Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.
Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing-Puing Kepercayaan
Hujan badai yang mengamuk di luar jendela penthouse seolah menjadi orkestra bagi kehancuran yang terjadi di dalam ruangan itu. Alexander Eduardo teraku di kursi rodanya, tangannya terkepal hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Kata-kata William di telepon tadi berputar-putar di kepalanya seperti pusaran api. Adrian sudah mati di tanganmu.
Almira berdiri beberapa meter di depannya. Wajahnya yang semula penuh kasih kini berubah menjadi topeng kengerian. Napasnya tersengal, dan tangannya secara naluriah melindungi perutnya yang membesar—seolah ia harus melindungi bayinya dari bayang-bayang pria di depannya.
"Alex... katakan padaku itu bohong," bisik Almira, suaranya pecah di tengah gemuruh guntur. "Katakan padaku bahwa kau tidak membunuh kakakku."
Alex mendongak. Matanya yang merah menatap Almira dengan penderitaan yang tak terlukiskan. "Sepuluh tahun yang lalu, Almira... aku masih muda, penuh ambisi, dan buta oleh kekuasaan. Aku menyetujui perintah pembersihan di daerah sengketa untuk proyek Eduardo Group. Aku... aku tidak pernah memeriksa siapa mereka. Bagiku, mereka hanya angka dan penghalang."
"Angka?" Almira tertawa histeris, air mata mengalir deras. "Dia adalah manusia! Dia adalah kakakku! Dia adalah putra yang ditangisi ibuku selama tiga puluh tahun! Dan kau... kau menghabisi nyawanya demi sebuah gedung?!"
Almira tidak bisa lagi menahan rasa mual dan jijik yang meluap di dadanya. Ia berbalik, berlari menuju kamarnya dan mulai memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas dengan gerakan kacau.
"Almira, jangan pergi! Di luar badai, dan kau sedang hamil!" raung Alex, mencoba menggerakkan roda kursinya mengejar Almira. Namun, karpet tebal di lorong itu membuat gerakannya lambat.
"Jangan mendekat!" teriak Almira saat Alex berhasil menyusulnya di depan pintu lift. "Setiap kali aku melihatmu, aku melihat darah kakakku di tanganmu! Kau bukan hanya monster yang menghancurkan hidupku, Alex. Kau adalah algojo keluargaku!"
"Aku akan mencari buktinya! William bisa saja berbohong!"
"Dan jika dia jujur? Apa yang akan kau lakukan? Bisakah kau menghidupkan kembali Adrian?!"
Pintu lift tertutup tepat di depan wajah Alex. Ia memukul pintu besi itu dengan tinjunya hingga tangannya berdarah. Ia merasa lumpuh—bukan hanya kakinya, tapi seluruh eksistensinya. Almira pergi, membawa serta cahaya terakhir dalam hidupnya, meninggalkan Alex dalam kegelapan dosa masa lalunya.
Dua jam kemudian, dengan bantuan Rendy dan tim keamanan pribadinya yang paling setia, Alex melakukan perjalanan yang seharusnya tidak ia lakukan. Ia menembus badai menuju sebuah mansion tua di pinggiran Bogor—kediaman William Eduardo.
Alex didorong masuk ke dalam perpustakaan pribadi yang dipenuhi aroma cerutu dan buku-buku kuno. Di sana, William duduk dengan tenang, menyesap wiski seolah ia baru saja memenangkan lotre, bukan baru saja menghancurkan hidup keponakannya.
"Kau datang juga, Alexander. Aku terkesan dengan ketahanan fisikmu," ucap William dingin.
"Tunjukkan buktinya, William. Tunjukkan padaku bahwa Adrian benar-benar tewas dalam operasi itu," desis Alex.
William menyodorkan sebuah map kuning yang sudah kusam. Di dalamnya terdapat laporan otopsi dan foto-foto identifikasi dari operasi sepuluh tahun lalu. Di sana, di antara para korban, ada seorang pemuda dengan mata yang sangat mirip dengan mata Almira. Di lehernya melingkar sebuah kalung perak dengan liontin kecil—liontin yang sama dengan yang pernah diceritakan Nadin sebagai tanda lahir Adrian.
Hati Alex runtuh. Ia benar-benar telah melakukannya. Ia adalah senjata yang digunakan pamannya untuk menghapus noda masa lalu ayahnya.
"Kenapa, William? Kenapa kau harus sekejam ini?"
"Karena cinta adalah kelemahan, Alex. Ayahmu lemah karena Nadin. Dan kau lemah karena Almira. Aku hanya memastikan Eduardo Group tetap berada di tangan orang-orang yang tidak memiliki hati," jawab William tanpa penyesalan. "Sekarang, tanda tangani surat pengunduran diri ini, atau aku akan memastikan berita ini sampai ke media besok pagi. Kau ingin dikenal sebagai pembunuh kakak iparmu sendiri?"
Alex menatap surat itu, lalu menatap foto Adrian. Sebuah seringai tipis namun mematikan muncul di wajahnya. Seringai sang predator yang telah kembali, namun kali ini bukan untuk memangsa yang lemah, melainkan untuk menghancurkan sesama iblis.
"Kau pikir kau bisa mengancamku dengan dosa yang kau sendiri yang merencanakannya, Paman?" Alex mengeluarkan sebuah alat perekam dari balik jasnya. "Percakapan kita di telepon dan di ruangan ini sudah tersambung langsung ke peladen pusat kepolisian. Jika aku jatuh, aku tidak akan jatuh sendirian. Aku akan membawamu ke neraka bersamaku."
Wajah William berubah pucat. "Kau gila! Kau akan menghancurkan nama Eduardo!"
"Nama Eduardo sudah busuk sejak kau menyentuhnya," balas Alex. Ia memberi isyarat kepada Rendy. "Hubungi pengacara. Kita ajukan gugatan pidana atas pembunuhan berencana Richard Eduardo dan penculikan Adrian. Persetan dengan saham. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan."
Sementara itu, Almira membawa ibunya, Nadin, ke sebuah rumah kontrakan kecil di pinggiran kota yang ia sewa menggunakan sisa tabungannya sendiri. Ia menolak semua fasilitas dari Alex. Mereka duduk di ruang tamu yang sempit, saling berpelukan di tengah isak tangis.
"Bu, kenapa dunia begitu kejam pada kita?" tanya Almira lirih.
Nadin mengusap rambut putrinya. "Kadang Tuhan memberikan cobaan yang paling berat kepada hati yang paling kuat, Nak. Tapi bayi di rahimmu... dia tidak bersalah atas dosa ayahnya."
Almira menyentuh perutnya. Ia merasakan gerakan halus di dalam sana. Sebuah dilema besar menghimpit jiwanya. Ia mencintai bayi ini, dan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu ia masih mencintai Alex—pria yang telah berubah demi dirinya. Namun, bayang-bayang Adrian berdiri di antara mereka seperti tembok raksasa yang tak tertembus.
Alexander Eduardo kembali ke penthouse-nya yang kini terasa seperti kuburan. Ia duduk di kegelapan, menatap ranjang kosong yang masih menyisakan aroma parfum Almira. Ia telah memulai perang terbuka dengan William, sebuah perang yang mungkin akan membuatnya kehilangan harta bendanya.
Namun, kehilangan harta bukanlah ketakutannya yang terbesar. Ketakutan terbesarnya adalah kenyataan bahwa meskipun ia memenangkan perang melawan William, ia mungkin telah kehilangan Almira selamanya.
Di meja makan, Alex menemukan sebuah cincin pernikahan yang ditinggalkan Almira. Ia mengambilnya, menciumnya, dan bersumpah bahwa meskipun ia harus merangkak dengan tangan kosong, ia akan mencari jalan kembali ke hati wanita yang telah menjadi cahaya dan kehancurannya.