"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema di Balik Rimbun
Pria dengan busur kayu itu masih berdiri mematung di antara rimbun pohon jati, menatap ke arah semak-semak yang baru saja dilewati oleh rombongan wanita berbaju merah tadi. Jemarinya mengusap permukaan busur yang halus, sementara pikirannya masih mengulang setiap kata aneh yang diteriakkan wanita itu.
Prosedur keamanan. Papan peringatan. Nyawa publik. Kata-kata itu terdengar asing, tapi diucapkan dengan otoritas yang begitu tajam, seolah-olah wanita itu sedang membacakan titah kerajaan yang sangat penting.
"Prosedur keamanan," gumam pria itu pelan. Dia sedikit menarik sudut bibirnya, sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan.
Belum pernah ada seorang pun di wilayah Indraloka yang berani memarahinya dengan cara seperti itu, apalagi sampai membawa-bawa aturan keselamatan di tengah hutan yang biasanya hanya mengenal hukum rimba.
Suara derap kaki kuda memecah keheningan. Dari arah jalur tebing yang lebih landai, seorang pria lain muncul dengan menunggangi kuda berbulu cokelat mengilap. Penampilan pria yang baru datang ini tidak jauh berbeda dengan si pemburu, mengenakan rompi kulit berkualitas tanpa hiasan yang mencolok.
Namun, gerakan tubuhnya saat melompat turun dari kuda menunjukkan ketangkasan yang luar biasa. Wajahnya terlihat lebih muda, dengan binar mata yang selalu tampak ceria dan bersemangat.
"Kakak! Aku dengar ada keributan di sini," seru pria muda itu sambil melangkah mendekat, suaranya lantang dan sedikit cerewet. "Rusanya di mana? Jangan bilang Kakak melepasnya hanya karena seekor kelinci hutan lewat. Apa yang Kakak pegang itu?"
Pria dengan busur tadi menatap adiknya sejenak sebelum mengalihkan pandangan kembali ke arah jalan setapak yang kosong.
"Tidak ada rusanya. Dia sudah kabur," jawabnya pendek.
Si adik mengernyitkan dahi, berjalan memutar untuk melihat wajah kakaknya yang tampak sangat tenang tapi penuh pikiran. "Kabur? Busur terbaik di kerajaan ini baru saja membiarkan seekor rusa kabur begitu saja? Tidak mungkin. Tadi aku melihat ada rombongan orang berjalan terburu-buru ke arah bawah. Apa mereka yang mengganggu perburuanmu?"
Pria itu tidak menjawab. Dia hanya menyimpan busurnya di punggung dan mulai melangkah menuju kudanya sendiri yang terikat tidak jauh dari sana. Dia tidak berniat menjelaskan bahwa dia baru saja diceramahi soal keselamatan kerja oleh seorang wanita yang wajahnya tertutup bedak pecah-pecah.
"Kakak! Tunggu! Kenapa diam saja?" Si adik terus mengoceh sambil mengekor di belakang. "Aku lapar sekali. Kalau rusa itu tidak ada, setidaknya katakan padaku siapa wanita yang berteriak-teriak tadi. Suaranya sampai terdengar ke jalur atas."
Tanpa memedulikan ocehan adiknya, pria itu naik ke atas kuda dan langsung memacu hewan itu pergi, meninggalkan debu yang berterbangan di antara akar-akar jati yang mencuat.
Beberapa kilometer dari sana, Rosie terus melangkah dengan napas yang masih memburu. Kekesalannya belum surut sedikit pun. Sendal kayunya sesekali terantuk batu, membuat pergelangan kakinya yang baru saja membaik kembali berdenyut menyakitkan.
Bedak tebal di wajahnya kini terasa seperti semen kering yang mulai retak setiap kali dia bicara, gatalnya bukan main karena bercampur keringat hutan.
"Sumpah ya, itu orang ceroboh banget. Kalau di Jakarta, dia udah aku laporin ke polisi karena membahayakan nyawa orang lain," gerutu Rosie sambil terus berjalan.
"Nona, tolong kecilkan suara Nona," bisik Laras yang berjalan di sisi kirinya dengan wajah pucat. "Kita masih berada di tepi Hutan Larangan. Lain kali, mungkin kita jangan pernah lewat jalur ini lagi. Lebih baik jalan memutar jauh daripada nyawa hampir melayang seperti tadi."
"Benar, Nona. Saya sampai lemas rasanya," tambah Gendis yang memegang erat lengan Rosie seolah takut majikannya itu akan menghilang lagi.
"Ya lagian jalur utamanya debu banget, aku kan mau cepat sampai rumah," sahut Rosie ketus, meskipun di dalam hati dia sedikit menyesal.
Ego ingin cepat sampai dan rasa bosan di jalan berdebu ternyata harus dibayar dengan pertemuan nyaris maut dengan panah nyasar. Bukannya cepat sampai, mereka malah menghabiskan waktu bertengkar dengan pemburu tidak jelas.
Mereka akhirnya melewati gerbang kayu besar yang menandakan batas Kediaman Jati Jajar. Rosie memaksakan kakinya untuk tetap tegak saat melewati area gudang rempah yang harumnya mulai menusuk hidung.
Jaka dan Wira masih waspada di belakang, masing-masing memanggul dua karung lada hitam yang tadi dibeli Rosie di pasar sebagai pengganti ramuan kecantikan.
Begitu memasuki bangunan utama, suasana dingin langsung menyapa. Citra sudah berdiri di ambang pintu ruang tengah dengan kipas pandan di tangannya.
Wajahnya yang semula terlihat menanti dengan tenang, berubah perlahan saat melihat penampilan Rosie yang kacau, baju kusut, dan bedak yang hancur berantakan.
"Merah! Akhirnya kamu pulang," sapa Citra, suaranya terdengar lembut di awal tapi matanya mulai menyipit curiga. "Mengapa penampilanmu seperti baru saja berguling di lereng tebing? Dan Laras, Gendis, kenapa wajah kalian seperti melihat hantu?"
Rosie mendengus pelan, mencoba mengatur napasnya yang masih sesak. "Ibu, aku capek banget. Jalannya ternyata enggak semudah itu," jawab Rosie mencoba santai.
"Lupakan soal lelahmu," potong Citra, dia melangkah mendekat. "Mana ramuan kecantikan yang kamu janjikan? Mana bubuk mutiara dan minyak bunga langka itu? Ibu sudah menantinya sejak tadi untuk kita coba bersama."
Rosie melirik Jaka dan Wira, memberi isyarat agar mereka menurunkan karung besar yang dipanggul. Karung itu mendarat di lantai dengan bunyi berdebum yang cukup keras. Aroma pedas lada langsung menyeruak ke seluruh ruangan.
"Itu apa?" tanya Citra dengan kening berkerut dalam.
"Lada hitam, Ibu. Dua karung kualitas terbaik," jawab Rosie dengan wajah polos yang dibuat-buat. "Tadi di pasar stok ramuan mutiaranya habis karena pengiriman dari pasar atas terhambat. Jadi, daripada uangnya hangus, aku pakai untuk memborong rempah ini. Ini inventaris berharga untuk kediaman kita."
Wajah Citra berubah merah padam dalam sekejap. Kipas di tangannya ditutup dengan bunyi yang sangat keras. "Lada hitam? Kamu membuang keping Aruna hanya untuk barang yang gudang kita sendiri sudah punya beribu-ribu karung?!" teriaknya melengking.
Dia menoleh ke arah Laras dan Gendis yang langsung bersujud di lantai tanah. "Kalian pelayan bodoh! Kenapa kalian membiarkan nona kalian melakukan hal ini? Mbok Sum! Ambilkan cambuk kulit di gudang belakang!"
Laras dan Gendis mulai menangis sesenggukan, tubuh mereka gemetar hebat karena ancaman itu. Putih dan Melati yang sudah sampai lebih dulu hanya berdiri mematung di sudut dekat sumur dapur, menatap pemandangan itu dengan mata membelalak lebar.
Melati bahkan sempat menyunggingkan senyum tipis yang penuh kemenangan melihat kekacauan tersebut.
"Ibu! Tunggu!" teriak Rosie, dia langsung berdiri di antara Citra dan para pelayannya.
"Merah! Jangan membela mereka! Mereka harus diberi pelajaran karena membiarkanmu menghamburkan kekayaan keluarga untuk hal yang tidak berguna!" Citra berteriak, napasnya memburu karena marah.
Rosie memutar otaknya cepat. Dia tahu dia harus berakting. Sebagai manajer yang pernah menangani audit gagal, dia tahu kapan harus 'berdrama' demi menyelamatkan bawahannya.
Dia segera memasang wajah yang sangat memelas, matanya dipaksa untuk berkaca-kaca.
"Ibu! Mohon ampun!" Rosie menjatuhkan dirinya di samping Laras, memegang kain jarik ibunya dengan tangan gemetar yang dibuat-buat. "Aku pikir Ibu tadi mengeluh soal stok rempah kita yang mulai menipis di dapur karena kecurangan pedagang. Aku cuma ingin membantu Ibu, aku pikir aku akan dipuji kalau bisa mengamankan barang ini sebelum harganya naik! Tolong ampuni aku, jangan hukum mereka!"
Rosie mulai terisak, air mata bohongan mulai menetes di sela-sela bedak pecahnya. Dia merasa sangat konyol, tapi ini cara tercepat.
"Aku lelah sekali, Ibu. Hampir saja aku tidak bisa kembali karena jalannya sangat sulit. Kalau Ibu mencambuk mereka, siapa yang akan merawat kakiku yang sakit ini? Tolong, Ibu!" lanjutnya.
Citra terpaku melihat perubahan drastis putrinya yang biasanya angkuh kini bersujud memohon ampun untuk pelayan. Di sudut sana, Putih menatap Rosie dengan tatapan yang sangat aneh, seolah dia sedang melihat orang asing di dalam tubuh kakaknya.
"Sudah, sudah!" bentak Citra akhirnya, dia mengibaskan tangannya dengan gusar. "Mbok Sum, jangan ambil cambuknya. Bawa karung-karung itu ke gudang. Dan kalian, bawa Merah masuk ke kamarnya! Bersihkan wajahnya yang mengerikan itu!".
Laras dan Gendis buru-buru membimbing Rosie berdiri, wajah mereka masih basah oleh air mata syukur. Rosie mengedipkan matanya sedikit ke arah mereka, memberikan tanda rahasia bahwa semuanya sudah aman.
Sambil berjalan menuju kamar, Rosie sempat melirik ke arah Putih dan Melati. Hatinya merasa puas, bukan hanya karena berhasil menyelamatkan timnya, tapi karena dia berhasil melakukan 'risk management' yang cukup baik di depan ibunya yang otoriter itu.
"Duh, kakiku beneran mau lepas rasanya," bisik Rosie saat sudah di ambang pintu kamarnya, sementara sisa bedak tebal akhirnya rontok menimpa lantai kayu.
Coba kalian kasih aku bintang 5, like, komen, gift gratisan juga gapapa, biar aku semangat update bab gitu, terimakasih cintakuhhh
Terus subscribe cerita ama follow juga boleh
maaf yak banyak minta hihi /Shy/