Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: LIANG EMPIRE BERAKSI
Pintu apartemen Rangga masih terkunci rapat dari luar, tetapi interkom di dinding terus berdering tanpa henti, seperti sirene yang mengganggu ketenangan pagi. Livia menatap layar kecil di samping pintu: wajah seorang perempuan cantik dengan rambut lurus panjang yang terawat sempurna, makeup flawless ala sosialita Jakarta Selatan, dan tatapan yang sudah siap untuk pertarungan sengit. Nadia Wulandari.
Calon Nyonya Adiwinata versi resmi—versi yang "bersih" dan tidak pernah menimbulkan skandal di acara arisan keluarga konglomerat.
Nadia adalah representasi sempurna dari perempuan yang dibesarkan dalam lingkaran elite, dengan pendidikan di luar negeri dan koneksi yang bisa membuka pintu-pintu bisnis terbesar di ibu kota.
Livia tahu betul siapa dia; gosip tentang hubungan mereka sudah beredar sejak tahun lalu, seperti berita viral di feed Instagram para selebriti.
Livia tersenyum tipis, tangannya meraba botol kecil minyak pengasih di saku piyama satinnya.
"Senjata" ini mungkin hanya efek placebo dari dukun Thailand yang direkomendasikan Sherly di grup arisan online, tapi di saat kritis seperti ini, segala bentuk amunisi layak dicoba.
Ia mengoleskan sedikit lagi di nadi pergelangan tangannya—aromanya manis menyengat, campuran bunga kamboja dengan rempah-rempah pasar Santa yang eksotis. Dengan cepat, ia menekan tombol interkom.
"Silakan naik, Mbak. Pintu saya buka dari sini," kata Livia dengan nada manis, suaranya dibuat polos seperti gadis remaja yang baru lulus SMA dan sedang berpura-pura malu-malu kucing.
Lift mulai bergerak naik. Livia buru-buru mengoleskan minyak itu ke lehernya juga, biar aromanya menyebar seperti gosip panas di grup WhatsApp tante-tante arisan.
Jika ini benar-benar mujarab, ia berjanji dalam hati untuk mentraktir Sherly arisan seumur hidup.
Pintu lift terbuka dengan suara halus. Nadia melangkah masuk dengan tas Hermes asli di tangan, sepatu Louboutin yang berbunyi klik-klak di lantai marmer seperti sedang menginjak harga diri seseorang, dan senyum yang lebih tajam daripada pisau dapur profesional. Aura Nadia memenuhi ruangan—campuran antara keanggunan kelas atas dan ancaman tersembunyi, seperti perempuan yang terbiasa memenangkan segala pertarungan sosial di pesta-pesta elite Jakarta.
"Kamu Livia Liang, ya?" tanya Nadia langsung ke pokok perkara, tanpa basa-basi salam atau senyum sopan.
Matanya menyapu Livia dari ujung rambut hingga kaki—piyama satin tipis yang sengaja dipilih untuk tampil provokatif, rambut acak-acakan ala "baru bangun tidur bersama Rangga".
"Wah, cepat sekali naik kelas. Dari skandal dengan bule playboy langsung pindah ke apartemen calon suami orang lain. Hiperaktif sekali, Mbak? Seperti tokoh antagonis di sinetron yang hobi berganti pasangan demi meningkatkan rating penonton."
Livia tetap berdiri tegar di tengah ruang tamu yang luas, tangannya disilang di dada, berpura-pura santai meski dalam hati sudah siap untuk perang terbuka.
Apartemen ini memang mewah, dengan pemandangan skyline Jakarta dari jendela kaca lebar, furnitur minimalis ala desainer Italia, dan aroma kopi premium yang masih menempel dari sarapan tadi pagi.
"Mbak Nadia, kan? Maaf ya, Rangga sedang keluar sebentar. Katanya ada pertemuan bisnis—mungkin dengan keluarga Mbak? Mbak mau ambil barang apa? Foto mesra? Atau rencana pernikahan yang sudah disetujui sejak zaman prasejarah?"
Nadia tertawa kecil, suara yang terdengar seperti lonceng kristal mewah—tapi sarat dengan racun halus. Ia meletakkan tasnya di meja marmer dengan bunyi keras yang disengaja, lalu mendekat satu langkah, mengintimidasi dengan postur tubuhnya yang ramping dan percaya diri.
"Barang? Oh, banyak sekali. Mulai dari foto kami berdua di lemari itu, sampai rencana pernikahan yang sudah disetujui keluarga sejak tahun lalu. Kamu tahu tidak, Livia? Perempuan hiperaktif seperti kamu itu hanya mainan sementara bagi pria seperti Rangga. Bagus untuk meningkatkan adrenalin di ranjang, bagus untuk foto mesra di media sosial agar imagenya tampak 'romantis dan liar'. Tapi dinikahi? Mustahil, Sayang. Keluarga Adiwinata tidak akan mengizinkan anaknya menikah dengan perempuan yang nama skandalnya masih melekat di hasil pencarian Google, apalagi yang suka 'bermain di belakang' dengan bule bertato pada jam dua pagi."
Kata "hiperaktif" dan "bermain di belakang" itu terasa seperti tamparan panas di wajah Livia.
"Hiperaktif? Wah, Mbak Nadia tahu dari mana, ya? Pengalaman pribadi?" Livia mendekat satu langkah, suaranya tetap manis tapi matanya dingin seperti es batu dalam segelas es teh manis.
"Atau Mbak hanya iri karena Rangga lebih menyukai yang 'hiperaktif dan bikin deg-degan' daripada yang 'penurut tapi membosankan' seperti Mbak? Katanya perempuan penurut itu ideal untuk acara arisan, tapi di ranjang... eh, bagaimana kabarnya, Mbak? Masih standar pabrik atau sudah di-upgrade?"
Nadia mendengus kesal, wajahnya memerah seperti cabai rawit yang baru dipetik.
"Iri? Tolonglah! Kamu hanya dimanfaatkan, Livia. Rangga bilang sendiri padaku—kamu cuma alat untuk menutupi urusan bisnis keluarga Liang. Kamu? Hanya tamu sementara di apartemen yang sebenarnya milikku—dan mungkin hanya dipakai untuk 'latihan' Rangga sebelum pernikahan yang sesungguhnya!"
Livia hampir tertawa terbahak—Nadia ini terlalu mudah dipancing, seperti ikan di kolam arisan yang lapar akan gosip.
Tapi sebelum ia bisa membalas dengan jurus maut ala wanita-wanita Liang, pintu apartemen terbuka dengan keras, menggema di ruangan yang luas.
Rangga berdiri di ambang pintu, wajahnya gelap seperti awan mendung Jakarta di musim hujan.
"Nadia," suara Rangga rendah dan dingin, seperti petir yang siap menyambar. "Tutup mulutmu sekarang juga."
Nadia tersentak, berbalik dengan cepat, wajahnya pucat seketika. "Rangga! Aku hanya mau ambil—"
"Siapa yang bilang ini apartemenmu?" potong Rangga tajam, langkahnya mendekat seperti harimau yang sedang mengamati mangsanya.
Ia berdiri di depan Livia, tubuhnya menjadi tameng hidup yang memblokir Nadia sepenuhnya. Aroma minyak pengasih seolah menyatu dengan parfum Rangga yang maskulin, menciptakan tensi aneh di ruangan.
"Dan siapa yang mengizinkanmu menghina tamuku? Hah? Kamu pikir kamu siapa, masuk ke sini seenaknya lalu mengejek orang di rumahku sendiri?"
Ruangan mendadak sunyi senyap.
"Rangga, aku hanya... kita kan bertunangan?! Kamu lupa janji kita dengan Papa dan Mama?!"
"Keluar," perintah Rangga tegas, suaranya tidak lagi menyisakan ruang untuk perdebatan. "Sekarang. Kita bicara nanti di tempat lain. Jangan pernah masuk ke sini lagi tanpa izin dariku. Dan lain kali, kalau mau main detektif atau hakim sendiri, lakukan saja di rumahmu—jangan ganggu tamuku yang sedang nyaman di tempat tidurku!"
Nadia menatap Rangga, kemudian Livia—tatapan penuh kebencian seperti melihat musuh bebuyutan di serial drama Korea favoritnya.
Ia meraih tasnya dengan tangan gemetar, hak sepatu Louboutinnya berbunyi klik-klak keras seperti sedang menginjak hatinya sendiri saat berbalik dan keluar.
Pintu ditutup dengan bunyi menggema yang meninggalkan getaran di udara.
Rangga berbalik menghadap Livia, wajahnya masih tegang tapi matanya mulai melunak, seperti matahari yang muncul setelah hujan deras. "Kamu baik-baik saja, Liv?"
Livia menatapnya dalam-dalam, aroma minyak pengasih masih menempel di kulitnya—atau mungkin efeknya benar-benar bekerja?
Apakah kemarahan Rangga tadi asli karena Nadia menghinanya, atau hanya akting ulung untuk menjaga permainannya?
"Aku baik-baik saja," jawab Livia pelan, suaranya tenang meski hatinya bergejolak.