NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Malam tidak langsung tidur di mansion itu.

Ia menggantung.

Seperti udara yang terlalu penuh, tapi tidak bergerak.

Zivaniel masih duduk di tepi ranjang ketika layar ponselnya akhirnya meredup. Bukan karena ia menutupnya, melainkan karena waktu terus berputar. Gambar Cherrin yang tertidur miring—rambutnya berantakan, satu tangan mencengkeram ujung selimut masih sama seperti itu.

Kamar itu sunyi. Terlalu luas untuk satu orang. Lampu temaram di sudut ruangan membuat bayangan furnitur tampak lebih panjang dari biasanya. Jam dinding berdetak pelan—bunyi yang hampir tidak pernah ia perhatikan, tapi malam ini terasa terlalu jelas.

Zivaniel merebahkan punggungnya ke kasur tanpa sepenuhnya berbaring. Kepalanya bersandar ke sandaran ranjang. Kemeja putihnya sudah terbuka dua kancing, dasi tergeletak sembarangan di meja.

Ia mengingat ucapan ayahnya.

Kehidupan normal.

Kalimat itu terus terulang, seperti gema yang tidak mau pergi.

Normal bagi siapa?

Bagi Cherrin, kehidupan normal berarti bangun pagi dengan mata masih setengah terpejam, mengeluh soal tugas sekolah sambil mengunyah roti, tertawa kecil karena hal-hal yang bagi orang lain mungkin sepele. Normal berarti pulang ke rumah dengan lelah yang jujur—lelah karena hidup, bukan karena bertahan.

Bagi Zivaniel, kehidupan normal adalah agenda, jadwal, ekspektasi. Normal adalah tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Normal adalah memahami bahwa setiap hubungan memiliki nilai strategis—atau setidaknya potensi.

Ia memejamkan mata.

Bayangan Cherrin muncul lagi, kali ini bukan dari layar. Ia teringat bagaimana gadis itu sering mencondongkan kepala sedikit saat berpikir, atau bagaimana alisnya akan berkerut tipis ketika ia tidak setuju tapi memilih diam.

Hal-hal kecil. Tidak penting. Tapi entah kenapa terasa berat untuk dilepaskan.

Zivaniel akhirnya berbaring sepenuhnya. Matanya menatap langit-langit kamarnya yang sangat indah. Yang ada hiasan—bersih, sempurna, dingin.

Tidur datang lama setelah itu.

Cahaya matahari menyelinap masuk melalui jendela kamarnya,

Zivaniel bangun lebih awal dari biasanya. Tidak karena alarm, tapi karena tubuhnya seolah menolak tidur lebih lama. Ia mandi dengan air dingin, mengenakan seragam sekolah dengan gerakan otomatis.

Di meja makan, Varla sudah duduk, membaca tablet sambil minum kopi.

“Kamu bangun cepat,” katanya tanpa mengalihkan pandangan.

“Ada ulangan,” jawab Zivaniel.

Varla mengangguk. Tidak bertanya ulangan apa. Tidak perlu.

Ayahnya sudah berangkat lebih dulu.

Mansion terasa lebih tenang tanpa kehadiran kepala keluarga. Tapi ketenangan itu tidak pernah benar-benar membuat Zivaniel lega—lebih seperti jeda sebelum sesuatu dimulai lagi.

"Cherrin?" Tanya Zivaniel pada sang ibu.

Varla mendengus. Rasanya tidak suka sama sekali saat anaknya bertanya tentang gadis yatim-piatu yang di adopsi mertuanya itu.

"Udah pergi."

Zivaniel mengangkat alisnya. "Mama nggak ngomong apa-apa ke dia?"

"Kenapa kalau ngomong? Mama itu cuman kasih nasihat sama dia! Bukan kah hal tersebut pantas?"

Zivaniel menghela nafasnya kasar. Ia sudah menduganya, pasti Cherrin di marahin habis-habisan oleh sang mama. "Ma.."

"Jangan bela dia, Niel. Mama muak banget karena kamu selalu bela orang asing itu."

Zivaniel mengeraskan rahangnya. "Jaga bicara mama." Katanya dingin.

Varla terkekeh. "Mama heran, apa yang membuat kamu sampai segitunya bela anak itu? Hm? Mama nggak suka ya Niel." Sesaat mata Varla terbelalak saat berpikir sesuatu. "Jangan-jangan, kamu suka lagi sama dia? iya?" Pekik Varla marah.

Zivaniel tak merespon, ia malah dengan santai pergi dari sana, meninggalkan teriakan ibunya.

"Niel!! Mama belum siap ngomong!!! Mama nggak akan pernah rela kamu suka sama orang kayak dia!!"

Di perjalanan menuju sekolah, ia duduk diam di kursi belakang mobil. Pemandangan kota lewat seperti film tanpa suara. Gedung-gedung tinggi, jalanan basah sisa hujan semalam, orang-orang yang bergerak dengan tujuan masing-masing.

Ia membuka ponsel.

Tidak ada pesan dari Cherrin.

Ia tidak tahu kenapa itu terasa seperti sesuatu yang harus dicatat.

Biasanya gadis itu akan mengirim pesan singkat pagi-pagi—kadang hanya stiker kecil atau keluhan soal kantuk. Tapi pagi ini, layar tetap kosong.

Ia menghentikan pikirannya sendiri.

Mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Zivaniel turun, menyelipkan ponsel ke saku jas. Wajahnya kembali datar, langkahnya terukur.

Di sekolah, semuanya berjalan seperti biasa.

Pelajaran demi pelajaran berlalu. Diskusi, catatan, jawaban yang tepat. Zivaniel selalu tahu apa yang harus dilakukan. Guru-guru menyukainya—atau setidaknya menghormatinya. Teman-temannya menganggapnya pendiam, tapi dapat diandalkan.

Di sela jam pelajaran, ia melihat Cherrin dari kejauhan.

Gadis itu duduk di bangkunya, kepala sedikit tertunduk, matanya fokus ke buku. Rambutnya dikuncir rendah hari ini. Ada lingkar tipis di bawah matanya—tanda lelah yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.

Zivaniel memperlambat langkahnya tanpa sadar.

Cherrin tidak langsung menyadari kehadirannya. Baru ketika ia mengangkat kepala, mata mereka bertemu.

Ekspresi Cherrin berubah sekejap—bukan terkejut, lebih seperti seseorang yang baru ingat sesuatu yang tertunda.

“Kamu kelihatan capek,” kata Zivaniel pelan ketika mereka akhirnya berdiri berdekatan.

Cherrin mengedikkan bahu, ia berekspresi cuek, karena masih kesal dengan Zivaniel kemarin. “Kegiatan sekolah sampai malam. Persiapan acara.”

“Apa acaranya?”

“Pentas kecil.” jawabnya singkat.

Zivaniel hanya mengangguk.

“Sudah sarapan?” tanyanya akhirnya.

“Udah sedikit,” jawab Cherrin jujur.

Zivaniel mengeluarkan permen kecil dari saku jasnya—kebiasaan yang bahkan ia sendiri tidak ingat sejak kapan dimulai.

Cherrin menatap permen itu, lalu menatapnya.

“Buat apa”

“Untuk kamu.”

Cherrin mendengus. "Nggak perlu." Tolak Cherrin membuat Zivaniel mendelik.

"Kenapa?" ekspresi Zivaniel masih sama, datar.

"Pikir aja sendiri." Cherrin melirik sewot, ia pura-pura sibuk kembali dengan buku yang ada di tangannya, padahal di dalam hatinya ingin sekali ambil permen dari Zivaniel.

"Cher, jangan mau! Jual mahal oke. Dia aja kemarin cuekin elo tanpa sebab. Bahkan dia terkesan nggak peduli. Tapi ini apa tiba-tiba? Ck, males banget." Cherrin berseru di dalam hati. Pokoknya dia tidak boleh tergoda oleh rayuan manusia tampan seperti Zivaniel Maxton de luca ini.

Zivaniel mendelik, ia menarik kursi di samping Cherrin, ia bahkan tidak peduli dengan tatapan beberapa teman Cherrin yang menatap ke arah mereka.

"Cherr.."

"Ngapain ke sini sih Niel!! Jauh-jauh sana!" Cherrin memiringkan tubuhnya ke samping, ngambek.

Zivaniel mengerjap. "Kamu kenapa?"

"Harusnya aku yang tanya kamu kenapa?! Kamu cuek bebek kemarin sama aku! Suruh aku punya hubungan sama Elran lah. Ck, terus ini... Udahlah sana pergi aja." Usir Cherrin galak.

Zivaniel menghela nafasnya kasar. "Maaf. Aku salah."

Cherrin mencibir. "Nggak di terima maafnya. Udah ah.. Aku mau belajar, bentar lagi ada ulangan."

Dan tepat saat itu, bel berbunyi, membuat Zivaniel akhirnya pergi dari kelas Cherrin, namun sebelum itu, sempat-sempatnya Zivaniel mengelus kepala Cherrin, dan meletakkan permen tadi di atas meja Cherrin.

Cherrin membeku untuk beberapa saat, ia nyaris tidak bergerak sama sekali.

"Gila, apa yang di buat si datar Zivaniel tadi? Ha? Ha? Hati gue??"

Icha yang melihat itu langsung menggodanya

"Cye cye Cherrin..."

Cherrin memegang pipinya. "Cha.."

"Apa?"

"Jurang... Jurang... Gue mau lompat!!!!"

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!