Aruna Arabella, gadis cantik yang terlibat hubungan asmara dengan seseorang laki-laki tampan yang tak lain adalah kakak tirinya setelah sang mama memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang duda kaya, yang mempunyai seorang putra.
Aruna harus menelan pahitnya kehidupan di dalam keluarga nya, sang papa berselingkuh takala usia Aruna menginjak tujuh tahun, tak hanya itu, sang papa serta pelakor tersebut membawa kabur kakak laki-laki Aruna.
Setelah kejadian itu Aruna tingal bersama dengan mama nya, yang bekerja sebagai penjahit di sebuah butik kecil sederhana.
Karena kepintaran nya, Aruna di terima masuk di sebuah sekolah elite, ia mendapat beasiswa, di sanalah Aruna memulainya, kisah cinta dengan seorang laki-laki posesif yang ternyata adalah anak laki-laki dari pria yang menjadi papa sambung nya.
Dari sini lah kisah cinta terlarang itu di mulai ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Lo kok tau semuanya tentang dia?" tanya Erlan lagi.
"Siapa yang gak tau sih? Di sekolah ini, hal itu jadi bahan bicaraan orang-orang yang gak suka sama dia," jawab Leo.
"Reaksi dia gimana?" penasaran Erlan pun ingin tau lebih banyak soal Aruna.
"Ini nih yang bikin Lo gak bakal percaya, dia itu tipikal cewe kuat sih menurut gue, soalnya gak mudah di tindas, meskipun gue yakin hal itu bikin dia risih tapi dia gak pernah nyerah dan terus berlajar," kata Leo lagi.
"Gak nyangka gue Lo tau banyak soal dia, apa jangan-jangan Lo ..." ucap Erlan terhenti saat mereka kini sudah tiba di depan pintu kelas mereka.
"Jangan nuduh yang enggak-enggak," kata Leo mengambil langkah besar masuk kelas dan menuju tempat duduk nya.
Sementara itu di kelas Aruna.
"Aruna duduk di kursi nya, dia mengambil kursi Vani dan menukar posisi tempat duduk tersebut, meskipun dia duduk sendirian sekarang dia tetap tidak mau berbagi kursi dengan Vani dan memutuskan untuk tetap mengambil kursi nya. ( Memindahkan kursi)
"Hiuhh, capek nya," kata Aruna yang kemudian duduk dan meletakkan tas itu di atas meja nya. Ia mengeluarkan buku novel yang sering ia baca dan mulai membaca nya sebagai pengisi waktu luang sebelum jam pelajaran tiba.
Tak lama kemudian terlihat Reyhan dan Vani yang masuk ke dalam kelas tersebut di sertai beberapa anak-anak lainnya.
"Aruna," kata Reyhan hendak menghampiri nya, namun dengan cepat Vani menarik tangan Reyhan dan membuat Reyhan duduk di kursi mereka.
Sementara itu Aruna sama sekali tidak mempedulikan mereka, hatinya sudah benar-benar tertutup untuk kedua orang tersebut.
"Sayang, kamu lupa? Kan kamu udah bilang kalau gak bakal peduliin Aruna lagi," kata Vani dengan wajah polos nya.
"Iya sayang, maaf," kata Reyhan menuruti kemauan Vani.
Tak lama kemudian bel sekolah pun berdering, menandakan bahwa mata pelajaran pertama sudah tiba.
Selama mata pelajaran pertama berlangsung Aruna tetap fokus dengan pelajaran nya, meskipun beberapa kali Reyhan melirik ke belakang dan mencoba untuk kontak mata dengan nya.
"Baik anak-anak, sampai di sini saja pelajaran kita, bel kebutuhan sudah berbuayi, bapak permisi keluar dulu, ingat, jangan lupa kerjakan tugas yang tadi," kata sang wali kelas yang kemudian berjalan keluar dari kelas tersebut.
Sementara semua orang membicarakan soal tugas barusan, Aruna malah membereskan buku-buku tugas nya dia pun segera keluar dari dalam kelas tanpa bicara sepatah kata pun.
"Rasanya lega banget sendirian," kata Aruna yang kemudian berjalan menuju kantin sekolah.
Setibanya di kantin, Aruna merasa kalau perutnya masih kenyang, ia pun hanya membeli air saja dan kemudian duduk di kursi yang masih kosong untuk mengerjakan tugas yang diberikan wali kelas tadi.
Seperti biasa, Aruna pasti akan sangat nyaman kalau mengerjakan tugas nya di kantin, lagipula dia merasa kalau tugas itu terlalu sedikit jadi tidak perlu di kerjakan di rumah.
Tak lama kemudian, suasana kantin pun semakin ramai, bangku kosong pun hanya tersedia beberapa saja. Vani dan Reyhan mendapatkan bangku terkahir di pojok ruangan kantin tersebut.
"Kok cuma pesan air? Apa dia gak bawa uang jajan lagi?" batin Reyhan melirik Aruna yang di ujung sana.
"Sayang, mau makan apa? Biar aku yang pesen kali ini," kata Vani sambil melirik ke arah Aruna, entah apa lagi yang ingin dia lakukan.
"Oh iya, yang kayak biasa aja," kata Reyhan masih fokus ke Aruna.
Tampa sepengetahuan Reyhan, Vani sangat kesal melihat reaksi Reyhan saat ini, ia lun memutuskan pergi untuk memesan makanan untuk mereka berdua.
Sementara itu ...
"Yah, gak ada tempat kosong," kata Leo sambil memegang perutnya.
"Makan di luar aja," kata Erlan dengan santainya.
"Makan di luar pala Lo peyang, mau Lo di amuk papa gue?" kata Leo sambil celingak-celinguk.
"Gue gak takut," jawab Erlan singkat.
Sementara itu Leo malah celingak-celinguk, dan akhirnya melihat ada bangku kosong di depan Aruna.
"Nah, itu deket Aruna ada bangku, gue ke sana ya Lo cari sendiri aja," kata Leo yang kemudian hendak melangkah pergi menghampiri Aruna.
Melihat itu Erlan segera menahan pundak Leo.
"Itu tempat gue," katanya yang kemudian bergegas pergi mendahului Leo.
Seketika Leo terdiam, ia tak menyangka kalau Erlan yang tadinya bilang tidak lapar dan menyuruh nya makan di luar malah tiba-tiba merebut tempat yang susah payah dia cari.
"Rahan sialan," kata Leo kesal dan kebetulan ia menemukan kursi yang baru di tinggal anak lain, terpaksa ia duduk di tempat itu, ia yang awalnya bersemangat bisa duduk dekat Aruna malah kursinya di rebut Erlan.
Aruna kaget saat tiba-tiba Erlan duduk di hadapan nya. Ia menatap Erlan sekilas dan sekeliling mereka yang bangku-bangku nya sudah terisi. Aruna pun mengambil kesimpulan kalau Erlan hanya tidak punya tempat duduk lain.
"Pesenin gue makanan," kata nya kepada Aruna.
Aruna ya g tadinya fokus dengan buku nya tiba-tiba melirik kembali ke arah Erlan untuk yang kedua kalinya.
"Lo nyuruh gue?" tanya nya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"menurut Lo?" kata Erlan lagi.
"Punya kaki panjang, punya tangan kekar masa nyuruh orang, gak lihat emang gue lagi belajar," ujar Aruna kembali fokus dengan buku nya.
"Oh, jadi Lo berani lawan gue pas di sekolah? Di rumah kenapa diem aja? Kayak orang gak punya tenaga, kenapa kau caper sama papa?" kata Erlan lagi.
"Gak gitu," kata Aruna kesal. Namun Erlan malah mengambil buku tugas Aruna dan memegang nya erat.
"Kembaliin gak!" Kata Aruna berusaha mengambil buku nya.
"Pergi pesen makanan gue, buruan, kalau gak gue gak tau gimana nasip ni buku," ucap Erlan tersenyum devil sambil menatap buku tersebut.
"Astaga, nyebelin banget sih," ucap Aruna yang akhirnya mengalah dan kemudian berjalan pergi untuk memesan makanan untuk Erlan.
"Tu anak malah ikut-ikutan ngebuli Aruna, gila kali ya dia," kesal Leo.
Sementara itu Vani yang melihat kesempatan bagus segera melancarkan aksinya. Dia membawa nampan yang berisikan mie panas tersebut berjalan ke arah Aruna. Vani berniat untuk menyenggol Aruna agar Aruna terkena mie panas tersebut.
"Vani, mau ngapain dia jalan ke arah gue? Padahal masih banyak jalur lain," batin Aruna peka dengan wanita licik tersebut.
Benar saja, saat Aruna memperhatikan gerak-gerik kaki Vani, ia menemukan kalau Vani sengaja pura-pura tersandung untuk menumpahkan mie panas itu ke arah nya.
Dengan cepat Aruna menepis nampan tersebut, sehingga nampan tersebut berbalik dan mangkuk mie itu dalam sekejap tumpah di badan Vani serta wajah nya.
****
sama aja kek Vani ,gak jelas apa mau nya.dulu Aruna dihina karena dekat ma dia,sekarang udah jauh Deket ma Erlan juga salah.mau nya kalian apa sih...
Aruna udah jauh dari Reyhan pun Lo gak puas...
Aruna Deket cowo lain Lo pun sewot...
gak jelas juga itu otak lho 🤣🤣🤣
jiaaah nih bocah cowo kudu di jitak kepalanya...
buat anak gadis orang cenat cenut aja
🤣🤣🤣🤣
jangan Ngadi Ngadi ya bocil 🤣🤣🤣
jagain Baek Baek tuh adek ketemu gede
kk dan adik udah biasa berantem ajaa,saling jahil.abg ku aja yang paling besar suka nyelipin kepala ku di keteknya ,kayak miting gtu.padahal aku udah punya anak.auto ngamuk aku,dianya malah lari keliling rumah