Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 1 bagian 1
Pagi itu kelabu, gumpalan awan tebal nan gelap tampak menyelimuti hampir seluruh kota. Gerimis hujan mulai turun menimbulkan kegaduhan di hampir setiap sudut jalan. Pengendara motor yang menepi, pejalan kaki yang mulai berlarian mencari tempat berteduh. Hujan bulan Juni, sesuatu yang tidak biasa namun tidak mustahil. Terdengar seperti takdir, terkadang datang tiba-tiba tanpa diundang, namun ketika dibutuhkan tidak kunjung tiba.
Daniel Rei Erwin, menatap keluar jendela mobilnya, menatap jalan yang kini mulai lembab dan berembun. Lembab, berembun dan sedikit cahaya matahari. Tiga hal yang tidak disukai begitu banyak orang, namun bagi Daniel itu adalah ketenangan. Saat dimana tidak ada satu pun kebisingan, hanya ada suara hujan dan sedikit angin yang menyejukkan. Ia menyukainya, walau terkadang dalam ketenangan yang ia suka menciptakan banyak hal yang harus ia abaikan. Tidak banyak yang tahu bahwa memilik penglihatan ganda bukan lah hal yang menyenangkan.
Senin pagi bulan Juni dan guyuran hujan, akan sangat sempurna jika libur sekolah belum selesai. Tahun ajaran baru di tempat yang baru dan sekolah yang baru, dia berharap semuanya akan baru juga. Ia mulai berharap tidak akan ada satu pun orang yang mengenalnya, tidak ada lagi wajah penjilat yang mendekatinya, dan tidak akan ada orang yang mengatakan dirinya aneh.
Daniel mengalihkan perhatiannya pada lampu lalu lintas yang menyala merah, lalu pandangnya kembali teralih pada seorang pria yang berdiri di depan pos polisi yang tampak kosong. Pria tersebut tampak berusia 30an tahun, ia tidak bisa memastikannya. Bertubuh tegap dan berpakaian serba hitam yang tampak sangat basah, pria itu benar-benar mengabaikan hujan yang turun. Ia bahkan tidak masuk ke dalam pos polisi, hanya melihatnya sebentar dan berjalan pergi.
Hujan benar-benar deras dan ada orang bodoh yang berjalan menerobos hujan bahkan setelah menemukan tempat berteduh. Daniel suka hujan, namun bukan berarti ia akan bermain hujan ketika badai tampak akan datang. Terkadang ia benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh orang dewasa.
Lampu lalu lintas menyala hijau, dan mobilnya perlahan menjauh dari pos polisi dan pria itu. Ada sesuatu yang mencurigakan dari pria itu, namun Daniel tidak peduli.
“Orang aneh, sudah tahu hujan bukannya menepi malah main hujan.” Ujar Mas Rian.
“Ya mungkin lagi banyak masalah mas, maklum sudah tua.” Jawab Daniel.
“Iya den, orang tua banyak masalah memang saya saja belum tua sudah banyak masalah.” sahut Mas Rian
“Masalah Mas Rian apa sih kayaknya tidak ada, nikah saja belum.” Tanya Daniel iseng.
“Ya itu masalah terbesar dalam hidup saya den, belum nikah. Saya pusing tiap hari dituding bapak terus-terusan” jawab Mas Rian dengan logat medoknya.
Daniel hanya tersenyum mendengarnya. Keluarga Mas Rian ini memang sudah bekerja di keluarganya sejak lama. Ayah Mas Rian, Pak Zaki adalah sopir pribadi ayahnya dan ibunya adalah ART di rumahnya. Mereka sudah bekerja bersama keluarganya hampir puluhan tahun, tidak tahu karena paksaan atau memang keinginan mereka sendiri. Mereka bahkan tidak segan untuk meninggalkan kampung halaman mereka untuk ikut orangtuanya pindah ke luar kota.
Mobil berjalan kecepatan konstan dibarengi gerimis yang semakin deras, Daniel kembali menatap jalanan. Pikirannya melayang pada hari terakhir di sekolah lamanya, suasananya sama hujan, dingin dan gelap. Semua orang menatapnya dengan pandangan aneh dan menghakimi seolah kepergiannya dari sekolah adalah sebuah anugrah. Tidak ada lagi aib dalam sekolah, mungkin itu yang dipikirkan semua orang. Ia tidak tahu dan dia tidak ingin tahu, yang pasti dia akan meninggalkan sekolah itu dengan sedikit dendam. Bukan dendam yang sebenarnya, hanya rasa kecewa.
Hujan, kabut dan kelabu. Pagi yang ia suka dan berharap semuanya sesuai dengan yang ia harapkan. Namun tampaknya semua angan-angan yang baru saja ia harapkan sedikit terkikis begitu melihat gerbang tinggi sekolah bertuliskan “Celestial School” yang tampak tertutup kabut hitam. Sekolah surgawi atau sekolah dari langit, nama yang cukup aneh namun penuh dengan harapan. Mungkin pendiri sekolah ini berharap siswa-siswinya dapat mengapa harapan mereka yang setinggi langit.
Beberapa pohon palem besar di tanam di kedua sisi pintu masuk, seolah menyambut, dan di ujung jalan 2 pohon Angsana besar tampak menjulang tinggi, jauh lebih tinggal dari gerbang dan pohon palem sebelumnya. 2 orang satpam halaman depan mengarahkan mereka ke lahan parkir kusus yang terletak di dekat hutan buatan kecil di sisi kiri sekolah.
“Kenapa den? Lihat sesuatu ya, memangnya kemari pendaftaran kemarin tidak lihat apa-apa?” Tanya Mas Rian sambil ikut melihat sekilas
“Iya mas, kok jadi horor ya? Kemarin pendaftaran kan cerah jadi tidak ada penampakan apa-apa.”
Tidak lama setelah jawaban itu, Mas Rian memarkirkan mobilnya di dekat pintu keluar, berderet dengan beberapa mobil yang sudah sampai duluan. Daniel dengan enggan turun dari mobil dengan payung kecil,
“Mas Rian kalau mau pulang dulu. Nanti dikabarin kalau sudah mau pulang” ujar Daniel.
“Iya den, nanti setelah saya survei dulu, ngobrol sebentar sama sopir yang lain” jawab Mas Rian.
Hujan masih mendera, dan jarak antara parkiran dan lobi masih cukup jauh. Beruntung ada begitu banyak gedung disekitarnya, jadi ia tidak perlu lagi menggunakan payung.
Berjalan melalui koridor yang hening dan dingin, suara sepatunya yang basah menggema di udara. Ia tidak tahu koridor apa ini dan mengapa begitu sepi. Mungkin ini adalah lab IPA, biasanya hanya digunakan saat praktikum jadi masuk akal jika itu sepi. Diam-diam ia merutuk betapa besarnya sekolah ini, ia hanya ingin sampai kantor kepala sekolah mengapa harus berjalan begitu jauh.
“Hey kamu anak baru ya?”
Itu adalah kalimat pertama yang menyambut Daniel begitu ia samapi ke lobi. Menoleh kesamping ia menemukan seorang anak laki-laki berperawakan lebih besar darinya, dasinya miring dan bajunya setengah di keluarkan. Dia duduk di ujung terdalam sofa yang bersebelahan dengan lemari kaca besar yang memajang begitu banyak piala dan penghargaan.
Bahkan seorang siswa yang tidak rapi pun dapat datang tepat waktu, benar-benar sekolah yang luar biasa.
Anak itu berdiri dan mendekati Daniel, menatapnya dengan sinis dan berkata,
“ruang kepala sekolah ada di ujung koridor.”
Daniel mengernyit heran, namun tidak mengatakan apa pun. Ia mengangguk dan membiarkan anak itu pergi. Mencoba mengabaikan seekor monyet yang bertengger di bahu kiri anak itu, di zaman yang semakin maju ini mengapa masih ada saja orang yang percaya pada jin pendamping seperti Khodam? Itu benar-benar tidak penting. Hal yang lebih penting bagi Daniel adalah bagaimana anak itu tahu kalau ia mencari ruang kepala sekolah, apa dia punya hubungan dengan kepala sekolah?
Dia keluar dari lobi yang berbatasan langsung dengan lapangan. Dari sisi ini ia mulai melihat banyak siswa yang berkeliaran, sebagian besar berjalan menggunakan payung namun tidak sedikit yang menunggangi motor dengan jas hujan. Sejauh ini semuanya tampak sama dengan sekolah lamanya.
Ruang kepala sekolah buknlah ruangan yang ia suka. Ini hanyalah ruangan berukuran 3x4 dengan satu set sofa dan meja kerja yang penuh dengan dokumen dan sebungkus rokok yang masih tersegel. Sejak awal Daniel memasuki tempat ini bau bunga sedap malam telah menyapa indra penciumannya. Dengan dinginnya AC dan lampu yang cenderung redup Daniel benar-benar tidak bisa berfikir dengan baik. Ia menyukai keheningan yang sejuk, hujan deras dan petir, atau malam dingin yang berangin, namun ia tidak menyukai tempat yang saat ini ia tempati.
“Sebentar ya, nanti ada temanmu yang datang. Wali kelasmu sedang ada urusan mendadak jadi tidak bisa ikut” ujar kepala sekolah.
“Ya Pak,” jawab Daniel.
Dia mengamati kepala sekolah dengan menyelidik. Tingginya lebih dari 175cm dan tampak sangat proporsional. Ia tampak seperti seorang olahragawan yang profesional daripada seorang kepala sekolah. Usianya berkisar 40an, namun tidak terlihat satu pun kerutan di wajahnya. Rambutnya dicat coklat gelap dan disisir dengan rapi, menciptakan kesan sombong
Tok tok tok
“Masuk.”
Seorang siswa berpakaian rapi masuk ke dalam ruangan dengan ragu.
“Permisi Pak, saya Andre dari 11 IPS 1.”
Daniel mengamatinya sebentar. Siswa itu tidak lebih tinggi dari Daniel, kulitnya berwarna kuning langsat dan pipinya sedikit gembil. Tidak ada tanda-tanda produk campuran, namun tidak juga sepenuhnya lokal. Tutur katanya terdengar sopan namun ragu-ragu, seolah tengah menghadapi interogasi yang luar biasa. Daniel tersenyum kecil ketika melihat wajahnya yang tampak tidak nyaman. Sepertinya dasinya terlalu ketat. Itu adalah formalitas yang sangat formal.
“Oh iya, ini tolong teman barunya diajak keliling dulu ya, atau bisa langsung diperkenalkan ke kelasmu. Bu Erni ada urusan mendadak tadi, jadi kamu sebagai ketua kelas tolong dibimbing ya teman barunya!”
Kalimat permintaan tolong yang terdengar seperti perintah, siapa yang bisa menolak kepala sekolah?
“Iya Pak,” jawab Andre pelan.
Mereka segera keluar dari ruangan yang dingin dan sesak itu, dan begitu pintu ruangan tidak lagi tampak Andre dengan segera melongarkan dasinya dan melepas kancing teratasnya. Daniel sudah menduganya sejak awal.
“Huff, kukira kami salah apa lagi,” gerutunya.
“Memangnya kenapa?” tanya Daniel.
“Seperti tidak tahu anak IPS saja, tidak salah saja selalu dicap salah. Oh iya Andre, siapa namamu?”
“Daniel, pindahan dari luar pulau. Mohon bantuannya” ucap Daniel.
“Tidak usah seformal itu, santai saja. Kita bukan anak-anak MIPA yang penuh gaya atau anak Bahasa yang tidak bisa diajak bercanda” jawab Andre sungkan.
Daniel mengangguk tanpa mengatakan apa pun. Mereka berjalan melalui begitu banyak koridor. Melewati perpustakaan dan lapangan utama. Daniel sepertinya bisa melihat pagar pembatas halaman belakang dari tempatnya berdiri saat ini.
“Kelas kami memang bukan prioritas jadi sedikit terpencil jadi sabar ya, cuman 2 tahun kok,” ucap Andre tiba-tiba.
“Yah sangat spesial. Bukankah dimana-mana anak IPS selalu menjadi anak itu?”
Daniel yakin Andre tahu apa yang ia akan katakan. Ini juga berlaku di sekolah lamanya, dia yang hebat dalam matematika selalu diberi keistimewaan dan apresiasi padahal tidak tahu logikanya jalan atau tidak. Yah ini sudah menjadi hal umum di semua tempat lah.
Mereka berjalan melalui koridor yang dipenuhi dengan loker, dan bertemu dengan 4 orang siswa yang tampak sangat kebingungan di sana. Salah satu siswi hampir menagis dan seorang siswa berbadan lebih kecil tampak seperti kehilangan nyawa, mereka tampak ketakutan.
“Drama tahun ajaran baru” ucap Andre.
Ia menunjukan loker yang akan menjadi milik Daniel di masa depan, karena hari ini hari pertama jadi ia tidak meletakan apa pun di sana. Mereka pun kembali berjalan ke ruang kelas mereka. Ruangan itu berada di lorong paling ujung berdekatan dengan parkiran sepeda motor dan dinding pembatas yang dihias mural-mural pendidikan.
“Hey gaes kita punya teman baru, jangan diospek apalagi dibully ya!” teriak Andre di depan kelas.
Ruangan yang tadinya ricuh menjadi hening, dan itu membuat Daniel sedikit tertekan.
“Daniel Rei Erwin salam kenal,”
“Woy, Ayah kamu yang punya toko ATK besar di depan balai kota ya?” tanya seorang siswa.
“Weh Jo, tidak sopan baru kenalan langsung diinterogasi,” sangkal Andre.
“Ya tidak seperti itu ndre, kan namanya ada kemiripan. Bapakku jadi satpam di sana soalnya” ucap Jonatan sambil tersenyum kecil.
“Sudah Dan tidak usah dijawab Jonatan memang seperti itu orangnya, duduk di sebelahku ya bangku paling belakang pojok yang ada tas coklat jaket hitam. Aku mau ambil jadwal dulu. Jangan dinakali ya teman-temanku yang baik hati dan tidak sombong” ujar Andre.
Andre kembali keluar dan Daniel duduk di bangku yang disediakan. Ia mengamati sekitar, sedikit senang karena tampaknya teman sekelasnya bukanlah orang yang suka mencari perhatian dan lebih senang lagi ketika tidak menemukan hal janggal di kelasnya. Hujan masih turun dengan deras dan kelas hanya diisi obrolan ringan teman-teman barunya. Hingga Andre masuk dengan seorang gadis cantik berkerudung lebar, Hani namanya.
“Gaes kalian sudah dengar kabar belum?”
Awal sebuah gosip besar
Andre mengabaikan gadis itu. Ia mengambil spidol dan mulai menulis jadwal yang akan mereka gunakan sampai waktu tertentu. Namun gadis itu mulai bercerita.
“Kalian tahu geng sosialita anak-anak MIPA sedang terkena masalah besar?” ucapnya heboh.
“Masalah apa baru juga masuk udah ada masalah saja?” tanya Ida.
“Kalian ingat Sebastian yang di drop out dari sekolah semester kamerin gara-gara bullying? Si Mitha ingin menggantikannya, dari gosip yang beredar dia mengajukan diri pada Sora sebelum liburan semester” jawab Hani.
“Iya ingat, agak aneh sih. Secara ekonomi saja sudah beda kelas, kesenjangan banget. Mungkin kalau dia bergabung dengan anak pintar-pintar itu masih masuk akal lah” ucap Ilyas.
“Nah itu dia. Padahal kalau tidak mau tinggal ditolak baik-baik, kenapa harus ada acara ospek yang akhirnya menambah masalah. Jum’at malam kemarin mereka membawa Mitha ke pondok kosong yang terletak di belakang sekolah. Entah apa maksudnya. Yang menjadi pertanyaan terbesarku adalah bagaimana caranya mereka lolos dari satpam? Padahal satpam dan penjaga malam patroli 2 jam sekali” cerita Hani
“Kata Pak Satpam, ada jalan tembus dari lampu merah yang di depan itu tapi tidak pernah tahu yang mana satu” ucap Ilyas.
Andre sudah selesai menulis jadwal ia menutup spidol dan berkata,
“nih disalin besok-besok kalau ada yang tidak tahu jadwal bakal aku lempar ke kandang biawak.”
“Iya Ndre sebentar aku belum selesai cerita” ucap Hani.
“Cerita atau bergosip kerudung saja besar, kegiatannya bergosip” jawab Andre.
“Heh diam dulu, gosip adalah fakta yang tertunda dan tidak ada hubungannya sama kerudung. Yang penting akhlak saya baik” ucap Hani.
“Baik kok tukang ngosip”.
“Andre diam dulu Hani belum selesai,” ucap Edo yang mulai penasaran.
Andre pun diam dan berjalan duduk di sebelah Daniel. Ia tidak peduli dengan cerita itu, ia sudah melihat kasusnya secara langsung. Live, tanpa meminjam mata dan telinga orang lain.
“Pada awalnya semua berjalan lancar, sampai akhirnya Mitha mulai tertawa tidak jelas dan berteriak kesakitan. Kabarnya sampai saat ini dia masih di Rumah Sakit karena kesurupan ini” pungkas Hani
“Weh, kesurupan dari hari Jum’at sampai hari Senin. Itu artinya dia tidak makan?” tanya Ilyas.
“Ya jelas tidak. Apalagi orang tuanya tidak percaya hal-hal seperti kesurupan jadi dia di bawa ke Rumah Sakit, tidak ditanyakan ke Pak Ustadz atau pemuka agama” jawab Hani.
“Itu mah kalo mati bukan karena kesurupan, kurang makan, lapar dia” sahut Edo.
Daniel tidak mengerti dengan apa yang mereka ceritakan, tapi dia mendengarkan. Sekilas ia mengingat lampu merah dan pos polisi kecil di jalan utama. Ia juga mengingat orang mencurigakan yang ia lihat pagi tadi.
“Di sini anak-anaknya nge-geng ya?” tanya Daniel pada Andre.
“Tidak juga, cuman beberapa yang menganggap dirinya tidak selevel dengan orang lain jadi mereka membuat geng yang isinya sejenis. Kalau kita semua anggrek nih, mereka anggrek hantu. Nah geng yang baru diceritakan Hani itu anak-anak yang kita liat di koridor loker” jawab Andre malas.
“Kata si indigo kelas sebelah dia kerasukan penunggu rumah itu,” ujar Hani setelah dia duduk di bangkunya.
“Alah dia mah caper” ujar Edo.
“Iya caper, masa aku dibilang ada kodamnya” celetuk Ida dengan suara melengkingnya
“Iya Kodam mu permen hexos biar suaranya agak merdu sedikit,” sahut Edo.
Hingga bell istirahat berbunyi tepat jam 10.00, selama itu kelas mereka benar-benar tidak kedatangan guru. Andre tidak terlalu banyak berbicara namun juga tidak pendiam. Semua orang tenggelam dalam obrolan masing-masing sejak gosip yang dibawa Hani. Namun Daniel merasa ada sesuatu yang janggal dengan Andre, moodnya tampak tidak baik setelah masuk kelas tadi.
“Andre, Sora di depan,” ujar Ilyas.
“Mau apa?”
“Tidak tahu sepertinya penting”jawab Ilyas.
Andre tampak kesal dan siap membantah namun ia bangkit dan berjalan keluar.