Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 MENGHANCURKAN PAPAN HUKUM LAMA
Badai di atas awan telah berlalu, menyisakan langit yang bersih namun kejam dalam kejernihannya. Matahari mulai mendaki cakrawala, namun cahayanya tidak lagi terasa seperti pelukan hangat, ia adalah sorot lampu panggung yang menelanjangi setiap retakan di permukaan bumi. Di pelataran batu yang kini basah dan berkilat oleh sisa hujan, Abimanyu berdiri. Ia bukan lagi pria yang sama yang mendaki kaki gunung ini dengan tas penuh buku dan kepala penuh kutipan. Tubuhnya, yang kini hanya dibalut pakaian yang compang-camping, terasa seperti perpanjangan dari granit di bawah kakinya—keras, dingin, dan tak tergoyahkan.
Namun, di dalam lubuk batinnya, ia merasakan adanya sisa-sisa residu yang belum sepenuhnya menguap. Ada berat yang bukan berasal dari gravitasi bumi, melainkan dari gravitasi sejarah. Di hadapannya, di tengah reruntuhan pilar-pilar granit yang menyerupai tulang belulang raksasa, ia melihat sebuah ilusi atau mungkin manifestasi dari memorinya: Papan-Papan Hukum.
Bukan satu, melainkan berderet-deret prasasti batu imajiner yang tampak nyata di matanya. Papan-papan itu berisi ukiran huruf emas yang kaku, daftar "Engkau Harus" dan "Engkau Tidak Boleh" yang telah mendikte setiap tarikan napasnya selama empat puluh tahun hidupnya.
Ia melangkah mendekati papan pertama. Di sana terukir dengan megah: "Hukum Kesalehan Intelektual". Isinya adalah tentang ketaatan pada metode, penghormatan pada konsensus, dan pemujaan terhadap objektivitas. Di bawahnya tertulis nama-nama besar filsuf dan ilmuwan yang dulu ia anggap sebagai dewa.
Abimanyu menatap papan itu dengan mata yang kini telah melihat kilat secara langsung. "Kau," bisiknya, "adalah papan yang membuatku menjadi budak di ruang perpustakaan. Kau mengajarkanku bahwa kebenaran adalah sesuatu yang harus ditemukan di dalam jejak kaki orang lain, bukan diciptakan dari kehendakku sendiri. Kau membuatku takut untuk mengatakan 'Aku adalah' karena aku selalu harus mengatakan 'Menurut si anu'."
Ia mengangkat tangannya. Ia tidak memiliki palu besi, namun kehendaknya yang baru saja ditempa oleh badai terasa lebih keras dari baja. Ia menghantamkan tinjunya—bukan ke batu fisik, melainkan ke arah eksistensi hukum tersebut di dalam batinnya.
Prak!
Dalam penglihatannya, papan itu retak. Huruf-huruf emasnya memudar, berubah menjadi debu hitam yang ditiup angin. "Kebenaran objektif hanyalah kebohongan yang disepakati oleh orang-orang penakut!" teriaknya. "Mulai hari ini, kebenaran adalah apa yang aku nyatakan sebagai benar bagi pendakianku!"
Ia beralih ke papan kedua, yang ukirannya lebih halus namun terasa lebih menjerat: "Hukum Keamanan Sosial dan Belas Kasihan". Papan ini berisi tentang kewajiban untuk menjadi "baik", untuk mencintai sesama lebih dari diri sendiri, untuk mencari stabilitas, dan untuk merasa bersalah atas penderitaan orang lain. Ini adalah papan yang dulu membuatnya tetap tinggal di Universitas demi gaji dan pensiun, papan yang membuatnya meminta maaf atas keberaniannya sendiri.
"Papan ini adalah peti mati bagi roh yang ingin terbang," ujar Abimanyu. "Kau menyebut belas kasihan sebagai kebajikan, padahal itu hanyalah cara untuk saling menyeret ke bawah agar tidak ada yang menonjol sendirian. Kau menyebut keamanan sebagai tujuan, padahal itu hanyalah peluruhan yang lambat. Aku menolak untuk merasa bersalah karena aku kuat. Aku menolak untuk mencintai sesama jika cinta itu berarti aku harus memotong sayapku agar setinggi bahu mereka."
Dengan satu tendangan batin yang penuh tenaga, papan kedua itu runtuh menjadi serpihan kecil. Abimanyu merasakan gelombang energi yang liar mengalir di dadanya. Setiap kali sebuah hukum hancur, sebuah bagian dari dirinya yang terbelenggu tiba-tiba terbebas. Ia merasa lebih ringan, namun juga lebih "berbahaya"—seperti pemangsa yang baru saja lepas dari kandang emasnya.
Lalu ia sampai pada papan yang paling besar, yang berdiri di tengah-tengah sebagai pondasi dari segala hukum: "Hukum Moralitas Universal (Baik dan Buruk)". Di sini tertulis bahwa ada nilai-nilai yang abadi, bahwa ada Tuhan atau Negara atau Kemanusiaan yang menetapkan apa yang luhur dan apa yang nista.
Abimanyu terdiam sejenak di depan papan ini. Ini adalah "Naga" yang ia hadapi di awal perjalanannya—naga yang setiap sisiknya bertuliskan "Engkau Harus".
"Dunia ini tidak memiliki makna yang melekat," gumamnya, suaranya kini tenang namun mengandung otoritas yang menakutkan. "Alam semesta ini tidak peduli pada kebaikan atau kejahatanku. Matahari menyinari pembunuh dan orang suci dengan panas yang sama. Guntur tidak memilih-milih siapa yang akan ia sasar. Maka, siapakah kau yang berani menetapkan warna bagi duniaku?"
Ia mengambil sebuah batu runcing dari tanah. Dengan gerakan yang ritmis, ia mulai menggoreskan garis-garis kasar di atas papan hukum lama itu, mencoret setiap larangan yang ada.
"Kalian para pembuat hukum lama," serunya ke arah langit yang luas, "kalian menciptakan hukum untuk melindungi yang lemah dari yang kuat. Kalian menciptakan moralitas sebagai senjata bagi mereka yang tidak memiliki kehendak. Tapi aku... aku telah melampaui kebutuhan akan perlindungan kalian. Aku telah berteman dengan badai. Aku telah memakan kilat. Bagiku, 'Baik' adalah segala sesuatu yang meningkatkan kekuatanku, dan 'Buruk' adalah segala sesuatu yang berasal dari kelemahan."
Ia menghantamkan batu itu ke tengah prasasti moralitas tersebut. Suaranya tidak hanya terdengar di telinganya, tapi seolah-olah seluruh puncak gunung itu bergetar. Prasasti itu hancur total, menyisakan ruang kosong di altar granit tersebut.
Kini, Abimanyu berdiri sendirian di tengah reruntuhan hukum-hukum lama. Ia merasa hampa, namun itu bukan kehampaan nihilistik yang menyedihkan. Itu adalah kehampaan seorang pencipta yang baru saja membersihkan kanvasnya dari coretan-coretan masa lalu yang kusam.
Ia melihat tangannya. Mereka berdarah, lecet karena batu dan dingin, namun mereka terasa nyata. Ia bukan lagi "Manusia Kertas" yang terbuat dari lapisan-lapisan konsep. Ia adalah manusia dari daging, darah, dan kehendak murni.
"Inilah saatnya," pikirnya. "Saat di mana tidak ada lagi benar dan salah yang diberikan dari luar. Saat di mana setiap langkahku adalah penciptaan hukum baru. Aku tidak lagi mengikuti jalan, aku adalah jalan itu sendiri."
Ia berjalan ke tepi tebing, menatap ke bawah. Lembah Nama masih di sana, kecil dan tidak berarti. Di sana, orang-orang masih memegang erat papan-papan hukum mereka yang sudah retak, bersembunyi di balik kata "Tradisi" dan "Kewajiban" karena mereka terlalu takut untuk berdiri tegak di bawah sinar matahari yang jujur.
Abimanyu ingin tertawa melihat mereka, namun ia menyadari bahwa kemarahannya telah hilang. Orang tidak marah pada debu, orang hanya meniupnya pergi. Ia menyadari bahwa tugasnya bukan untuk memperbaiki mereka atau menghancurkan papan hukum mereka di lembah. Tugasnya adalah menjadi teladan dari kehancuran dan penciptaan itu sendiri.
Ia mulai menyadari bahwa penghancuran papan hukum lama adalah syarat mutlak bagi lahirnya "Anak Kecil" di dalam dirinya. Seorang anak tidak butuh hukum untuk bermain, seorang anak menciptakan aturannya sendiri saat ia sedang bermain, dan aturan itu pun bisa berubah kapan saja sesuai dengan kehendaknya.
"Aku telah menjadi Sang Penghancur," bisik Abimanyu. "Sekarang, aku harus menjadi Sang Pencipta. Aku harus menulis hukumku sendiri di atas kulitku, di dalam darahku, dan di bawah jejak kakiku."
Ia mengambil napas dalam-dalam. Udara pagi itu terasa begitu manis, seolah-olah ia baru pertama kali bernapas setelah seumur hidup tenggelam di bawah air. Keheningan di puncak itu kini terasa penuh dengan potensi, seperti ketegangan sebelum sebuah ledakan besar.
Bab 24 ditutup dengan Abimanyu yang berdiri tegak, memunggungi reruntuhan prasasti yang kini hanya menjadi tumpukan kerikil tak berharga. Ia tidak lagi menoleh ke belakang. Ia telah memutuskan tali terakhir yang menghubungkannya dengan kemanusiaan yang lama.
Ia siap untuk tawa yang sesungguhnya. Bukan tawa sarkastik seorang sinis, melainkan tawa kemenangan dari seorang manusia yang telah menjadi tuhan bagi dirinya sendiri.
Matahari kini sudah naik sepenuhnya, menyinari puncak gunung itu dengan cahaya yang putih dan panas. Di bawah cahaya itu, bayangan Abimanyu tidak lagi terlihat seperti bayangan manusia biasa. Bayangan itu tampak tajam, kokoh, dan meluas—sebuah siluet dari sesuatu yang belum pernah dilihat oleh sejarah manusia sebelumnya.
"Selesai sudah masa kepatuhan," gumamnya sambil melangkah menuju titik tertinggi yang sesungguhnya. "Mulai sekarang, hanya ada permainan. Hanya ada tarian di atas jurang."
Ia telah menghancurkan papan hukum lama. Kini, ia siap untuk tahap yang paling sulit namun paling indah: Belajar untuk tertawa di hadapan ketiadaan.