Lian. Ia berpindah posisi duduk dikarpet, tepat dibawah Lian. Ini mempermudahnya untuk mengobati luka Lian.
“Kami satu kampus. Hanya beda jurusan.”
“Apa itu luka tembak?” Tanya El saat melihat pundak Lian.
“Ya, saat sedang berburu. Rekan ku tidak sengaja.” Ujar Lian.
El kembali terdiam. Luka diperut Lian sudah sembuh, ia hanya perlu mengoleskan krim pada luka tersebut tanpa memperbannya lagi.
Jari halus itu membuat degup jantung Lian berdegup lebih cepat. “Laine…” Panggil lembut Lian.
“Hmm…”
“Kau ingin berburu?”
“Aku tidak bisa menembak.”
“Aku akan mengajarkan mu.”
El tak menjawab.
“Laine…” Sebut Lian kembali.
El mendongak untuk melihat wajah pria itu.
Lian terdiam.
“Kenapa? Apa terasa sakit?” Tanya El.
Namun Lian masih terdiam. Tak ada suara dari keduanya, hingga akhirnya El berlutut di hadapan pria itu.
“Daripada mengajarkan sesuatu yang tidak aku sukai, kenapa kau tidak mengajarkan ku hal lain.” El mengalungkan kedua tangannya di pundak Lian.
“Misalnya?” Tanya Lian memastikan.
Degup jantung pria itu semakin cepat saat ia dapat merasakan hangatnya nafas wanita itu.
“Tapi aku ragu kau bisa mengajarkannya pada ku.”
Elaine mendapatkan informasi, bahwa pria dihadapannya bukan seorang pemain wanita. Ia tidak pernah tidur dengan wanita lain. Bahkan tak pernah juga orang terdekatnya seperti Hansen, melihat Lian mencium dan dekat dengan wanita lain selain Araya adik tirinya. Itu pun Araya yang akan selalu memulainya untuk mendekati Killian.
“Ragu? Apa maksudmu?”
“Entahlah. Aku sering mendengar pemberitaan tentang mu dirumah sakit. Apa kau memilihku hanya untuk kamuflase mu?”
SRAAAAAKK
Lian mengangkat tubuh Elaine dan menidurkannya diatas sofa besar itu. Ia paham yang dimaksud El. Berita tentangnya yang penyuka sesama jenis. Terlebih dimana Hansen maka akan ada Killian disana. Terdengar menyeramkan dewan direksi selalu bersama dalam satu ruangan.
“Kau memancingku Laine?” Lian mengecup lembut bahu Elaine yang terbuka. Wanita itu mengenakan tanktop dan celana panjang. Setelan casual yang selalu ia kenakan jika dirumah.
El tidak menjawab. Ia tidak ingin memancing. Tapi ia memang menyukai pria itu.
Lian kembali dibuat shock, saat Elaine berinisiatif menciumnya dengan lembut. Tak ingin membuang kesempatan langka wanita itu, Lian kembali membalasnya. Ciuman liar yang semakin memanas.