Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *1
"Rin, papamu ingin bicara. Dia sudah menunggu di halaman belang sekarang."
Airin yang baru saja muncul dari pintu utama langsung memasang wajah serius. Tubuhnya cukup lelah karena dia baru saja pulang dari bekerja. Benaknya sudah sangat capek karena pekerjaan kantor yang harus dia kerjakan dengan cepat.
Lalu sekarang, saat satu kaki baru menginjak lantai rumah, sang mama malah sudah meminta dia bicara dengan papanya. Khayalan gadis manis yang baru saja berusia dua puluh empat tahun itu langsung lenyap seketika.
"Mau bicara apa sih, Ma? Aku baru juga sampai, sudah harus ngobrol aja dengan papa. Rin rencananya-- "
"Rin, papa mu sudah menunggu sejak tadi. Jangan rencana-rencana. Jangan bikin papa mu naik darah lagi." Si mama memotong ucapan Airin dengan cepat.
Rin hanya bisa mendengus pelan. Dia letakkan tas selempang nya ke atas meja. Lalu, segera beranjak menuju halaman belakang. Padahal kalau boleh dia memilih, dia sangat ingin merebahkan tubuhnya ke atas kasur sekang.
Tapi, ya mau bagaimana lagi?
Airin sampai ke halaman belakang setelah membuka pintu dapur rumah mereka. Halaman belakang adalah taman nyaman yang menjadi ruang keluarga untuk keluarga Rin selama ini.
"Papa."
Pria paruh baya yang sedang duduk di kursi depan meja di bawah pohon itupun langsung menoleh. Ponsel yang ada di tangannya pun ia lepaskan.
"Airin. Sudah pulang?"
"Hm. Baru aja."
"Mm ... mama bilang, papa ingin bicara. Mau bicara apa, Pa?" Rin sengaja langsung pada poin utama dari maksud kedatangannya ke halaman ini. Jujur, dia ingin segera menyelesaikan urusan dengan papanya secepat mungkin.
"Duduk dulu, Rin. Papa ingin bicara serius."
Rin mengikuti apa yang papanya katakan. Meskipun dengan hati yang sedikit enggan, dia langsung duduk di salah satu kursi yang ada di samping sang papa.
Hatinya sedikit tidak nyaman saat melihat wajah serius yang papanya perlihatkan. Wajah yang sedang memendam masalah. Ya, begitulah yang bisa Rin pikirkan. Karena biasanya, setiap kali ada masalah yang sangat serius, wajah papanya akan terlihat begitu.
"Rin. Coba lihat ini!" Papa Rin berucap sambil menyodorkan amplop coklat yang masih tertutup dengan rapat.
Rin menerimanya dengan tangannya enggan, plus wajah bingung. "Apa ini, Pa?"
"Buka, lalu baca. Maka kamu akan tahu apa isinya."
Rin lagi-lagi melakukan apa yang papanya katakan. Tangannya membuka amplop tersebut dengan cepat. Isi dari amplop tersebut selembar surat. Rin mengeluarkannya dengan hati-hati.
Saat surat itu ia buka, tulisan tangan tergores dengan sangat rapi di atas kertas tersebut. Ya, meskipun itu terlihat sudah sangat lama, tapi apa yang tertulis di atas kertas putih itu masih bisa di baca dengan sangat jelas.
Rin membacanya secara perlahan. Itu adalah sebuah perjanjian yang ditulis dengan sangat baik. Ada dua tanda tangan juga di atas kertas tersebut. Namun, setelah membaca surat itu, Rin terlihat masih sangat bingung.
"Apa ... maksudnya ini, Pa? Perjanjian dua keluarga? Ah, tidak. Ini, surat wasiat maksudnya?"
Papa Rin mengangguk pelan. "Iya. Itu dari kakek mu. Surat itu di buat saat Yara lahir."
"La ... lu?"
Papa Rin menarik napas berat sebelum berucap. "Rin, berapa usia mu saat ini?"
"Dua ... puluh empat."
"Lalu, Yara?"
"Dua puluh satu tahun. Aku dan dia berjarak hanya tiga tahun, Pa. Kenapa papa menanyakan hal itu?"
"Rin. Apakah kamu masih tidak mengerti sekarang?" Si papa malah bertanya balik.
Rin langsung menaikkan satu alisnya. "Mengerti apa? Aku dan Yara hanya-- "
"Rin. Kamu kakaknya, bukan? Yara itu adikmu, dia lebih muda tiga tahun dari kamu. Sekarang, dia masih anak-anak. Sedangkan kamu, sudah dewasa."
Rin kesal akan kata-lata yang baru saja papanya ucapkan. Antara dirinya dan Yara, kenapa harus selalu dirinya yang dipaksa untuk mengerti. Mulai dari mereka anak-anak, kata-kata itu selalu saja dilontarkan oleh kedua orang tuanya.
Yara adiknya, dia harus mengalah. Yara masih kecil, belum tahu mana baik dan mana yang buruk. Yara .... Selalu saja Yara, Yara, dan Yara. Dan mirisnya, yang harus tersakiti adalah dia. Karena yang dituntut untuk selalu mengalah itu dirinya. Padahal, antara dia dan Yara, sama-sama wanita. Sama-sama lahir dari rahim yang sama dan kedua orang tua yang sama.
"Rin."
"Pa. Katakan saja apa yang ingin papa katakan dengan sangat jelas. Aku lelah. Papa tidak perlu bicara begini hanya untuk membela Yara."
Papanya menatap Rin dengan tatapan sedikit lebih tajam. Suasana di halaman belakang kini jadi sedikit berubah.
"Baik. Papa akan bicara terus terang. Rin, kakek mu meninggalkan wasiat pernikahan untuk kalian. Dia ingin salah satu dari putriku menikah dengan anak rekannya yang ada di desa. Dan sekarang, surat untuk membahas pernikahan sudah tiba, karena itu, papa harus meminta salah satu dari kalian untuk pergi ke desa buat melangsungkan pernikahan dengan pria tersebut."
Rin terdiam selama beberapa detik. Sudah dia duga kalau titik penting dari pembicaraan itu adalah ke arah yang sama sekali tidak ia inginkan.
Rin melepas dengusan pelan.
"Pa. Sebelumnya papa sudah bilang kalau, surat ini kakek buat saat Yara lahir. Itu tandanya, yang ingin kakek jodohkan dengan anak rekannya itu bukan aku. Melainkan, Yara."
"Bagaimana kamu bisa menyimpulkan seperti itu, Rin? Di dalam surat wasiat tidak menuliskan nama anak papa yang mana. Lagian, Yara masih kuliah. Sedangkan surat tentang perjodohan itu sudah sampai. Mereka tidak ingin menunggu Yara agar bisa lulus. Dan lagi, jika Yara harus pergi sekarang, kuliahnya akan terganggu. Di desa gak akan ada kampus, Airin." Papanya bicara panjang lebar sambil menahan emosi.
Belum sempat Rin menjawab apa yang papanya katakan, mamanya langsung muncul.
"Papa kamu benar, Rin. Yara belum saatnya untuk menikah. Dia masih kuliah."
Rin kesal bukan kepalang. Sangking kesalnya dia, Rin langsung bangun dari duduknya dengan cepat. "Sampai kapan kalian akan memihak anak bungsu kalian, Ma, Pa? Kalian tidak lupa, bukan? Kalau aku juga anak kalian. Dan lagian, kalian harusnya tahu kalau aku sudah punya pacar. Aku dan dia sedikit lagi akan bertunangan. Bagaimana kalian bisa meminta aku untuk menikah?"
"Rin. Kami tidak memihak. Kami-- "
"Kalian hanya pilih kasih." Rin berucap cepat memotong ucapan sang mama. "Kalian menyayangi Yara lebih besar dari pada kalian menyayangi aku. Alasan kalian tetap sama, karena dia adalah adikku. Sedangkan aku adalah kakaknya. Aku harus mengalah apapun yang terjadi."
"Ma. Pa. Kalian tidak lupa, bukan? Kalau aku juga punya hati. Walau aku kakaknya Yara, aku juga berhak bahagia. Sama seperti anak bungsu kalian itu."