NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjauh, Altair dan Ciara

Altair melangkah masuk ke rumah besar itu tanpa menunggu dipersilakan. Langkahnya cepat, rahangnya mengeras, jelas ada sesuatu yang mendesak. Namun baru beberapa langkah ia masuk ke ruang utama, langkahnya terhenti.

Ciara.

Gadis itu berdiri bersandar di dinding marmer, kedua tangannya terlipat di dada. Gaun rumah berwarna krem membalut tubuhnya yang sintal, rambut panjangnya tergerai rapi. Bola matanya yang besar dan bening menatap Altair tanpa berkedip, seolah sudah menunggu sejak lama.

“Uncle ngapain ke sini?” tanya Ciara, nadanya terdengar santai, tapi sorot matanya terlalu tajam untuk disebut biasa.

Altair menahan napas sesaat. Ia langsung memalingkan wajah, fokus ke arah tangga besar di ujung ruangan.

“Ada urusan sama Daddy kamu,” jawabnya singkat. Datar. Profesional.

Ia melangkah hendak melewati Ciara, sengaja tidak memberinya ruang untuk percakapan lebih jauh.

Ciara mendengus kecil. “Daddy lagi di ruang kerja. Tapi…” ia memiringkan kepala sedikit, senyum tipis terbit di bibirnya, “kelihatannya Uncle buru-buru sekali. Ada apa? Soal uncle Luciano?”

Langkah Altair terhenti lagi, kali ini bukan karena Ciara, tapi karena nama itu.

“Ini bukan urusanmu,” ucap Altair tegas, masih tanpa menatapnya.

Ciara berbalik mengikuti satu langkah Altair. Tidak mendekat, tapi cukup dekat untuk membuat keberadaannya terasa. “Uncle Luciano itu keluarga ku juga,” katanya ringan. “Kalau dia dalam bahaya, aku berhak tahu.”

Altair akhirnya menoleh sekilas saja. Tatapan mereka bertemu satu detik terlalu lama.

Dan di situlah Altair kembali menyadari alasannya selalu menjaga jarak.

Tatapan Ciara terlalu berani. Terlalu yakin. Terlalu memikat dengan cara yang tidak seharusnya ia pikirkan.

Altair langsung memalingkan wajah lagi.

“Kamu masih muda, Ciara,” katanya dingin. “Dan ini dunia yang tidak pantas untukmu.”

Ciara tersenyum, kali ini tanpa main-main. “Uncle selalu bilang begitu,” katanya pelan. “Padahal yang sebenarnya Uncle cuma takut.”

Altair menghela napas panjang, jelas menahan kesabaran. “Aku tidak takut,” jawabnya rendah. “Aku tahu batas.”

Ia melangkah lagi, kali ini benar-benar melewati Ciara menuju ruang kerja Lorenzo. Namun sebelum ia menjauh sepenuhnya, suara Ciara kembali menyusulnya.

“Hati-hati, Uncle,” katanya lirih. “Orang yang terlalu menjaga jarak… kadang justru yang paling mudah terluka.”

Altair tidak menoleh lagi. Tangannya mengepal sesaat sebelum akhirnya ia mengetuk pintu ruang kerja Lorenzo, tiga ketukan cepat dan tegas.

“Masuk!” suara berat Lorenzo terdengar dari dalam.

Begitu pintu tertutup di belakang Altair, Ciara tetap berdiri di tempatnya semula. Senyumnya memudar, berganti tatapan penuh arti.

“Altair…” gumamnya pelan, hampir seperti janji yang belum selesai.

Sementara di balik pintu ruang kerja, Altair berdiri tegap di hadapan Lorenzo—pria lima puluh tahun dengan wajah keras dan mata penuh perhitungan.

“Kau datang cepat,” kata Lorenzo.

“Luciano dalam ancaman serius,” jawab Altair tanpa basa-basi. “Dan ini sudah masuk wilayah keluarga.”

Ekspresi Lorenzo mengeras.

Permainan sudah dimulai—dan tidak satu pun dari mereka tahu, seberapa mahal harga yang harus dibayar.

“Aku akan kirimkan mata-mata ke wilayah Robert. Tua bangka itu sudah seharusnya mencium aroma tanah,” ujar Lorenzo dengan suara berat. Kedua tangannya mengepal di atas meja, rahangnya mengeras. Kebencian lama itu belum pernah benar-benar padam sejak dua puluh tujuh tahun silam.

“Anggota kami juga sudah mulai membangun parameter untuk berjaga-jaga di sebagian wilayah. Gudang dan pabrik,” lapor Altair singkat.

Lorenzo mengangguk mantap. “Bagus.”

Ia lalu bersandar di kursinya, menarik napas panjang. “Singkirkan dulu masalah Luciano. Ada hal lain yang perlu aku bahas denganmu. Ini lebih penting.”

Deg.

Dada Altair mengencang seketika. Ia menelan ludah, firasat buruk langsung menyusup. Jangan Ciara. Jangan sekarang.

“Apa?” tanya Altair hati-hati.

“Ciara,” jawab Lorenzo pelan, tapi tegas.

Altair mengangkat wajahnya. “Kenapa dengan Ciara?”

Lorenzo menatap Altair lurus, tidak berkedip. “Dia masih SMA. Dan kau pria matang, usia tiga puluh tahun. Jarak kalian terlalu jauh, Altair. Aku rasa kau paham maksudku.”

Ruangan itu mendadak terasa sempit.

Altair menarik napas dalam, lalu berdiri lebih tegap. “Aku tidak pernah melampaui batas, Tuan Lorenzo.”

“Aku tahu,” sahut Lorenzo cepat. “Justru itu kenapa aku bicara sekarang. Ciara bukan anak kecil bodoh. Dia cerdas, keras kepala, dan terlalu yakin dengan perasaannya sendiri.”

Altair mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. “Aku sudah menjaga jarak. Aku selalu menghindar.”

“Tidak cukup,” potong Lorenzo. “Selama kau masih sering datang, selama namamu masih ada di kepalanya, dia tidak akan berhenti berharap.”

Altair terdiam. Ada rasa bersalah yang tak bisa ia sangkal.

“Aku tidak ingin putriku tumbuh dengan luka,” lanjut Lorenzo lebih lirih. “Dan aku juga tidak ingin kau terjebak dalam situasi yang akan menghancurkan hidupmu.”

Altair mengangguk pelan. “Apa yang Anda inginkan dariku?”

“Pergi untuk sementara,” jawab Lorenzo tanpa ragu. “Kurangi interaksi. Jaga jarak yang benar-benar jelas. Biarkan Ciara mengerti dengan caranya sendiri.”

Altair menutup mata sesaat. Keputusan itu berat, tapi masuk akal.

“Aku akan lakukan,” katanya akhirnya. “Demi kebaikan Ciara.”

Lorenzo menatapnya lama, lalu mengangguk. “Terima kasih.”

Altair berbalik hendak pergi. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu ketika suara Lorenzo kembali terdengar.

“Altair.”

Ia berhenti.

“Bukan karena aku tidak percaya padamu,” ujar Lorenzo. “Justru karena aku percaya, aku tidak ingin kau hancur oleh perasaan yang salah waktu.”

Altair tidak menoleh. Ia hanya menjawab pelan, “Aku mengerti.”

Begitu pintu tertutup, Altair menghembuskan napas panjang. Di luar ruang kerja, di lorong yang sunyi itu, bayangan wajah Ciara terlintas tanpa diundang.

Dan untuk pertama kalinya, Altair menyadari satu hal yang tidak bisa ia bantah lagi.

Menjaga jarak ternyata jauh lebih menyakitkan daripada menghadapi musuh bersenjata.

Tanpa mereka sadari, Ciara sudah mendengar percakapan mereka dari balik pintu, namun saat Altair keluar, Ciara sudah pergi dari sana.

Dada Altair terasa penuh dan sesak saat itu. Bohong jika ia mengatakan bahwa dirinya tidak punya perasaan sama sekali untuk Ciara. Namun yang dikatakan oleh Lorenzo juga tidak ada salah, usia mereka terpaut cukup jauh.

"Ciara, aku bahkan tidak bisa membayangkan hari ini terjadi." Altair membatin, ia memejamkan matanya dalam-dalam lalu bergegas keluar dari rumah itu.

Namun saat Altair masuk ke dalam mobil, ia bahkan tidak menyadari seseorang sudah duduk di kursi belakang dengan kedua mata yang sembab.

Ciara.

Gadis itu duduk sambil menangis, namun tangis yang berusaha ia tahan.

Altair langsung mengemudikan mobilnya, keluar dari halaman mansion milik Lorenzo. Baru lah saat itu ia menyadari, jika di kursi belakang ada Ciara.

"Uncleeeeeee!" Tangis Ciara meledak saat itu juga.

Reflek Altair mengerem mendadak karena terkejut.

"Ciara? Apa yang kamu lakukan? Oh shit, astaga Ciara. Tuan Lorenzo akan menghaisiku malam ini juga kalau sampai dia tahu kamu di mobilku," umpat Altair. Ia mengusap kasar wajahnya. Frustasi saat itu.

"Aku udah denger semua obrolan Uncle sama Daddy. Kenapa kalian jahat sama aku? Daddy maksa uncle untuk menjauh, dan Uncle justru mengiyakan. Kenapa uncle, kenapa?"

"Karena ini yang terbaik untuk kamu, Ciara!"

"Enggak, aku tahu kalo uncle juga punya perasaan sama aku, iya kan?" Ciara mendesak Altair untuk mengakui perasaannya, namun lelaki itu menggeleng cepat.

"No, itu cuma perasaan kamu aja, Ciara." Altair berdalih, ia sudah bertekad untuk menjauh dari Ciara, namun gadis itu justru datang tiba-tiba kedalam mobilnya.

Altair mengusap wajahnya lagi, napasnya berat dan tidak beraturan. Mobil terdiam di pinggir jalan yang sepi, mesin masih menyala, tapi suasana di dalam terasa begitu mencekik.

“Ciara…” suaranya melemah. “Turunlah. Aku akan mengantarmu kembali.”

“Enggak,” Ciara menggeleng keras, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. “Aku nggak mau pulang sekarang.”

Altair memejamkan mata sesaat, lalu menoleh ke kursi belakang. Tatapan mereka bertemu. Mata Ciara sembab, merah, penuh luka yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Dengar aku baik-baik,” kata Altair akhirnya, suaranya diturunkan, tapi tetap tegas. “Apa pun yang kau pikirkan, apa pun yang kau rasakan… aku tidak boleh menanggapinya.”

“Kenapa?” suara Ciara bergetar. “Karena umur? Karena Daddy? Atau karena Uncle malu punya perasaan ke aku?”

“Itu bukan rasa malu,” jawab Altair cepat. “Itu tanggung jawab.”

Ciara tertawa kecil di sela tangisnya. “Jawaban dewasa yang selalu Uncle pakai.”

Altair menghela napas panjang. “Kau masih sekolah. Dunia kau belum selesai. Kau belum tahu siapa dirimu lima tahun ke depan. Dan aku…” ia terdiam sejenak, memilih kata dengan hati-hati, “aku tidak berhak menjadi bagian dari kebingunganmu.”

Ciara menunduk, tangannya mengepal di pangkuannya. “Tapi perasaanku nyata.”

“Aku tahu,” ucap Altair lirih, jujur untuk pertama kalinya. “Dan justru karena itu aku harus menjauh.”

Ciara mendongak tajam. “Kalau Uncle tidak punya perasaan sama sekali, kenapa Uncle kelihatan sesak begini?”

Altair terdiam. Lama. Dadanya naik turun, lalu ia akhirnya berkata dengan suara yang nyaris menjadi bisikan,

“Karena punya perasaan tidak selalu berarti harus dimiliki.”

Kalimat itu membuat Ciara terdiam. Tangisnya mereda, berubah menjadi isak kecil.

“Aku benci jawaban itu,” katanya lirih.

“Aku tahu,” Altair mengangguk. “Dan mungkin suatu hari nanti, kau juga akan mengerti.”

Ia membuka pintu mobil, lalu turun dan membuka pintu belakang dengan hati-hati. “Ayo. Aku antar kamu pulang. Sebelum Daddy-mu benar-benar mengulitiku hidup-hidup.”

Ciara ragu beberapa detik, lalu akhirnya turun. Ia berdiri di hadapan Altair, lebih dekat dari seharusnya. Altair refleks mundur setengah langkah, menjaga jarak yang jelas.

“Ini bukan perpisahan selamanya,” kata Altair, berusaha menenangkan. “Ini hanya… jarak.”

Ciara mengangguk pelan, air mata masih menggantung di bulu matanya. “Aku akan benci jarak ini.”

Altair tersenyum tipis, getir. “Aku juga.”

Ia mengantar Ciara kembali ke mansion Lorenzo, memastikan gadis itu masuk dengan aman. Dari kejauhan, Altair melihat Lorenzo berdiri di ambang pintu, wajahnya tegang, tapi penuh kelegaan saat melihat putrinya kembali.

Altair tidak menunggu lebih lama. Ia berbalik, masuk ke mobil, lalu pergi.

Di jalan yang lengang itu, Altair menepikan mobilnya sejenak. Ia mematikan mesin, menyandarkan kepala ke sandaran kursi, dan menghembuskan napas panjang.

“Ini yang benar,” gumamnya pada diri sendiri.

Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, melakukan hal yang benar terasa jauh lebih menyakitkan daripada melakukan hal yang salah.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!