Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 07
SEDERHANA
Berkutat di dalam dapur? Elizabeth belum pernah melakukannya sendirian, dia selalu ditemani oleh pelayan atau dua saudarinya dan ibunya. Tapi sekarang, dia harus melakukannya sendirian.
Terlihat bagaimana Elizabeth nampak anggun saat dia sibuk dengan urusan dapur. Sementara para pelayan hanya berdiri di luar.
“Makanan apa yang biasa untuk makan malam?” tanya Eliza kepada pelayan di sana yang terus menunduk. Cili yang ada di sana pun hanya bisa menunduk Meksi kedua matanya terbuka lebar-lebar bak ingin tahu selalu.
“Kenapa kalian tidak menjawab? Apa ini juga peraturan?”
“Nyonya Elizabeth— ”
“Eliza.”
Cili terdiam dan tersenyum tanpa menatapnya. “Maaf. Tapi sesuai perintah, kami tidak bisa membantu Anda sedikit pun. Jika kami membantu Anda, maka kami yang akan terkena imbasnya.” Jelas Cili dengan terus terang.
Elizabeth terdiam seolah mencerna kata-kata itu. Mengingat bagaimana seorang pelayan dihabisi dengan hina dan sadis.
“Aku mengerti.” Balas Eliza yang berbalik dan segera memasak apa yang dia pikirkan dan cocok untuk makan malam.
Dari arah lain, nampak Esperance berdiri bersama seorang pria paruh baya yang merupakan adiknya, Rodrigo. Pria tuh mengamati Elizabeth dengan kerutan alis. “Jika dia tahu Luis memiliki riwayat sakit mental, bagaimana menurutmu?”
Esperance tersenyum kecil. “Dia tidak akan bisa apa-apa. Dia seperti lalat kecil yang mudah dipukul.”
Rodrigo berbalik menatap kakaknya. “Jangan terlalu meremehkan lalat. Karena lalat memiliki racun di salah satu sayapnya.” Ujar Rodrigo yang membuat Esperance menatapnya tajam.
Pria itu kembali menatapnya, mengamati bagaimana ekspresi wajah Elizabeth yang terlihat anggun, terlalu polos dan pendiam, tapi itu sangat diperhatikan karena amarah bisa mudah meledak bagi seseorang yang pendiam seperti Elizabeth.
...***...
“Sudah kubilang, jangan pernah menginjakkan kaki mu di sini wanita gila! Apa kau ingin putriku menjadi seperti dirimu?” gertak seorang pria berambut pirang yang kini menatap marah.
Soraya menggeleng dengan tatapan sendu namun tegas. “Aku juga ibunya, kenapa kau sangat keras kepala dan memancing emosi ku, Carlitos? Aku datang setiap Minggu hanya untuk melihat putriku.”
Pria berkemeja putih dengan vest mewah itu melangkah maju hingga jaraknya begitu dekat dengan mantan istrinya. “Dan aku melarang sesuai yang tertulis di surat pengadilan, Soraya.”
Wanita menatap tajam mata Carlitos. “Dan kau membayar surat-surat itu dengan uang SIALAN MU!”
“Agar aku bisa menjauhkan putriku dari wanita buruk seperti mu.” Balas Carlitos melangkah mundur seraya menyeringai beberapa detik. “Pergi dan jangan membuatku menyeret mu keluar dari mansion ini!”
Soraya menatapnya lekat, mengangguk faham. “Dan jangan sampai kau menyesali nya Carlitos.”
Pria itu menoleh saat Soraya melangkah pergi. Ya, dia tahu bagaimana pengaruh Holloway sangatlah besar di industri perusahaan. Namun yang lebih parah, saat nama Luis Holloway yang tercatat di daftar kriminal kaya dan berpengaruh.
Carlitos terdiam seolah dia perlu untuk lebih waspada lagi akan tindakan gila dari keluarga Holloway itu.
“Ayah!”
Pria itu berbalik menatap putrinya, Kim yang berusia 9 tahun. Terlihat senyuman Carlitos tercetak jelas setiap kali menatap putrinya.
“Aku mendengar suara ibu, apa dia datang?”
“Apa? Tidak, maksudku.... ” Pria itu berjalan mendekatinya dan menyentuh bahu putrinya. “Aku ingin kau menjauhinya, dia sangat buruk untukmu.”
“Seburuk apa?”
“Kau tidak akan bisa dan belum waktunya untuk memahaminya.” Ujar Carlitos mencium kening putrinya dan tersenyum.
.
.
.
Keheningan di ruang makan ketika hanya terdengar suara dentingan piring dan alat makan lainnya. Sebuah meja panjang yang tersusun rapi akan hidangan yang dibuat sendirian oleh Elizabeth dengan penuh cinta.
Ya? Cinta. Dia tidak pernah merasakannya karena seorang yang lahir dari keluarga atas hanya fokus pada pendidikan, bisnis dan bahkan pernikahan pun tidak dilandasi dengan cinta.
“Aku harap kau menyukainya! Aku membuatnya untuk mu.” Kata Elizabeth saat dia duduk dan menoleh ke suaminya.
“Aku harap begitu.” Balas Luis tanpa menatapnya.
Esperance dan Soraya terdiam saat makanan tersebut masuk ke mulutnya dan menyentuh lidahnya. -‘Sangat sempurna untuk wanita seperti nya.’ Batin Esperance yang melirik ke Eliza.
Soraya hanya diam ketika ibunya menoleh menatapnya, seolah pikiran mereka berdua sama.
“Bisa jelaskan padaku, masakan apa ini?” tanya Luis santai, namun tatapannya datar dan itu tidak memudarkan semangat serta senyum anggun Eliza.
Pelayan lainnya hanya menunduk, mendengar perbincangan majikannya dan sesekali mengintip Elizabeth, lebih tepatnya wajah Elizabeth yang mengenakan foundation cukup tebal namun cukup untuk menutupi lukanya.
“Sup sederhana. Setiap hari kamis, hidangan ini biasa untuk makan malam keluarga Taylor!”
“Dan seharusnya kau tidak melakukannya di sini.”
Eliza terdiam, menatap suaminya yang masih menatap datar dirinya. Sementara Esperance dan Soraya hanya diam seolah mereka faham akan ada hal yang mengerikan lagi.
Wanita cantik itu terdiam, menunduk beberapa saat, lalu kembali menatap suaminya yang masih diam menatapnya. “Apa aku membuat kesalahan fatal?”
Cukup lama keduanya saling beradu pandang, Luis terkekeh kecil menoleh ke sisi kanan dan kembali lagi menatap istrinya secara perlahan senyumannya ikut memudar. “Bagaimana menurutmu?”
Eliza benar-benar bungkam, namun dia masih berani menatap mata berkilat suaminya, hingga Luis beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja.
Tentu, makan malam menjadi tegang.
“Kau... Tidak akan menghampiri suamimu?” tanya Soraya sedikit ragu, namun dia ingin memastikan Eliza mengikuti Luis, jika tidak, maka pria itu akan melampiaskan ke orang lain.
Mendengar ucapan itu, Elizabeth sama sekali tidak curiga meski dia merasa sedikit aneh dan ada rasa takut tersendiri saat dia harus mengikuti langkah suaminya. bagaimana pun, seorang istri harus patuh.
“Oh Astaga... Apa nyonya Eliza akan dipukul— ”
Cili terbungkam seketika saat Esperance menatapnya tajam hingga pelayan itu tertunduk namun masih penasaran.
Berada di ruang pribadi Luis, Eliza menatap suaminya yang berdiri di dekat meja bar, dimana Luis kini menuang beer di gelas kristal dan meneguknya hingga habis lalu memandangi gelas itu dengan terkesan.
“Maafkan aku.” Kata Eliza yang terus terang.
Luis menoleh ke istrinya dan menyuruhnya mendekat, duduk di sofa bersamanya. Tentu, Eliza tidak menolaknya dan langsung duduk di sofa panjang, sejajar dengan Luis.
“Bagaimana pendapatmu tentang corak gelas ini?” tanya Luis.
Eliza memerhatikan gelas yang ada di tangan Luis. “Elegan.”
Pria itu tersenyum miring. “Aku memiliki sebuah PUB, disetiap PUB gelas kristal seperti ini selalu ada dan kau tahu berapa harganya hanya untuk satu gelas?”
Tak ada jawaban dari Elizabeth sehingga Luis menoleh menatapnya. “Setara dengan mobil, dan aku sudah menghancurkannya satu untuk kepala pelayan dan sekarang...” pria itu menghentikan ucapannya saat Eliza menarik napas dalam-dalam.
Luis meneguk habis minumannya cukup cepat dan— Brugh! Gelas tadi melayang di kepala Eliza cukup keras hingga kening Elizabeth berdarah. Itu mengejutkan, namun yang lebih mengejutkan ketika Luis membuang gelas itu ke lantai lalu menarik tubuh Eliza hingga sama-sama berdiri dengan jarak yang begitu dekat.
Pria itu menatap mata basah Elizabeth, namun tak mendengar rintih sakit.
“Aku menyukai tatapan mu.”
“Apa kesalahan ku?” tanya Elizabeth lembut dan tenang, dengan sengaja. tatapan matanya terlihat penuh amarah yang tertahan dan ucapannya barusan memancing Luis.
“Menjadi istri Luis Holloway.” Jawab pria itu, lalu melepaskan cengkraman di leher wanita itu hingga Elizabeth terduduk di atas sofa seraya memegangi lehernya.
Luis mendesis melihat tangannya terdapat darah.
its too little to late Dude..
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl