NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:179
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Permintaan Sang Puteri

Aroma melati itu datang lebih dulu sebelum wujudnya terlihat.

Bukan harum lembut seperti bunga yang baru dipetik, melainkan wangi pekat, menyusup ke hidung, ke paru-paru, ke pikiran. Terlalu kuat untuk ukuran kamar Kiara yang tertutup rapat. Terlalu nyata untuk disebut halusinasi.

Kiara perlahan bangkit dari tempat tidur.

Matanya tertuju pada sudut kamar yang sejak tadi terasa… salah.

Udara di sana tampak bergetar, seperti panas yang naik dari aspal siang hari. Bayangan tipis beriak, lalu mengental. Dari kegelapan itu, sesuatu mulai membentuk diri.

Bukan sosok genderuwo.

Bukan pula sosok hitam bertaring yang menghantui pikirannya sejak rumah sakit sebelumnya.

Yang muncul adalah seorang perempuan.

Tubuhnya ramping, berdiri tegak dengan sikap anggun yang nyaris kuno. Ia mengenakan kebaya putih gading yang jatuh lembut mengikuti lekuk tubuhnya, kainnya bersih tanpa noda, seolah baru saja dikenakan untuk sebuah upacara sakral. Rambut hitamnya disanggul rendah, rapi, dengan untaian bunga melati terselip di sisi kanan, masih segar, masih utuh.

Wajahnya…

Berbeda.

Tidak lagi pucat kebiruan seperti terakhir kali Kiara melihatnya pertama kali menempel pada Bima. Tidak lagi tersenyum genit dengan mata kosong penuh obsesi.

Kini wajah itu tampak nyaris manusiawi.

Kulitnya halus, matanya besar dan bening, bibirnya merah alami. Cantik. Terlalu cantik untuk disebut sekadar hantu.

Sky langsung bergerak.

Ia melayang ke depan Kiara, posisinya protektif, tubuhnya sedikit condong seperti siap menerjang. Sorot matanya mengeras, seluruh aura santainya lenyap.

“Jangan mendekat,” ujar Sky dingin.

Sosok perempuan itu berhenti tiga langkah dari mereka.

Ia menundukkan kepala sedikit, bukan tunduk, melainkan sikap hormat yang penuh kehati-hatian.

“Aku datang bukan untuk menyakiti siapa pun,” katanya.

Suaranya lembut. Tidak menggema. Tidak melengking. Justru terlalu tenang untuk makhluk dari dunia seberang.

“Tapi… aku datang untuk meminta tolong.”

Sky mendengus kecil. “Omong kosong.”

Ia menoleh setengah, memastikan Kiara ada di belakangnya. “Kau pasti penyebab Bima seperti itu. Untuk apa kami harus menolongmu?!”

Perempuan itu mengangkat wajahnya.

Tatapannya tajam, bukan marah, melainkan dingin dan penuh wibawa.

“Aku tidak berbicara padamu, arwah kecil,” ucapnya tanpa emosi. “Aku berbicara pada gadis itu.”

Sky tersentak. “Apa kau bilang?!”

Kiara menyentuh lengan Sky pelan. “Sky… aku nggak apa-apa.”

Sky menoleh, ragu. “Kiara-”

“Dengerin dulu,” potong Kiara, suaranya tenang meski jantungnya berdetak keras.

Perempuan itu kembali menatap Kiara. Tatapan itu berubah. Ada kesedihan di sana. Ada sesuatu yang menyerupai rasa bersalah.

“Aku tidak datang untuk meminta tolong demi diriku sendiri,” katanya. “Aku datang… demi Bima.”

Nama itu diucapkan pelan. Getar. Seolah jika ia mengucapkannya terlalu keras, perasaannya akan runtuh.

Kiara menelan ludah. “Siapa kamu sebenarnya?”

Perempuan itu menghela napas panjang, lalu berkata, “Namaku Laras.”

Ia mengangkat dagu sedikit, seolah sedang menerima takdir yang tak bisa ia tolak.

“Aku adalah puteri dari bangsa kuntilanak.”

Udara kamar terasa semakin dingin.

Sky mencibir. “Hebat. Keluarga kerajaan dunia astral datang minta tolong ke manusia.”

Kiara melirik Sky tajam. “Sky.”

Sky terdiam, tapi rahangnya mengeras.

Kiara kembali menatap Laras. “Kau ingin aku menolong Bima. Tapi apa alasannya? Bukannya kamu yang sudah membuat dia seperti itu?”

Laras menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak ia muncul, bahunya terlihat sedikit bergetar.

“Aku tahu,” katanya lirih. “Keadaannya memang berawal dariku.”

Jarinya mengepal di sisi kebaya. “Tapi bukan aku yang membuat Bima sekarat.”

Ia mengangkat wajahnya lagi, mata beningnya berkaca-kaca. “Aku mencintainya. Dan aku tidak akan pernah mencoba menyakitinya.”

Kata mencintai itu terdengar aneh keluar dari bibir makhluk astral.

Namun Kiara tidak bisa menyangkal, tidak ada kebohongan di sana.

“Kalau bukan kamu,” tanya Kiara perlahan, “lalu kenapa Bima bisa jadi seperti itu? Dan kenapa genderuwo itu menempel ke dia?”

Laras kembali menunduk. Kali ini lebih lama.

“Genderuwo itu…” suaranya bergetar. “Adalah makhluk yang seharusnya menjadi pasanganku.”

Sky mendesis. “Menjijikkan.”

Laras mengabaikannya. “Namanya Bara.”

Nama itu jatuh seperti beban.

“Tapi aku menolak dijodohkan dengannya,” lanjut Laras, “karena aku sudah menyukai Bima lebih dulu.”

Kiara terdiam.

“Dan karena penolakan itu,” suara Laras mengeras, “Bara marah. Ia merasa dipermalukan. Maka ia memilih jalan paling kejam, mencoba membunuh manusia yang kucintai.”

“Kau tidak menghentikannya?” Sky menekan.

“Aku mencoba,” jawab Laras lirih. “Tapi kekuatan bangsa kuntilanak tidak sehebat bangsa genderuwo. Aku tidak bisa melawannya secara langsung.”

Hening.

Kiara mengepalkan tangannya. “Terus kenapa kamu malah minta tolong ke aku?”

Ia tertawa kecil, pahit. “Kamu saja, makhluk astral nggak bisa. Apalagi aku yang cuma manusia biasa.”

Laras menggeleng pelan. “Tidak.”

Ia melangkah satu langkah maju. Sky refleks bergerak, tapi Laras berhenti sebelum melewati batas.

“Kamu salah,” kata Laras mantap. “Derajat manusia sejatinya lebih tinggi daripada bangsa kami.”

Sky mendengus tak percaya.

“Dan alasan kenapa Bima masih bisa bertahan sampai sekarang,” lanjut Laras, menatap Kiara lurus-lurus, “bukan karena aku.”

“Terus karena apa?” tanya Kiara.

“Tekadnya.”

Kiara mengernyit. “Tekad?”

“Tekad untuk bisa bertemu kamu.”

Dunia Kiara terasa berhenti.

“Aku?” suaranya nyaris tak terdengar. “Tapi… kenapa?”

Laras terdiam.

Untuk sesaat, ekspresinya berubah. Ada sesuatu yang asing di wajah cantiknya, cemburu yang tertahan. Bukan kebencian. Bukan permusuhan. Hanya rasa kalah yang pahit.

Namun ketika ia kembali menatap Kiara, aura gelap itu lenyap.

“Aku tidak bisa menjawabnya,” katanya pelan.

Lalu ia menoleh ke Sky.

“Jika kamu mau membantuku menyelamatkan Bima,” ujar Laras, “aku bisa membantumu mencari seseorang.”

“Seseorang yang tahu,” lanjutnya, “kenapa kamu bisa melihat dunia kami.”

Dan terakhir, tatapannya jatuh pada Sky.

“Dan alasan kenapa arwah sepertinya bisa tersesat terlalu lama di dunia manusia.”

Sky membeku.

Kiara menoleh cepat ke arahnya. “Sky…?”

Sky tidak menjawab. Wajahnya tegang, sorot matanya bergetar, untuk pertama kalinya, ia terlihat takut.

Hening panjang menyelimuti kamar.

Laras menunggu.

Tidak mendesak.

Tidak memaksa.

Akhirnya Kiara melangkah maju.

Ia berdiri sejajar dengan Sky.

“Aku akan bantu,” katanya tegas.

Sky menoleh. “Kiara-”

“Bukan karena tawaranmu,” potong Kiara tanpa ragu. “Tapi karena Bima adalah temanku.”

Ia menatap Laras lurus-lurus. “Kalau memang aku bisa bantu, aku bantu.”

Laras menghembuskan napas lega. Matanya berkaca-kaca, lalu ia menunduk dalam-dalam.

“Terima kasih,” bisiknya.

Kiara mengepalkan tangan, dadanya terasa sesak, takut, ragu, tapi juga… mantap.

Karena untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai....

Ia tidak lari.

Dan di sudut kamar, aroma melati itu semakin menguat, namun kali ini terasa lebih segar.

Namun Kiara tahu.

Keputusannya malam ini....

akan menyeretnya lebih dalam ke dunia yang tak biasa .

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!