Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Red Line
Lantai lobi utama gedung pusat media itu memantulkan kilatan lampu kamera yang meledak-ledak seperti rentetan tembakan artileri. Nayara berdiri di balik pintu kayu mahoni besar, jemarinya meremas selembar sapu tangan kain kusam yang teksturnya kasar di balik saku gaun sutra mewahnya. Sapu tangan itu adalah sisa kenangan dari panti asuhan, satu-satunya benda yang membuatnya merasa tetap memijak bumi saat dunia di balik pintu itu bersiap melumatnya hidup-hidup.
"Ingat, Nayara. Jangan pernah menunduk. Sekali kau menunjukkan lehermu, mereka akan mencabikmu seperti serigala," Arkananta berbisik tepat di samping telinganya.
Arkan berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang sempurna, wajahnya sekeras granit tanpa celah emosi. Namun, di balik sikap dingin yang menjadi perisai politiknya, Arkan merasakan denyut aneh di tulang rusuk kirinya. Rasa perih yang tajam, seolah ada jarum tak kasat mata yang menusuk masuk ke sela-sela tulangnya setiap kali napas Nayara memburu. Ia tahu, itu adalah resonansi dari kecemasan hebat yang sedang ditekan oleh istrinya.
"Saya akan berusaha, Arkan," suara Nayara tipis, hampir tenggelam oleh gemuruh suara wartawan di balik pintu.
"Jangan hanya berusaha. Jadilah batu karang. Biarkan ombak itu pecah saat menghantammu," Arkan memberi isyarat pada petugas keamanan untuk membuka pintu.
Saat daun pintu terbuka, gelombang suara dan cahaya menghantam mereka tanpa ampun. Ratusan wartawan bayaran, sebagian besar adalah pion-pion Erlangga dan suruhan High Council, sudah menyiapkan pertanyaan yang telah diasah untuk membunuh karakter Nayara. Bau pengharum ruangan lemon yang segar mendadak terkontaminasi oleh aroma kemenyan yang sangat tipis—bau busuk sihir yang dikirimkan Kyai Hitam untuk mengaburkan kewarasan.
"Nyonya Nayara! Benarkah Anda adalah pion yang sengaja disusupkan panti asuhan ilegal untuk menguras dana kampanye Tuan Arkan?" satu teriakan meluncur bahkan sebelum mereka mencapai podium.
"Bagaimana perasaan Anda menikahi pria yang keluarganya bahkan tidak sudi menyebut nama Anda di jamuan makan malam?" timpal suara lain, merujuk pada ketegangan di meja makan sebelumnya.
Nayara melangkah ke podium, kakinya terasa berat seolah marmer itu berubah menjadi lumpur hisap. Kilatan kamera membuat visinya sesaat mengabur, memicu kilasan memori saat ia dihina di pinggiran desa oleh para penagih utang panti. Di tengah kepungan manusia itu, ia merasakan sapu tangan di sakunya memberikan sedikit kehangatan batin.
"Pertanyaan Anda sangat menarik," suara Arkananta mengambil alih, rendah dan mengancam. "Tapi sebelum kita bicara soal asal-usul, mari kita bicara soal etika jurnalistik yang baru saja Anda injak-injak demi pesanan politik."
Arkan merangkul bahu Nayara. Di saat yang sama, rasa perih di tulang rusuk Arkan meningkat menjadi nyeri yang menusuk. Ia merasakan napas Nayara yang tertahan, sebuah jeritan sunyi yang hanya ia yang bisa mendengar secara batin. Arkan mengeratkan rangkulannya, membiarkan aura ketenangannya mengalir untuk menopang martabat istrinya yang sedang digempur habis-habisan.
"Silakan, Nayara. Jawab mereka dengan kebenaran yang tidak mampu mereka beli dengan amplop cokelat," bisik Arkan, memberikan panggung sepenuhnya pada istrinya.
Nayara menarik napas panjang, menatap lensa kamera yang menatapnya seperti mata monster. "Nama saya Nayara Arkananta. Saya memang tumbuh di Panti Asuhan Cahaya Sauh, tempat di mana kami belajar bahwa kejujuran jauh lebih berharga daripada porselen mahal di High Tower."
"Tapi bukankah panti itu sedang diselidiki atas kasus penggelapan?" seorang wartawan berkacamata menyela dengan nada sinis.
"Jika Anda mencari penggelapan, carilah pada mereka yang mematikan mikrofon ini setiap kali saya hendak bicara," jawab Nayara tegas saat menyadari suara mikrofonnya tiba-tiba mengecil akibat sabotase teknis.
Nayara melepaskan mikrofon dari penyangganya, menggenggam gagang logam yang terasa sedingin es itu dengan mantap. Ia tidak akan memai biarkan gangguan teknis atau serangan metafisika yang mulai membuat kepalanya pening menghancurkan momen ini. Di seberang aula, ia seolah melihat bayangan hitam besar yang mengawasi—manifestasi kehadiran Kyai Hitam yang mencoba mengunci pita suaranya.
"Apakah pernikahan ini hanya untuk menaikkan citra Tuan Arkan sebagai pelindung rakyat jelata?" tanya wartawan lain.
Arkan melirik Nayara, menantikan bagaimana istrinya mengelola martabatnya di bawah tekanan yang mampu membuat politisi senior sekalipun gemetar. Ia merasakan denyut jantung Nayara yang kencang di balik telapak tangannya, namun ia juga merasakan satu hal lain: tekad yang mulai mengeras seperti baja.
"Pernikahan ini adalah tentang dua orang yang memilih untuk saling memikul beban," suara Nayara kembali terdengar jernih, mengalahkan denging di telinganya. "Jika Anda menganggap latar belakang saya sebagai beban bagi suami saya, maka Anda tidak tahu apa-apa tentang kekuatan yang sedang beliau bangun."
Tiba-tiba, lampu lobi berkedip hebat. Kilatan kamera berubah menjadi bayangan-bayangan hitam yang menakutkan di mata Nayara. Ia merasa lehernya seperti tercekik, oksigen mendadak hilang dari paru-parunya. Serangan sihir itu mencapai puncaknya, mencoba memaksa Nayara pingsan di depan siaran langsung nasional.
Arkananta menyadari perubahan warna kulit Nayara yang memucat. Ia merasakan nyeri di tulang rusuknya seolah-olah tulang itu patah secara serentak. Ini adalah serangan ghaib yang nyata. Tanpa ragu, Arkan merapatkan tubuhnya, membiarkan energi perlindungannya menyerap sebagian besar beban yang seharusnya menghantam Nayara.
"Jangan lepaskan lenganku, Nayara. Tatap aku saja. Abaikan semua distorsi di ruangan ini, karena luka itu milik kita berdua sekarang," bisik Arkan dengan rahang yang mengeras menahan sakit.
Nayara menatap mata abu-abu Arkan. Di sana, ia melihat pantulan dirinya yang tidak hancur. Ia merasakan sapu tangan di sakunya berdenyut, memberikan jangkar emosi yang ia butuhkan untuk tetap berdiri tegak.
"Kenapa Anda diam, Nyonya? Apakah tuduhan itu benar?" wartawan itu mendesak, melihat Nayara yang sempat goyah.
"Saya diam karena saya sedang berbelasungkawa," jawab Nayara tiba-tiba, suaranya mengandung otoritas yang membuat ruangan mendadak hening. "Saya berbelasungkawa atas hilangnya nurani di ruangan ini yang lebih memuja fitnah daripada mencari fakta."
Arkananta tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan. Ia tahu, garis merah ini telah dilewati. Nayara bukan lagi sekadar gadis panti yang bisa ditindas; dia adalah permaisuri yang mulai menemukan taringnya di tengah badai politik Astinapura.
Kegaduhan di aula semakin memuncak saat para wartawan merasa jawaban Nayara mulai menyudutkan integritas profesi mereka. Arkananta tetap berdiri seperti pilar baja di samping istrinya, meski penglihatannya sendiri sesaat mengabur—sebuah harga yang harus ia bayar karena berbagi beban halusinasi hitam yang sedang dikirimkan oleh Kyai Hitam. Ia merasakan keringat dingin membasahi punggungnya, namun sorot matanya tetap menghunus tajam ke arah kerumunan.
"Nyonya Arkananta, Anda bicara soal nurani, tapi bagaimana dengan foto-foto ini?" Seorang pria dari barisan belakang melemparkan lembaran cetak ke udara. "Foto Anda sedang menerima amplop dari pria asing di gerbang panti asuhan sebulan yang lalu! Bukankah itu bukti bahwa Anda adalah alat modal politik pihak lawan?"
Lembaran kertas itu jatuh berserakan di atas panggung. Nayara menatap salah satu foto yang mendarat di dekat kakinya. Itu adalah foto dirinya saat menerima bantuan obat-obatan dari relawan medis untuk anak-anak panti yang sakit, namun sudut pengambilan gambarnya sengaja dibuat agar terlihat seperti transaksi gelap.
"Itu adalah fitnah yang sangat murah," suara Nayara bergetar karena amarah yang tertahan, bukan karena takut.
"Murah atau tidak, publik butuh penjelasan! Atau Tuan Arkananta sengaja memilih istri dari kalangan bawah agar mudah dimanipulasi untuk menutupi skandal High Council?" Wartawan itu terus merangsek maju.
Arkananta melangkah satu tindak ke depan, menutupi tubuh Nayara dari kilatan lampu kamera yang semakin agresif. "Kebenaran tidak butuh teriakan. Anda menyerang martabat wanita yang tidak memiliki perlindungan politik demi sebuah narasi pesanan. Gedung ini bisa saja berdiri megah, tapi integritas Anda baru saja runtuh dalam satu lemparan kertas."
"Kami hanya mencari kebenaran, Tuan Arkananta!" sahut wartawan itu lagi.
"Cari di meja hukum, bukan di podium fitnah. Jika Anda memiliki bukti otentik, ajukan. Jika tidak, Anda hanya pelaku kejahatan di depan kamera nasional," balas Arkan dengan nada suara yang merendahkan suhu ruangan.
Nayara memegang lengan jas Arkan. Ia bisa merasakan otot lengan suaminya mengeras seperti besi. Di saat yang sama, bau kemenyan yang tadi mencekik mendadak menghilang, berganti dengan aroma melati samar dari sapu tangan di sakunya yang entah bagaimana terasa lebih kuat. Ia menyadari bahwa perlindungan Arkan bukan hanya soal kata-kata, tapi soal ketahanan fisik yang pria itu berikan untuknya.
"Satu hal lagi," Nayara menyela, suaranya kini melampaui suara Arkan. "Panti asuhan saya tidak butuh dana kampanye siapa pun. Kami hidup dari kemandirian. Dan jika pernikahan ini dianggap sebagai beban bagi Tuan Arkananta, maka biar waktu yang membuktikan siapa yang sebenarnya menjadi beban bagi integritas negeri ini."
"Apa maksud Anda, Nyonya?" teriak seorang jurnalis perempuan.
"Maksud saya sederhana," Nayara menatap langsung ke lensa kamera utama dengan mata yang kini berkilat tajam. "Saya berdiri di sini bukan sebagai pengemis perlindungan, tapi sebagai saksi bahwa kekuasaan tanpa moralitas adalah kehancuran. Dan siapa pun yang mencoba menghancurkan Panti Cahaya Sauh hanya untuk menjatuhkan suami saya, mereka tidak sedang melawan seorang gadis panti, mereka sedang melawan keadilan itu sendiri."
Arkananta menoleh, menatap istrinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tidak menyangka Nayara akan menggunakan serangan balik yang begitu telak. Ia merasakan nyeri di tulang rusuknya perlahan memudar, berganti dengan rasa bangga yang asing di dadanya.
"Konferensi pers ini selesai. Keamanan, kosongkan jalur sekarang," Arkan mengumumkan dengan finalitas yang tidak bisa diganggu gugat.
Para petugas segera merangsek maju, membentuk barikade manusia untuk melindungi Arkan dan Nayara yang mulai berjalan meninggalkan podium. Di belakang mereka, teriakan wartawan masih menggema, namun Nayara tetap berjalan dengan punggung tegak dan kepala terangkat tinggi. Ia tidak lagi meremas sapu tangan dengan cemas; ia menggenggamnya dengan kekuatan baru.
Saat mereka sampai di balik pintu mahoni yang tertutup rapat, suasana mendadak sunyi. Arkananta melepaskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan, tangannya tanpa sadar meraba tulang rusuk kirinya yang masih terasa berdengan sisa serangan ghaib tadi.
"Kenapa Anda melakukan itu? Anda menyerap rasa sakitnya secara paksa, Arkan. Leher yang tercekik, penglihatan yang memudar—itu seharusnya milik saya," tanya Nayara pelan, matanya menyisir wajah Arkan yang memucat.
Arkan berhenti, lalu berbalik menghadap Nayara. Di koridor yang remang itu, wajahnya tampak lelah namun tetap angkuh. "Sudah kubilang, tidak ada yang boleh mengambil apa pun darimu tanpa izinku, termasuk rasa sakit itu. Aku hanya memastikan martabatmu tetap tegak di depan lensa tadi."
"Hanya karena strategi politik Anda?" Nayara mencari kejujuran di mata abu-abu itu.
"Hanya karena itu adalah caraku bertahan hidup bersamamu. Ayo, Ibu sudah menunggu di High Tower. Amarahnya akan jauh lebih beracun daripada wartawan tadi," jawab Arkan pendek, meski ia harus melakukan napas manual untuk menstabilkan detak jantungnya.
Nayara terdiam, menatap punggung Arkan yang menjauh. Ia tahu pria itu berbohong soal alasan strateginya. Ada sesuatu yang lebih mendalam dalam cara Arkan membagi rasa sakitnya. Saat ia masuk ke dalam mobil, ia melihat Arkan sedang menatap jam tangan peraknya dengan raut wajah yang sangat serius, seolah-olah ia sedang menghitung waktu menuju badai berikutnya yang dikirimkan oleh Nyonya Besar melalui Kyai Hitam.
Di tempat lain, di sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi cahaya lilin merah, seorang pria tua dengan jubah hitam mendengus kesal. Di depannya, sebuah tasbih yang mirip milik Nayara namun berwarna hitam pekat, baru saja retak menjadi dua.
"Gadis itu... dia punya jangkar yang kuat," bisik Kyai Hitam. "Tapi Arkananta, dia adalah orang gila yang berani mempertaruhkan nyawanya hanya untuk berbagi beban kutukan."