NovelToon NovelToon
One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / One Piece / Fantasi Isekai
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.

Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)

untuk mengubah sejarah Grand Line.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 SAUDARA YANG TERLUKA

Sabo tidak sadarkan diri selama dua hari penuh.

Dadan merawatnya dengan serius—membersihkan luka, mengganti perban, memberinya makan lewat sendok setiap beberapa jam. Aku mengamati dari sudut ruangan, tidak berani terlalu dekat.

Ini Sabo. Outlook Sabo. Salah satu dari tiga bersaudara yang akan mengubah dunia.

Tapi kenapa dia ada disini? Terluka parah? Di timeline asli, Sabo kabur dari rumah bangsawan karena tidak tahan dengan gaya hidup palsu keluarganya. Tapi dia tidak pernah terluka separah ini.

"Ace, kau khawatir?" Dadan bertanya sambil mengganti perban Sabo.

Aku mengangguk pelan.

"Dia akan baik-baik saja. Luka-lukanya tidak terlalu dalam. Sepertinya dia dipukuli, tapi bukan oleh orang dewasa—lukanya terlalu ringan untuk itu."

Dipukuli oleh anak-anak lain? Mungkin bandit cilik? Atau...

"Dadan-san, bajunya mahal," salah satu anak buah berkomentar sambil memegang baju robek Sabo. "Kain sutra. Bordir emas. Ini baju bangsawan."

"Bangsawan?" Dadan menatap Sabo dengan tatapan rumit. "Bocah bangsawan kenapa berkeliaran sendirian di hutan? Kabur dari rumah?"

"Atau diculik lalu kabur?" anak buah lain menyarankan.

"Entahlah. Kita tunggu dia sadar baru tanya."

Malam kedua, aku tidak bisa tidur. Terus memikirkan kehadiran Sabo yang terlalu dini. Ini butterfly effect dari tindakanku? Atau memang sudah seharusnya begini?

Aku bangun dari kasur dan berjalan pelan ke ruangan dimana Sabo dirawat.

Cahaya bulan dari jendela menerangi wajahnya yang pucat. Dia terlihat rapuh. Sangat berbeda dari Sabo yang kuingat—Sabo yang kuat, percaya diri, Chief of Staff Armada Revolusioner.

"Siapa... kau..." suara lemah tiba-tiba terdengar.

Aku tersentak. Sabo membuka mata. Menatapku dengan tatapan kabur.

"Ace," aku menjawab pelan. "Namaku Ace."

"Ace..." dia mengulang. "Dimana... aku?"

"Rumah Dadan. Kau pingsan di hutan. Dadan merawatmu."

Sabo diam sejenak, seperti mencoba mengingat. Lalu matanya melebar—panik tiba-tiba.

"Mereka... mereka akan mencari aku! Aku harus pergi! Aku tidak bisa kembali ke tempat itu!" dia mencoba bangkit tapi tubuhnya terlalu lemah. Jatuh kembali dengan merintih kesakitan.

"Jangan gerak! Luka belum sembuh!" aku mendekat, mencoba mendorongnya berbaring lagi.

"Tapi mereka—orang tuaku—mereka akan—" Sabo terlihat sangat ketakutan. Air mata mulai mengalir. "Aku tidak mau kembali! Aku benci mereka! Benci tempat itu! Benci semua kebohongan itu!"

Oh. Jadi sama seperti di timeline asli. Sabo kabur dari keluarga bangsawannya.

"Kau aman disini," aku berkata dengan nada setenang mungkin. "Dadan tidak akan kasih kau kembali ke orang yang kau benci."

"Benarkah...?" Sabo menatapku dengan mata penuh harapan.

"Benar. Dadan baik. Meskipun kasar."

Sabo tersenyum lemah. Lalu kesadarannya melayang lagi.

Aku duduk di sampingnya sampai pagi. Entah kenapa merasa harus menjaga.

Ini calon saudaraku. Dan aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.

Sabo akhirnya benar-benar sadar di hari ketiga. Kali ini lebih stabil—bisa duduk dan makan sendiri meskipun masih lemah.

"Jadi namamu Sabo?" Dadan duduk di depannya dengan nasi kepal di tangan. "Makan ini. Kau terlalu kurus."

"Terima kasih..." Sabo menerima dengan sopan—sangat sopan untuk anak usia lima atau enam tahun.

"Kau dari keluarga bangsawan, kan? Baju mahalmu sudah kami bakar karena terlalu robek dan mencolok."

Sabo terlihat lega mendengar itu. "Bagus. Aku tidak mau ada yang tahu dari mana aku berasal."

"Kenapa kabur? Hidup sebagai bangsawan kan enak—makanan enak, rumah mewah, tidak perlu kerja keras."

Sabo menggenggam nasi kepal erat. "Semua itu bohong. Mereka tidak peduli apa pun selain status dan uang. Orang miskin diperlakukan seperti sampah. Bahkan di dalam keluarga sendiri, kami tidak saling peduli—hanya saling menggunakan."

Suaranya bergetar. Penuh kemarahan dan kesedihan.

"Aku tidak mau jadi seperti mereka. Aku ingin bebas. Ingin hidup dengan caraku sendiri."

Dadan diam sejenak. Lalu menepuk kepala Sabo pelan.

"Bocah bodoh. Kau tahu dunia di luar sana keras? Lebih keras dari yang kau bayangkan?"

"Aku tahu. Makanya aku harus jadi kuat." Mata Sabo bersinar dengan tekad. "Aku akan jadi bajak laut! Berlayar ke seluruh dunia! Bebas!"

Aku tersenyum mendengar itu. Ini Sabo yang kukenal. Meski masih kecil, semangatnya sudah sama.

"Bajak laut? Hah! Kau bahkan belum bisa bertarung dengan benar!" salah satu anak buah bandit tertawa.

"Aku akan belajar!" Sabo berdiri meski masih sempoyongan. "Ajari aku! Kalian kan bandit? Pasti tahu cara bertarung!"

Dadan menatap Sabo lama. Lalu tersenyum—senyum yang jarang dia tunjukkan.

"Baiklah. Tapi kau harus ikut aturan kami. Bantu pekerjaan rumah. Latihan keras. Tidak ada keistimewaan. Mengerti?"

"MENGERTI!"

"Bagus. Selamat datang di Dadan Family, Sabo."

Dan seperti itu, Sabo resmi tinggal bersama kami.

Minggu pertama Sabo tinggal di gubuk adalah... berisik.

Bocah itu punya energi luar biasa setelah pulih. Berlari kesana kemari, bertanya ini itu, mencoba membantu pekerjaan—meskipun lebih sering malah bikin masalah.

"Dadan-san! Aku sudah cuci piring!"

"KENAPA PIRINGNYA PECAH SEMUA?!"

"Eh... tanganku licin..."

"DASAR BOCAH CEROBOH!"

Tapi semua orang menyukainya. Sabo punya kepribadian yang mudah akrab. Ceria. Tulus. Sangat berbeda dengan aku yang cenderung pendiam.

"Ace! Ayo main!" Sabo menghampiriku yang sedang duduk di luar gubuk.

"Main apa?"

"Apapun! Kejar-kejaran? Petak umpet? Atau..." dia menatapku dengan mata berbinar. "Kau ajari aku bertarung!"

"Aku... masih kecil. Belum bisa bertarung," aku menjawab jujur. Tubuhku baru berusia satu tahun delapan bulan. Apa yang bisa kuajarkan?

"Tapi kau terlihat pintar! Pasti tahu sesuatu!"

Aku menghela napas. "Baiklah. Tapi bukan bertarung. Aku ajari cara... fokus."

"Fokus?"

"Fokus pikiran. Kontrol tubuh. Itu dasar dari semua kekuatan."

Sabo menatapku bingung—wajar untuk anak seusianya. Tapi dia mengangguk semangat. "Oke! Ajari aku!"

Kami duduk berhadapan di tanah. Aku mencoba menjelaskan konsep meditasi dan kontrol pernapasan—hal yang kupelajari di kehidupan lama sebagai Arya saat ikut yoga untuk mengurangi stress kerja.

"Tutup mata. Bernapas dalam. Rasakan udara masuk dan keluar."

Sabo mengikuti instruksi dengan serius.

"Kosongkan pikiran. Jangan pikirkan apa pun. Hanya fokus pada napas."

Dia mencoba. Tapi lima detik kemudian—

"Ace, aku lapar."

Aku hampir tertawa. "Kau tidak fokus."

"Tapi susah! Pikiranku terus kemana-mana!"

"Makanya harus latihan. Setiap hari. Sampai jadi kebiasaan."

Sabo menatapku dengan tatapan kagum. "Kau pintar sekali Ace! Padahal masih kecil!"

Aku cuma tersenyum canggung. Kalau dia tahu aku sebenarnya...

"Oh ya, aku dengar dari anak buah Dadan—kau punya kekuatan spesial?" Sabo tiba-tiba berbisik pelan.

Aku membeku. "Siapa yang bilang?"

"Mereka tidak langsung bilang. Tapi aku dengar bisik-bisik. Sesuatu tentang api dan Devil Fruit."

Sial. Rahasia bocor juga.

Tapi ini Sabo. Calon saudaraku. Haruskah aku jujur?

"Iya," aku akhirnya mengakui. "Aku makan Devil Fruit. Mera Mera no Mi. Bisa kontrol api."

Mata Sabo membulat lebar. "BENARAN?! Tunjukkan! Tunjukkan!"

"Ssshhh! Jangan keras-keras!" aku menutup mulutnya. "Ini rahasia!"

"Maaf... maaf..." dia berbisik. "Tapi tunjukkan dong! Sedikit saja!"

Aku melihat sekeliling. Tidak ada orang. Kami cukup jauh dari gubuk.

"Baiklah. Tapi jangan berisik."

Aku mengangkat tangan. Fokus. Api kecil muncul di telapak tanganku—seukuran kelereng, stabil, terkontrol.

Sabo menatapnya dengan mulut terbuka lebar. Matanya berkilau seperti melihat harta karun.

"Keren... SANGAT KEREN!" dia hampir berteriak tapi aku cepat tutup mulutnya lagi.

"Pelan!"

"Maaf! Tapi itu benar-benar keren! Kau bisa jadi bajak laut sangat kuat dengan kekuatan itu!"

Api di tanganku padam. "Makanya harus rahasia. Kalau orang jahat tahu, mereka akan incar aku."

Sabo mengangguk serius. "Aku mengerti. Aku tidak akan bilang siapa pun! Janji!" dia mengangkat kelingkingnya.

Aku mengaitkan kelingkingku dengan miliknya. Janji pertama kami.

"Ace, kita jadi teman baik ya?" Sabo tersenyum lebar.

Teman? Bukan. Kita akan jadi lebih dari itu.

"Bukan teman," aku menjawab.

Sabo terlihat kecewa. "Eh...?"

"Saudara. Kita saudara."

Wajahnya berbinar. "SAUDARA! Ya! Kita saudara! Ace adalah saudaraku!"

Dia memelukku erat. Terlalu erat untuk anak kecil. Tapi hangat.

Aku membalas pelukan itu. Ini Sabo. Sabo yang di timeline asli akan "mati" dan kehilangan ingatan. Sabo yang akan menderita tidak bisa mengingat Ace dan Luffy.

Tapi tidak kali ini.

Kali ini aku akan pastikan dia tetap hidup. Tetap aman. Tetap bersama kami.

"Saudara selamanya!" Sabo berseru.

"Selamanya," aku mengulangi.

Dan aku serius.

Bulan-bulan berlalu dengan cepat.

Sabo beradaptasi dengan kehidupan di gubuk. Dia belajar bertarung dari anak buah Dadan—cara memegang tongkat besi, cara menghindar, cara membaca gerakan lawan.

Aku terus latihan kontrol Mera Mera no Mi. Sekarang bisa membuat bola api sebesar kepala dan melemparnya dengan akurat. Bahkan bisa mengubah seluruh lengan jadi api—meskipun hanya beberapa detik sebelum kehabisan stamina.

Kami sering latihan bersama. Sabo dengan tongkat besinya. Aku dengan bola api kecilku.

"ACE! AWAS!" Sabo berlari ke arahku dengan tongkat terangkat.

Aku menghindar ke samping—refleks tubuh mulai terlatih. Lalu melempar bola api kecil ke arahnya.

Sabo melompat menghindari dengan lincah. "Hampir kena!"

"Kau juga hampir kena kepalaku dengan tongkat!"

Kami tertawa bersama.

"Kalian berdua makin kuat," Dadan berkomentar sambil menonton dari teras gubuk. "Ace sudah bisa kontrol api dengan baik. Sabo sudah bisa gunakan tongkat seperti anak buah dewasa."

"Tentu! Kami akan jadi bajak laut terkuat!" Sabo berseru bangga.

"Bajak laut ya..." Dadan tersenyum miris. "Garp pasti akan membunuhku kalau tahu aku melatih cucunya jadi bajak laut."

"Jii-chan mau aku jadi Marine," aku berkata. "Tapi aku tidak mau."

"Kenapa? Marine kan keren? Pahlawan yang lindungi orang lemah?" Sabo bertanya.

"Marine ikut aturan Pemerintah Dunia. Dan Pemerintah Dunia... tidak selalu benar."

Sabo menatapku bingung. "Maksudmu?"

Aku tidak bisa jelaskan tentang Void Century, Tenryuubito, atau kejahatan yang dilakukan atas nama keadilan. Terlalu kompleks untuk anak-anak.

"Suatu hari nanti kau akan mengerti. Yang penting sekarang—kita jadi kuat. Cukup kuat untuk melindungi yang kita sayangi."

Sabo tersenyum. "Kau bicara seperti orang dewasa lagi, Ace."

"Karena aku pintar," aku menjawab sambil menyeringai.

"Sombong!"

Kami bergulat di tanah—main-main tapi juga latihan. Dadan menonton kami dengan senyum hangat.

Kehidupan seperti ini... damai. Nyaman.

Tapi aku tahu ini tidak akan berlangsung selamanya.

Badai akan datang. Takdir akan bergerak.

Dan kami harus siap.

Api sudah menyala.

Sekarang waktunya membuat api itu menjadi inferno.

BERSAMBUNG

1
I'm Nao
kenapa si ace ama sabo ga belajar rokushiki? kan lumayan teknik nya bisa buat pertarungan di udara
I'm Nao
hmmm bukan nya itu mutlak ya? bagi user devil fruit
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku Ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!