Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Alya tercengang ketika matanya menangkap deretan cemilan beraneka ragam yang tertata rapi di sofa. Lebih mengejutkan lagi, suaminya menatapnya dengan senyum hangat yang membuat hatinya berdegup kencang.
“Apa semua ini, Tuan?” Alya bertanya sambil melangkah hati-hati mendekati tumpukan cemilan yang memenuhi sofa.
"Ini buat stok cemilan kamu selama datang bulan, siapa tahu nanti lapar kan,oh iya, pembalutnya sudah sesuai, kan?” kata Romeo sambil tersenyum nakal.
“Benar sih, tapi kenapa dua jenis, ya?” Alya bertanya sambil mengerutkan dahi.
“Supaya aku nggak bolak-balik kalau salah pilih.” ujar Romeo.
“Sebentar lagi dokter akan periksa kondisi saya, Tuan. "
“Tenang, saya akan nemenin kamu. Hari ini juga saya pastikan kamu keluar dari rumah sakit, karena besok kita harus berangkat ke Singapura bersama.” tegas Romeo tanpa memberi ruang untuk menolak.
“Singapura?!” seru Alya, mulutnya ternganga lebar karena terkejut tak percaya.
“Iya, kenapa kaget? Kamu belum pernah ke luar negeri, kan?” Romeo menatap Alya sambil menyunggingkan senyum penuh arti.
Alya menundukkan kepalanya perlahan, pikirannya dipenuhi rasa takut. Apa benar dia akan dibawa ke Singapura? Apakah dia akan ditinggal di sana, diserahkan begitu saja ke tempat asing yang menyeramkan baginya.
“Saya dibawa ke sana buat ngapain?” tanya Alya dengan suara gemetar, matanya penuh ketakutan.
“Saya cuma ada urusan bisnis, santai saja. Saya nggak akan ninggalin kamu di sana kamu kan istri saya. Lagipula, besok saya harus bawa pasangan untuk pertemuan itu.” ujar Romeo, suaranya terdengar meyakinkan, tapi ada dusta yang tersembunyi di balik senyumnya.
“Tapi aku kan masih sakit, bagaimana dengan anak-anak?” Alya menatap Romeo, berusaha menolak dengan lembut tapi tegas.
“Kamu kan sudah mulai sembuh, Alya. Kalau nanti kondisi kamu memburuk, saya pastikan kamu dirawat di rumah sakit terbaik di sana. Tenang saja, uang bukan masalah. Soal anak-anak, biar saya yang urus,om mereka di sini banyak kok.” kata Romeo sambil menyunggingkan senyum sedikit menyombong, nada suaranya penuh keyakinan.
“Iya, aku tahu Tuan punya banyak uang nggak usah diulang-ulang.” gerutu Alya kesal sambil mengerutkan dahi.
“Semua kebutuhanmu sudah saya siapkan. Nanti di rumah, kamu cuma perlu menyiapkan pakaianmu saja. Setelah dari sini, kita akan ke butik untuk beli semua pakaian yang kamu butuhkan. Maaf, bukan berarti saya nggak suka, tapi kamu harus menyesuaikan dengan saya, Alya. Aku harap kamu mengerti.” lanjut Romeo sambil menatap Alya dengan mata penuh kepastian.
Apa lagi yang bisa dilakukan Alya? Hatinya hanya bisa pasrah, mengikuti setiap kata Romeo. Bagaimanapun juga, dia adalah suaminya, dan Alya merasa harus tunduk pada keputusan suaminya.
“Baik.” jawabnya pelan, nada suaranya datar dan tanpa semangat.
Romeo tahu Alya enggan ikut dengannya, tapi dia sudah bertekad untuk berubah dan lebih mendekatkan diri pada istrinya. Salah satu caranya adalah memastikan Alya selalu ada bersamanya, ke mana pun dia pergi.
Malam itu, Alya akhirnya diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Kini, ia duduk di samping suaminya, menatap jalan saat mereka menuju sebuah butik ternama.
Jangan tanya di mana si kembar sekarang mereka sedang asyik membuat kue di rumah, menyiapkan kejutan untuk menyambut kepulangan sang ibu.
“Tuan kelihatan nya baju di sini mahal banget, ya.” keluh Alya sambil menatap sekeliling dengan raut wajah cemas.
“Terus, masalahnya di mana? Uang saya kan banyak.” kata Romeo santai, sedikit menyunggingkan senyum percaya diri.
“Iya, aku tahu uang mu banyak tuan,tapi uangku kan nggak sebanyak itu, Tuan.” sela Alya dengan nada frustrasi, menahan rasa kesalnya.
Romeo menggeleng pelan sambil tersenyum kecil, tak menyangka Alya akan merespons seperti ini saat dibawa ke butik ternama. Sangat berbeda dengan Tania, yang pasti akan protes sana-sini.
“Ah, nggak usah bayar, saya traktir kamu saja.” kata Romeo santai sambil menyunggingkan senyum.
“Serius, Tuan?” ucap Alya tak percaya, tapi wajahnya langsung sumringah penuh semangat.
“Iya, ayo cepat. Anak-anak sudah nggak sabar nungguin kamu di rumah.” kata Romeo sambil tersenyum.
Alya pun cepat-cepat mengikuti langkah Romeo. Tak disangka, tepat saat mereka hendak masuk, tangan Romeo meraih jemarinya. Sentuhan hangat itu membuat Alya tersentak, hatinya meleleh oleh perhatian manis sang suami.
“Selamat datang, Tuan Romeo Andreas.” sapa manajer butik itu.
Alya tiba-tiba merasa cemas sendiri, menyadari bahwa ucapan Romeo memang ada benarnya. Ia harus mulai menyesuaikan penampilannya dengan sang suami. Lihat saja manajer butik itu pakaian rapi, formal, dan jelas menarik perhatian banyak pria.
“Sedang mencari apa, Tuan Romeo?” tanya wanita manajer butik dengan senyum sopan namun penuh perhatian.
“Bawa semua koleksi terbaik kalian, dan pilihkan yang paling cocok untuknya.” kata Romeo sambil menunjuk Alya, matanya penuh keyakinan.
“Maaf, Tuan ini siapa, ya? Kalau pengasuh, saya akan pilihkan pakaian terbaik untuk dia.” jawabnya, nada suaranya lancang tapi sopan.
Alya sangat kesal, hampir saja tangannya meraih wajah wanita itu untuk mencakar atau menamparnya. Namun, ia menahan diri, tak ingin membuat Romeo merasa malu di hadapan orang lain.
“Dia istri saya.” tegas Romeo, nada suaranya dalam dan tak bisa ditawar.
Hanya dengan tiga kata, Romeo sudah membuat maksudnya jelas. Wajah manajer butik itu langsung membeku, matanya terbuka lebar seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengar.
“Kenapa diam? Setidaknya tunjukkan rasa hormatmu saat melihat istri saya.” tegur Romeo, menatap manajer itu dengan tatapan tajam yang membuat udara di sekelilingnya seketika tegang.
Alya yang awalnya hanya merasa dibela, justru merasakan sesuatu yang berbeda di hatinya tak menyangka bahwa suaminya sendiri yang berdiri di sisinya dan membelanya.
“Maaf, Tuan Romeo itu kesalahan saya.” jawabnya pelan sambil menundukkan wajah, nada suaranya penuh penyesalan.
"Baiklah, bagus kalau akhirnya kamu sadar diri,” ujar Romeo sambil menyunggingkan senyum tipis, nada suaranya terdengar puas.
Alya langsung melirik tajam ke arah Romeo saat mendengar jawaban suaminya itu. Dalam hati ia mendengus sungguh, betapa santunnya mulut pria itu.
“Kenapa? Dia memang harus tahu diri dan bersikap sopan pada setiap pelanggan. Saya saja masih berbaik hati, tidak sampai meminta pemilik butik ini memecatnya.” jawab Romeo santai, seolah hal itu bukan masalah besar baginya.
Manajer butik itu semakin diliputi rasa takut. Kini ia sadar, sikap lancangnya barusan adalah kesalahan besar ia telah berani bersikap buruk pada istri seorang Romeo Andreas.
“Sudahlah jangan diperpanjang lagi. Kasihan dia.” bisik Alya pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Romeo hanya melangkah pergi dengan sikap acuh, tak terlalu menggubris bisikan Alya. Meski kerap terlihat sombong, ia memang tak pernah menyukai orang-orang yang bersikap merendahkan seperti manajer tadi.
Alya melangkah mengikuti ke mana pun suaminya pergi. Sekilas, saat melewati dinding kaca besar, ia menangkap bayangan dirinya sendiri. Penampilannya memang tak tampak mewah, namun cukup rapi dan sopan. Dalam hati, ia menggerutu pelan mungkin itulah sebabnya selama ini Romeo kerap menyindir caranya berpenampilan.
“Coba pilih beberapa pakaian yang kamu suka. Selebihnya, biar aku yang menentukan.” perintah Romeo dengan nada tegas namun terdengar tenang.
Alya sebenarnya ingin membantah, namun tak punya keberanian. Bagaimanapun, semua belanjaan itu dibiayai oleh suaminya.
Alya pun menuruti langkah salah satu staf butik yang membawanya ke sebuah ruangan lain. Sementara itu, Romeo memilih duduk santai di sofa dengan kaki tersilang. Tanpa sepengetahuan Alya, diam-diam Romeo menghubungi pemilik butik dan meminta agar manajer tadi segera dipecat. Bukan tanpa sebab Romeo masih mengingat jelas kelicikan wanita itu di masa lalu, saat ia bersekongkol dengan Tania untuk memanipulasi harga pakaian.
Di ruangan lain, Alya justru merasa risih sendiri. Bagaimana tidak semua pakaian yang disodorkan padanya sama sekali bukan gaya yang ia sukai.
“Tidak ada model lain, ya? Aku lebih suka pakaian yang sederhana, tidak terlalu mencolok.” tanya Alya pelan, nada suaranya terdengar ragu.
Staf butik itu tersenyum manis. Dalam benaknya, ia sempat mengira Alya akan bersikap seperti Tania mudah marah dan gemar membentak saat keinginannya tak terpenuhi.
“Tunggu sebentar, Nona. Ada beberapa koleksi terbaru yang sangat cantik. Saya ambilkan dulu, ya.” ucap staf itu ramah sebelum beranjak pergi.
Alya hanya mengangguk dan membalas senyum staf itu. Bukannya ia punya banyak pilihan hanya saja, model pakaian yang disuguhkan terlalu terbuka, dan itu jelas bukan seleranya.
Staf butik itu kembali sambil mendorong sebuah stand hanger berisi beberapa pilihan gaun. Coraknya terlihat sederhana, dengan desain yang tidak berlebihan dan jauh lebih sesuai dengan selera Alya.
“Ah,yang ini cantik sekali, aku suka.” ujar Alya sambil mengambil salah satu gaun yang tampak anggun di antara deretan pilihan itu.
“Pilihan Anda sangat tepat, Nona.” ujar staf itu sambil tersenyum, nada suaranya penuh apresiasi.
Tanpa menunggu lama, Alya langsung mengenakan gaun itu. Potongannya jatuh pas di tubuhnya, seolah dibuat khusus untuknya. Ia sedikit merapikan rambut, dan pantulan di cermin membuatnya tampak semakin mempesona.
“Tuan bagaimana menurutmu yang ini?” tanya Alya pelan sambil melangkah keluar dari ruang ganti, kini berdiri tepat di hadapan Romeo.
Romeo yang tadinya sibuk menatap layar ponselnya langsung tersentak begitu mengangkat kepala. Seketika pandangannya terpaku pada penampilan Alya yang berdiri di hadapannya.
“Cantik.” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar, terucap begitu saja tanpa ia sadari.
“Tuan apa gaun ini tidak cocok untukku?” tanya Alya pelan, suaranya terdengar sendu dan ragu.
“Hmm,cukup bagus. Kalau kamu suka, ambil saja.” ujar Romeo santai, berusaha menyembunyikan ketertarikannya.
Melihat reaksi Romeo yang tampak biasa saja, Alya menarik napas panjang. Dalam hatinya ia menertawakan diri sendiri apa sebenarnya yang ia harapkan dari Romeo? Bukankah sejak awal ia harus sadar akan posisinya, tentang siapa dirinya di hadapan pria itu.
Akhirnya urusan memilih pakaian untuk Alya pun selesai. Namun sebenarnya, bukan mereka berdua yang menentukan Romeolah yang sepenuhnya memilih mana pakaian yang pantas dan paling cocok untuk Alya.
“Ini kebanyakan, Tuan.” ucap Alya ragu, rasa sungkannya jelas terdengar dari nada suaranya.
“Tidak apa-apa. Uangku masih lebih dari cukup, Alya. Aku tidak akan jatuh miskin hanya karena membelikan semua itu untukmu.” jelas Romeo santai, nada bicaranya sarat dengan kepercayaan diri dan sedikit kesombongan.
“Halah,Tuan paling tajir sejagat raya.” sindir Alya sambil mendengus pelan, nada suaranya terdengar sebal meski bibirnya nyaris tersenyum.
Romeo hanya mengangkat bahunya singkat dengan sikap acuh. Pada akhirnya, itu memang kenyataan ia punya banyak uang dan hidup bergelimang harta.
Sesampainya di rumah, keduanya langsung disambut sorak gembira si kembar. Kedua bocah itu berlari mendekat dengan wajah cerah,rindu mereka hanya tertuju pada sang ibu, seakan dunia mereka memang selalu berpusat padanya.
“Ibu!” seru keduanya bersamaan, lalu berlari memeluk Alya erat dengan tawa penuh rindu.
Romeo hanya memperhatikan pemandangan itu dengan wajah datar. Entah mengapa, ada rasa kesal yang perlahan muncul di dadanya saat melihat si kembar begitu melekat pada istrinya.
“Kami kangen sekali sama Ibu!” seru keduanya bersamaan, suara mereka riang penuh rindu.
“Lho, memang nggak ada yang kangen Papa?” tegur Romeo, nadanya terdengar datar namun menyimpan sedikit rasa cemburu.
“Nggak adaaa, bleee.” sahut si kembar kompak sambil menjulurkan lidah, gaya jahil andalan mereka kembali dipamerkan di depan Romeo.
Romeo melirik si kembar dengan wajah masam, rasa kesal jelas terpancar karena dirinya diabaikan begitu saja. Di sisi lain, Satria dan Arjuna sibuk menahan tawa, geli melihat bagaimana seluruh perhatian si kembar kini hanya tertuju pada Alya.
“Serena, Selina jangan begitu. Papa kalian juga kangen, masa kalian nggak kangen sama Papa?” ujar Alya lembut, mencoba menengahi sambil menatap kedua putrinya dengan senyum tipis.
“Ya mau bagaimana lagi, Bu. Papa kan selalu sibuk, jadi rasa rindunya pelan-pelan hilang.” jawab Serena polos tanpa merasa bersalah.
“Besok Ibu akan ikut Papa ke luar negeri selama empat hari. Kalian harus tinggal di sini.” ujar Romeo santai, nada bicaranya terdengar seperti sengaja menggoda si kembar.
“Hah? Ibu pergi?” suara si kembar bergetar, mata mereka langsung berkaca-kaca seolah tak siap mendengar kabar itu.
Satria dan Arjuna hanya bisa menggeleng pelan, menyaksikan sendiri betapa menyebalkannya sikap Romeo saat itu.
“Maafkan Ibu, ya.Ibu ikut karena dipaksa Papa,” bisik Alya lirih, suaranya penuh rasa bersalah sambil mengelus kepala si kembar.
“Kenapa? Dia kan istri Papa. Wajar kalau Papa berhak membawa ibu kalian.” jawab Romeo santai, memasang ekspresi tak bersalah seolah tak merasa bersalah sedikit pun.
“Papa kan menikahi Ibu karena kami,jadi, Ibu nggak boleh pergi kalau belum dapat izin dari kami.” ujar Selina mantap.
Sementara itu, Satria, Arjuna, dan Alya dibuat terdiam mendengar celetukan Selina. Kejujuran polos yang meluncur begitu saja dari mulut bocah itu sungguh mengejutkan.
Jangan ditanya betapa malunya Romeo saat ini. Seandainya Selina bukan anaknya sendiri, rasanya ia ingin saja menutup atau meremas mulut kecil itu karena terlalu jujur berbicara.
“Pokoknya besok ibu ikut papa pergi. Tidak ada perdebatan lagi.” tegas Romeo dingin, jelas tak berniat mengalah sedikit pun pada kedua putrinya kali ini.
“Sayang, jangan bicara begitu pada Papa. Itu tidak sopan, Nak.” tegur Alya lembut, suaranya halus namun penuh pengertian.
Selina dan Serena sama-sama memajukan bibir mereka, wajahnya cemberut jelas terlihat. Rasa kesal menguasai hati kedua bocah itu tak terima harus ditegur oleh ibu mereka hanya karena membela papanya.
“Maaf, Bu.” ucap keduanya serempak, nada suaranya lembut dan penuh penyesalan.
Satria dan Arjuna terkesima menyaksikan sikap Alya. Terlihat jelas betapa ia begitu menyayangi dan perhatian terhadap si kembar.
“Minta maaf sama Papa, ya Besok Ibu ada urusan bisnis dengan Papa, tapi Ibu akan berusaha pulang cepat. Kasihan Papa kalau di sana sendiri, boleh?” Bisik Alya pelan, menahan rasa berat di hatinya saat mencoba meminta izin pada kedua bocah kembar itu.
“Nanti Selina minta maaf sama Papa, tapi kami tetap mau Ibu di sini.” ucap bocah itu sambil menahan tangis yang mulai menetes di pipinya.
Alya tak sanggup melihat kedua bocah itu bersedih. Ia ingin membantah, namun rasa takut pada Romeo membuatnya menahan diri.
“Nanti Ibu bawakan cokelat dan mainan baru, bagaimana?” tawar Alya pelan, mencoba membuat kedua bocah kembar tersenyum.
“Bawain mainan terbaru, Bu dan cokelat yang paling enak, ya!” seru Selina seketika, matanya berbinar penuh semangat.
“Baiklah, mainan terbaru dan cokelat terenak sepakat, ya?” Alya berkata sambil mengaitkan kelingkingnya dengan si kembar sebagai simbol janji mereka.
“Sepakat!” seru Selina, cepat-cepat menyambar kelingking Alya dan mengaitkannya dengan jemarinya, matanya bersinar penuh kegembiraan.
“Serena, kenapa, Sayang?” tanya Alya lembut, baru menyadari bahwa Serena sejak tadi hanya diam menunduk.
“Gak apa-apa, Bu.” jawabnya singkat, suaranya lembut namun datar.
Menyadari bahwa Serena menyembunyikan sesuatu, Alya segera menariknya ke dalam pelukan, sambil mengusap lembut rambutnya dengan penuh kasih sayang.
“Serena sedih karena Ibu pergi.”
“Cuma tiga hari saja, ya? Ibu akan bilang sama Papa, cukup tiga hari di sana.” bujuk Alya pelan, mencoba meyakinkan kedua bocah kembar.
Serena tak memberikan jawaban sama sekali. Justru, pelukannya pada Alya semakin erat, seolah takut sang ibu akan pergi dan tak kembali lagi.
"Serena.” bisik Alya lembut, nada suaranya penuh kasih sayang dan kekhawatiran.
“Iya, Ibu.” jawabnya pelan, suara isaknya tertahan di tenggorokan.
“Maafkan Ibu, ya atau Ibu minta sama Papa biar nggak jadi ikut, bagaimana?” ucap Alya lembut, nada suaranya penuh harap.
“Jangan, Bu Serena juga nggak mau Papa kecewa karena Serena bersikap kekanak-kanakan.” ujar Serena pelan, suara kecilnya penuh penyesalan.
“Serena kan masih kecil, wajar saja. Tidak ada yang perlu disalahkan.” kata Alya sambil tersenyum lembut, mencoba menenangkan suasana.
“Nggak, Bu maafin Serena ya,ibu boleh pergi, asal nanti balik lagi ke sini. Serena sayang ibu. Jangan ninggalin Serena sama Selina, ya ibu janji?”Serena menunduk sebentar, lalu menatap Alya dengan mata berkaca-kaca.
“Janji ibu janji.” jawab Alya tegas, matanya menatap Serena penuh kepastian.
Serena segera merangkul Alya lebih erat, tak mau melepaskan. Selina pun ikut, berlari memeluk ibu kesayangannya, tidak mau kalah dengan kakaknya.
“Gue nggak nyangka, si kembar bisa sebegitu deket sama dia.” Arjuna berbisik pelan, matanya menatap adegan itu dengan campuran kagum dan terkejut.
“Mereka itu peka, bisa bedain siapa yang bener-bener sayang sama mereka, siapa yang nggak.” lanjut Satria dengan nada tenang tapi penuh arti.
Keesokan harinya, Romeo dan Alya menaiki pesawat maskapai pilihan Romeo untuk pertama kalinya. Keduanya berangkat menuju Singapura lebih pagi, sementara Satria baru akan menyusul pada siang hari. Romeo dan Alya sendiri sudah lepas landas sejak subuh.
Tiga jam perjalanan itu dilewati dalam hening yang nyaman di antara mereka. Bukan karena Romeo tak memiliki jet pribadi, melainkan dia memang sengaja memilih penerbangan komersial kali ini. Duduk di kelas bisnis, Alya diam-diam takjub, semua kekagumannya ia simpan rapat-rapat tanpa satu kata pun terucap.
“Tuan, kita di sana berapa lama?” tanya Alya, hatinya masih risau karena belum sempat membahas janji yang ia buat dengan si kembar kepada Romeo.
“Empat hari. Kenapa?” Romeo menjawab singkat, matanya tetap menatap layar ponsel tanpa sekali pun menoleh ke arah Alya yang duduk di sampingnya.
“Kalau boleh cuma tiga hari saja, Tuan. Selina dan Serena cuma minta tiga hari kasihan mereka kalau kesepian.” lirih Alya, suaranya hampir tenggelam di antara hiruk-pikuk kabin.
“Hmm.” ia hanya mengangguk pelan, menandakan setuju tapi dengan nada yang ambigu.
“Apa maksudmu,hm?” tanya Alya dengan polos, alisnya sedikit mengernyit tanda penasaran.
“Hanya tiga hari.” jawab Romeo singkat, matanya tetap tenang karena ia sudah mendengar cerita ini dari Satria dan Arjuna sebelumnya.
“Benarkah ah, terima kasih, Tuan!” Alya tak bisa menyembunyikan rasa senangnya, senyum lebar mengembang di wajahnya.
“Tidurlah dulu. Perjalanan masih panjang, nanti setengah jam sebelum mendarat, aku akan membangunkanmu.” ucap Romeo, menyadari Alya pasti lelah dan mengantuk saat ini.
“Ah baik, Tuan.” jawab Alya pelan, nada suaranya hangat dan patuh.
Alya segera terlelap setelah sebelumnya pramugari membawakannya sarapan. Ini adalah pengalaman pertamanya naik pesawat kelas bisnis, dan semuanya terasa begitu menyenangkan baginya.
Beberapa jam kemudian, Romeo membangunkan Alya. Ia segera menyuruh Alya mengganti pakaiannya dengan rapi, karena setelah ini mereka akan langsung bertemu Akram di sebuah restoran ternama di Singapura, yang terletak di dalam hotel mewah.
Ngomong-ngomong soal Akram, pria asal Inggris itu sudah lebih dulu tiba di Singapura, ditemani para bodyguardnya. Sementara Tania masih terlelap, akibat ulahnya sendiri.
“Tuan, kira-kira jam berapa kita akan bertemu dengan orang Indonesia itu?” tanya William, asisten pribadi Akram, dengan nada sopan tapi penasaran.
“Jam satu siang kita akan bertemu dengannya. Tenang saja William, aku sudah menelusuri semua tentang orang itu. Dia tak akan menjadi masalah bagiku.” kata Akram dengan tenang.
“Baik, Tuan.” jawab William cepat, kesetiaannya pada Akram membuatnya tak ingin tuannya menghadapi masalah sedikit pun.
Perjalanan akhirnya selesai, dan Romeo bersama Alya kini dalam perjalanan menuju hotel tempat mereka akan bertemu Akram. Menariknya, Romeo tidak memilih hotel yang sama untuk menginap, ia memilih cabang hotel lain miliknya.
“Tuan, kita akan bertemu dengan siapa? Maaf, maksudku kalau aku harus bicara dalam bahasa Inggris, aku…” Alya tergagap sebentar, ragu-ragu menyelesaikan kalimatnya.
“Cukup diam saja, Alya. Jangan jawab apa pun kalau mereka bertanya. Jangan menatap wajah siapa pun, terutama pria itu. Paham?” ujar Romeo datar, suaranya tegas tapi tenang.
“Baik.” jawab Alya pelan, pikirannya melayang entah ke mana.
Keduanya akhirnya tiba di hotel tempat pertemuan. Alya tampak begitu menawan . Dress yang ia kenakan menonjolkan kulitnya yang putih, rambutnya terurai panjang dengan gelombang indah, membuat keseluruhan penampilannya begitu memikat.
Sejujurnya, Alya merasa agak canggung mengenakan dress ini. Meski tidak terlalu terbuka, lekuk tubuhnya yang terlihat jelas membuatnya kurang nyaman.
“Saya menyesal menyuruhmu pakai dress itu.” gerutu Romeo, wajahnya mengerut masam.
“Kenapa Tuan? Ada yang salah?” tanya Alya, nada suaranya lembut tapi penuh perhatian.
“Ada banyak yang salah.” jawab Romeo singkat, matanya menatap jauh ke arah lain, menghindari pandangan Alya.
“Maaf, Tuan jadi gimana nih? Kalau begitu, aku nggak usah ikut saja, ya?” ujarnya sambil memelas, menatap Romeo dengan mata penuh harap.
“Salah karena kamu terlihat begitu cantik dan memikat.” ucap Romeo pelan, nyaris terdengar oleh Alya, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar mereka berubah.
“Hah Tuan, ulangi, dong. "bisik Alya pelan, merasa seolah baru saja menangkap sesuatu yang mengejutkannya.
“Lupakan saja, nanti. Pakai jas saya begitu masuk ke dalam dinginnya pasti bikin kamu kedinginan, dan aku pasti repot mengurusmu.” ucapnya dengan nada nakal tapi tegas.
“Ah baiklah. Terima kasih.” jawab Alya, suaranya terdengar sopan meski hatinya masih kesal.
Sesampainya di restoran, keduanya langsung melangkah ke ruang VVIP yang sudah dipesan Romeo. Tanpa menunggu lama, Romeo menggenggam pinggang Alya dengan cara yang menandakan dominasi, seolah tak ingin ada yang meragukan bahwa dia milik Romeo sepenuhnya.
“Selamat datang, Tuan Romeo Andreas. Senang sekali Anda bisa hadir.” sapa Akram dengan nada sopan namun hangat.
Romeo hanya mencondongkan separuh tubuhnya dengan Alya, seolah itulah jawaban yang cukup untuk menanggapi ucapan Akram.
“Bagaimana perjalanan kalian?” tanya Akram sambil tersenyum ringan, berusaha membuka percakapan setelah menuntun Romeo dan Alya duduk.
“Jadi, Anda bisa berbahasa Indonesia?” tanya Romeo dengan nada tenang, matanya menatap langsung Akram.
“Tentu, aku menguasai lebih dari lima bahasa. Tapi sepertinya lebih mudah kalau kita pakai bahasa Indonesia saja. Ngomong-ngomong, siapa yang Anda bawa, Tuan Romeo?” Akram berkata sambil matanya tak lepas menatap Alya sejak pertama kali melihatnya.
“Dia istriku.” ucap Romeo tegas, nada suaranya meninggalkan sedikit rasa kepemilikan yang sulit diabaikan.
“Kalau begitu, bagaimana dengan Tania?” goda Akram dengan senyum yang sengaja membuat Romeo tersentak.
“Dia milikmu.” jawab Romeo dengan suara yang tenang, tapi setiap kata terasa tegas dan tak bisa ditawar.
Akram hanya mengangguk pelan sambil tersenyum, ada sesuatu tentang ketenangan dan sikap dingin Romeo yang membuatnya tertarik. Tampaknya, di balik senyumnya, Akram mulai merancang sesuatu mungkin sebuah kerja sama bisnis, atau rencana lain yang belum terungkap.
“Katakan padaku, apa sebenarnya tujuan pertemuan ini? Bukankah Tania sudah bersamamu?” tantang Romeo dengan nada dingin, menatap Akram tanpa berkedip.
Entah mengapa, Alya merasakan sedikit kecewa saat Romeo masih membicarakan Tania. Akhirnya, dia tersadar bahwa tujuan pertemuan ini bukan membahas urusan bisnis, melainkan urusan yang berkaitan dengan Tania.
“Memang, Tuan Romeo. Aku tak tahu kalau dia sudah lebih dulu bersama Anda. Hubungan kami sendiri sudah berjalan cukup lama, meski kalian lebih dulu… tapi jujur, aku tak lagi terlalu menginginkannya.” jelas Akram sambil melempar senyum sinis yang sulit ditebak.
Romeo terhenti sejenak, matanya menatap Akram sambil berusaha mencerna maksud sebenarnya di balik ucapan itu.
“Kami akan menikah, dan keluargaku ingin segera memiliki keturunan. Tapi setelah aku mengetahui semua tentangnya, termasuk pengkhianatan yang dia lakukan terhadap kita berdua aku tak lagi menginginkannya, kecuali sebagai alat untuk memenuhi keinginanku mendapatkan keturunan.” jelas Akram dengan nada dingin dan penuh perhitungan.
“Kalau begitu apa urusannya denganku?” tanya Romeo, matanya menyipit, masih mencoba memahami maksud Akram.
“Balas dendam bukankah Anda ingin membalasnya? Tenang saja, dia akan tetap di bawah penjagaanku, tanpa mengganggu hubungan Anda dengan istri cantik mu ini.” goda Akram sambil menyunggingkan senyum penuh tipu daya.
“Jaga pandanganmu, Tuan Akram.” geram Romeo, matanya menatap tajam Akram yang terlalu lama menyingkap Alya dengan tatapan berlebihan.
“Ah, tak heran jika Anda tampak tak terlalu peduli pada Tania,istri Anda jelas jauh lebih menawan darinya.” puji Akram sambil mengedipkan mata satu ke arah Alya dengan senyum menggoda.
“Ucapkan saja dengan tegas, apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?” tanya Romeo dengan nada kesal, matanya menatap tajam Akram.
“Serahkan Tania padaku, dan biarkan aku yang menuntaskan balas dendam untuk kita berdua.” ucap Akram dengan nada tenang namun sarat ancaman.
“Aku sudah mengakhiri segalanya sejak dia melakukan kegilaan itu. Tapi soal balas dendam apa sebenarnya rencanamu?” selidik Romeo sambil menyipitkan mata, menatap Akram penuh curiga.
“Kelak kau akan tahu, tapi yang pasti aku akan sesekali membiarkan dia menghubungimu. Dan aku harap kau tak mudah tertipu olehnya, Tuan Romeo.” ujar Akram dengan senyum.
“Tentu saja selama kita berada di pihak yang sama dan menjaga komunikasi di antara kita.” jawab Romeo dengan nada datar namun penuh perhitungan.
Tiba-tiba, Alya angkat bicara, memotong percakapan yang sejak tadi terasa menegang.
“Bisa kah suamiku tidak ikut campur lagi dengan urusan wanita itu, Tuan?” Alya menatap Akram lurus sambil menegaskan pertanyaannya.
“Alya!” bentak Romeo dengan nada kesal, matanya menatap tajam ke arahnya.
Alya menoleh sekilas ke arah Romeo, menatapnya sebentar sebelum kembali menatap Akram dengan sorot mata yang sama tajamnya.
“Takut dia tergoda dengan kekasihku, nona?” goda Akram sambil melempar tatapan nakal ke arah Alya.
Sementara Romeo merasa kesal luar biasa, bukan karena Alya ikut campur atau hal lainnya, melainkan karena Alya melanggar janjinya dia tidak seharusnya berbicara dengan Akram atau menatap nya begitu.
“Bukan begitu aku hanya merasa tidak nyaman jika suamiku kembali terlibat dengannya.” jelas Alya dengan nada serius, tatapannya menegaskan maksudnya.
Romeo menatap Alya, yang sikapnya jelas menunjukkan seorang istri yang benar-benar cemburu.
“Bisa saja tapi dengan satu syarat.” ujar Akram sambil menatap Romeo dan Alya bergantian, nada bicaranya penuh arti.
“Ucapkan saja.” desak Romeo dengan nada tegas, matanya menatap Akram tanpa berkedip.
“Syaratnya, begini.” ucap Akram dengan nada pelan, tapi setiap kata terasa penuh arti dan menegangkan.