Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.
Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Terluka Tapi ...
Jordan lantas merebahkan tubuh Nana dengan sigap. Tangannya cekatan, namun tetap lembut saat mengatur posisi kepala Nana agar jalan napasnya tetap terbuka. Monitor di samping ranjang berbunyi pelan, angka-angka di layar bergerak tak stabil.
“Nana, dengar suara saya?” panggil Jordan sambil memeriksa denyut nadinya.
Tak ada jawaban. Wajah Nana semakin pucat, bibirnya kehilangan warna. Jordan menghela napas pendek, lalu segera menekan tombol panggil suster.
“Tekanan darahnya turun,” gumamnya serius. Manset tensi kembali dipasang, hasilnya membuat alis Jordan mengerut. “Hipotensi.”
Suster masuk tergesa. “Kenapa, Dok?”
“Siapkan cairan infus. Panggil dokter jaga juga. Kita perlu cek ulang kondisinya,” perintah Jordan tegas.
Sementara suster bergerak cepat, Jordan duduk di sisi ranjang, memegang tangan Nana yang dingin. Ada rasa bersalah menyelinap di dadanya. Ia tahu Nana terlalu rapuh untuk menerima tekanan emosi sebesar ini. Rehabilitasi bukan hanya soal fisik, tapi juga luka batin yang sering kali lebih sulit disembuhkan.
“Kenapa kamu memaksakan diri, Nana…” bisiknya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Infus terpasang, cairan bening menetes perlahan. Beberapa menit berlalu, detak jantung Nana mulai lebih teratur. Kelopak matanya bergetar, lalu terbuka perlahan.
“Dok…” suaranya serak, hampir tak terdengar.
Jordan langsung mencondongkan badan. “Tenang. Jangan bicara dulu. Kamu sempat pingsan, tekanan darahmu turun.”
Mata Nana berkaca-kaca. Pandangannya kosong menatap langit-langit, seolah bayangan di luar jendela masih menghantui. “Dimas…” ucapnya lirih, satu nama yang selalu berhasil merobohkan pertahanannya.
Jordan terdiam sejenak. Ia tahu tak ada gunanya berpura-pura tak mengerti. “Aku tahu kamu kepikiran pria tadi,” katanya akhirnya, jujur namun tetap lembut. “Tapi sekarang kamu harus fokus sama dirimu sendiri.”
Air mata Nana kembali mengalir, lebih pelan tapi penuh luka. “Dia tidur di pos satpam, Dok. Karena aku…” suaranya pecah. “Aku bikin pria yang aku cintai terluka. Harusnya Dimas bahagia dengan pilihan kedua orang tuanya. Bukan menemui ku...."
Jordan menggeleng perlahan. “Kamu gak salah, Nana."
“Tapi hidupnya hancur gara-gara aku,” sanggah Nana lemah. “Kalau aku benar-benar sayang… harusnya aku menjauh.”
Kalimat itu menusuk Jordan. Ia menarik napas dalam, berusaha menjaga profesionalitas yang kini terasa rapuh. “Kadang menjauh bukan berarti menyelamatkan,” ujarnya pelan. “Kadang justru menambah luka. Pria itu sangat sayang sama kamu, wajar kalau berjuang. Kalau aku jadi pria itu, aku akan melakukan hal yang sama."
Nana memejamkan mata, air matanya jatuh ke bantal. Tubuhnya masih lemah, tapi hatinya bergejolak hebat. Di satu sisi, ia ingin berlari keluar, memeluk Dimas, meminta maaf, dan berhenti berpura-pura kuat. Di sisi lain, ia takut—takut menyeret Dimas ke dalam jurang yang sama.
Jordan berdiri, menepuk bahu Nana dengan hati-hati. “Istirahatlah. Kita akan lakukan pemeriksaan lanjutan besok pagi. Kondisimu belum stabil.”
Nana mengangguk lemah. Sebelum Jordan melangkah keluar, Nana kembali bersuara, hampir berbisik. “Dok… kalau mencintai itu sakit… apa masih layak dipertahankan?”
Jordan berhenti di ambang pintu. Ia menoleh, sorot matanya lembut namun dalam. “Cinta memang kadang menyakitkan. Tapi yang membuatnya berbahaya adalah ketika kita berhenti jujur pada diri sendiri."
Ia menghela napas pelan, lalu kembali melangkah mendekati ranjang Nana. Ia menarik selimut hingga menutupi bahu gadis itu, memastikan infus terpasang rapi dan monitor kembali menunjukkan angka yang lebih stabil.
“Kamu istirahat, ya,” ucapnya dengan suara yang dibuat setenang mungkin. “Jangan memikirkan apa pun dulu. Tubuhmu masih sangat lemah.”
Nana membuka mata, menatap Jordan dengan sorot lelah. “Dok… tolong—”
***
Bersambung...