NovelToon NovelToon
Mahar Dendam Sang Ceo

Mahar Dendam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan / Penyesalan Suami
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"

Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.

Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.

Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MDSC : 23

Seno tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Matanya terpaku pada dua sosok yang perlahan mulai berjalan mendekat itu-- Indira dan Adrian. Ada sesuatu yang menggelitik tidak nyaman di dadanya, seperti ada yang mencengkram nya kuat tanpa ijin.

Kenapa pria itu bisa bersama Indira? kenapa mereka terlihat begitu... akrab?

Adrian tersenyum ramah begitu sampai di depan pintu ruang VVIP. Pria itu mengenakan kemeja kasual berwarna biru muda, penampilannya rapi namun santai. Sementara Indira-- gadis itu berdiri sedikit di belakang, ekspresinya datar seperti biasa, namun ada sedikit kelelahan yang tersirat dimatanya.

"Seno, " sapa Adrian dengan nada yang bersahabat, seperti biasa. "gue dengar lo di rawat, jadinya gue ke sini buat jenguk. "

Seno mengerutkan kening. "Dari mana lo tau? "

Adrian melirik Indira sekilas. "Dari Indira. Tadi pagi sebenarnya gue pengen ngajak kalian berdua buat jenguk Keano di rumah sakit, dia nagih janji yang katanya kita bakal kesana bareng Indira pas wekeend. Tapi Indira bilang lo lagi di rawat. Jadi ya... kami putuskan untuk datang kesini dulu. "

Windya, yang sejak tadi berdiri di samping Seno dengan tangan masih menempel di lengan pria itu, langsung menyipitkan mata. Ia menatap Indira dengan tatapan menusuk.

"Oh," ucap Windya dengan nada yang dibuat-buat manis, namun sarat sindiran. "Jadi sekarang Indira sudah punya pengganti Kak Seno yang baru? Cepat juga ya."

Dan ucapannya sukses membuat suasana langsung tegang.

Raka yang berdiri di sudut ruangan refleks menegakkan tubuh, sementara Adrian menoleh ke Windya dengan alis terangkat--bingung sekaligus tidak nyaman.

Sedangkan Indira, yang sejak tadi diam, kini menatap Windya dengan tatapan dingin. Tidak ada emosi di wajahnya, namun ada sesuatu yang tajam di sorot matanya.

"Setidaknya," kata Indira dengan suara tenang namun tegas, "aku tidak perlu merebut suami orang untuk merasa spesial."

Skakmat.

Windya membelalak, dengan wajahnya langsung memerah--entah karena malu atau marah. Dalam satu hari ini dia sudah mendapatkan ulti dari dua orang.

"Kamu--!"

"Sudah cukup," potong Seno dengan nada datar, namun ada ketegangan di rahangnya yang mengeras.

Windya langsung menoleh ke Seno dengan mata berkaca-kaca. "Kak Seno, kamu dengar kan dia ngomong apa ke aku?"

Seno tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Indira, yang kini berbalik dan berjalan keluar dari ruangan tanpa sepatah kata pun.

Adrian menghela napas pelan. "Aku rasa aku datang di waktu yang kurang tepat."

"Sepertinya begitu," sahut Raka pelan, sambil melirik Seno yang masih membeku di tempatnya.

Adrian kemudian menepuk bahu Seno ringan. "Lo istirahat yang cukup ya. Nanti kalau sudah sehat, kita jenguk Keano bareng,dia nanyain lo mulu soalnya."

Seno hanya mengangguk kaku.

Setelah Adrian pergi, Windya langsung kembali menempel pada Seno. "Kak, ayo pulang. Aku antar kamu ya. "

Namun Seno tidak mendengarkan. Pikirannya masih terpaku pada satu hal--Indira dan Adrian.

...----------------...

Hari-hari berikutnya terasa seperti permainan segi empat yang aneh.

Seno membiarkan Windya terus menempel padanya, bahkan terkadang secara sengaja. Ia membiarkan gadis itu memegang lengannya, berbicara manja, bahkan sesekali tertawa berlebihan di dekatnya.

Tujuannya? Ia sendiri pun tak tahu, mungkin ingin membuat Indira cemburu, tapi tak sadar dengan rencananya sendiri itu.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Indira tampak tidak peduli sama sekali. Gadis itu tetap tenang, bahkan semakin sering terlihat bersama Adrian--entah itu di taman mansion setelah Adrian datang untuk membicarakan soal bisnisnya bersama Seno, di ruang makan, dan bahkan saat Adrian datang menjemputnya untuk pergi entah kemana.

Dan itu... membuat Seno semakin geram.

Suatu sore, Seno melihat Indira tertawa kecil saat Adrian bercerita sesuatu di teras belakang mansion. Tawa itu--sungguh, itu adalah tawa yang jarang Seno lihat dari gadis itu. Lembut, tulus, tanpa beban.

Seno mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Kak Seno?" Windya menepuk bahunya pelan. "Kamu kenapa? Dari tadi bengong."

"Tidak apa-apa," jawab Seno cepat, namun matanya masih tertuju pada Indira.

Windya mengikuti arah pandang Seno, lalu tersenyum tipis, puas. "Sudah kubilang kan, Kak. Indira itu nggak cocok buat kamu."

Tapi Seno tidak menjawab.

Malam itu, di ruang makan, mereka makan malam bersama--Seno, Indira, Windya, dan Adrian yang kebetulan diundang oleh Nyonya Athaya. Sedangkan Rania pergi ke luar kota dengan alasan ingin melihat butik nya yang sudah lama ditinggalkan.

Windya duduk di samping Seno, sesekali menyuapi pria itu dengan manja. Sementara Adrian duduk di seberang, berbincang santai dengan Indira yang duduk di sampingnya.

Seno tidak bisa fokus pada makanannya. Matanya terus melirik ke arah Indira dan Adrian--cara mereka tertawa bersama, cara Adrian sesekali membungkuk mendekat untuk berbisik sesuatu yang membuat Indira tersenyum tipis.

Seno meremas sendoknya kuat-kuat.

"Kak?" Windya menatapnya bingung. "Kamu nggak mau makan lagi?"

"Sudah kenyang," jawab Seno singkat, lalu berdiri dan meninggalkan meja tanpa sepatah kata.

***

Malam semakin larut. Mansion Barata tenggelam dalam keheningan, hanya ditemani suara angin yang berhembus pelan di luar jendela.

Indira baru saja selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan piyama sederhana berwarna putih. Rambutnya masih basah, menetes di ujung-ujungnya. Ia duduk di tepi ranjang, menyisir rambutnya dengan gerakan pelan dan lembut.

Sekonyong-konyong, pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan.

Indira menoleh cepat, dan matanya langsung bertemu dengan Seno yang berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin, serta rahangnya mengeras.

"Kenapa kamu di sini?" tanya Indira datar, meski jantungnya sedikit berdegup lebih cepat.

Seno melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan keras. "Aku yang harusnya tanya itu. Kenapa kamu bisa sedekat itu sama Adrian?"

Indira meletakkan sisirnya di meja, lalu berdiri menghadap Seno dengan tatapan dingin. "Kenapa kamu mau tahu?"

Seno maju selangkah. "Karena kamu istriku."

Indira tertawa kecil, hambar. "Istri kontrak. Kamu sendiri yang buat perjanjian itu kan? Tidak boleh mencampuri urusan satu sama lain."

Seno terdiam, rahangnya mengeras semakin kencang.

"Lalu kenapa sekarang kamu protes?" lanjut Indira dengan nada menusuk. "Kamu sendiri juga membiarkan Windya terus menempel padamu seperti lem."

"Itu berbeda!"

"Berbeda apanya?" Indira menatapnya tajam. "Kamu boleh dekat sama Windya, tapi aku tidak boleh dekat sama Adrian, begitu? Standar ganda sekali."

Seno tidak bisa menjawab. Ia hanya menatap Indira dengan napas yang mulai memburu.

Indira menghela napas lelah. "Lebih baik kamu pergi dari kamarku. Aku lelah."

Gadis itu berbalik, berniat mengambil handuknya di kursi, namun tiba-tiba saja tangannya ditarik kuat.

Indira tersentak, tubuhnya berbalik dan detik berikutnya, bibir Seno sudah menempel di bibirnya.

Indira membeku. Matanya terbuka lebar, shock.

Ini adalah ciuman pertamanya seumur hidup.

Seno menciumnya dengan intens, tangannya memegang tengkuk Indira dengan kuat, tidak memberi celah untuk melepas. Ciuman itu awalnya hanya sebuah sentuhan bibir yang kaku--namun perlahan, Seno semakin menuntut.

Indira meronta, tangannya mendorong dada Seno sekuat tenaga, namun pria itu jauh lebih kuat. Seno malah semakin menekan, bibirnya bergerak lebih dalam, lebih panas, seolah ingin menegaskan sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Indira merasakan kepalanya berputar, napasnya sesak, namun ada sesuatu yang aneh di dadanya. Jantungnya berdegup sangat kencang, terlalu kencang hingga membuatnya pusing.

Seno akhirnya melepaskan ciumannya, namun wajahnya masih sangat dekat dengan wajah Indira. Napas mereka berdua memburu, beradu di udara yang sempit di antara mereka.

Indira menatap Seno dengan mata berkaca-kaca--bukan karena sedih, tapi karena shock dan marah yang bercampur aduk.

"Kamu... gila," bisik Indira dengan suara bergetar.

Seno tidak menjawab. Ia hanya menatap bibir Indira yang kini sedikit membengkak karena ulahnya tadi dan ada sesuatu yang meledak di dadanya.

Penyesalan? Tidak.

Kepuasan? Juga tidak.

Yang ada hanya... kebutuhan.

Kebutuhan untuk memiliki gadis ini, sepenuhnya, tanpa bisa ditawar lagi.

Dan Seno tahu--ia sudah terlalu jauh untuk bisa mundur sekarang.

******

1
Ayesha Almira
puas bgt indira bkn wanita yg lemah..
partini
jijik sehhh punya mu aja udah longgar kaya terowongan juga, nanti tekdung cari kambing hitam sihhh
partini
nanti tekdung bilang anaknya Seno aihhh ,, OMG seno seno CEO ledhoooooooooo 🤣🤣🤣🤣
Ariany Sudjana
hahaha windya memang pelacur murahan, pantas saja berambisi ingin jadi istrinya Seno, dan Seno bodohnya percaya dengan pelacur murahan seperti windya 🤭🤭🤣🤣
Aiyaa writer
bagus
Ariany Sudjana
hah Seno kamu bodoh, kamu ga suka Indira dekat dengan Adrian, sedangkan jalang peliharaan kamu itu nempel terus kaya perangko dan terus jadi kompor buat kamu, tapi kamu diam saja
partini
hemmm aihh seno seno bisa ga sih kamu berbeda dari laki laki lain yg melohoyyy 🤦🤦
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
azzura faradiva
dasar pria rakus,plin plan sana sini mauuuuu🙄
partini
seno lelaki menyek" ga ada tegas sedikit pun aduhhh 🤦🤦🤦
Ariany Sudjana
windya kamu ini pelacur murahan, udah tahu seni itu suami Indira, tapi kamu ga tahu diri nempel terus kaya perangko, benar-benar pelacur murahan kamu
Helen@Ellen@Len'z: 🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦windya windya 🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦
total 1 replies
Dian Pravita Sari
ini pun gak tamat??? bener bener kecewa gak da satupun yg tamat cerita di novel. tooo
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
Dancingpoem: sabar ka, ini baru 21 bab dan masih bersambung/Sweat/
total 1 replies
partini
luka tusuk lama ehhhh apa seno seorang mafia
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan gila kamu windya, kalau seno sudah tidak mau sama kamu ya sudah, dasar gila dan serakah kamu yah
Helen@Ellen@Len'z: windya🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦
total 1 replies
partini
memang sudah gila tuh anak asuh mu
partini
Widya kaya jelangkung deh
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah
Ariany Sudjana
dasar jalang murahan kamu windya, sampai segitunya kamu ngejar Seno, semoga setelah ini Seno bisa membuka hatinya untuk Indira, kalau tetap ga bisa juga, sudahlah Indira tinggalkan saja Seno, lebih baik kamu dengan Adrian
Ariany Sudjana
bodoh kamu Seno, Indira kamu biarkan sendiri di halte bus, dan kamu lebih membela menjemput jalang murahan itu di kampus, suami macam apa kamu? lebih baik Indira dengan Adrian saja, Adrian lebih bisa menghargai perempuan
Helen@Ellen@Len'z: setuju bgt andai lndra sm adrian aja drpd bersuami seno bangsat🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬jd lepaskan lndira biar lndira bahagia bersama org lain aja drpd berumahtangga sm seno🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬
total 1 replies
partini
Indira generasi sandwich
Ariany Sudjana
dasar orang tua ga tahu diri, anak laki ga jelas gitu dibela terus, dikasih duit terus, dan kalau ada masalah, Indira yang jadi sapi perah. kasihan Indira, sudah orang tua ga tahu diri, punya suami hanya status di atas kertas saja, tapi ga pernah dianggap
Ariany Sudjana
betul Adrian, lebih setuju Indira dengan Adrian, daripada dengan seno, yang tidak pernah bisa menghargai Indira, apalagi Seno juga kan punya perempuan lain yang dicintai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!