"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "
Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.
Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Analisis Frekuensi Suara
Cahaya redup dari lampu minyak di pondok terpencil itu masih setia menerangi, namun kini suasana terasa lebih mencekam. Foto Tuan Z, dengan mata dingin dan seringai predatornya, terpampang di layar laptop, menjadi fokus utama Meylie dan Fernandez. Setelah berhari-hari mengurai "Daftar Hitam" Yu dan mengungkap motif kejam di baliknya—pembungkaman korupsi yang diselingi ritual sekte yang gila—kini mereka berada di ambang kebenaran yang lebih mengerikan. Mereka harus mengonfirmasi keterlibatan langsung Tuan Z dalam penyiksaan Yu.
"Suara itu, Fernandez," Meylie memulai, suaranya mantap, memecah keheningan. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap tajam ke Fernandez, yang masih tampak gelisah. "Suara otoritatif yang memberi perintah dalam video penyiksaan Yu. Kita harus membandingkannya dengan suara Tuan Z."
Fernandez menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. "Meylie, aku tahu ini penting. Tapi... video itu. Mendengarnya lagi, menganalisis setiap kata... itu akan sulit." Ia masih trauma dengan kengerian yang mereka saksikan. Gambaran Yu yang hancur, suara erangan kesakitan, dan bisikan-bisikan ritualistik itu masih menghantuinya.
"Aku tahu," Meylie membalas, nadanya lembut namun penuh ketegasan. Ia meletakkan tangannya di bahu Fernandez, sebuah sentuhan yang lebih dari sekadar dukungan, melainkan janji. "Aku tahu itu sulit. Tapi kita harus. Ini adalah kepingan terakhir untuk menghubungkan Tuan Z secara langsung dengan kejahatan itu. Kita tidak bisa hanya mengandalkan bukti finansial atau kesaksian tidak langsung. Kita butuh bukti yang tidak terbantahkan."
Fernandez menatap Meylie. Di mata wanita itu, ia melihat bukan hanya Ling yang dingin dan strategis, melainkan juga Xiao Fei yang berduka, yang berjuang untuk keadilan kekasihnya. Tekad Meylie yang tak tergoyahkan adalah kekuatan yang mendorongnya maju. Ia tahu Meylie benar. Mereka tidak bisa mundur sekarang.
"Baiklah," Fernandez mengangguk, sebuah resolusi baru terbentuk di matanya yang lelah. "Kita akan melakukannya. Tapi kita harus sangat teliti. Suara itu terdistorsi secara elektronik. Kita butuh program analisis suara yang sangat canggih."
Fernandez segera menyiapkan peralatan. Ia menghubungkan laptop burner Meylie ke sebuah unit pemrosesan audio eksternal yang ia bawa, sebuah perangkat yang digunakan oleh ahli forensik digital untuk membersihkan dan menganalisis rekaman suara. Di layar laptop, ia membuka program analisis frekuensi suara yang canggih, dengan antarmuka yang dipenuhi gelombang-gelombang berwarna, spektrum audio, dan grafik-grafik rumit.
"Pertama, kita harus mengisolasi suara otoritatif itu dari kebisingan latar belakang dan distorsi elektronik," Fernandez menjelaskan, jari-jarinya menari-nari di atas keyboard. "Ini akan memakan waktu. Prosesnya harus sangat hati-hati agar tidak kehilangan detail penting."
Meylie memasang headphone, dan Fernandez memutar ulang bagian video penyiksaan yang berisi suara-suara para pelaku. Kali ini, mereka tidak melihat gambar, hanya mendengarkan audio yang telah disaring.
Suara-suara bisikan yang terdistorsi terdengar di telinga Meylie. Tawa rendah. Dan kemudian, suara otoritatif yang dingin itu, memberikan perintah.
"Berikan kami kodenya! Katakan di mana file utamanya!"
"Apakah kau mengerti tentang keabadian? Apakah kau tahu harga untuk kehidupan yang kekal?"
"Darahmu akan menjadi persembahan yang sempurna."
Setiap kata, setiap intonasi, setiap jeda, dianalisis dengan cermat. Fernandez menggunakan filter digital untuk menghilangkan distorsi elektronik, mencoba merekonstruksi suara asli di baliknya. Proses ini memerlukan kesabaran luar biasa. Setiap kali sebuah filter diterapkan, gelombang suara di layar akan berubah, menunjukkan pola-pola yang lebih jelas.
"Suara ini memiliki frekuensi dasar yang lebih rendah," Fernandez menunjuk ke grafik di layar. "Menunjukkan orang yang lebih tua, atau setidaknya memiliki pita suara yang lebih dalam. Ada juga pola tekanan pada konsonan tertentu, aksen yang sangat halus, yang menunjukkan latar belakang pendidikan tertentu."
Meylie mendengarkan dengan seksama. Ia mengingat kembali rekaman wawancara Tuan Z yang mereka kumpulkan dari arsip media. Tuan Z memang memiliki suara yang dalam dan serak, dengan aksen yang khas dari kalangan elit yang terpelajar.
Setelah beberapa jam yang melelahkan, Fernandez berhasil membersihkan sebagian besar distorsi dari suara otoritatif itu. Kini, meskipun masih terdengar sedikit buatan, suara itu jauh lebih jelas, lebih mirip suara manusia.
"Sekarang," Fernandez berkata, menyeka keringat di dahinya. "Kita bandingkan dengan rekaman suara Tuan Z."
Ia membuka folder lain yang berisi klip-klip audio Tuan Z dari berbagai wawancara, pidato, dan bahkan beberapa rekaman telepon yang Yu berhasil dapatkan. Ia memilih beberapa klip suara Tuan Z yang paling bersih dan paling representatif.
"Perhatikan pola gelombang frekuensi ini," Fernandez menunjuk ke layar. "Setiap orang memiliki 'sidik jari suara' yang unik. Meskipun ada distorsi, pola dasar, intonasi, dan aksen biasanya tetap konsisten."
Ia memutar suara otoritatif dari video penyiksaan, lalu memutar salah satu klip suara Tuan Z. Gelombang-gelombang suara itu berkedip-kedip di layar, menari-nari dalam pola yang rumit. Fernandez menggunakan fungsi perbandingan otomatis pada programnya, yang dirancang untuk mencari kesamaan dalam pola frekuensi.
Ketegangan di pondok itu terasa begitu pekat. Meylie menahan napas, matanya terpaku pada layar. Ini adalah momen kebenaran.
Angka-angka persentase mulai muncul di layar, menunjukkan tingkat kesamaan antara dua suara itu. Awalnya rendah, lalu naik perlahan saat Fernandez menyesuaikan parameter dan filter.
"Sembilan puluh dua persen," Fernandez berbisik, matanya membelalak, tidak percaya. "Sembilan puluh tiga... Sembilan puluh lima persen!"
Gelombang frekuensi dari suara otoritatif di video penyiksaan itu, setelah dibersihkan dari distorsi, tumpang tindih dengan gelombang frekuensi suara Tuan Z dari rekaman publik dengan akurasi yang mengerikan. Aksennya, intonasinya, pola bicaranya, bahkan jeda-jeda kecil yang khas—semuanya cocok.
"Ini... ini hampir pasti," Fernandez berkata, suaranya tercekat. Ia melepas headphone, menatap Meylie dengan wajah pucat pasi. "Meylie, itu dia. Itu suara Tuan Z."
Meylie merasakan darahnya mengalir dingin, namun juga sebuah kepuasan yang dingin. Sebuah konfirmasi yang tidak terbantahkan. Tuan Z bukan hanya dalang di balik layar. Dia adalah monster yang terlibat langsung dalam penyiksaan dan pembunuhan Yu. Dia ada di sana, di ruangan gelap itu, memberi perintah, menikmati penderitaan Yu.
"Dia ada di sana," Meylie berbisik, suaranya dipenuhi amarah yang membara. "Dia yang memberi perintah. Dia yang bertanggung jawab atas setiap detik penderitaan Yu."
Fernandez menyandarkan punggungnya ke kursi, tubuhnya gemetar. "Jika Tuan Z terlibat secara langsung... ini berarti kita menyerang salah satu orang paling kuat di negara ini. Dia memiliki koneksi politik, uang, dan jaringan yang tak terjangkau. Ini sangat berbahaya, Meylie. Ini bisa menghancurkan kita berdua."
Keraguan Fernandez kembali muncul, kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Ia melihat betapa besarnya risiko yang mereka hadapi. Tuan Z adalah gajah, dan mereka hanya semut.
"Aku tahu," Meylie membalas, tatapannya tegas, menatap langsung ke mata Fernandez. "Aku tahu ini berbahaya. Aku tahu ini bisa menghancurkan kita. Tapi Yu... dia dibunuh dengan cara yang paling keji. Dia disiksa, dilecehkan, dan organnya diambil. Kita tidak bisa membiarkan mereka lolos begitu saja."
Meylie bangkit, berjalan ke dinding yang kini penuh dengan peta pikiran. Ia menunjuk ke nama "Tuan Z" yang kini dihubungkan dengan panah merah tebal ke "Video Penyiksaan Yu."
"Tuan Z adalah Operator Utama," Meylie melanjutkan, suaranya penuh keyakinan. "Dia yang mengelola logistik pembunuhan, yang memberi perintah kepada agen-agennya, yang mengatur pembersihan jejak. Dia adalah penghubung antara dunia korupsi dan sekte gila itu."
Ia lalu menunjuk ke bagian paling atas piramida yang kosong, tempat bertuliskan "The Senator (Dalang Utama)".
"Tapi dia masih seorang pion, Fernandez," Meylie berkata, tatapannya menyipit. "Dia adalah Operator Utama, ya. Tapi dia takut pada seseorang yang lebih tinggi. Dia takut pada Dalang Utama. The Senator."
Fernandez mengangguk perlahan, keraguannya sedikit mereda oleh ketegasan Meylie. Ia tahu Meylie benar. Tuan Z memang berkuasa, tetapi ketakutannya terhadap "The Senator" sangat jelas dalam pesan-pesan yang mereka dekripsi dari ponsel Chen.
"Jadi, kita punya bukti suara yang menghubungkan Tuan Z langsung dengan TKP," Fernandez menyimpulkan. "Ini adalah bukti yang sangat kuat, Meylie. Ini bisa menjatuhkannya."
"Ini akan menjatuhkannya," Meylie mengoreksi, suaranya penuh tekad. "Tetapi kita tidak berhenti di sana. Kita harus menggunakan Tuan Z untuk mencapai The Senator. Untuk menjatuhkan seluruh piramida ini."
Perkembangan karakter Meylie semakin matang. Ia berhasil memisahkan emosi pribadinya dari kebutuhan strategis. Amarahnya terhadap Tuan Z sangat besar, namun ia tahu bahwa untuk mencapai keadilan sejati, ia harus melihat gambaran yang lebih besar. Tuan Z hanyalah anak tangga menuju puncak piramida kekejaman.
"Kita harus memancingnya keluar, Meylie," Fernandez berkata, kini lebih fokus pada strategi. "Dia tidak akan datang kepada kita dengan sukarela. Dia akan mencoba membungkam kita."
"Aku tahu," Meylie membalas, senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya. "Dan kita akan memberinya sesuatu yang tidak bisa dia tolak. Sesuatu yang akan membuatnya panik. Sesuatu yang akan membawanya langsung ke dalam perangkap kita."
Meylie menatap kembali foto Tuan Z di layar, mata dingin pria itu seolah menantangnya. Ia kini memiliki bukti yang menghubungkannya langsung dengan pembunuhan Yu. Ini adalah kemenangan kecil, namun sangat signifikan. Tuan Z, sang Operator Utama, adalah target berikutnya. Dan Meylie, sang Ling, siap untuk merancang jebakan yang akan membawanya selangkah lebih dekat ke Dalang Utama, ke puncak piramida kebenaran yang kejam.
Angin di luar pondok masih menderu, namun di dalam, ada bara api yang menyala lebih terang, siap membakar seluruh jaringan kekejaman ini. Babak baru dalam perburuan ini telah dimulai.