NovelToon NovelToon
RAHASIA SURAT WASIAT

RAHASIA SURAT WASIAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:695
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.

Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjaga Di Balik Rahasia

Kemarin sore, setelah melihat gedung kantor pusat PT. Dewi Santoso, Ridwan menemukan informasi bahwa perusahaan sedang mencari petugas keamanan baru. Setelah berdiskusi singkat dengan Pak Joko dan mendapatkan dukungan dari Mira, dia memutuskan untuk mendaftar pada posisi tersebut—sebuah cara yang lebih aman untuk memasuki perusahaan dan mengumpulkan bukti secara langsung tanpa menarik kecurigaan berlebih.

Pagi ini, dia datang ke kantor keamanan perusahaan yang terletak di sisi belakang gedung. Dia mengenakan baju olahraga yang sederhana, dengan rambutnya diikat rapi agar tidak mengganggu gerakan. Di dalam tasnya, dia membawa surat lamaran dengan nama samaran “Ridwan Saputra” dan riwayat hidup yang dibuat dengan cermat—menunjukkan bahwa dia pernah bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan kecil dan memiliki latihan beladiri tradisional dari masa muda.

Di ruang tes yang luas, sekitar sepuluh calon petugas keamanan lain sudah berkumpul. Semua terlihat kuat dan sehat, namun sebagian besar hanya memiliki latihan dasar saja. Kepala Bagian Keamanan, Pak Sudarto—pria berusia sekitar lima puluhan tahun dengan tubuh yang masih tegap dan wajah yang penuh dengan kedalaman pengalaman—berdiri di depan mereka dengan ekspresi yang serius.

“Selamat pagi calon petugas keamanan,” ujar Pak Sudarto dengan suara yang kuat dan jelas. “Sebelum kita mulai tes teknis, saya ingin kalian tahu bahwa PT. Dewi Santoso membutuhkan orang-orang yang tidak hanya kuat secara fisik, tapi juga memiliki integritas dan kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat dalam situasi sulit.”

Setelah melakukan tes kesehatan dasar dan pemeriksaan dokumen, mereka masuk ke tahap tes kemampuan fisik dan beladiri. Ridwan mengikuti setiap tes dengan tenang dan terampil—lari jarak jauh, angkat beban, serta tes kelincahan dia lalui dengan mudah. Namun yang paling menarik perhatian Pak Sudarto adalah saat sesi tes beladiri dimulai.

Saat giliran Ridwan tiba, dia dihadapkan pada dua calon petugas keamanan yang lebih besar dan lebih berpengalaman. Tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun, Ridwan menghadapinya dengan sikap yang tenang namun siap. Dia menggunakan teknik beladiri tradisional yang dia pelajari dari Kakek Sembilan—gerakan yang cepat, presisi, dan tidak menggunakan kekerasan berlebih. Dalam waktu singkat, dia berhasil menahan kedua lawannya tanpa menyakiti mereka secara serius.

Pak Sudarto melihat dengan mata yang penuh dengan kagum. Setelah tes selesai, dia mengajak Ridwan berbicara secara terpisah di ruangannya. “Ridwan Saputra,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan penghargaan. “Kemampuan beladiri Anda sangat luar biasa. Di mana Anda belajar teknik seperti itu?”

“Dari seorang kakek yang tinggal di pedesaan, Pak,” jawab Ridwan dengan senyum sopan. “Dia mengajarkan saya bahwa beladiri bukan hanya untuk menyerang, tapi juga untuk melindungi diri sendiri dan orang lain yang lemah.”

Pak Sudarto mengangguk dengan puas. “Pemikiran yang benar sekali,” katanya dengan suara yang jelas. “Kita di departemen keamanan tidak hanya bertugas melindungi perusahaan dan asetnya, tapi juga harus menjaga keamanan dan kesejahteraan semua karyawan. Berdasarkan tes yang Anda lakukan hari ini, saya percaya bahwa Anda memiliki kualitas yang kita butuhkan.”

Dia kemudian mengambil sebuah surat dari atas mejanya dan memberikannya kepada Ridwan. “Selamat, Anda diterima sebagai petugas keamanan kontrak di PT. Dewi Santoso,” ujarnya dengan senyum ramah. “Anda akan mulai bekerja minggu depan, dengan tugas utama mengawasi area lantai bawah dan ruang dokumen penting. Saya akan memberikan Anda pelatihan tambahan tentang prosedur keamanan perusahaan sebelum Anda mulai bekerja.”

Ridwan menerima surat tersebut dengan hati-hati, merasa lega dan bersyukur. Ini adalah langkah penting dalam misinya untuk menyelidiki perusahaan dan mengumpulkan bukti tentang kejahatan yang dilakukan oleh Ratna, Budi, dan Rio. “Terima kasih banyak, Pak,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan rasa syukur. “Saya akan melakukan tugas saya dengan sebaik-baiknya dan tidak akan mengecewakan perusahaan.”

Sebelum dia pergi, Pak Sudarto menarik lengannya dengan lembut. “Ada satu hal yang ingin saya katakan,” katanya dengan suara yang lebih pelan dan penuh dengan makna. “Perusahaan ini tidak seperti yang terlihat dari luar, anak muda. Ada banyak hal yang terjadi di balik layar yang tidak pantas dan tidak benar. Saya telah bekerja di sini selama lebih dari sepuluh tahun dan melihat bagaimana banyak hal berubah setelah Bapak Budi dan Ibu Ratna mengambil alih kepemimpinan.”

Dia melihat ke sekeliling ruangan dengan cermat untuk memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. “Jika Anda menemukan sesuatu yang mencurigakan atau perlu bantuan dalam hal apa pun, jangan ragu untuk datang kepada saya,” lanjutnya dengan suara yang penuh dengan harapan. “Saya tidak bisa melakukan banyak hal karena posisiku, tapi saya akan membantu sebanyak mungkin jika itu untuk kebaikan perusahaan dan menghormati warisan pendirinya.”

Ridwan mengangguk dengan pemahaman, menyimpan pesan tersebut dengan baik di dalam hati. Ini adalah bukti lain bahwa masih banyak orang di dalam perusahaan yang mengetahui kebenaran dan siap membantu dia dalam perjuangannya. “Terima kasih banyak atas nasihatnya, Pak,” ujarnya dengan suara yang jelas dan tegas. “Saya akan ingat kata-kata Anda dan akan menghubungi Anda jika diperlukan.”

Setelah keluar dari kantor keamanan, Ridwan langsung pergi ke toko Pak Joko untuk memberitahukan kabar baik tersebut. Pak Joko sangat senang mendengar bahwa Ridwan telah diterima bekerja di perusahaan sebagai petugas keamanan. “Ini adalah kesempatan yang sangat bagus, nak,” katanya dengan suara yang penuh dengan harapan. “Dengan posisi tersebut, Anda akan bisa mengakses area yang tidak bisa dijangkau oleh orang lain dan mengumpulkan bukti-bukti penting yang kita butuhkan.”

Dia kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari bawah meja kasir dan memberikannya kepada Ridwan. “Di dalam ini terdapat alat penyadap suara kecil dan kamera tersembunyi yang bisa Anda gunakan untuk mendokumentasikan bukti-bukti penting,” katanya dengan suara yang serius. “Gunakan dengan hati-hati dan pastikan tidak ada yang melihat Anda menggunakannya. Keselamatan Anda adalah yang paling penting.”

Ridwan menerima kotak tersebut dengan hati-hati, menyimpannya dengan aman di dalam tasnya. “Terima kasih banyak untuk semua yang Anda lakukan untuk saya, Pak Joko,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan rasa hormat. “Tanpa bantuan Anda, saya tidak akan sampai sejauh ini.”

Pak Joko hanya tersenyum lembut, menepuk bahu Ridwan dengan lembut. “Ini adalah tugas saya untuk membantu keluarga Dewi, nak,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan penghargaan. “Dia telah melakukan begitu banyak hal untuk saya dan untuk perusahaan. Sekarang saatnya kita membayarkannya dengan membantu Anda mendapatkan keadilan yang Anda pantaskan.”

Malam mulai menjelma di atas kota Bandung, membawa kegelapan yang lembut dan hawa yang sejuk. Ridwan berjalan pulang ke penginapannya dengan hati yang penuh dengan tekad dan semangat yang semakin kuat. Dia tahu bahwa pekerjaan sebagai petugas keamanan di perusahaan ibunya tidak akan mudah—dia harus selalu waspada dan tidak bisa menunjukkan identitasnya yang sebenarnya kepada siapapun. Tapi dengan dukungan dari Pak Joko, Mira, Pak Sudarto, dan keluarga Wijaya yang akan dia temui segera, dia merasa bahwa dia memiliki kekuatan dan keberanian yang dibutuhkan untuk menghadapi segala tantangan yang akan datang.

Di kamarnya yang kecil namun nyaman, Ridwan mengambil cincin warisan keluarga Wijaya dari dalam tasnya dan melihatnya dengan penuh penghargaan di bawah cahaya lampu. Di hatinya, dia berjanji kepada ibunya bahwa dia akan menggunakan posisinya sebagai petugas keamanan untuk mengungkap semua kejahatan yang dilakukan oleh Ratna, Budi, dan Rio, untuk mengambil kembali perusahaan yang seharusnya menjadi miliknya, dan untuk memastikan bahwa nama ibunya akan selalu dikenang sebagai pendiri yang benar-benar peduli dengan kualitas produk dan kesejahteraan masyarakat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!