Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Ini Bukan Urusanmu
Lampu di lorong lantai VIP masih terang dan sunyi, memberikan suasana yang begitu kontras dengan hiruk-pikuk IGD beberapa saat lalu. Abel berdiri di depan pintu ruang konsultasi dokter spesialis anak. Ia menarik napas panjang, mencoba menekan gemuruh di dadanya. Tangannya yang dingin meremas ujung blazernya.
Di dalam ruangan, Arslan duduk di balik meja kerjanya yang dipenuhi jurnal medis. Maskernya sudah dilepas, menampakkan rahang yang tegas dan wajah yang tampak kelelahan namun tetap tampan secara maskulin. Ia sedang menatap layar komputer, meninjau hasil laboratorium Farel.
Saat mendengar pintu terbuka ia masih tetap fokus pada layar monitor. "Silakan duduk, Bu."
"Permasalahan utama bayi Farel adalah sistem imunnya yang belum sempurna karena prematur, ditambah adanya indikasi infeksi saluran pernapasan," ujar Arslan tanpa mendongak.
Abel duduk dengan perlahan. Ia tidak bersuara, hanya memperhatikan gerak-gerik pria di depannya. Arslan kemudian mendongak, matanya bertemu dengan mata Abel yang jernih—tanpa bingkai kacamata bulat yang dulu selalu menghalanginya.
Arslan terpaku sejenak. Ia melihat seorang wanita dengan rambut cokelat terang sebahu yang modis, wajah yang dipulas riasan tipis namun elegan, dan aura ketenangan yang sangat dewasa. Wanita di depannya ini terlihat seperti eksekutif muda atau sosialita yang cerdas. Sesaat Arslan terpana dengan kecantikan yang familiar itu.
"Ada lagi yang ingin ditanyakan mengenai kondisi Farel?" tanya Arslan, suaranya tetap profesional meskipun ada sedikit keraguan di hatinya karena merasa pernah melihat mata itu di suatu tempat.
"Berapa lama dia harus diobservasi, Dok?" tanya Abel pelan, berusaha mengubah sedikit intonasi suaranya.
"Setidaknya tiga hari ke depan. Kita harus memastikan tidak ada kejang susulan," jawab Arslan. Ia kemudian menarik sebuah formulir untuk melengkapi administrasi medis yang belum tuntas. Arslan kembali bertanya, lalu memegang pena di atas kertas. "Baik. Nama lengkap Anda, mohon maaf?"
"Arabella,"
Arslan terdiam sejenak, ia menatap mata Abel tak percaya. Benarkah ini gadis yang selalu ia rindukan?
"Arabella Bellvania Laurent." Ucap Abel sekali lagi dengan tegas.
Tangan Arslan yang memegang pena mendadak membeku di udara. Ujung pena itu menekan kertas hingga menimbulkan noda tinta yang melebar. Suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding yang seolah berdetak lebih kencang. "Maaf, saya perlu mencatat data penanggung jawab secara lengkap. Hubungan Anda dengan pasien adalah ...."
"Saya Ibunya."
"Ibu?" Arslan mengulang kata itu dengan suara yang nyaris hilang. Matanya menatap tajam ke arah Abel, mencari tanda-tanda bahwa wanita itu sedang berbohong. Namun, yang ia temukan hanyalah tatapan Abel yang begitu tenang, begitu dingin, seolah mereka memang baru pertama kali bertemu di ruangan medis ini.
"Benar, Dok. Saya ibunya," bohong Abel tanpa berkedip. Ia tahu ini adalah cara tercepat untuk membangun benteng yang tidak akan bisa ditembus oleh Arslan. Ia ingin Arslan tahu bahwa tidak ada lagi ruang baginya untuk masuk kembali ke dalam hidupnya.
Arslan menunduk, menatap formulir di depannya yang kini nampak buram. Rasa sakit yang menjalar di dadanya jauh lebih perih daripada caci maki Papanya atau kelelahan setelah operasi berjam-jam. Gadis yang dulu menangis karena takut kehilangannya, gadis yang ia cari jejaknya di setiap sudut kota, kini berdiri di depannya sebagai milik pria lain. Dan bayi yang tadi ia selamatkan... adalah darah daging wanita yang ia cintai dengan pria yang bukan dirinya.
"Begitu, ya..." Arslan berdeham, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawa dokternya meski hatinya remuk. "Maaf, saya tidak tahu kalau Anda sudah... berkeluarga."
"Waktu terus berjalan, Dokter Arslan," jawab Abel dengan nada formal yang menyakitkan. "Banyak hal yang sudah terjadi. Fokus saya sekarang hanya kesembuhan putra saya. Bisakah kita kembali membahas jadwal pemeriksaan dan pemberian obatnya?"
Arslan hanya bisa mengangguk kaku. Ia mencoba membaca data medis Farel, namun angka-angka di layar komputer itu seolah menari-nari mengejeknya. Setiap kali ia melihat nama belakang "Laurent" di berkas Farel, ia berasumsi bahwa Abel menikah dengan seseorang yang setara secara status, atau bahkan mungkin ia berpikir tentang Reno—namun ide itu segera ia tepis karena ia tahu Reno adalah kakaknya. Yang ada di pikiran Arslan sekarang hanyalah: Abel sudah menjadi milik orang lain.
"Kondisi Farel akan terus saya pantau secara pribadi," ucap Arslan dengan nada suara yang kini terdengar lebih berat dan penuh duka tersembunyi. "Sebagai dokternya, saya akan memberikan yang terbaik."
Abel berdiri, memberikan kesan bahwa sesi konsultasi ini sudah berakhir. "Terima kasih, Dokter. Saya permisi kembali ke kamar pasien."
Abel berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh sedikit pun. Begitu pintu tertutup, Abel bersandar di dinding koridor rumah sakit, memejamkan matanya rapat-rapat. Jantungnya berdegup sangat kencang. Berbohong menjadi ibu Farel adalah hal tersulit yang pernah ia lakukan, namun itu adalah perlindungan terbaik bagi Reno dan juga bagi hatinya sendiri.
Di dalam ruangan, Arslan menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit dengan mata yang berkaca-kaca. Ia meraih ponselnya, lalu menghapus draf pesan permohonan maaf yang selama ini ia simpan untuk dikirim ke Abel suatu saat nanti.
"Aku terlambat..." bisik Arslan pada kesunyian. "Aku benar-benar kehilangan kamu, Abel."
......................
Pagi yang cerah di luar jendela ruang VIP tidak mampu menembus atmosfer kaku yang menyelimuti ruangan itu. Arslan datang dengan jubah putihnya, membawa stetoskop yang terasa lebih berat dari biasanya. Ia melakukan pemeriksaan rutin pada Farel dengan ketelitian yang luar biasa—memeriksa suhu tubuh, denyut jantung, dan saturasi oksigen bayi itu—namun fokusnya berkali-kali terdistraksi oleh sosok wanita yang duduk di sofa samping tempat tidur bayi.
Abel sedang membaca sebuah berkas digital di tabletnya, terlihat sangat elegan dengan blazer berwarna krem yang kontras dengan rambut cokelat sebahunya. Arslan terus mencuri pandang, mengagumi bagaimana garis wajah gadis yang dulu ceroboh itu kini menjadi begitu tegas dan berkelas.
"Kondisinya stabil. Demamnya sudah turun sepenuhnya," ujar Arslan, mencoba memecah keheningan setelah merapikan selimut Farel.
"Terima kasih, Dok," jawab Abel singkat tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.
Arslan terdiam sejenak, tangannya meremas pelan catatan medis di tangannya. Rasa penasaran dan cemburu yang berkecamuk di dadanya selama semalam suntuk akhirnya tak terbendung lagi.
"Di mana ayahnya?" tanya Arslan tiba-tiba. Suaranya terdengar sedikit lebih emosional dari yang ia rencanakan. "Sejak semalam saya hanya melihat Anda sendiri. Kenapa ayahnya tidak datang di saat anaknya sedang dalam kondisi kritis seperti ini?"
Abel akhirnya meletakkan tabletnya. Ia mendongak, menatap Arslan dengan tatapan yang sedingin es, seolah pertanyaan itu adalah sebuah pelanggaran wilayah.
"Ayahnya sibuk bekerja di luar negeri," jawab Abel pendek, suaranya datar dan tak memberikan ruang untuk diskusi lebih lanjut.
Arslan tersenyum kecut, merasa jawaban itu terlalu klise untuk seorang pria yang meninggalkan istrinya berjuang sendirian di rumah sakit. "Sesibuk apa pun, seharusnya keluarga adalah..."
"Dokter Arslan," potong Abel sebelum Arslan menyelesaikan kalimatnya.
Arslan menarik napas panjang, mencoba mengubah topik ke arah yang lebih ia kenal. "Lalu, bagaimana kabar Kak Reno? Apakah dia juga masih sesibuk dulu sampai tidak bisa..."
"Dokter," potong Abel lagi, kali ini dengan nada yang lebih tajam dan tegas. Ia berdiri, melipat tangannya di depan dada, memberikan kesan otoritas yang kuat. "Saya rasa kehidupan pribadi saya dan keluarga saya tidak seharusnya dibahas saat Anda sedang bertugas sebagai dokter penanggung jawab putra saya."
Kalimat itu menghantam Arslan telak. Ia terdiam, mulutnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang keluar. Ia merasakan dinding tinggi yang dibangun Abel—sebuah jarak yang begitu lebar sehingga ia bahkan tidak bisa melihat celah untuk sekadar meminta maaf.
Abel yang sekarang bukan lagi gadis yang akan tersipu atau menangis karena ucapannya. Abel yang sekarang adalah seorang wanita yang tahu cara melindungi dirinya dan kehormatannya dengan kata-kata yang mematikan.
"Maafkan saya. Saya hanya ingin memastikan dukungan moral untuk pasien," ucap Arslan akhirnya, mencoba bersikap profesional meski hatinya terasa diremas.
"Dukungan medis Anda sudah cukup, Dok. Terima kasih," balas Abel, kembali duduk dan meraih tabletnya, tanda bahwa percakapan telah berakhir.
Arslan memutar tubuhnya dan melangkah keluar dengan perasaan cemburu dan sesak. Di koridor, ia bersandar di pintu yang tertutup, menyadari bahwa meskipun ia adalah dokter yang menyelamatkan nyawa bayi itu, di mata Abel, ia tetaplah orang asing dari masa lalu yang tak lagi memiliki tempat di masa depannya.